NovelToon NovelToon
Dan Ofid

Dan Ofid

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.

Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.

Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.

Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.

Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#5

Suara gemericik air shower yang menghantam lantai marmer terdengar seperti ribuan jarum yang jatuh serentak. Dinginnya air Los Angeles di malam hari seharusnya mampu membekukan akal sehat siapa pun, namun bagi Nyx Morrigan, air es itu terasa seperti bensin yang justru mengobarkan api di dalam darahnya. Zat perangsang dosis rendah yang tercampur dalam bius itu bekerja dengan cara yang licik; ia memanipulasi saraf sensoriknya, mengubah rasa dingin menjadi sengatan listrik yang menuntut pelepasan.

Knox Lambert Riccardo berdiri mematung, pakaian mahalnya kini basah kuyup dan melekat di tubuh atletisnya. Dia memegangi bahu Nyx yang licin karena air, mencoba menahan gadis itu agar tidak terjatuh. Namun, pandangannya terus berpaling, mencoba menjaga sisa-sisa kehormatannya sebagai pria yang baru saja diselamatkan oleh wanita ini.

"Panas... Knox... tolong, ini membakar," rintih Nyx. Suaranya tidak lagi dingin dan tegas seperti saat di gang tadi. Kini, suaranya serak, penuh dengan desakan yang primitif.

Knox menarik napas panjang, uap dingin keluar dari mulutnya. "Bagian mana yang panas, Nyx? Katakan padaku, aku akan menyiramnya lebih banyak. Bagian mana?!" tanya Knox dengan nada panik yang tertahan.

Nyx menatap Knox dengan mata yang sayu dan berkabut. "Semuanya... semuanya panas. Di sini... di dalam sini..."

Tiba-tiba, sebelum Knox sempat bereaksi, tangan Nyx yang ramping bergerak dengan cepat. Dia menyambar pergelangan tangan Knox yang kokoh, lalu dengan gerakan berani, dia menuntun tangan pria itu turun, melewati perutnya yang rata, menuju area sensitif di bagian bawah tubuhnya.

Deg.

Jantung Knox terasa berhenti berdetak saat telapak tangannya menyentuh kulit yang panas dan lembap itu. Nyx menekan tangan Knox di sana, memaksa pria itu untuk merasakan gairah yang sedang menyiksanya.

"Ah... itu enak sekali... terus, Knox... di sana," desah Nyx sambil memejamkan mata, kepalanya bersandar pada dada basah Knox.

Knox memejamkan mata rapat-rapat. Dia adalah pria normal dengan hormon yang meledak-ledak, dan mendapatkan perlakuan seperti ini dari wanita secantik Nyx adalah ujian terberat dalam hidupnya. Namun, otaknya masih berputar; dia tahu ini pengaruh obat. Dia tahu Nyx tidak sadar sepenuhnya. Jika dia melakukan lebih, dia tidak ada bedanya dengan para pengecut anggota Barbaros.

Tapi, melihat Nyx yang begitu tersiksa, Knox akhirnya memberanikan diri untuk "membantu" sekadarnya demi meredakan gejolak itu.

Apapun itu, asal gadis ini berhenti merintih kesakitan. Dengan tangan gemetar, dia memberikan remasan-remasan canggung yang justru disambut dengan lenguhan panjang dari bibir Nyx.

Beberapa menit berlalu yang terasa seperti selamanya. Knox akhirnya mematikan shower. Dia menyambar handuk besar, membungkus tubuh Nyx yang gemetar—antara kedinginan karena air dan kepanasan karena obat—lalu menggendongnya keluar menuju kamar tidur utama.

Dia membaringkan Nyx di atas ranjang king size miliknya yang beralaskan seprai sutra hitam. Nyx bergerak liar di atas kasur, handuknya terlepas separuh, memperlihatkan lekuk tubuh yang selama ini disembunyikan di balik baju-baju pria yang membosankan.

"Kau kasar sekali, Knox," gumam Nyx tiba-tiba, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong namun menggoda. "Apa kau suka bermain kasar? Oh... aku suka itu. Ayahku selalu kasar, duniaku selalu kasar... tunjukkan padaku kekasaran yang berbeda."

Knox tidak menjawab. Dia berdiri di tepi ranjang, mengatur napasnya yang memburu. Dia menatap Nyx, lalu beralih menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia tampak mengerikan; babak belur, basah kuyup, dan berada di ambang kehancuran moral.

Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalanya. Dia harus melindungi dirinya sendiri. Dia tahu siapa keluarga Nyx—meski Nyx tidak mengatakannya, tato kecil di pergelangan tangan gadis itu atau cara bicaranya menunjukkan dia bukan orang sembarangan. Dan Knox sendiri adalah seorang Riccardo. Skandal adalah hal terakhir yang dia butuhkan.

Dengan tangan gemetar, Knox mengambil ponselnya dari nakas. Dia mengarahkan kamera ke arah mereka berdua, memastikan wajahnya dan wajah Nyx terlihat jelas, namun tetap menjaga agar bagian paling intim tetap tertutup selimut. Dia menekan tombol record.

"Ini bukti rekaman," ucap Knox langsung ke arah kamera, suaranya parau namun tegas. "Aku tidak melakukan hal-hal yang merugikanmu secara sepihak, Nyx. Aku mengaku... aku meremas kedua dadamu dan... sedikit menyentuh bagian bawahmu tadi di kamar mandi karena kau yang memintanya, karena kau terpengaruh obat. Tapi di sini, aku murni mencoba memakaikanmu pakaian. Aku meminjamkan semua bajuku padamu."

Nyx, yang masih dalam pengaruh obat, justru tertawa kecil. Dia menarik ujung kaos Knox yang basah. "Oh tidak... kau apakan aku, Knox? Kenapa kita harus berpakaian? Bukankah kita akan bercinta? Kau menyelamatkanku, aku menyelamatkanmu... bukankah itu adil?"

Knox meletakkan ponselnya yang masih merekam di posisi yang strategis. Dia meraih sebuah kaos oblong bersih dan celana pendek miliknya.

"Tidak-tidak, stop! Tidak ada percintaan!" tegas Knox sambil mencoba memakaikan kaos itu ke kepala Nyx.

"Jangan lagi ada sentuhan fisik yang aneh-aneh. Kau sedang mabuk obat, Nyx. Jika kita melakukan ini sekarang, kau akan membenciku besok pagi, dan aku akan membenci diriku sendiri selamanya."

"Kenapa kau begitu membosankan?" Nyx merajuk, bibirnya mengerucut manis.

Knox berhasil memasukkan kaos itu ke tubuh Nyx. Saat dia sedang berjuang menarik celana pendek untuk menutupi bagian bawah gadis itu, Nyx tiba-tiba bangkit dari posisi berbaringnya.

Cup.

Sebuah ciuman lembut, namun penuh tuntutan, mendarat tepat di bibir Knox.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Knox Lambert Riccardo. Bibir Nyx terasa sangat lembut, kontras dengan kepribadiannya yang tangguh saat menghajar pengeroyok tadi. Ciuman itu tidak hanya sekadar sentuhan; itu adalah ledakan emosi. Nyx melingkarkan lengannya di leher Knox, memperdalam ciuman itu dengan gila.

Benar-benar gila. Gadis ini benar-benar kehilangan kendali saat "mabuk" obat.

Knox mencoba melepaskan diri, namun setiap kali dia mencoba menjauh, Nyx justru menariknya lebih dekat. "Jangan pergi..." bisik Nyx di sela ciuman mereka. "Hanya malam ini... biarkan aku merasa hidup sebagai seorang wanita, Knox. Sekali saja."

Hati Knox bergetar. Dia bisa merasakan kesedihan yang mendalam di balik desakan gairah itu. Seperti-nya Nyx sedang terluka, bukan hanya karena obat, tapi karena hidupnya. Namun, dia harus tetap menjadi jangkar di tengah badai ini.

"Tidurlah, Nyx," bisik Knox akhirnya setelah berhasil melepaskan tautan bibir mereka dengan lembut. Dia menyelimuti gadis itu hingga sebatas leher, lalu duduk di kursi di pojok kamar, menjauhkan diri dari jangkauan tangan Nyx.

Dia membiarkan ponselnya tetap merekam, sebagai saksi bisu bahwa malam ini, di apartemen mewah itu, seorang Riccardo memilih untuk menjaga seorang Morrigan, meskipun seluruh instingnya berteriak untuk melakukan hal yang sebaliknya.

Nyx perlahan mulai tenang, napasnya menjadi lebih teratur saat kantuk dari sisa obat bius mulai mengambil alih. Sementara itu, Knox terjaga sepanjang malam, menatap gadis yang telah mengacaukan dunianya hanya dalam hitungan jam. Dia tahu, besok pagi saat matahari Los Angeles terbit, penjelasan yang harus dia berikan akan jauh lebih sulit daripada mengalami kekalahan Di Arena.

Di grup chat "The Outcasts", notifikasi terus berbunyi.

Zack: "Bagaimana, Knox? Masih hidup?"

Liam: "Atau sudah 'mati' di atas ranjang? Hahaha!"

Knox hanya melirik layar ponselnya tanpa minat untuk membalas. Dia menghapus semua pesan dari teman-temannya yang bernada melecehkan. Dia tidak ingin Nyx melihat itu jika suatu saat gadis itu memegang ponselnya.

Pukul 03:00 pagi. Knox akhirnya mematikan rekaman video itu dan menyimpannya di folder tersembunyi yang sangat aman. Dia menatap Nyx yang tertidur lelap dengan kaos kebesarannya. Potongan rambut pendeknya terlihat berantakan di atas bantal putih.

"Kau benar-benar masalah besar, Nyx," gumam Knox pelan.

Satu hal yang pasti, motor BMW-nya yang terbakar bukan lagi hal paling menyakitkan yang terjadi malam ini. Karena mulai detik ini, hatinya lah yang mulai merasa terbakar oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada api.

1
ren_iren
lanjutkan.... 🤗
Ros🍂: okay kak🥰🙏
total 1 replies
ren_iren
dapatttt aja visual yg bening2 🤭😂
Ros🍂: biar halu kita lancar jaya kak 😍🤣🤣
total 1 replies
ren_iren
Nyx Knox....
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂
Ros🍂: Ma'aciww kak 🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!