NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 - Takdir Sang Pangeran

Tangisan bayi di pelukannya mulai melemah, mungkin karena lelah.

“Bertahanlah...” bisik Ye Chen, menatap wajah kecil itu sekilas. “Jangan menangis lagi. Sedikit lagi.”

Namun pada saat itulah—

WUUUSSH!

Suara sesuatu yang merobek udara datang dari arah bukit.

Ye Chen mengangkat kepala ke atas Dan seketika, matanya melebar.

Dari puncak bukit yang gelap oleh bayangan senja, beberapa bola petir kuning seukuran kepala manusia melesat turun dengan kecepatan yang nyaris mustahil diikuti mata telanjang.

Mereka jatuh tepat ke tengah barisan pengejar.

BOOOOM!!!

Ledakan pertama menghantam puluhan prajurit sekaligus.

Tubuh-tubuh mereka terlempar ke udara, zirah besi meleleh sebagian oleh panas petir, sementara tanah di bawah mereka pecah membentuk kawah kecil.

BOOM! BOOM! BOOOOM!

Ledakan demi ledakan menyusul tanpa jeda.

Jeritan kesakitan memenuhi udara.

Barisan pengejar yang semula rapat langsung kacau.

“Petir Kuning?!”

“Itu Putra Mahkota!”

“Sial! Dia masih hidup!” ujar prajurit itu.

Ye Chen tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Ia langsung menerobos ke arah hutan yang lebih lebat, menghilang di balik bayangan pepohonan sebelum musuh sempat menata ulang formasi mereka.

Di atas bukit, berdiri satu sosok dengan tubuh tegak di tengah hembusan angin.

Jubahnya berkibar pelan.

Rambut hitamnya berantakan oleh debu dan darah.

Percikan listrik kuning masih menari-nari di sepanjang lengan dan jemarinya.

Lu Feng.

Dari kejauhan, ia menatap arah hutan tempat Ye Chen menghilang.

Tatapannya tenang.

Untuk sesaat, seolah seluruh dunia di bawah bukit itu tak lagi penting.

Asal adiknya lolos...

maka semua pengorbanan malam ini tidak sia-sia.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat.

“Tugasmu sudah selesai, Lu Feng.”

Suara dingin itu muncul dari belakangnya seperti pisau yang diselipkan ke tengkuk.

Lu Feng membalikkan badan.

Di sana, berdiri seorang pria tinggi besar dengan jubah perang berwarna cokelat keemasan. Bahunya lebar, wajahnya tegas, dan matanya setenang tanah kubur. Di punggungnya tergantung kapak perang besar, sementara di sekeliling kakinya, tanah tampak bergetar halus seolah tunduk pada kehendaknya.

Dialah—

Han Li, Panglima Tertinggi Dinasti Huangtu.

Salah satu jenderal paling ditakuti di medan perang.

Dan orang yang dikenal sebagai “Gunung yang Tidak Pernah Tumbang.”

Han Li menatap Lu Feng tanpa emosi.

“Menarik,” ujarnya datar. “Kukira pembunuh istana sudah cukup untuk menghabisimu.”

Lu Feng tersenyum tipis, meski darah masih menetes dari sudut bibirnya.”l

“Kalau aku semudah itu untuk dibunuh, Dinasti Huangtu tak perlu repot-repot bersekutu dengan tiga dinasti lain.”

Angin berembus.

Debu beterbangan di antara mereka.

Dua aura besar saling berbenturan di udara, menciptakan tekanan tak kasatmata yang membuat batu-batu kecil di tanah mulai bergetar.

Han Li melangkah satu langkah ke depan.

“Serahkan bayi itu.”

Lu Feng tertawa pelan.

Tawanya pendek, dingin, dan penuh ejekan.

“Kau terlambat dia udah menjauh dari sini.”

Ekspresi Han Li tidak berubah.

“Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain membunuhmu dulu.”

Kalimat itu diucapkan dengan ketenangan yang justru lebih menakutkan daripada amarah.

Namun Lu Feng tidak gentar.

Ia menurunkan pusat gravitasinya, telapak kakinya sedikit bergeser, dan dalam sekejap, petir kuning mulai menjalar di sepanjang tubuhnya seperti ular cahaya.

“Kalau begitu...” ucapnya perlahan, “cobalah.”

Dan pada detik berikutnya—

CRAAK!

tanah di bawah kaki Lu Feng tiba-tiba meledak, dan dalam sekejap tubuhnya menghilang. Han Li langsung menyipitkan mata, tetapi semuanya sudah terlambat.

“Golden Flash Technique.”

Suara Lu Feng muncul tepat di belakangnya.

Kilatan kuning membelah udara, begitu cepat hingga hanya menyisakan jejak cahaya.

Lu Feng sudah berada di belakang Han Li, dengan tangan kanannya yang dilapisi petir emas pekat.

DUAAAK!!

Pukulan itu menghantam punggung Han Li dengan kekuatan brutal.

Percikan listrik menyebar ke segala arah dengan liar.

Tubuh sang panglima terpental puluhan meter, menghantam bongkahan batu besar hingga pecah berkeping-keping.

Debu beterbangan tinggi ke udara.

Namun Lu Feng tidak lengah.

Ia tahu pertarungan ini tidak akan semudah itu.

Benar saja.

Dari balik kepulan debu, Han Li melangkah keluar perlahan.

Tidak tumbang.

Tidak pula panik.

Hanya ada senyum tipis di sudut bibirnya.

“Kau memang cepat,” katanya. “Tapi kecepatan saja tidak cukup untuk membunuh ku.”

Ia menghentakkan telapak tangannya ke tanah.

BOOOOM!

Permukaan bukit bergetar hebat.

Retakan menjalar ke segala arah.

Dari tanah yang pecah, sesuatu mulai bangkit—

sebuah sosok raksasa setinggi tiga meter, terbentuk dari batu dan tanah liat padat, dengan tubuh seperti benteng bergerak. Kedua matanya menyala merah, sementara di tangannya tergenggam tongkat batu sebesar batang pohon.

“Guardian Golem Summon.”

Makhluk itu meraung tanpa suara, lalu mengangkat tongkat batunya tinggi-tinggi dan menghantamkannya lurus ke arah Lu Feng.

WUUUUNG!

Udara terbelah.

Tekanan angin dari serangan itu saja sudah cukup untuk menghancurkan batu-batu di sekitar.

Namun Lu Feng tetap berdiri.

Tatapannya dingin.

“Golden Thunder Shield.”

Lingkaran petir kuning langsung meledak keluar dari tubuhnya, membentuk perisai setengah kubah yang berputar cepat.

BOOOOM!!

Tongkat batu menghantam perisai petir.

Ledakan energi terjadi seketika.

Percikan kuning dan serpihan batu berhamburan ke segala arah.

Dan sesaat kemudian—

KRAAAK!

Tongkat golem itu retak.

Lalu terpental balik bersama tubuh raksasanya.

Han Li sedikit kebingungan.

Beberapa saat kemudian Lu Feng melangkah maju, petir masih berputar liar di sekitar tubuhnya.

“Kecepatan…” ucapnya dengan suara rendah penuh tekanan, “adalah kelemahan utama dari kekuatan tanahmu, Komandan Han Li.”

Ia mengangkat tangan kanannya.

Listrik kuning mulai berkumpul di telapak tangannya, memadat, memanjang, lalu berubah bentuk menjadi tombak petir raksasa yang mengeluarkan bunyi mengerikan.

Cahaya dari teknik itu menerangi bukit yang mulai gelap.

“Destructive Lightning Spear!”

Dengan satu hentakan, Lu Feng melemparkannya.

Tombak petir itu melesat seperti naga cahaya, membelah udara, menghancurkan semua yang dilewatinya.

Han Li tidak menghindar.

Ia justru mengangkat kedua tangannya, lalu menghantamkannya ke tanah.

“Unshakable Mountain Wall!”

Sebuah dinding batu raksasa menjulang dari tanah dalam sekejap, tebal dan kokoh seperti bagian dari gunung itu sendiri.

Detik berikutnya—

BOOOOOOOMMMMM!!!

Tombak petir dan dinding gunung bertabrakan.

Ledakan yang dihasilkan membuat seluruh bukit berguncang.

Cahaya kuning menyilaukan meledak ke segala arah, mencabik-cabik udara. Debu, batu, dan pecahan tanah beterbangan seperti hujan kematian.

Pandangan tertutup total.

Namun justru itulah yang diinginkan Lu Feng.

Matanya menyipit tajam.

Tubuhnya berubah menjadi kilat lagi.

Dalam sekejap, ia menembus debu ledakan dan muncul tepat di depan Han Li.

Tangan kanannya, yang kini dilapisi petir pekat, langsung menusuk lurus ke arah dada sang panglima.

JLEB!

 Tidak ada darah sedikit pun yg keluar dari tubuhnya .

 Lu Feng terlihat kebingungan apa yg terjadi .

Tubuh Han Li yang tertusuk itu... hancur menjadi gumpalan tanah liat.

Ternyata itu adalah bayangan tanah yg menyerupai Han li.

“Buruk...!”

Sebelum Lu Feng sempat mundur—

BRAK!

Dua tangan raksasa mendadak muncul dari bawah tanah dan mencengkeram kedua kakinya dengan brutal.

Tanah di bawahnya berubah seperti rawa hidup, menelan pergelangan kakinya hingga lutut.

Lu Feng berusaha meloncat, tapi sudah terlambat.

“Sudah kubilang,” suara Han Li terdengar dari belakang, berat dan dingin, “kecepatanmu tidak berarti jika tanah di bawah kakimu menjadi penjaramu.”

Han Li perlahan bangkit dari dalam permukaan tanah, seolah bumi sendiri melahirkannya kembali.

Wajahnya tetap tenang, dengan tatapan mata yang dingin.Teknik itu bernama "Mud Reincarnation".

Salah satu teknik tanah tingkat tinggi yang memungkinkan tubuh aslinya berpindah dan berkamuflase di dalam elemen bumi.

Lu Feng menggertakkan gigi.

Petir kembali meledak dari tubuhnya, mencoba menghancurkan cengkeraman tanah di bawah kakinya.

Namun Han Li sudah mengangkat satu tangan ke langit.

Untuk pertama kalinya, ekspresi Lu Feng berubah menjadi sangat serius. Pada saat yang sama, aura di sekitar Han Li ikut berubah, membuat udara di sekitarnya terasa tiba-tiba menjadi berat.

Langit yang semula gelap kemerahan mendadak seperti ditekan sesuatu dari atas.

Awan berputar perlahan di langit, sementara tanah di bawahnya mulai bergetar.

Batu-batu kecil mulai terangkat beberapa senti dari permukaan.

Han Li menatap Lu Feng seperti hakim yang hendak menjatuhkan vonis.

“Berakhir sudah, Pangeran.”

Telapak tangannya menghadap ke langit.

Energi bumi dan langit berkumpul menjadi satu.

Lalu ia mengucapkan nama teknik itu dengan suara rendah yang menggema seperti petir dari gunung purba.

“Heaven and Earth Suppressing Seal.”

Langit tampak seolah retak oleh cahaya berwarna cokelat keemasan.

Dari atas, sebuah segel raksasa berbentuk gunung kecil perlahan turun.

Bukan sekadar serangan.

Itu adalah tekanan mutlak.

Tekanan yang membuat ruang di sekitar Lu Feng seakan membeku.

Kakinya masih terperangkap.

Tubuhnya dipaksa diam.

Bahkan petir di sekelilingnya mulai padam sedikit demi sedikit di bawah tekanan segel itu.

Lu Feng mengangkat kepala.

Matanya menatap benda yang jatuh dari langit itu tanpa berkedip.

Dan untuk sepersekian detik...

ia teringat wajah adiknya.

Wajah kecil yang baru saja ia lepaskan dari pelukannya.

Tangisan lirih itu.

Jari mungil yang sempat menggenggam ujung jubahnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, sorot matanya tidak berisi amarah.

Melainkan kesedihan yang begitu sunyi.

“...Hiduplah,” bisiknya sangat pelan, entah untuk dirinya sendiri atau untuk adiknya yang sudah jauh pergi.

Detik berikutnya—

BOOOOOOOOOOOMMMMMMM!!!

Segel gunung itu jatuh.

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh area.

Tanah mulai pecah, sementara bukit di sekitarnya runtuh sebagian.

Gelombang kejut menyapu pepohonan di sekitarnya hingga tercabut dari akarnya, sementara cahaya cokelat dan kuning berpadu, menciptakan ledakan yang tampak seperti matahari kecil yang jatuh ke bumi.

Han Li langsung mundur jauh sebelum ledakan sepenuhnya meluas.

Jubah perangnya berkibar tertiup gelombang panas.

Dari kejauhan, ia menatap pusat ledakan itu dengan wajah tanpa ekspresi.

Debu membubung tinggi ke langit, sementara api dan petir perlahan menghilang, meninggalkan suasana tanpa gerakan dan tanpa suara.

Hanya kawah besar yang tersisa di tengah bukit.

Han Li memandangnya beberapa saat, lalu mengembuskan napas pelan.

“Bahkan putra mahkota Leiting pun tetaplah manusia” gumamnya dingin.

Ia menyeka debu tipis di bahunya, lalu menoleh ke arah hutan gelap di kejauhan.

Ke arah tempat Ye Chen melarikan diri bersama bayi itu.

Matanya menyipit.

Dan untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Bukan senyum bahagia.

Melainkan senyum seorang pemburu yang baru saja kehilangan mangsa... dan menikmati perburuan yang akan datang.

“Sekarang...” ujarnya pelan.

Suaranya nyaris tenggelam di antara sisa gemuruh ledakan.

“tinggal kalian berdua.”

Han Li melangkah maju satu langkah, menatap kegelapan hutan seperti menatap liang kubur yang belum digali.

“Berlari sejauh apa pun...” suaranya berubah lebih rendah, lebih tajam, lebih mengancam, “aku akan tetap menemukan kalian, tikus-tikus kecil.”

Di kejauhan, angin malam mulai berhembus pelan, dan di dalam hutan yang gelap itu, takdir dunia perlahan mulai bergerak tanpa disadari.

End Chapter 2

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!