Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diremehkan
Ballroom hotel mewah di pusat Eldoria City malam itu tampak berkilauan.
Lampu kristal menggantung indah di langit-langit, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan yang dihiasi dekorasi elegan bernuansa emas dan putih. Setiap sudut terlihat sempurna, megah, berkelas, dan penuh kemewahan.
Satu per satu tamu penting mulai berdatangan.
Suara percakapan dan tawa ringan mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana pesta yang hidup.
Mobil hitam berhenti tepat di pintu utama. Pintu terbuka perlahan, sementara para pengawal mulai berjajar rapi di sisi kanan dan kiri, menciptakan suasana yang begitu berwibawa.
Bima Mahendra turun lebih dulu dengan penuh wibawa, diikuti oleh Yuliana. Tak lama kemudian, Liora ikut turun dengan balutan gaun elegan yang jelas terlihat mahal dan berkelas.
Tak berselang lama, sebuah mobil sport berwarna putih berhenti di belakang mereka. Layla dan Ardian turun dari dalamnya, berjalan sambil saling bergandengan tangan dengan mesra, menambah kesan sempurna dalam pemandangan itu.
Keluarga Mahendra melangkah masuk ke dalam ballroom dengan penuh wibawa.
Sorotan kamera langsung tertuju pada mereka. Kilatan lampu dari wartawan dan beberapa stasiun TV tak henti-hentinya mengabadikan setiap langkah, senyum, gaya, hingga kemewahan yang mereka tampilkan malam itu.
Nama besar Mahendra benar-benar menjadi pusat perhatian.
Tak lama, acara pun dimulai.
Para relasi bisnis, rekan kerja, hingga kerabat dekat satu per satu maju, memberikan ucapan selamat dan doa terbaik untuk Yuliana. Suasana dipenuhi pujian, tawa, dan kekaguman, seolah malam itu, segalanya berjalan sempurna.
Sementara itu, di sudut ruangan, Xavero hanya bisa menyaksikan semuanya. Ia duduk di meja paling belakang, sesuai arahan mertuanya. Ia memilih untuk patuh, demi menjaga nama baik keluarga.
Dari kejauhan, pandangannya tertuju pada istrinya yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya.
Ia tertawa, tersenyum manis.
Tanpa sadar, ia telah mengabaikan seseorang.
Xavero beranjak dari duduknya, lalu perlahan mendekat ke arah Liora.
“Thanks ya, guys. Kalian sudah datang di acara ulang tahun Mama gue,” ucap Liora pada teman-temannya.
“Tentu saja kita datang, Li. Mana mungkin kita melewatkan acara penting keluarga Mahendra,” ucap Agnes.
"Lagipula," sambung Agnes sambil tersenyum tipis, “acara keluarga kamu tuh selalu jadi yang paling ditunggu.”
Teman-temannya yang lain ikut tertawa kecil, mengangguk setuju.
“Iya dong,” sahut Gisel. “Dari dekorasi sampai tamunya, nggak pernah setengah-setengah.”
Liora tersenyum puas, jelas menikmati pujian itu.
“Tentu saja,” ucapnya ringan. “Mama gue nggak pernah suka yang biasa-biasa aja.”
“Liora, aku dengar kamu dekat dengan Arga, ya?” ucap Agnes dengan nada menggoda.
“Eh, kalian dengar dari mana sih?” ucap Liora dengan senyum malu.
“Aduh, Liora-Liora. Lo kan mantan cewek populer di kampus kita, berita kayak gini mah gampang banget dicari tahu,” ucap Gisel.
“Jawab dong, Li. Serius kamu dekat dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group itu?” ucap Agnes dengan nada penasaran.
Liora mengangguk pelan, senyumnya semakin terlihat malu-malu.
Deg!
Xavero yang mendengarnya langsung mematung.
Tangannya yang semula santai di samping tubuh, perlahan mengepal.
“Serius?!” seru Agnes antusias. “Wah, kalau sampai jadian, cocok banget sih kalian!”
Liora tersenyum tipis, tidak membantah.
“Cocok banget, Liora dari keluarga Mahendra dan Arga dari keluarga Wijaya. Perpaduan yang pas. Kalau kalian disatukan, pasti bakal bikin gempar,” ucap Gisel.
Liora terkekeh pelan, jelas menikmati setiap kata yang keluar dari mulut teman-temannya.
“Bisa aja kalian,” ucapnya ringan, tapi senyum di bibirnya penuh arti.
Ia menyibakkan rambutnya ke belakang dengan anggun, lalu mengangkat dagunya sedikit.
“Ya... kalau memang selevel, kenapa enggak?” lanjutnya santai.
Agnes langsung berbinar. “Nah itu dia! Emang harus yang sepadan, Li.”
Liora mengangguk kecil, matanya berkilat bangga.
“Dari dulu juga aku gak pernah asal pilih,” katanya, nada suaranya terdengar lebih tinggi. “Kalau bukan yang bisa membawa aku ke level lebih atas... buat apa?”
Teman-temannya langsung tertawa setuju.
“Fix sih, Arga cocok banget buat lo,” sambung Gisel.
Liora hanya tersenyum, kali ini lebih lebar.
Tanpa sadar, ucapan itu terdengar jelas... bahkan sampai ke telinga seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana.
Xavero masih berdiri tidak jauh dari Liora. Semua percakapan di antara mereka terdengar jelas olehnya. Ia menatap Liora yang tampak begitu antusias menceritakan sosok Arga Wijaya.
“Hei, pelayan, ambilin gue minum,” ucap Agnes sambil menatap Xavero yang berada tak jauh dari mereka.
Xavero mengerutkan keningnya, menatap Agnes dengan tenang.
“Iya, lo… ambilin gue minum,” sambung Agnes sambil menunjuk ke arah Xavero.
Liora dan Gisel menoleh.
Tatapan Liora dan Xavero bertemu sesaat, namun Liora hanya menatapnya dengan rendah.
“Budek banget sih lo. Teman gue haus,” sahut Gisel dengan nada ketus.
Xavero menarik napas dalam, rahangnya mengeras.
“Aku—”
Kalimatnya terhenti.
Tatapannya bertemu dengan Liora.
Dingin. Tajam. Penuh peringatan.
Tanpa perlu kata, tatapan itu sudah cukup jelas—
jangan macam-macam.
Xavero terdiam.
Tangannya yang semula mengepal perlahan mengendur.
Beberapa detik hening.
Lalu…
“Minuman apa?” ucapnya akhirnya, suaranya datar.
Agnes tersenyum puas. “Yang dingin. Jangan lama.”
Gisel terkekeh kecil. “Nah gitu dong, dari tadi.”
Liora hanya memalingkan wajah, seolah semua itu memang sudah seharusnya.
Xavero tidak berkata apa-apa lagi.
Ia berbalik.
Melangkah menjauh dari mereka, dengan langkah tenang, meski harga dirinya baru saja diinjak di depan banyak orang.
Xavero melangkah menuju meja hidangan.
Tangannya meraih satu gelas minuman dingin, lalu kembali dengan langkah yang tetap tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diperlakukan seperti itu.
Ia menyerahkan gelas itu pada Agnes tanpa banyak bicara.
“Lama banget sih,” ucap Agnes dengan nada ketus, alisnya terangkat tinggi. Ia menatap Xavero dari atas ke bawah dengan sinis. “Cuma ambil minum doang, pakai acara mikir dulu apa gimana?”
Ia mengambil gelas itu dengan gerakan malas.
“Kerjaan simpel saja masih lelet,” sambungnya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar, lalu terkekeh kecil bersama Gisel.
Xavero tidak menjawab.
Tatapannya, sudah berpindah.
Beberapa langkah dari sana, seorang pria berdiri di dekat Liora.
Penampilannya rapi, jas mahal melekat sempurna di tubuhnya. Wajahnya tenang, tapi jelas penuh percaya diri.
Arga Wijaya.
Liora tersenyum, bukan senyum tipis seperti biasanya.
Senyum itu, hangat.
Berbeda.
Ia bahkan tertawa kecil saat Arga mengatakan sesuatu, tangannya tanpa sadar menyentuh lengan pria itu dengan akrab.
Seolah jarak di antara mereka tidak pernah ada.
Deg.
Xavero mematung.
Di depan matanya sendiri, istrinya terlihat jauh lebih hidup, saat bersama pria lain.
Tangannya perlahan mengepal lagi.
Namun kali ini, ia tidak mendekat.
Tidak juga memanggil.
Ia hanya berdiri di sana, menyaksikan.
“Jadi… segitu nggak berharganya gue,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.