NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Dua Menit Pembantaian dan Kehangatan di Balik Sang Algojo

Pagi di Kerajaan Valeria menyapa dengan sinar keemasan yang menembus celah-celah jendela kayu ek di sebuah penginapan sederhana bernama 'Bulan Sabit Berdarah'. Di dalam kamar berukuran sedang yang hanya diterangi cahaya matahari pagi, Ajil duduk di tepi ranjang berderit yang kasurnya diisi dengan jerami kering. Ia telah terbangun sejak fajar, atau lebih tepatnya, ia tidak benar-benar tidur. Sepanjang malam, ia hanya duduk bersila, membiarkan aliran mana tak terbatas memulihkan stamina fisiknya, sementara pikirannya terus berkelana melintasi dimensi, kembali ke sebuah rumah kecil yang atapnya bocor, tempat Arzan dan Dara tertidur.

Ajil bangkit berdiri. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya sama sekali tidak kusut, tetap hitam pekat dan bersih seolah baru saja ditenun oleh tangan para dewa. Ia melangkah turun ke lantai dasar penginapan yang merangkap sebagai kedai makan.

Aroma pekat dari Kopi Biji Naga Goreng dan daging asap memenuhi udara, membangkitkan selera para petualang yang sedang sarapan. Ajil memesan porsi standar: Roti Gandum Hitam yang teksturnya sekeras batu bata, disajikan bersama Sup Kaldu Tulang Sapi Gurun. Ia duduk di sudut ruangan yang sepi. Saat sendok kayunya membelah kuah sup yang kental dan berminyak, uap panas beraroma sumsum tulang, lada hitam, dan daun herba rosemary liar langsung mengepul.

Ajil mengunyah roti keras yang dicelupkan ke dalam kaldu gurih itu dengan wajah datar. Daging sapinya direbus hingga sangat empuk, meleleh di lidah dengan sensasi rasa rempah yang kuat. Bagi orang Ridokan, ini adalah hidangan penghangat jiwa sebelum bertarung. Namun bagi Ajil, seenak apa pun bumbu sihir yang ditaburkan, makanan ini tidak akan pernah bisa mengalahkan rasa sayur sop sederhana buatan Ami yang disajikan dengan tempe goreng hangat dan senyuman tulus.

"Sebuah hidangan tidak dinilai dari seberapa mahal bumbunya, melainkan dari siapa yang menunggumu di meja makan saat hidangan itu disajikan," batin Ajil, menelan suapan terakhirnya tanpa ekspresi.

Ia meletakkan sekeping perak di atas meja, lalu melangkah keluar, menyatu dengan hiruk-pikuk pagi kota Valeria. Tujuannya adalah Guild Petualang.

Sesampainya di Guild, suasana pagi itu sudah ramai oleh antrean petualang yang berebut misi. Namun, begitu Ajil melangkah masuk, kerumunan secara otomatis membelah, memberinya jalan. Rumor tentang pria berjaket hitam yang naik ke Kelas C dalam satu malam, membuat Rino dan Richard berlutut tanpa disentuh, dan membawa pulang kepala Orc Pemimpin, telah menyebar bagai api di padang ilalang kering.

Ajil berjalan lurus menuju Papan Misi raksasa. Ia melewati zona hijau dan kuning tanpa melirik sedikit pun, matanya langsung tertuju pada zona merah di bagian atas papan. Sebuah perkamen dengan lambang api hitam menarik perhatiannya.

[SISTEM: Menganalisis Misi...]

[Target: Menaklukkan Beruang Api Kematian (Level 60 - 70)]

[Lokasi: Lembah Abu Vulkanik, 20 Kilometer arah Selatan.]

[Tingkat Kesulitan: Kelas A]

[Hadiah: 5 Keping Emas Murni, Material Bebas Diambil]

Tanpa ragu, Ajil mencabut paku peraknya. Ia membawa perkamen itu ke meja resepsionis tempat Karin bertugas.

Karin, yang sedang memilah dokumen, mendongak. Saat melihat wajah Ajil, ia langsung berdiri tegak, namun wajahnya seketika pucat pasi melihat warna merah dari perkamen tersebut.

"T-Tuan Ajil! Ini... ini misi Kelas A!" pekik Karin tertahan, suaranya mengundang perhatian beberapa petualang di dekatnya. "Meskipun Anda sekarang Kelas C, melompat langsung ke Kelas A adalah tindakan bunuh diri! Beruang Api Kematian bukanlah monster biasa. Bulunya terbuat dari magma padat, dan ia bisa memuntahkan api yang melelehkan baja tingkat tinggi! Anda butuh party (kelompok) yang berisi minimal satu Tanker es dan dua Healer (penyembuh) untuk menaklukkannya!"

Ajil menatap Karin dengan sorot mata yang begitu kosong, membuat resepsionis itu tanpa sadar menelan ludah. "Proses saja. Aku pergi sendiri."

Menyadari bahwa berdebat dengan pria ini sama saja dengan berbicara pada dinding gletser, Karin menempelkan stempel sihirnya ke perkamen tersebut dengan tangan gemetar. "B-Baik, Tuan. Misi terdaftar atas nama Ajil. S-Semoga Dewi Lumira memberkati jalan Anda."

Ajil mengambil perkamen itu, membalikkan badan, dan melangkah pergi. Ia butuh musuh yang lebih kuat. Ia butuh level pedangnya segera naik, dan untuk itu, ia harus membantai makhluk yang berada jauh di atas levelnya saat ini.

Perjalanan menuju Lembah Abu Vulkanik memakan waktu. Ajil telah keluar dari gerbang selatan Valeria, menyusuri jalan tanah yang diapit oleh hutan pinus merah berdaun lebat. Angin bertiup cukup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon yang mengeluarkan suara berderit.

Jauh di atas sana, melayang dengan bantuan sihir elemen angin, Erina mengikuti tanpa suara. Mata zamrudnya tak pernah lepas dari sosok Ajil. Sang High Elf itu masih diliputi rasa penasaran yang menggebu-gebu sejak malam kejadian di Guild.

[SISTEM: Entitas pengintai (Erina) terdeteksi. Jarak: 200 meter di udara.]

Ajil mengabaikan notifikasi itu seperti biasa. Namun, satu jam setelah ia meninggalkan kota, telinganya yang kini memiliki kepekaan tingkat tinggi menangkap sesuatu dari arah depan. Suara kayu patah, ringkikan kuda yang ketakutan, dan... jeritan anak kecil.

Ajil menghentikan langkahnya. Matanya menyipit.

[SISTEM: Peringatan! Pertarungan terdeteksi 500 meter di depan. 30 Entitas Bermusuhan (Bandit), 3 Entitas Netral (Sipil).]

Ajil menghela napas panjang. Ia bukan pahlawan keadilan. Urusan orang lain di dunia Ridokan bukanlah urusannya. Ia berniat mengambil jalan memutar menembus hutan, tidak ingin membuang waktu.

Namun, jeritan anak kecil itu terdengar lagi. Melengking, penuh ketakutan, dan diiringi isak tangis yang serak.

Deg.

Dada Ajil terasa seperti ditusuk jarum es. Suara tangisan itu... frekuensi ketakutan itu... sangat mirip dengan tangisan Arzan saat bocah itu terjatuh dari sepeda dan lututnya berdarah, atau saat Arzan menangis menahan Ajil pergi bekerja di stasiun bus.

Tanpa berpikir panjang, kaki Ajil bergerak dengan sendirinya. Ia melesat ke depan, tubuhnya berubah menjadi bayangan hitam yang membelah angin, meninggalkan jejak debu yang meliuk di udara.

Di tengah jalan utama, sebuah kereta kuda pengangkut barang dagangan terguling. Kuda penariknya telah mati dengan beberapa anak panah bersarang di lehernya. Barang dagangan berupa kain sutra murah, rempah-rempah, dan tong kayu berserakan di atas tanah.

Di dekat kereta yang hancur itu, seorang pria bernama Tobias, seorang pedagang kecil, memegang sebilah pedang pendek berkarat dengan tangan yang gemetar hebat. Di belakangnya, istrinya yang bernama Elara sedang memeluk erat seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun bernama Milo. Wajah Milo basah oleh air mata, membenamkan wajahnya di dada ibunya sambil terisak ketakutan.

Mereka dikepung oleh tiga puluh orang bandit. Para bandit itu mengenakan zirah kulit usang yang berbau pesing dan keringat, wajah mereka kotor, dan sebagian besar memiliki bekas luka sayatan. Mereka memegang pedang melengkung (scimitar), kapak bergerigi, dan beberapa di antaranya menodongkan busur silang (crossbow).

[SISTEM: Bandit Jalanan (Level 20 - 28). Status: Membunuh dan Menjarah.]

"Serahkan hartamu, istrimu, dan anak itu untuk kami jual ke pasar budak, Pedagang Kecil!" tawa sang pemimpin bandit, seorang pria berwajah bopeng dengan kapak besar di pundaknya. "Mungkin aku akan membiarkanmu hidup merangkak seperti anjing!"

"Langkahi dulu mayatku!" teriak Tobias putus asa, meski lututnya lemas.

Pemimpin bandit itu meludah ke tanah. "Bunuh pria itu! Sisakan perempuan dan anaknya!"

Lima orang bandit menerjang maju serentak, mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi untuk menebas tubuh Tobias yang gemetar. Tobias memejamkan matanya, menanti rasa sakit kematian. Istrinya menjerit histeris. Anak itu menangis memanggil ayahnya.

WUSSSHHH! BLAAARRR!!

Sebuah kilatan petir ungu yang luar biasa menyilaukan turun dari langit, menghantam tanah tepat di antara Tobias dan kelima bandit tersebut. Ledakan ozon yang pekat menciptakan gelombang kejut dahsyat, menerbangkan kelima bandit itu ke udara bagai boneka jerami. Tubuh mereka hangus seketika sebelum menyentuh tanah, zirah kulit mereka meleleh menjadi abu.

Debu tebal mengepul, menutupi pandangan. Semua bandit yang tersisa menghentikan langkah mereka, mata mereka terbelalak ngeri.

Dari balik kepulan debu yang perlahan menipis, berdirilah sosok Ajil. Setelan jaket hitam panjangnya berkibar elegan. Di tangan kanannya, percikan-percikan petir ungu yang mematikan masih berderak ganas, mengeluarkan suara mendesis yang membuat bulu kuduk berdiri. Matanya menatap puluhan bandit itu dengan sorot kematian yang absolut.

"D-Dewa Kematian Berjaket Hitam..." bisik salah satu bandit yang pernah mendengar rumor dari kota, mundur selangkah dengan kaki gemetar. "Itu dia! Algojo dari Guild!"

Ajil tidak memberikan mereka kesempatan untuk mencerna situasi.

"Kalian terlalu berisik," desis Ajil.

Wush!

Kecepatan Ajil melampaui batas pandang manusia level 20. Ia menghilang dari tempatnya berdiri, dan di detik berikutnya, ia muncul di tengah-tengah kerumunan bandit. Pembantaian dimulai.

Ajil tidak menggunakan pedangnya. Ia hanya menggunakan kedua tangannya yang berlapis kekuatan Tinju Petir Ungu. Pertarungan ini tidak seimbang; ini adalah eksekusi sepihak.

Ajil meraih wajah seorang bandit, mengalirkan tegangan tinggi yang langsung melelehkan bola matanya dan merebus otaknya. Bandit itu tumbang tanpa suara. Di saat yang sama, kaki Ajil menendang dada bandit lain di sebelahnya, menghancurkan tulang rusuknya hingga menusuk jantung dan paru-paru.

KRAAAK! CRASH!

Darah segar menyembur ke udara, mewarnai jalanan tanah menjadi merah pekat. Pedang-pedang berkarat yang ditebaskan ke arah Ajil hanya patah berkeping-keping saat berbenturan dengan Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya, atau ditepis dengan punggung tangannya seolah menepis ranting kering.

Pemimpin bandit yang berwajah bopeng meraung marah, mengayunkan kapak besarnya dari arah belakang Ajil.

Tanpa menoleh, Ajil memiringkan kepalanya menghindari bilah kapak, lalu tangan kirinya melesat ke belakang, mencengkeram tenggorokan pemimpin bandit itu dengan kekuatan yang meremukkan. Ajil mengangkat tubuh besar pria bopeng itu ke udara hanya dengan satu tangan.

"K-Kau... monster..." cekik pemimpin bandit itu, wajahnya membiru, kakinya menendang-nendang udara mencari pijakan.

Ajil menatapnya dari sudut mata dengan dingin. Kretek. Ajil meremukkan tulang leher pria itu, lalu melemparkan mayatnya ke arah sekelompok bandit yang mencoba melarikan diri. Mayat itu menghantam tiga bandit hingga tulang mereka ikut patah, ambruk ke tanah.

Melihat rekan-rekan mereka dibantai layaknya semut, sisa bandit yang hidup dilanda teror mutlak. Beberapa menjatuhkan senjatanya dan berlari ke arah hutan.

Namun, seorang bandit yang putus asa, dalam upayanya menyelamatkan diri, berlari ke arah kereta yang terguling. Ia menyambar tubuh Milo, anak laki-laki berusia tujuh tahun itu, dan menodongkan belatinya ke leher sang anak.

"J-Jangan mendekat! Mundur, atau kugorok leher bocah ini!" teriak bandit itu dengan suara pecah, air mata ketakutan mengalir di wajahnya yang kotor.

Tobias dan Elara menjerit histeris. "Milo! Tidak! Tolong jangan sakiti anakku!"

Langkah Ajil terhenti seketika. Pembantaian yang penuh darah itu hening. Aura petir ungu di sekitar tubuhnya mereda perlahan. Ajil menatap mata bocah kecil itu. Milo sedang menangis, wajahnya pucat, tubuh mungilnya bergetar hebat di dalam dekapan kasar si bandit. Mata bocah itu... ketakutan itu... persis seperti bayangan Arzan di benak Ajil.

Darah Ajil mendidih. Kemurkaan yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah ia rasakan di dunia ini meledak di dalam jiwanya.

"Mengancam nyawa seorang anak di depan mata seorang ayah yang kehilangan anaknya," gumam Ajil, suaranya merendah hingga terdengar seperti geraman iblis dari dasar neraka. "Kau telah memilih cara mati yang paling menyakitkan."

[SISTEM: Skill 'Amukan Petir Abadi' diaktifkan dalam mode presisi mutlak.]

Ajil mengangkat jari telunjuk kanannya, mengarahkannya tepat ke dahi sang bandit yang bersembunyi di balik tubuh Milo.

ZRAAAAP!

Sebuah jarum petir ungu yang setipis benang namun sepanas inti matahari melesat dari ujung jari Ajil. Kecepatannya tidak bisa ditangkap oleh mata. Jarum petir itu menembus tepat di tengah dahi si bandit, melubangi tengkoraknya, dan langsung membakar seluruh jaringan saraf di otaknya dalam seperseribu detik.

Bandit itu mati bahkan sebelum rasa sakit mencapai sarafnya. Otot-ototnya rileks seketika, belati di tangannya terjatuh ke tanah tanpa sempat menggores kulit Milo sehelai pun. Tubuh tak bernyawa bandit itu ambruk ke belakang seperti karung beras.

Waktu menunjukkan tepat dua menit sejak Ajil melangkah masuk ke medan pertempuran. Tiga puluh bandit telah menjadi tumpukan mayat yang hangus dan bersimbah darah.

Keheningan yang mencekam turun menyelimuti jalanan itu. Hanya terdengar suara embusan angin dan isak tangis Milo yang kini berdiri sendirian, gemetar menatap tumpukan mayat di sekelilingnya. Elara dan Tobias terlalu syok untuk bergerak, mereka membeku menatap pria berjaket hitam yang baru saja melakukan pembantaian massal dalam sekejap mata.

Ajil berjalan perlahan menghampiri Milo. Langkah kakinya yang berat dan jubah hitamnya yang memancarkan aura kematian membuat Elara akhirnya tersadar dan menjerit. "Jangan! Tolong jangan sakiti dia!"

Namun Ajil mengabaikan wanita itu. Ia berhenti tepat di depan Milo. Bocah itu mendongak, menatap wajah Ajil dengan mata bulatnya yang masih dipenuhi air mata. Ajil menatap bocah itu cukup lama. Wajahnya yang sejak ia tiba di Ridokan selalu sedingin balok es, kini perlahan melunak. Tatapan matanya yang kosong dan mematikan meredup, digantikan oleh sebuah kehangatan dan kerinduan yang sangat dalam, sebuah pandangan welas asih seorang ayah.

Ajil berlutut, mensejajarkan tingginya dengan Milo. Ia tidak peduli bahwa di sekelilingnya berserakan mayat dengan darah yang menggenang. Dengan tangan besarnya yang baru saja mencabut puluhan nyawa, Ajil secara perlahan dan lembut mengusap air mata di pipi kotor bocah itu dengan ibu jarinya.

Ia kemudian mengeluarkan sebuah permen madu bulat—yang ia beli tanpa sadar di Guild tadi pagi karena teringat Dara—dari dalam Cincin Ruangnya. Ia meletakkan permen manis itu ke telapak tangan Milo yang gemetar, lalu menutup jari-jari mungil bocah itu.

Ajil memaksakan sebuah senyuman tipis, senyuman pertama yang terukir di wajahnya sejak kematian Ami.

"Air mata adalah saksi bisu bahwa kau memiliki hati yang masih berdetak," ucap Ajil dengan suara baritonnya yang kini terdengar sangat hangat dan menenangkan, sama sekali tidak ada sisa-sisa amarah di dalamnya. "Menangislah hari ini, Nak. Tapi esok, jadikan air mata ini sebagai perisai baja untuk melindungi ibumu. Jadilah anak laki-laki yang kuat."

Milo, yang merasakan kehangatan dan perlindungan dari pria menakutkan di depannya, entah mengapa merasa sangat aman. Tangisannya mereda. Ia memegang permen madu itu erat-erat dan menganggukkan kepalanya pelan.

Ajil berdiri, mengelus puncak kepala Milo dengan lembut, lalu menoleh pada Tobias dan Elara. "Bawa gerobak kalian. Jalan ke arah utara menuju gerbang Valeria sekarang aman. Jangan menoleh ke belakang."

Tanpa menunggu ucapan terima kasih dari keluarga yang masih terpaku tak percaya itu, Ajil membalikkan badannya. Wajahnya kembali membeku, auranya kembali mendingin. Ia merapatkan kerah jaketnya dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Lembah Abu Vulkanik, melangkah di atas genangan darah para bandit tanpa sedikit pun keraguan.

Tinggi di atas dahan pohon ek raksasa, tersembunyi di balik daun-daun merah yang gugur, Erina berdiri mematung.

Sang High Elf yang terkenal sinis, dingin, dan menganggap semua ras manusia sebagai makhluk biadab yang hanya peduli pada kekuasaan, kini merasakan jantungnya berdetak dengan ritme yang tidak masuk akal. Nafasnya tertahan.

Ia telah menyaksikan seluruh kejadian itu sejak awal. Pembantaian dua menit yang begitu brutal, tanpa belas kasihan, dan penuh darah. Ia mengira Ajil adalah senjata pembunuh berjalan yang kehilangan kewarasannya.

Namun, adegan di mana pria itu berlutut di tengah lautan mayat, mengubah aura kematiannya menjadi pelukan kehangatan seorang ayah, mengusap air mata anak manusia itu, dan memberikan senyuman yang begitu rapuh... adegan itu menghancurkan seluruh dinding es di hati Erina.

Mata zamrud Erina berkaca-kaca. Entah mengapa, dadanya terasa sesak oleh sebuah emosi yang tumpah ruah. Ia melihat kontras yang paling indah sekaligus paling menyakitkan yang pernah ada di dunia ini.

Dengan suara yang bergetar pelan, terhembus bersama angin musim gugur, Erina berbisik pada dirinya sendiri, matanya tak lepas dari punggung Ajil yang mulai menjauh.

"Kau... kau bukanlah seorang monster," bisik Erina lembut, air mata haru menetes satu kali membasahi pipi pualamnya. "Kau hanyalah seorang manusia yang menyimpan duka yang begitu dalam... kehilangan arah, namun berusaha menjaga sisa-sisa cinta yang kau miliki."

Di atas dahan itu, di tengah hembusan angin Ridokan, takdir sang High Elf tercantik dari Benua Timur telah sepenuhnya terkunci. Ia bukan lagi sekadar pengamat yang penasaran. Erina menyadari, hatinya telah jatuh sedalam-dalamnya pada sang Algojo berhati dingin.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!