"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."
Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.
Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.
Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan Terberat Sang CEO
Nevan, dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa tinggi khas seorang Bossman, sama sekali tidak terlihat malu. Ia justru merapikan sedikit jilbab Naira yang agak berantakan, lalu menatap Papanya dengan wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Maaf, Pa. Sepertinya sensor pintu lift ini terlalu cepat terbuka," ucap Nevan tenang sambil menuntun Naira keluar dari lift dengan perlindungan lengannya.
Adhitama hanya menggelengkan kepala, menatap putranya dengan tatapan tidak habis pikir. "Pulang sekarang, Nevan. Sebelum kamu membuat keributan lain yang bisa menurunkan harga saham perusahaan besok pagi!"
"Kami memang mau pulang, Pa. Mari," pamit Nevan singkat.
Nevan terus melangkah dengan langkah lebar, tetap menggenggam tangan Naira yang masih tertunduk malu. Sementara di belakang mereka, Dimas hanya bisa mengurut dada, menyadari bahwa kehidupan kerjanya akan terus penuh dengan kejutan luar biasa semenjak bosnya itu resmi menjadi budak cinta seorang Naira.
Suara pintu mobil mewah itu tertutup dengan debum yang solid, mengunci kebisingan kota Jakarta di luar sana. Begitu Nevan menginjak pedal gas dan mobil mulai meluncur membelah jalanan malam, keheningan di dalam kabin tidak bertahan lama.
Naira tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu bahunya mulai bergetar hebat. "Mas... aku malu sekali! Wajah Papa tadi... astaga, aku ingin menghilang saja dari bumi!"
Nevan melirik sekilas ke arah istrinya, lalu tawa baritonnya pecah memenuhi ruang mobil. "Kamu lihat muka Dimas, Sayang? Matanya hampir keluar dari tempatnya. Sepertinya besok dia butuh cuti trauma karena terlalu banyak melihat adegan gratis."
"Ini semua karena Mas Nevan!" Naira memukul pelan bahu suaminya sambil tertawa di sela sisa rasa malunya. "Mas itu benar-benar 'setelan pabrik' yang rusak. Di depan staf galaknya minta ampun, tapi di dalam lift malah... ah, memalukan sekali!"
Nevan terkekeh, ia meraih jemari Naira dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap kokoh di kemudi. Ia membawa tangan mungil itu ke bibirnya, mengecupnya dengan sangat lama dan penuh perasaan.
"Biarkan saja, Nai. Aku tidak peduli mereka mau bilang apa," ucap Nevan, suaranya kini melunak, kembali ke nada lembut yang hanya milik Naira. "Hari ini luar biasa. Kamu datang, membawakan makan siang, dan mengingatkanku bahwa hidup ini bukan cuma soal angka di laporan keuangan."
Naira meredakan tawanya, menatap profil samping wajah suaminya yang tampak tampan di bawah bias lampu jalanan yang masuk melalui kaca mobil. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Nevan, merasa sangat aman dan dicintai.
"Aku juga senang hari ini, Mas. Meskipun harus berakhir dengan drama 'kemeja putih' dan 'kejadian lift' itu," bisik Naira tulus.
Nevan mengeratkan genggaman tangannya. Di balik semua kekonyolan dan ketegangan yang mereka alami seharian ini, ada sesuatu yang terasa semakin kuat di dalam dada mereka. Cinta yang awalnya tumbuh dari komitmen, kini mulai merekah dengan kelopak yang begitu indah. Setiap tawa, setiap rasa malu, bahkan setiap kecemburuan posesif Nevan, menjadi pupuk yang membuat perasaan mereka semakin dalam.
"Terima kasih sudah menjadi rumahku, Naira," gumam Nevan pelan sambil mengecup puncak kepala istrinya saat mobil berhenti di lampu merah.
"Dan terima kasih sudah menjadi suamiku yang paling ajaib, Mas," balas Naira sambil tersenyum manis.
Malam itu, di bawah kerlip lampu ibu kota, Nevan dan Naira sadar bahwa perjalanan mereka masih panjang. Akan ada lebih banyak drama, lebih banyak omelan dari Papa Adhitama, dan mungkin lebih banyak kejutan untuk Dimas. Namun, selama mereka tetap bergandengan tangan seperti ini, mereka tahu bahwa cinta mereka akan selalu menemukan jalan untuk terus mekar, lebih indah dari hari-hari sebelumnya.
Mobil mewah Nevan akhirnya berhenti tepat di depan teras mansiun mereka yang megah. Begitu mesin mati, Nevan tidak membiarkan Naira menyentuh aspal sedikit pun. Dengan gerakan sigap dan protektif, ia langsung membopong tubuh istrinya dalam gendongan bridal style.
"Mas... turunkan, aku bisa jalan sendiri. Malu dilihat pelayan," bisik Naira sambil melingkarkan lengannya di leher Nevan.
"Diamlah, Sayang. Anggap saja ini olahraga malam untuk suamimu," balas Nevan dengan senyum nakal yang tertahan. Ia melangkah mantap menaiki tangga, berniat membawa "harta karunnya" itu langsung ke kamar utama untuk melanjutkan sisa kemesraan yang tertunda di kantor tadi.
Namun, baru saja kaki Nevan hendak melangkah melewati ambang pintu besar di lantai dua, sebuah suara cempreng yang sangat familier menghentikan langkahnya.
"Papa! Turunkan Mama!"
Nevan membeku. Ia menoleh ke bawah dan mendapati sosok bocah laki-laki berusia dua tahun sedang berdiri dengan kedua tangan di pinggang kecilnya. Arkana. Jagoan kecil itu menatap Papanya dengan tatapan menyelidik, seolah sedang memergoki pencuri yang hendak membawa lari barang berharganya.
"Arkana? Kenapa belum tidur, Nak?" tanya Nevan, mencoba tetap berwibawa meski tangannya mulai pegal membopong Naira.
"Mama punya Arkana! Turunkan!" perintah bocah itu lagi. Ia berlari kecil lalu menarik-narik ujung celana kain Nevan dengan gigih.
Naira terkekeh melihat tingkah putranya. "Turunkan aku, Mas. Bos kecil sudah protes."
Dengan berat hati dan napas yang terbuang kasar, Nevan menurunkan Naira. Begitu kaki Naira menyentuh lantai, Arkana langsung menghambur memeluk kaki sang Mama, seolah sedang memasang barikade agar Nevan tidak bisa mendekat lagi.
"Mama... bobo sama Arkana. Main mobil-mobilan dulu," ucap Arkana sambil menarik tangan Naira menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar utama.
Naira menoleh ke arah Nevan dengan tatapan meminta maaf yang dibalut tawa kecil. "Maaf ya, Mas. Sepertinya 'klien' yang satu ini jauh lebih galak dari Papa Adhitama. Aku menemani Arkana dulu sampai dia terlelap, ya?"
Nevan hanya bisa berdiri mematung di koridor sunyi itu, menatap punggung istri dan anaknya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar Arkana. Ia mengacak rambutnya yang tadi sudah rapi dengan perasaan frustrasi yang kocak.
"Luar biasa," gerutu Nevan pelan pada dinding koridor. "Aku bisa menaklukkan ratusan pemegang saham, bisa membungkam lawan bisnis dalam satu kali rapat, tapi kalah telak sama bocah dua tahun yang hobi minum susu botol."
Nevan bersandar di pintu kamarnya sendiri, melipat tangan di dada sambil terus mengomel lirih. "Saingan terberatku ternyata bukan CEO perusahaan sebelah, tapi hasil produksiku sendiri. Benar-benar tidak tahu terima kasih, sudah dibuatkan Mama yang cantik, eh... malah Mamanya mau dikuasai sendiri."
Ia melirik jam tangannya, menghitung mundur kapan kira-kira Arkana akan tertidur lelap sehingga ia bisa "menculik" istrinya kembali. Di mansiun mewah itu, sang Bossman Wiratama harus belajar satu hal penting: Bahwa di hadapan Arkana, jabatannya sebagai CEO sama sekali tidak berlaku.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan kaus santai serta celana pendek, Nevan tidak lantas menuju ranjangnya sendiri. Langkah kakinya justru tertuju pada pintu kamar di sebelahnya. Dengan gerakan sangat perlahan, seolah sedang melakukan misi rahasia, ia memutar gagang pintu kamar Arkana.
Cklek.
Suasana di dalam kamar itu sangat tenang, hanya diterangi lampu tidur berbentuk bintang yang berpendar kekuningan. Nevan menghela napas kasar saat melihat pemandangan di depannya. Di atas ranjang kecil itu, Naira tampak tertidur pulas sambil memeluk erat tubuh mungil Arkana. Keduanya tampak begitu damai, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Nevan melangkah mendekat. Ia memungut buku dongeng yang masih terbuka di atas seprai—mungkin Naira baru saja selesai membacakannya sebelum akhirnya ikut terlelap karena kelelahan seharian di kantor. Nevan meletakkan buku itu di atas meja lampu dengan rapi.
Ia merunduk sejenak, memperbaiki letak selimut Arkana dan mengecup kening jagoan kecilnya itu dengan tulus. "Tidurlah yang nyenyak, Saingan Kecil. Tapi malam ini, Mama harus kembali ke posisinya," bisik Nevan sangat pelan.
Dengan gerakan yang sangat lihai dan hati-hati agar tidak membangunkan salah satu dari mereka, Nevan menyusupkan lengannya ke bawah tubuh Naira. Ia membopong istrinya keluar dari sana, melakukan "evakuasi" diam-diam menuju kamar utama.
Begitu sampai di kamar mereka, Nevan merebahkan Naira di atas kasur king size yang empuk. Ia menyelimuti istrinya dengan penuh kasih, lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah tenang Naira.
"Naira... Sayang..." panggil Nevan lirih sambil mengusap pipi istrinya.
Naira hanya bergumam kecil, lalu mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Nevan, mencari posisi yang lebih nyaman dalam alam bawah sadarnya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda wanita itu akan bangun untuk melayani suaminya.
Nevan menghela napas panjang, lalu mengacak rambutnya sendiri dengan ekspresi frustrasi yang lucu. "Luar biasa nasibku malam ini. Di kantor kena interupsi Papa, di rumah kena blokade anak sendiri. Sekarang setelah berhasil kuculik, permaisurinya malah sudah pindah ke alam mimpi."
Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Bayangan kemesraan yang ia bayangkan sepanjang jalan pulang tadi seketika menguap. "Dingin sekali nasibmu, Nevan. Sepertinya malam ini aku hanya akan memeluk guling, sementara pemilik aslinya sudah terlelap duluan."
Nevan akhirnya merebahkan tubuhnya di samping Naira. Meski sedikit menggerutu karena keinginannya tidak tersampaikan, ia tetap menarik tubuh Naira ke dalam dekapannya dari belakang. Ia mengecup bahu istrinya lembut sebelum memejamkan mata.
"Selamat tidur, Pencuri Hatiku. Besok pagi, aku pastikan kamu tidak akan bisa lari dari suamimu ini," gumam Nevan sebelum akhirnya ikut menyusul sang istri ke alam mimpi, membiarkan keheningan malam membungkus mansiun Wiratama dengan kedamaian.