Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEJA YANG KEHILANGAN PEMILIKNYA
Pemandangan kampus masih sama seperti kemarin-kemarin, seolah waktu enggan mengubah ritmenya meski dunia terus berputar. Pohon-pohon angsana di sepanjang jalan tetap menggugurkan bunga-bunga kuning keemasan di trotoar, menciptakan pemandangan yang tak pernah lekang oleh musim. Para mahasiswa baru, dengan ekspresi penuh kebingungan, masih berlarian di lorong-lorong, mencoba memahami liku-liku dunia akademis yang baru mereka pijaki. Sementara itu, aroma khas kertas yang sudah menua tetap memenuhi udara di dalam perpustakaan pusat, membawa sensasi nostalgia yang samar. Namun, bagi Alana, semua ini tak lagi terasa sama. Ada perubahan tak kasat mata yang membuat setiap sudut tempat ini menyimpan bayang-bayang yang berbeda.
Dengan langkah gontai, ia menaiki tangga menuju lantai dua. Tujuannya sudah jelas: sayap kanan, barisan rak buku sastra yang sudah tak asing lagi baginya. Tanpa perlu berpikir, kakinya terhenti di satu titik yang begitu familiar Meja Nomor 15. Meja itu kini tampak kosong, hanya menyisakan permukaan kayunya yang berwarna cokelat pucat tersorot sinar matahari sore. Pantulan cahaya itu menciptakan suasana melankolis, persis seperti gambaran yang dulu pernah diceritakan oleh Raka kepadanya dengan penuh antusias.
Alana menarik kursi yang sudah berdebu itu perlahan, lalu duduk dengan beban berat di dadanya yang seolah tak berkurang walau waktu terus bergulir. Tasnya diletakkan di samping, gerakan tangannya terlihat pelan, hampir ragu. Ia membuka buku catatan lamanya—sebuah buku yang dulu penuh semangat ditulis hingga kini hanya separuhnya tersisa tanpa gairah untuk dilanjutkan. Dengan pena di tangan yang terasa lebih berat dari biasanya, Alana mencoba menulis sesuatu, tapi jemarinya terasa asing dan kaku seolah kehilangan kebiasaan untuk menuangkan isi hati.
Matanya terus-menerus melirik meja lain di dekat sana: Meja Nomor 12. Di sana biasanya terlihat sosok Raka dengan punggung tegapnya yang begitu akrab di matanya. Meja itu kini juga kosong, sunyi seperti ruang kosong di hati Alana. Tidak ada apa-apa selain kenangan, dan entah mengapa ia tahu bahwa meja itu kemungkinan besar akan tetap seperti itu kosong selamanya.
"Lan, sudah dengar kabar?" Dinda tiba-tiba muncul, duduk di kursi sebelah Alana dengan wajah cemas.
Alana menggeleng, meski jantungnya mulai berdegup tidak karuan. "Kabar apa?"
"Raka... dia mengundurkan diri dari kepengurusan himpunan. Katanya dia ambil cuti semester ini untuk fokus mengurus perusahaan ayahnya di Jakarta. Dan..." Dinda ragu sejenak, "Acara pertunangannya dengan Maudy diresmikan minggu depan di sebuah hotel mewah. Fotonya sudah tersebar di grup angkatan Teknik."
Alana merasakan dadanya seperti dihantam godam besar. Ia sudah tahu hal ini akan datang, namun mendengarnya sebagai sebuah kepastian adalah jenis rasa sakit yang berbeda. Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi media sosial yang sudah berhari-hari ia hindari.
Di sana, di unggahan terbaru Maudy, terlihat Raka mengenakan batik sarimbit yang serasi. Wajah Raka tampak datar, matanya kosong, sementara Maudy tersenyum lebar sambil memamerkan cincin di jari manisnya. Keterangan fotonya singkat namun mematikan: “Foundations for a lifetime.”
Alana menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Foundations. Raka benar-benar sedang membangun fondasi itu, namun bukan dengan Alana.
Pertemuan yang Tak Terduga
Satu jam kemudian, saat Alana mencoba menenangkan diri dengan membaca barisan puisi Sapardi Djoko Damono, sebuah bayangan menutupi mejanya. Ia mendongak, berharap itu adalah Raka, namun yang berdiri di sana adalah seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan wajah yang sangat mirip dengan Raka.
"Alana Shafira?" suara pria itu berat dan berwibawa.
"Iya, saya sendiri. Bapak siapa?"
"Saya ayahnya Raka," jawab pria itu singkat. Ia duduk di kursi depan Alana tanpa diundang. "Raka banyak bercerita tentang 'gadis meja nomor 15' di sela-sela tidurnya saat dia sakit kemarin. Saya datang bukan untuk memintamu menjauh, karena saya tahu kamu sudah melakukannya."
Alana terpaku. "Lalu, untuk apa Bapak ke sini?"
Pria itu mengeluarkan sebuah gulungan kertas kalkir dari tasnya dan meletakkannya di atas meja nomor 15. "Raka meninggalkan ini di meja gambarnya sebelum dia berangkat ke Jakarta pagi tadi. Dia meminta saya membuangnya, tapi sebagai seorang ayah, saya tahu ini adalah satu-satunya desain yang dia buat dengan seluruh hatinya."
Alana membuka gulungan itu dengan tangan gemetar. Itu adalah sebuah maket gambar rumah tinggal yang sangat detail. Di bagian depan rumah itu, terdapat sebuah perpustakaan mini dengan jendela besar yang menghadap ke arah matahari terbit. Di sudut jendela itu, tertulis sebuah catatan kaki kecil dengan tulisan tangan Raka:
> "Table No. 15 – The place where my heart finally found its home. I’m sorry I couldn't build this for us."
> Air Mata di Atas Kalkir
Alana tidak bisa lagi menahan isakannya. Di tengah keheningan perpustakaan, ia menangis tersedu-sedu di atas gambar rancangan rumah yang tak akan pernah nyata itu. Ayah Raka hanya menatapnya dengan tatapan iba sebelum akhirnya berdiri dan pergi tanpa kata lagi.
Ia menyadari bahwa Raka mencintainya dengan cara yang paling menyakitkan: dengan melepaskannya demi sebuah kewajiban. Raka tidak pernah mengkhianati perasaan mereka di gubuk itu; ia hanya sedang kalah oleh dunia yang menuntutnya untuk menjadi orang lain.
Alana mengambil pena hitam kesayangannya dengan hati-hati, seolah alat kecil itu menyimpan kekuatan untuk mengungkapkan berat hatinya yang terdalam. Di atas halaman kosong buku catatan tersebut tepat di bawah gambar rumah impian Raka yang menggambarkan sebuah ruang hening tanpa penghuni ia mulai merangkai kata-kata terakhir yang akan menutup Bab 11 dalam ceritanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh keyakinan, ia menuliskan sebuah kalimat yang terasa seperti pernyataan akhir dari perjalanan emosionalnya:
The silence of adoring you was my sanctuary. But knowing that you adored me back in the same silence, while your world was crumbling, is the most beautiful tragedy I’ve ever read.
Setelah selesai, ia menutup buku itu perlahan, merasakan bagaimana beban narasi yang selama ini menghantui akhirnya terlepas. Ketika bangkit dari kursinya di meja nomor 15, ia memutuskan untuk meninggalkan gulungan kertas kalkir di sana, tak lagi memiliki alasan untuk membawanya kembali. Dengan langkah mantap dan nafas panjang, Alana meninggalkan perpustakaan. Namun kali ini, ia berbeda. Ia bukan lagi gadis pemalu yang selalu mencari perlindungan di balik deretan rak buku, namun seorang wanita yang telah menjadikan luka-lukanya sebagai tanda nyata dari proses pendewasaan.
Sementara itu, jauh dari perpustakaan yang pernah mereka bagi bersama, di tengah hiruk pikuk Jakarta dan gedung-gedung pencakar langit yang memancarkan dinginnya kesendirian, Raka berdiri termenung di hadapan jendela besar. Matanya yang sayu menerawang jauh ke arah sore yang serupa saat-saat ia masih menjadi bagian dari kehidupan Alana di kampus. Dalam benaknya, ia membayangkan gadis itu kembali duduk di meja yang sama, mungkin sedang bermimpi atau tertawa kecil dengan sosok maya dirinya di masa lalu.
Tangan Raka perlahan menyentuh sakunya, menggenggam erat sebuah pulpen usang. Sebuah barang sederhana tapi penuh kenangan—bekas pinjaman kecil dari Alana ketika mereka menjalani masa KKN bersama. Jemarinya memutar-mutar benda tersebut dengan perasaan yang kelabu. Pada akhirnya, sesuatu yang selalu ingin ia katakan namun tertahan lama akhirnya menyeruak ke dalam udara dingin.
Maafkan aku, Alana, gumamnya pelan pada kaca jendela berembun yang kini memantulkan wajah penuh penyesalan. Pardon my silent heart, for it belongs to you even when my hand belongs to another.
Dan sementara gema dari kalimat itu perlahan menghilang di antara bisingnya rutinitas kota, Raka tetap berdiri di sana selamanya terperangkap antara apa yang pernah ia miliki dan apa yang harus ia lepaskan demi sesuatu yang tak akan pernah benar-benar menjadi miliknya.
Di Jakarta, di sebuah gedung pencakar langit yang dingin, Raka menatap ke arah jendela, membayangkan sore yang sama di kampus. Ia tahu Alana pasti sedang berada di meja itu sekarang. Ia meraba sakunya, menyentuh sebuah pulpen tua yang pernah dipinjamkan Alana saat KKN.
"Maafkan aku, Alana," bisiknya pada kaca jendela yang berembun. "Pardon my silent heart, for it belongs to you even when my hand belongs to another."
jadi nostalgia😍
cerita yang bagus