NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Di ruang kerja pribadi di lantai paling atas Maverick Corporation, Aiden Hugo Maverick duduk di balik meja hitam mengilap. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan foto yang baru saja dikirimkan Lucas. Foto itu menunjukkan Thalia istrinya-dalam posisi ambigu bersama seorang pria muda di sebuah mall.

Aiden menatapnya lama. Tatapannya dingin, tapi di balik mata kelam itu, pikirannya berputar cepat.

"Banyak sekali hal yang tidak kuketahui tentang dia..."

Ia menggeser layar, melihat foto lain-angle berbeda, cahaya berbeda-namun tetap memperlihatkan momen yang sama. Hanya saja, satu hal yang langsung membuat dahinya berkerut: di beberapa foto, ia melihat Thalia memegang kunci mobil Ferrari miliknya.

"Seingatku, dia bahkan tidak bisa menyetir... lalu bagaimana mungkin dia bisa mengemudikan Ferrari dengan kecepatan stabil, seperti seorang pengemudi profesional?"

Aiden memijit pelipisnya. Ada rasa tidak nyaman yang bercampur penasaran. Selama ini ia menganggap Thalia hanyalah gadis culun yang kebetulan menjadi istrinya karena peristiwa ia menolong neneknya. Ia tidak pernah benar-benar mengamati kehidupan pribadi istrinya tidak punya waktu, dan tidak mau repot. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, ia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.

"Apa dia memang selama ini menipuku? Dan...," bibirnya menegang, "apa dia sengaja jatuh ke pangkuan pria itu sebagai trik untuk mendekati lelaki kaya dan tampan? Dasar... perempuan licik!"

Aiden menekan layar tablet hingga mati, lalu bersandar di kursinya. Pikiran liarnya berlari ke mana-mana-berlebihan, seperti biasa ketika egonya terusik.

"Apa aku tidak cukup tampan? Tidak cukup kaya? Sampai dia harus mencari mangsa lain?" gumamnya sinis pada diri sendiri.

Meski begitu, ada satu bagian kecil dari pikirannya yang ingin menolak dugaan itu-tapi gengsi Aiden terlalu besar untuk mengakuinya. Ia terbiasa membaca niat orang dengan cepat di dunia bisnis, dan sekarang ia yakin Thalia punya banyak sisi yang belum ia kenal.

Sementara itu, di kediaman Maverick, suasana justru kontras. Thalia duduk di lantai ruang keluarga bersama Liam yang sibuk membangun menara balok kayu.

"Mama, ini towel tinggii..." ucap Liam dengan cadelnya, menunjuk bangunan miring hasil kreasinya.

Thalia terkekeh. "Iya, sayang. Tapi hati-hati, nanti roboh kalau nggak seimbang."

Ia membantu menata balok, sementara pikirannya melayang.

Sudah beberapa minggu ini ia mulai memikirkan langkah ke depan. Dunia hiburan selalu memanggilnya kembali.

"Haruskah aku mulai dari industri tarik suara dulu? Atau langsung akting?" gumamnya dalam hati. Di kehidupan pertamanya, ia memulai karier sebagai penyanyi, lalu melebarkan sayap ke layar kaca dan layar lebar. Ia tahu keduanya punya risiko dan tantangan masing-masing.

Di sisi lain, Thalia sadar waktunya di dunia kampus akan terbatas. Popularitasnya akan melonjak jika ia bisa memanfaatkan momentum ajang Duta Kampus. Mungkin itu bisa menjadi jembatan kembali ke sorotan publik.

Namun, ia juga paham risiko. Dunia hiburan tidak pernah ramah-apalagi bagi seseorang yang punya musuh yang pandai menyusun jebakan, seperti Nadine dan Aurora.

Thalia meraih gelas jus jeruk di meja. "Terlalu cantik, terlalu berbakat, terlalu banyak pilihan... kadang itu bukan berkah, tapi dilema, "ia tersenyum tipis, mengelus kepala Liam yang sedang bersenandung kecil.

Sementara itu, di sebuah kafe modern di depan kampus, Leonard atau Leon duduk di meja panjang bersama teman-teman satu fakultasnya-Fakultas Seni. Meski ia terlihat santai, pikirannya sama sekali tidak fokus pada obrolan yang berlangsung.

Di seberangnya, Henry, Harsha, Alvaro, Nadine, dan Aurora sedang larut dalam pembicaraan penuh tawa.

"Aku masih nggak habis pikir," ujar Henry sambil terkekeh, "FIKOM (Fakultas Ilmu Komunikasi) diwakili Thalia si cupu itu di ajang Duta Kampus. Bisa dibayangin nggak, nanti di panggung dia bakal gemetar sambil grogi. Memalukan."

Aurora tertawa keras. "Aku sudah siap merekam. Itu pasti jadi momen hiburan."

Harsha ikut menimpali, "Kita harus duduk di barisan depan, biar jelas lihat ekspresi paniknya."

Nadine tersenyum tipis, nada bicaranya datar tapi menusuk. "Dia nggak pernah bisa bersaing dengan yang punya nama besar. Mungkin malah mundur sebelum hari H."

Gelak tawa meledak di meja itu. Gelas jus beradu, cemilan di piring berkurang. Semua tampak menikmati momen merendahkan orang lain.

Kecuali Leonard.

Ia tidak menimpali. Bahkan tidak mendengar setengah dari ejekan itu. Pikirannya masih terjebak pada kejadian pagi tadi-momen singkat di koridor mall ketika seorang gadis cantik terjatuh di dekatnya. Aura gadis itu membuatnya lupa segalanya, bahkan lupa bernapas.

"Kenapa aku nggak sempat tanya namanya?

Kenapa aku biarkan dia pergi begitu saja?"

Ia mencoba mengingat setiap detail-cara matanya memandang, gerakan halus tangannya, suara lembut ketika meminta maaf. Semua terlalu jelas untuk dilupakan. Dan anehnya, ada sesuatu yang terasa akrab... meski ia yakin ia belum pernah melihat gadis secantik itu di kampus.

Leonard meraih gelasnya, menyesap jus perlahan. Obrolan teman-temannya menjadi seperti dengung jauh di telinga. Di layar ponselnya, ia membuka media sosial, mencoba mencari petunjuk. Tapi sia-sia-tidak ada wajah gadis itu di mana pun.

Di seberang meja, Nadine memperhatikan Leonard yang tampak tidak tertarik. Ia mengernyit pelan, lalu melanjutkan obrolan dengan Aurora. Ia belum sadar, pria yang mereka idolakan diam-diam memikirkan seseorang-dan orang itu adalah musuh yang selama ini mereka remehkan.

Kembali di kantor, Aiden berdiri di depan jendela besar, memandang gedung-gedung tinggi yang dibalut sinar sore. Pikirannya belum lepas dari foto itu.

Ia menghubungi Lucas.

"Sudah kau cek identitas pria itu?"

"Sedang diproses, Tuan," jawab Lucas singkat.

"Tapi dari ciri-cirinya, kemungkinan mahasiswa. Tidak ada indikasi ancaman langsung."

Aiden mengangguk, meski Lucas tidak bisa melihat. "Lanjutkan. Dan pastikan semua pergerakan Thalia dilaporkan."

Lucas ragu sejenak sebelum menambahkan, "Tuan... dari rekaman CCTV, posisi itu murni kecelakaan. Tidak terlihat unsur kesengajaan."

Tapi Aiden hanya merespons dengan nada dingin, "Kadang yang terlihat seperti kebetulan adalah trik yang direncanakan dengan baik."

Panggilan diputus.

Di pikirannya, Thalia semakin menjadi teka-teki. Dan Aiden tidak pernah suka pada teka-teki-kecuali ia sendiri yang mengendalikannya.

Senja mulai turun ketika Thalia menidurkan Liam. Anak itu memeluk boneka beruangnya, wajahnya damai. Thalia berdiri sebentar di ambang pintu kamar, lalu berjalan ke ruang tamu. Ia duduk di sofa, menatap layar ponsel, membaca berita hiburan terbaru. Mengamati beberapa gosip industri di kehidupan barunya.

Sebuah senyum samar muncul di bibirnya.

"Tunggu saja. Aku akan kembali. Tapi kali ini, lebih siap daripada sebelumnya."

Tanpa ia sadari, di tempat lain, dua pria-Aiden dan Leonard-sedang memikirkan dirinya. Yang satu diliputi kecurigaan, yang satu diliputi rasa penasaran.

Dan di meja kafe, Nadine sedang menyusun rencana kecil untuk mempermalukan "Thalia si cupu" di panggung Duta Kampus-tanpa tahu, kejutan besar sedang menantinya.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry: hehehe😁
total 1 replies
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!