NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Ziva memilih warung pecel lele tenda di pinggir jalan yang cukup ramai sebagai destinasi makan sore mereka. Baginya, tidak ada yang lebih nikmat setelah seharian bergelut dengan laporan keuangan selain aroma gurih lele goreng dan sambal terasi yang membakar lidah.

Namun, suasana santai itu sedikit terganggu oleh sikap Baskara. Pria itu duduk dengan punggung tegak sempurna, matanya waspada menyapu sekeliling seolah-olah sedang mengawasi transaksi narkoba, bukan menunggu pesanan lele.

"Kak, please deh. Ini bukan acara penyambutan anggota baru. Nggak usah kaku gitu," gerutu Ziva sambil menata sendok dan garpu di atas meja plastik yang dilapisi spanduk bekas. "Lo itu mau makan, bukan nyambut presiden. Rileks dikit bisa nggak?"

Baskara menoleh, sedikit melonggarkan kerah seragamnya yang kancing paling atasnya memang sudah ia buka. "Ini area terbuka, Ziva. Instingku sulit untuk dimatikan."

"Insting polisi lo simpen dulu di laci kantor. Sekarang lo itu cuma cowok laper yang mau makan pecel lele bareng cewek cantik berbaju lemon," sahut Ziva sambil menyodorkan segelas es jeruk ke depan Baskara.

Baskara baru saja hendak menyesap minumannya ketika seorang gadis dengan pakaian yang cukup mencolok—gaun pendek ketat dan riasan wajah yang tebal untuk ukuran sore hari—melangkah mendekati meja mereka. Gadis itu, Luna, langsung berdiri tepat di samping kursi Baskara dengan senyum yang dipaksakan manis.

"Mas Baskara? Wah, nggak nyangka ketemu di sini. Biasanya kan Mas anti banget makan di pinggir jalan begini," sapa Luna dengan suara yang dibuat-buat manja, mengabaikan keberadaan Ziva sepenuhnya.

Ziva yang sedang asyik mencocol kerupuk ke sambal langsung berhenti. Matanya menyipit. "Permisi, Mbak? Nggak malu apa ngedeketin orang lagi makan? Ganggu tahu nggak! Pergi sana!" seru Ziva tanpa basa-basi.

Luna menoleh, menatap Ziva dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Loh, kamu siapa? Adeknya Mas Baskara? Atau sepupunya dari desa?"

Ziva meletakkan kerupuknya dengan bunyi plak yang cukup keras di atas meja. Ia berdiri, menatap Luna dengan sorot mata menantang. "Gue bukan adeknya, apalagi sepupu dari desa. Gue istrinya. Kenapa? Masalah buat lo?"

Luna tampak terkejut sejenak, namun kemudian ia tertawa kecil yang terdengar sangat merendahkan. "Oh... jadi ini istri yang 'terpaksa' dinikahi itu ya? Yang katanya cuma buat gantiin kakaknya karena kecelakaan itu? Ternyata masih bocah ya, pantesan Mas Baskara nggak pernah cerita."

Darah Ziva mendidih. Kalimat Luna barusan benar-benar menekan tombol kemarahannya yang paling sensitif. Ia melirik Baskara yang wajahnya kini sudah berubah menjadi sangat dingin dan rahangnya mengeras, namun sebelum Baskara sempat bicara, Ziva sudah mengambil alih kendali.

"Kalau iya kenapa? Masalah buat hidup lo yang kayaknya kurang kerjaan ini?" tanya Ziva sinis. Ia melangkah satu senti lebih dekat, menantang nyali Luna.

"Ya nggak sih. Tapi kasih tahu aja ya, Dek... kayaknya Baskara nggak suka tuh sama kamu. Dia itu sukanya wanita yang matang, bukan yang masih pakai blazer warna stabilo begini. Dia cuma merasa kasihan sama kamu, bukan cinta," lanjut Luna dengan nada yang semakin provokatif.

Ziva tertawa hambar. Ia mengambil cobek kecil berisi sambal terasi yang masih merah membara dan aromanya sangat menyengat. "Emang dia juga suka sama lo gitu? Mending lo pergi sekarang juga sebelum gue olesin sambal gue ke muka lo yang penuh dempul itu!"

"Kamu berani—"

"Aku berani lebih dari sekadar ngolesin sambel kalau lo nggak angkat kaki dari sini dalam tiga detik," potong Ziva. Ia mengangkat sedikit cobek sambal itu ke arah wajah Luna. "Satu... dua..."

Luna yang melihat tatapan mata Ziva yang beralih menjadi sangat "buas" ala Zivanya Aurora, segera mundur beberapa langkah. Ia melirik Baskara, berharap pria itu membelanya, namun Baskara justru hanya diam sambil menatap Luna dengan pandangan mengintimidasi yang jauh lebih menakutkan daripada ancaman sambal Ziva.

"Mas Baskara! Istri kamu nggak sopan banget!" teriak Luna kesal.

"Dia benar, Luna. Kamu mengganggu waktu makan kami. Silakan pergi," ucap Baskara pendek, suaranya dingin seperti es.

Luna menghentakkan kakinya ke aspal, lalu pergi dengan wajah merah padam karena malu menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar tenda pecel lele.

Ziva kembali duduk, ia membanting cobek sambal ke meja dan kembali mengambil kerupuknya, namun tangannya sedikit gemetar karena emosi. Baskara memperhatikan istrinya, ada rasa kagum yang terselip di balik wajah kaku itu melihat bagaimana Ziva "menandai wilayahnya" dengan begitu berani.

"Galak banget," gumam Baskara pelan, namun ia menarik piring nasi Ziva dan memberikan potongan lele yang paling besar ke piring gadis itu.

"Abisnya dia nyebelin! Pake bawa-bawa Kak Kirana segala lagi," gerutu Ziva, suaranya sedikit parau. "Lo... lo beneran nggak suka sama gue dan cuma kasihan?"

Baskara berhenti makan. Ia menatap Ziva dalam-dalam, memastikan gadis itu melihat kejujuran di matanya. "Ziva, aku nggak pernah melakukan sesuatu karena kasihan. Kalau aku nggak mau, aku nggak akan ada di sini, makan pecel lele bareng kamu."

Ziva terdiam. Ia menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang muncul. "Ya udah. Buruan makan, nanti lelenya dingin jadi nggak enak."

***

Malam semakin larut saat SUV hitam milik Baskara merapat di garasi rumah mereka. Suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang tadi terasa berbeda—tidak ada lagi perdebatan sengit, hanya ada keheningan yang nyaman setelah insiden "sambal terasi" di warung pecel lele. Ziva turun lebih dulu, langkahnya sedikit gontai karena kelelahan setelah hari yang panjang di kantor dan drama di pinggir jalan tadi.

Begitu memasuki ruang tengah, Ziva langsung duduk di sofa kayu depan tangga untuk melepas high heels hitamnya. Ia menghela napas lega saat kakinya akhirnya menyentuh lantai dingin yang bebas dari tekanan sepatu hak tinggi. Baskara masuk belakangan, ia meletakkan kunci mobil di atas meja dan baru saja hendak berbelok menuju kamar tamu yang selama ini ia tempati.

"Kak," panggil Ziva pelan.

Langkah Baskara terhenti. Pria itu berbalik, menatap Ziva yang masih duduk sambil memijat pergelangan kakinya. "Iya? Ada yang ketinggalan di mobil?"

Ziva terdiam sejenak. Ia menatap ke arah tangga, lalu beralih menatap Baskara yang berdiri tegap dalam keremangan cahaya lampu ruang tengah. Bayangan mimpi bertemu Kirana pagi tadi kembali terlintas di benaknya. Ucapan Luna yang meremehkan statusnya juga masih terngiang-ngiang. Ia lelah berlari dari kenyataan bahwa mereka sudah terikat secara sah.

Ziva berdiri, menarik napas dalam untuk mengumpulkan keberaniannya yang tersisa. "Lo... boleh tidur di kamar utama sama gue. Mulai malam ini."

Baskara terpaku. Seluruh tubuhnya seolah membeku di tempat. Matanya sedikit melebar, mencari tanda-tanda apakah istrinya sedang bercanda atau mungkin sedang mengigau karena kelelahan. "Kamu... serius, Ziva?"

Ziva mengangguk pelan, wajahnya mulai terasa panas meskipun ia mencoba tetap terlihat santai. Ia merapikan blazer lemonnya yang sudah sedikit kusut. "Iya. Selama ini kan gue belum jadi istri yang baik buat lo. Gue selalu ketus, selalu benci... padahal lo udah banyak bantu gue. Anggep aja ini permulaan. Gue pengen kita coba jalanin ini... pelan-pelan."

Baskara melangkah mendekat, namun ia menjaga jarak yang sopan agar Ziva tidak merasa terintimidasi. "Ziva, aku tidak pernah memintamu untuk memaksakan diri. Kalau kamu masih belum nyaman—"

"Gue nyaman kok," potong Ziva cepat, kali ini ia memberanikan diri menatap mata Baskara. "Maksud gue, daripada lo tidur di kasur lipat gara-gara takut tikus, atau tidur di kamar tamu yang AC-nya sering bunyi berisik itu... mending di atas. Kamar itu besar, Kak. Kasurnya juga muat buat berdua."

Ziva segera berbalik dan menaiki tangga dengan cepat sebelum ia berubah pikiran karena malu. "Gue mandi dulu! Lo bawa barang-barang lo ke atas!" teriaknya dari lantai dua.

Baskara masih berdiri di ruang tengah, menatap anak tangga yang baru saja dilewati Ziva. Sebuah senyum yang sangat tulus akhirnya merekah di wajahnya yang biasanya kaku. Ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia sedang mengejar tersangka di lapangan. Dengan langkah ringan, ia menuju kamar tamunya untuk mengambil bantal dan perlengkapan tidurnya.

Ziva keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun lavender yang menenangkan. Ia sudah mengenakan piyama panjang bermotif bunga-bunga kecil. Rambutnya masih sedikit basah, ia membungkusnya dengan handuk. Begitu ia masuk ke kamar utama, ia melihat Baskara sudah ada di sana.

Pria itu tampak sedang sibuk menata bantal di sisi kanan ranjang. Ia sudah mengganti seragamnya dengan kaus oblong hitam dan celana kain santai. Suasana kamar yang biasanya terasa luas dan sepi, kini mendadak terasa penuh dengan kehadiran Baskara.

"Gue... gue bagi dua ya kasurnya. Sisi sini punya gue, sisi sana punya lo," ucap Ziva sambil menunjuk pembagian wilayah imajiner di atas sprei.

Baskara mengangguk patuh. "Tentu. Aku tidak akan melewati batas tanpa izinmu."

Ziva duduk di tepi ranjang, mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia merasa sangat canggung. Ini adalah pertama kalinya ia akan berbagi ranjang yang sesungguhnya dengan pria yang dulu ia tuduh sebagai penyebab kematian kakaknya. Namun, melihat punggung tegap Baskara yang sedang merapikan selimut, rasa benci itu perlahan tergantikan oleh rasa tenang.

"Kak," panggil Ziva lagi.

"Ya?"

"Makasih ya udah mau sabar sama gue. Gue tau gue nyebelin banget selama ini."

Baskara berhenti dari kegiatannya. Ia menoleh dan duduk di sisi ranjangnya sendiri, menghadap Ziva. "Aku juga minta maaf, Ziva. Untuk kecelakaan itu, untuk sabotase kerja itu... aku janji akan jadi lebih baik."

Ziva tersenyum tipis. Ia merebahkan tubuhnya di bawah selimut, menarik kain itu hingga ke dagu. Baskara mengikuti, ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram.

Dalam kegelapan yang tenang itu, mereka berdua berbaring berdampingan. Ada jarak sekitar tiga puluh sentimeter di antara mereka, namun rasanya jauh lebih dekat daripada sebelumnya. Ziva bisa mendengar deru napas Baskara yang tenang, sebuah irama yang anehnya membuatnya merasa aman.

"Selamat tidur, Kak Baskara," bisik Ziva.

"Selamat tidur, Zivanya Aurora."

Malam itu, tidak ada barikade bantal yang tinggi seperti saat insiden tikus. Yang ada hanyalah kesepakatan bisu untuk memulai semuanya dari awal. Di kamar utama yang menjadi saksi bisu pernikahan kontrak mereka, benih-benih perasaan yang sesungguhnya mulai tumbuh secara perlahan, menggantikan duri-duri luka yang selama ini menusuk hati mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!