NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 Bayangan dari Masa Lalu

Suasana kantor Wijaya Group mulai normal kembali setelah penangkapan Pak Baskoro dan pasukannya. Genta kini duduk di kursi empuk ruang Direktur Keamanan, namun kakinya tetap diangkat ke atas meja sambil asyik ngemil krupuk kaleng. Sarung kotak-kotaknya masih melilit gagah di pinggang.

​"Genta, kamu itu sudah jadi Direktur, mbok ya kakinya diturunkan sedikit," tegur Clarissa yang baru masuk membawa laporan keuangan.

​Genta nyengir lebar. "Lho, Mbak Bos, kursi empuk iki lak nggo santai. Yen nggo kaku-kakuan, mending aku lungguh neng dhuwur pager kantor wae."

​Clarissa hanya bisa menghela napas, namun matanya memancarkan rasa sayang. "Oh ya, ada paket misterius untukmu di depan. Tidak ada nama pengirimnya, hanya ada simbol aneh."

​Genta langsung menurunkan kakinya. Firasatnya mulai tidak enak. Paket itu diletakkan di atas meja. Isinya hanya sebuah kotak kayu tua yang aromanya sangat ia kenal: bau kemenyan dan minyak zaitun persis seperti milik Abah Mansur.

​Begitu dibuka, mata Genta membelalak. Di dalamnya terdapat sebuah Sarung Hitam Polos yang kainnya terasa dingin seperti es, dan sebuah foto tua yang sudah agak robek.

​Di foto itu, tampak Ayah Genta sedang berdiri merangkul seorang pria lain yang wajahnya sengaja dicoret tinta merah. Di latar belakang foto tersebut, tampak sebuah bangunan tua di pinggiran kota yang sangat Genta kenal: Markas Besar Tangan Hitam yang asli.

​"Genta? Wajahmu pucat sekali. Ada apa?" tanya Clarissa khawatir.

​Genta meremas foto itu. "Iki dudu surat biasa, Mbak Bos. Iki tantangan seko wong sing wis mateni bapakku sepuluh tahun kepungkur."

​Belum sempat Clarissa merespons, Joni mendobrak pintu dengan napas tersenggal-senggal. "Mas Genta! Gawat! Abah Mansur... padepokannya di Sidoarjo diserang! Abah hilang, Mas!"

​Genta langsung berdiri, menyambar jaket kulitnya. Amarahnya memuncak. Ternyata Pak Baskoro hanyalah "anak buah" kecil. Musuh yang sebenarnya baru saja menampakkan taringnya.

​"Joni, siapkan semua tim! Jangan ada yang bawa senjata api, suruh mereka bawa sarung masing-masing yang sudah aku ajarkan!" perintah Genta dengan suara menggelegar.

​Clarissa memegang tangan Genta. "Jangan pergi sendirian, Genta. Ini jebakan!"

​Genta menatap istrinya dengan lembut namun tegas. "Mbak Bos, yen asu wis wani nggigit guru, tegese macan kudu mudhun gunung. Jogo anak-anak neng omah, aku bakal bali nggowo Abah Mansur."

​Genta melesat keluar kantor. Di parkiran, dia tidak lagi naik motor sport-nya, melainkan mengeluarkan motor butut legendarisnya yang ternyata sudah dimodifikasi dengan mesin "setan".

​Dengan Sarung Hitam pemberian misterius itu melilit di lehernya, Genta memacu motornya menuju perbatasan Sidoarjo. Dia tahu, mulai bab ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Musuh kali ini bukan hanya preman jalanan, tapi para ahli bela diri gaib yang tergabung dalam organisasi "Suro diro Joyoningrat".

​"Rasakno kowe kabeh... Genta Arjuna wis teko!" teriaknya membelah angin malam Surabaya.

Deru mesin motor butut Genta membelah sunyinya jalanan perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Angin malam yang dingin terasa menusuk tulang, tapi amarah di dada Genta jauh lebih panas. Sarung hitam pemberian misterius itu berkibar di lehernya, mengeluarkan aroma mistis yang membuat bulu kuduk siapa pun yang berpapasan dengannya merinding.

​Begitu sampai di depan gerbang padepokan Abah Mansur, Genta mengerem mendadak hingga bannya berasap. Pemandangan di depannya membuat jantung Genta seolah berhenti berdetak. Gerbang kayu jati yang biasanya kokoh itu hancur berkeping-keping.

​Beberapa santri senior Abah Mansur tergeletak lemas di halaman. Meskipun tidak ada luka berdarah, wajah mereka pucat pasi seolah energinya telah dihisap habis oleh kekuatan gaib yang tak terlihat.

​.

.

.

​"Mas... Mas Genta..." rintih salah satu santri bernama Slamet sambil memegangi dadanya.

​Genta langsung turun dan memapah Slamet. "Met! Apa yang terjadi? Siapa yang berani berbuat biadab begini di rumah Abah?"

​Slamet menunjuk ke arah pendopo utama dengan tangan gemetar. "Orang-orang itu... mereka tidak pakai senjata tajam, Mas. Mereka hanya pakai Surban Merah. Sekali kibas, kami semua langsung lemas. Abah... Abah dibawa paksa ke arah Gunung Penanggungan."

​Genta mengepalkan tinjunya hingga terdengar bunyi gemertak tulang yang mengerikan. "Surban Merah? Dadi bener... kelompok Suro diro Joyoningrat wis tangi maneh seko kuburane!"

​.

.

.

​Tiba-tiba, dari kegelapan pohon beringin di sudut padepokan, terdengar suara tawa yang melengking tinggi. Tiga orang pria muncul dengan jubah hitam dan surban merah melilit di kepala mereka. Di tangan masing-masing, mereka memegang sebuah tongkat kayu pendek yang ujungnya runcing.

​"Genta Arjuna... anak dari macan yang sudah ompong," ejek salah satu dari mereka yang memiliki tahi lalat besar di dagunya. "Abah Mansur sudah terlalu tua untuk menjaga rahasia Sarung Hitam itu. Serahkan pada kami, atau padepokan ini akan jadi makammu malam ini!"

​Genta berdiri tegak, melepaskan sarung hitam dari lehernya dan melilitkannya ke pinggang dengan sangat rapi. Matanya berkilat tajam di bawah cahaya bulan purnama.

​"Rahasia sarung ini bukan untuk orang-orang rakus seperti kalian," jawab Genta dengan suara rendah yang menggetarkan udara di sekitarnya. "Kalian sudah salah alamat kalau mau pamer ilmu neng kene!"

​.

.

.

​Ketiga pria itu menyerang secara bersamaan. Gerakan mereka sangat aneh, melompat-lompat seperti kijang namun setiap pukulannya mengeluarkan hawa panas yang membakar kulit. Genta menghindar dengan tenang, melakukan gerakan geser kaki yang dia pelajari dari Abah Mansur sejak kecil.

​Satu pukulan hampir mengenai dada Genta, namun Genta dengan cepat mengeluarkan senjata andalannya dari balik saku jaketnya: Kacang atom pedas.

​Genta melemparkan segenggam kacang itu ke arah lantai beton di bawah kaki musuh. Begitu kaki mereka menginjak kacang-kacang itu, permukaannya menjadi sangat licin karena minyak khusus yang sudah Genta oleskan sebelumnya.

​BRAK! GEDUBRAK!

​Dua dari pria bersurban merah itu terpeleset dengan posisi yang sangat memalukan—satu mencium lantai, satunya lagi nungsep ke dalam bak air wudhu dengan kaki di atas.

​"Iki jenenge Jurus Kacang Siliwangi, Rek! Mlayu o sak bantermu, yen sikilmu gak napak aspal yo percuma!"

​.

.

.

​Pria pemimpin yang tersisa semakin geram melihat teman-temannya dipermalukan. Dia mengayunkan tongkat kayunya, mengincar leher Genta dengan kecepatan tinggi. Genta tidak menghindar kali ini. Dia menggunakan ujung sarung hitamnya untuk menangkap tongkat itu.

​Begitu kain sarung bersentuhan dengan kayu, tiba-tiba muncul percikan api biru yang menyambar-nyambar. Genta merasakan kekuatan besar mengalir dari sarung hitam itu ke tangannya. Kaki Genta terasa seperti tertanam kuat ke dalam bumi, tak tergoyahkan.

​Dengan satu sentakan kuat yang dibarengi teriakan batin, tongkat kayu musuh itu patah menjadi dua bagian hanya dengan gesekan kain sarung. Pria bersurban merah itu terbelalak tidak percaya.

​"Tidak mungkin! Kamu sudah bisa mengaktifkan Ilmu Lipat Bumi dari sarung itu hanya dalam waktu sekejap?" teriaknya panik.

​Genta menarik nafas dalam-dalam, hawa dingin dari sarung itu kini mulai menyatu dengan detak jantungnya. "Aku durung pinter, tapi cukup nggo nggawe sampeyan kabeh mulih karo nangis!"

​.

.

.

​Genta melompat tinggi, melakukan tendangan putar yang sangat cepat dan bertenaga. Ketiga pria itu terlempar keluar gerbang padepokan hingga menabrak pohon pisang di seberang jalan. Tanpa menunggu lama, mereka segera kabur menggunakan motor mereka yang disembunyikan di semak-semak.

​Genta tidak mengejar. Dia segera berlari masuk ke dalam kamar pribadi Abah Mansur. Di sana, ia menemukan sebuah pesan misterius yang tertulis di lantai menggunakan debu halus.

​"Genta... Cari Kitab Lontong Bolong di Puncak Penanggungan. Hanya itu yang bisa mengalahkan Surban Merah."

​Genta terduduk lemas sejenak di lantai. "Kitab Lontong Bolong? Abah iki isih sempet-sempete nggawe jeneng sing aneh neng kahanan koyo ngene."

​Namun Genta tahu, ini baru permulaan dari perjalanan panjang yang sesungguhnya. Musuh kali ini punya kekuatan gaib yang tak main-main. Dia harus segera berangkat ke Gunung Penanggungan sebelum terlambat.

​"Tunggu aku, Bah. Gunung Penanggungan bakal dadi saksi, yen sarung kotak-kotak lan sarung ireng iki bakal nyatu nggo ngeratake kabeh kejahatan

Genta segera mengemasi barang-barangnya. Ia tidak membawa banyak bekal, hanya sarung hitam yang melilit di pinggang dan sisa kacang atom di sakunya. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri mengunci gerbang padepokan yang hancur dengan sisa-sisa kekuatannya.

​"Slamet, bawa santri yang lain ke tempat aman. Jangan kembali sampai aku membawa Abah pulang," perintah Genta dengan nada rendah namun penuh wibawa.

​Slamet hanya bisa mengangguk pasrah. Ia melihat punggung Genta yang perlahan menghilang ditelan kegelapan malam, menuju arah selatan, tempat Gunung Penanggungan berdiri dengan kokohnya.

​.

.

.

​Perjalanan menuju kaki gunung memakan waktu hampir dua jam. Genta sengaja mematikan lampu motornya agar tidak terdeteksi oleh intel-intel Surban Merah yang mungkin berjaga di sepanjang jalan.

​Sesampainya di jalur pendakian, Genta menyembunyikan motornya di balik semak belukar yang rimbun. Ia mulai mendaki dengan langkah seribu. Anehnya, sarung hitam yang ia pakai seolah memberikan energi tambahan; kakinya terasa ringan saat meloncati akar-akar pohon yang besar.

​"Kenapa hawanya jadi makin panas?" gumam Genta saat ia sampai di pos pendakian kedua.

​.

.

.

​Tiba-tiba, dari balik kabut tebal, muncul sesosok wanita tua yang membawa kayu bakar. Wanita itu berhenti tepat di depan Genta dan menatapnya dengan mata yang putih semua, tanpa pupil.

​"Anak muda, apa yang kamu cari di puncak yang sedang terbakar?" tanya wanita itu dengan suara yang bergema di kepala Genta.

​Genta berhenti sejenak, ia waspada. "Saya mencari kebenaran, Nek. Dan saya mencari Kitab Lontong Bolong."

​Wanita itu tertawa, suaranya terdengar seperti gesekan amplas pada besi karatan. "Kitab itu tidak ada gunanya bagi orang yang hatinya masih penuh dengan dendam."

​.

.

.

​"Saya bukan dendam, Nek. Saya hanya ingin menyelamatkan guru saya!" jawab Genta tegas.

​Wanita tua itu mendadak menghilang, menyisakan selembar kain merah kecil yang tergeletak di tanah. Genta memungut kain itu, ternyata itu adalah potongan Surban Merah milik musuh yang menyerang padepokan tadi.

​Di kain itu tertulis koordinat lokasi: Puncak Bayangan. Genta sadar, ini bukan sekadar pendakian biasa, ini adalah ujian mental pertama baginya.

​"Puncak Bayangan ya? Oke, kita lihat siapa yang bakal jadi bayangan di sana," ucap Genta sambil mempercepat langkahnya.

​.

.

.

​Makin tinggi ia mendaki, tekanan udara makin terasa berat. Genta mulai melihat halusinasi: bayangan ayahnya yang sedang tersenyum, lalu berubah menjadi Pak Baskoro yang sedang tertawa, dan terakhir bayangan Clarissa yang sedang menangis meminta tolong.

​"Ojo macem-macem karo pikiranku!" teriak Genta sambil menghentakkan kakinya ke tanah.

​Seketika, bayangan itu buyar. Genta mengeluarkan botol air mineral dari tasnya, meminumnya sedikit, lalu melanjutkan pendakian dengan mata tertutup. Ia tidak lagi mengandalkan mata, melainkan mengandalkan getaran energi dari sarung hitamnya.

​.

.

.

​Tepat saat matahari mulai mengintip di cakrawala timur, Genta sampai di sebuah dataran datar yang luas. Di sana, ia melihat sebuah kuil tua yang terbuat dari tumpukan batu andesit.

​Di depan kuil itu, duduk seorang pria dengan surban merah yang sangat besar, sedang bersemedi di atas sebuah batu runcing. Di sampingnya, Abah Mansur tampak terikat dengan rantai energi yang bersinar kemerahan.

​"Akhirnya datang juga, sang pewaris sarung rongsokan," ucap pria itu tanpa membuka matanya.

​Genta mengepalkan tangan, siap untuk pertarungan hidup mati. "Lepaskan Abah, atau aku ratakan tempat ini dengan tanah!"

Pria bersurban merah itu perlahan membuka matanya. Sorot matanya merah menyala, memancarkan hawa dingin yang sangat bertolak belakang dengan panasnya kawah Gunung Penanggungan. Di dadanya melilit sebuah kalung dari taring macan yang sudah menghitam.

​"Aku adalah Ki Suro, panglima dari Suro diro Joyoningrat," ucap pria itu dengan suara yang berat. "Abahmu ini sudah terlalu lama menyembunyikan kunci menuju kekuasaan absolut."

​Genta melihat Abah Mansur yang terkulai lemas. Rantai merah itu seolah menghisap setiap tetes tenaga sang guru. Genta melangkah maju, namun tiba-tiba tanah di bawah kakinya bergetar hebat.

​.

.

.

​"Jangan melangkah lagi, Genta!" teriak Abah Mansur dengan suara parau. "Rantai ini tidak bisa diputus dengan tenaga kasar. Kamu harus menggunakan Kitab Lontong Bolong!"

​Genta bingung. "Lah, kitabnya di mana, Bah? Masa saya harus ke warung dulu?"

​Ki Suro tertawa terpingkal-pingkal. "Kitab itu hanya mitos untuk menakuti anak kecil! Sekarang, serahkan sarung hitammu atau aku hancurkan jantung gurumu ini!"

​.

.

.

​Genta menarik napas dalam-dalam. Ia menutup mata dan mencoba berkomunikasi dengan getaran dari sarung hitam yang melilit pinggangnya. Tiba-tiba, ia teringat kata-kata Abah dulu: Kejujuran hati adalah lubang yang paling dalam.

​"Lontong Bolong... Lontong itu isinya kosong, tapi mengenyangkan. Bolong itu lubang, tapi jalan keluar," gumam Genta.

​Seketika, Genta menyadari sesuatu. Ia meraih sebuah batu kali yang ada di dekatnya, lalu melubangi bagian tengahnya dengan ujung sarung hitamnya yang mendadak tajam seperti keris.

​.

.

.

​Genta melemparkan batu bolong itu tepat ke arah rantai energi merah yang mengikat Abah Mansur. Begitu batu itu melewati rantai, energi merah itu tersedot masuk ke dalam lubang batu tersebut dan menghilang menjadi asap putih.

​KRETEK! BRAK!

​Rantai itu hancur seketika. Abah Mansur terjatuh, namun Genta dengan sigap melompat dan menangkap tubuh gurunya. Ki Suro terbelalak, wajahnya yang tadinya sombong kini berubah menjadi penuh amarah.

​.

.

.

​"Kurang ajar! Kamu berani mempermainkan ilmuku dengan trik murahan begitu?" teriak Ki Suro sambil bangkit dari batu semedinya.

​Genta menyengir nakal, meskipun keringat dingin membasahi dahinya. "Iki dudu trik murahan, Pak Suro. Iki jenenge filosofi Lontong Bolong. Sing ketoké kosong, jebule isine nyowo!"

​Ki Suro merentangkan kedua tangannya. Seketika, kabut hitam mulai menyelimuti puncak gunung. Puluhan bayangan prajurit gaib muncul dari balik bebatuan, semuanya membawa senjata tajam yang bersinar kemerahan.

​.

.

.

​Genta meletakkan Abah Mansur di tempat yang aman. Ia berdiri di depan sang guru, merentangkan sarung hitamnya lebar-lebar seperti sayap elang. Angin di puncak gunung mendadak bertiup kencang, berputar mengelilingi tubuh Genta.

​"Bah, istirahat dulu ya. Biar murid sengklekmu ini yang meratakan barisan Surban Merah," bisik Genta.

​Genta mulai menari. Gerakannya aneh, perpaduan antara silat harimau dan gaya orang sedang makan krupuk. Namun, setiap kibasan sarungnya mengeluarkan dentuman yang mengguncang puncak Penanggungan.

​.

.

.

​Pertempuran besar di atas awan baru saja dimulai. Genta Arjuna, sang Penjaga Sarung, kini berdiri sendirian menghadapi pasukan gaib dari masa lalu yang haus akan darah.

​Di bawah sinar matahari pagi yang mulai meninggi, Genta berteriak lantang yang suaranya menggema hingga ke lembah-lembah Surabaya.

​"Suro diro joyo jayaningrat, lebur dening pangastuti! Ayo maju kabeh, tak enteni neng kene!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!