NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Kabut yang Mencari

Seorang pemuda berseragam Aula Api Sejati masuk ke Paviliun, memesan sesuatu di meja depan, lalu dalam sekejap matanya menyapu seluruh ruangan.

Pandangannya berhenti di meja sudut. Lebih tepatnya di meja Wei Mou Sha.

Wei Mou Sha sudah melihatnya masuk sejak tiga detik yang lalu.

Pemuda itu memutuskan untuk mendekati meja Wei Mou Sha.

"Kamu Wei Mou Sha?"

"Ya."

"Senior Chen Liang Huo ingin bicara denganmu. Hari ini sebelum sore."

"Di mana?"

"Lembah Batu Merah."

Pemuda itu pergi tanpa menunggu konfirmasi lebih lanjut, tampaknya sudah yakin bahwa pesan dari Chen Liang Huo tidak memerlukan konfirmasi.

Lian Zhu Yue mengamati pertukaran singkat itu dari depannya sambil meminum tehnya.

"Chen Liang Huo," katanya setelah pemuda itu pergi. "Kamu sudah mengenalnya?"

"Sedikit."

"Hati-hati. Dia bukan orang yang berbahaya dalam artian jahat. Tapi dia orang yang sangat fokus pada apa yang ia inginkan, dan saat ini sepertinya ia menginginkan sesuatu darimu."

"Pertarungan."

"Mungkin lebih dari itu." Lian Zhu Yue memiringkan kepalanya sedikit.

"Chen Liang Huo sudah lama tidak menemukan lawan yang membuatnya benar-benar bersemangat. Orang seperti itu..." ia berhenti sebentar, "...bisa menjadi sangat tidak terprediksi ketika akhirnya menemukan apa yang ia cari."

Wei Mou Sha menyimpan analisis itu.

"Kamu cukup mengenalnya."

"Cukup." Lian Zhu Yue bangkit, dan kemudian mengumpulkan bungkusan-bungkusannya yang ada di meja. "Sekte Bunga Abadi dan Aula Api Sejati berbagi beberapa wilayah perburuan bahan kultivasi. Kami lebih banyak berinteraksi dan kontak langsung dengan mereka." Ia kemudian memberikan hormat kecil kepada Wei Mou Sha. "Aku pergi dulu."

"Kamu belum menghabiskan tehmu."

Lian Zhu Yue menatap cangkirnya yang masih setengah penuh. Lalu menatap Wei Mou Sha dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca sepenuhnya.

"Kamu memperhatikannya."

Wei Mou Sha tidak menjawab.

Lian Zhu Yue duduk kembali dan mengambil cangkirnya, kemudian meminum teh sisanya dengan tenang. Dan meletakkan kembali cangkir kosong di atas meja, lalu bangkit, dan kali ini benar-benar berjalan keluar tanpa menoleh.

Wei Mou Sha menatap pintu yang tertutup setelahnya.

Ia duduk kembali, catatnya. Bukan karena tehnya yang belum habis. Tetapi karena aku yang menyebutnya.

Kalimat itu ia simpan di tempat yang sama dengan kalimat-kalimat lain yang belum bisa ia kategorikan dengan sempurna.

Lembah Batu Merah di siang hari berbeda dari malam hari.

Kabut sudah lama hilang. Batu-batu merah berdiri di bawah matahari yang cukup terik, menghasilkan panas yang terasa di kulit dari jarak tiga meter. Bayangan yang dibentuk batu-batu tinggi jatuh dalam sudut-sudut tajam di lantai lembah.

Chen Liang Huo sudah ada di sana, berdiri di tengah dengan tangan di belakang punggung, menatap ke atas ke arah jalur langit biru yang sempit di antara dinding-dinding batu.

Ia menoleh saat Wei Mou Sha datang.

"Datang sangat cepat."

"Pesanmu tidak menyebutkan waktu dengan detail."

"Sebelum sore itu sudah sangat detail." Chen Liang Huo menurunkan tangannya. "Ada yang perlu ku beritahukan sebelum latihan jam tiga malam nanti."

Wei Mou Sha berdiri di jarak yang nyaman. "Apa?"

"Ada seseorang yang sedang mencari informasi tentangmu." Chen Liang Huo menatapnya langsung.

"Bukan dari sekte mana pun yang aku kenal. Ia menggunakan seorang perantara dan membayarnya dengan baik, pertanyaannya sangat detail, bukan sekadar siapa kamu, tapi dari mana kamu berasal dan sudah berapa lama kamu di Wanhua."

Wei Mou Sha tidak menunjukkan reaksi apapun di wajahnya. Tapi di dalam pikirannya beberapa kemungkinan langsung dikategorikan dan diurutkan berdasarkan yang lebih penting.

"Kamu tahu informasi itu dari mana?"

"Informan Sekte." Chen Liang Huo mengangkat bahu. "Aula Api Sejati tidak sebesar Pedang Langit Utara, tapi jaringan informasinya lebih rapat. Kalau ada yang membeli informasi tentang orang yang berlatih di lembahku, aku akan tahu."

"Kenapa kamu memberitahuku?"

Pertanyaan yang jujur, mereka baru saling kenal beberapa hari, tidak ada kewajiban yang mengikat Chen Liang Huo untuk melakukan ini.

Chen Liang Huo menatapnya dengan ekspresi yang agak sulit dibaca.

"Karena aku ingin bertarung denganmu di turnamen," katanya akhirnya. "Dan aku tidak mau kamu menghilang sebelum sempat kita berduel."

Alasan yang tidak masuk akal. Tapi konsisten dengan karakternya yang sudah Wei Mou Sha amati selama beberapa hari ini.

"Sebutkan detail orangnya?"

"Tidak ada yang melihat langsung. Semua melalui perantara. Yang diketahui menggunakan kabut sebagai penutup. Bahkan di dalam ruangan."

Wei Mou Sha mengingat ini.

Kabut. Kemungkinan besar.

"Terima kasih," kata Wei Mou Sha akhirnya.

Chen Liang Huo mengangguk, lalu memasang kuda-kuda. "Sekarang kita latihan beberapa menit saja, Hari ini aku tidak akan menahan diri lagi."

Mereka berlatih sampai bayangan batu-batu merah mulai memanjang ke timur.

Wei Mou Sha kembali ke penginapannya dengan memar baru di bahu kiri dan satu goresan di tulang pipi.

Ia duduk di tepi ranjang.

Memilih semua yang terjadi hari ini, Lian Zhu Yue dan informasi tentang kunci resonansi jiwa Perpustakaan Awan, Chen Liang Huo dan informasi tentang orang yang mencari tahu tentang dirinya.

Dua informasi dari dua orang yang berbeda. Keduanya penting. Keduanya mengubah kalkulasinya untuk dua minggu ke depan.

Dan di balik semuanya, satu fakta yang tidak berubah sejak tiga hari lalu.

Ia menyadari tiga hari tidak bertemu Lian Zhu Yue. Dan hari ini, ketika bertemu ia menyebut teh nya yang belum habis dan kemudian perempuan itu duduk kembali.

Wei Mou Sha tidak tahu apa artinya.

Tapi ia mencatatnya.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tiba di Kota Wanhua, Wei Mou Sha tidak langsung bisa memulai meditasi.

Pikirannya tidak kacau. Tapi ada sesuatu yang terus kembali ke permukaan sebelum sempat ia tekan ke bawah.

Bukan informasi tentang orang berkabut yang mencarinya.

Bukan retakan di segel yang tidak bertambah besar tapi tidak menutup.

Bukan turnamen dua minggu lagi.

Tapi cara Lian Zhu Yue mendeskripsikan sesuatu yang ada di dasar qi-nya, seperti gunung di bawah laut, tidak terlihat tapi keberadaannya terasa dari cara air di atasnya bergerak.

Dan cara ia duduk kembali karena ia menyebut teh nya yang belum habis.

Wei Mou Sha akhirnya memulai meditasinya.

Tapi butuh lebih lama dari biasanya untuk pikiran itu menjadi diam.

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!