NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Red_Purple

‎Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.

‎Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.

‎Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.

‎"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

‎Perjalanan menuju rumah terasa begitu panjang dan mencekam bagi Nara. Meski Rendra mengemudi dengan tenang, jantung wanita itu terus berdegup kencang. Rasa gugup, takut, dan juga rasa bersalah terus menyelimuti hatinya.

‎‎"Ren, tolong berhenti di sini saja," ucapnya pelan, matanya menatap jalanan di depan dengan pandangan tak menentu.

‎Rendra mengerutkan kening, dia langsung menekan rem hingga mobil berhenti perlahan di sisi jalan, posisinya cukup jauh dari gerbang rumah yang menjadi hunian Nara dan suaminya.

‎‎"Kenapa berhenti di sini? Rumahmu masih lumayan jauh," tanya Rendra sambil mematikan mesin, lalu menoleh menatap wajah wanita itu yang terlihat cemas.

‎‎Nara menelan salivanya, tangannya saling bertaut di pangkuan.

‎‎"Aku tidak mau ada yang melihat kita datang berdua, Ren," jawabnya jujur, suaranya terdengar ragu. "Aku akan turun disini dan berjalan kaki saja. Lebih aman."

‎‎Rendra mendengus kesal mendengar alasan itu. Dia tidak suka Nara harus bersembunyi atau merasa takut. Tatapannya sedikit mengeras.

‎‎"Kamu tidak perlu takut atau sembunyi, Nara. Kita tidak melakukan kejahatan," ucapnya tegas.

‎‎"Aku tahu..." Nara menyentuh tangan pria itu lembut, mencoba menenangkan. "Tapi tolong mengertilah. Aku belum siap menghadapi drama besar pagi ini. Biarkan aku yang masuk dan menyelesaikan semuanya sendiri dulu. Nanti aku akan kabari kamu."

‎‎Rendra menatap mata wanita itu dalam-dalam, mencoba membaca ketulusan di sana. Akhirnya, dia menghela napas panjang dan mengangguk pasrah.

‎‎"Baiklah. Seperti keinginanmu," ucapnya lembut.

‎‎Namun, sebelum Nara sempat membuka pintu, Rendra langsung menarik pergelangan tangan wanita itu, membawanya mendekat dan langsung mendaratkan sebuah ciuman panjang dan dalam di bibir mungil itu.

‎‎"Nghh..." Nara tersentak, matanya terpejam sejenak menikmati ciuman hangat itu.

‎"Ingat janjimu," bisik Rendra serak setelah melepaskan ciuman itu, keningnya menempel di kening Nara. "Hubungi aku kapanpun itu,"

‎‎"Iya, Ren. Aku ingat," jawab Nara, tersenyum tipis.

‎‎"Dan jangan lupa..." Rendra menyeringai, tangannya mencubit pelan pipi wanita itu. "Jangan biarkan dia menyentuhmu lagi. Karena mulai sekarang hanya aku yang boleh menyentuhmu, Nara."

‎‎Nara terdiam sejenak, lalu mengangguk patuh. "Ya, aku tidak akan lupa."

‎‎Nara membuka pintu mobil dan melangkah turun. Dia merapikan bajunya sekali lagi, lalu melambaikan tangan kecil pada Rendra. Rendra mengangguk, matanya tak lepas memandangi sosok wanita itu yang mulai berjalan menjauh menuju gerbang rumah besar yang tertutup rapat.

‎Rendra tidak langsung memutar kemudi dan pergi. Dia tetap duduk di sana, membiarkan mesin mobil menyala pelan, menatap gerbang rumah mewah itu dengan tatapan tajam dan dingin.

-

-

-

‎‎"Menginap dimana sampai sepagi ini baru pulang, Nara?"

‎‎Suara berat dan tegas itu terdengar memecah keheningan. Nara tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Dia perlahan menoleh dan mendapati mamanya, Anita, sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya dengan wajah datar dan tatapan tajam yang menelusuri setiap inci wajah putrinya.

‎‎"Mama...?" Nara tergagap, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. "Mama... sudah ada di sini sejak kapan?"

‎‎Anita berdiri perlahan, langkah kakinya terdengar tegas mendekat. Wanita itu menatap Nara dari atas ke bawah dengan pandangan menyelidik.

‎‎"Mama datang sejak satu jam yang lalu karena khawatir," jawab Anita dingin. "Kenapa kamu baru pulang setelah suamimu berangkat ke kantor? Seorang istri tidak seharusnya menginap diluar dan membiarkan suaminya tidur sendirian dirumah, Nara."

‎‎Nara menelan salivanya dengan susah payah. Tangannya gemetar di samping tubuhnya. Dia tidak menyangka mamanya akan datang kerumahnya pagi-pagi begini.

‎‎"Aku menginap di rumah teman, Ma," jawab Nara, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya tetap stabil. "Semalam hujan deras, jadi aku memutuskan untuk tidak pulang dan menginap dirumah Dina. Lagipula aku sudah menelpon dan memberitahu mas Arga kalau aku akan menginap,"

‎‎"Teman?" Anita mendengus tidak percaya. Dia melangkah maju, menatap putrinya dengan tatapan mengintimidasi. "Sekarang ceritakan, ada masalah apa antara kamu dan suamimu?"

"Tidak ada masalah apa-apa, Ma..." jawab Nara cepat, berusaha sekuat tenaga menahan getar suaranya. "Kami baik-baik saja."

‎"Baik-baik saja?" Anita mendengus sinis, dia melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. Tatapan mata tajam itu seolah mampu menembus pikiran putrinya.

‎‎"Kamu pikir Mama bodoh sampai tidak bisa melihat perubahan pada putri Mama sendiri?!" bentak Anita pelan namun tegas. "Sikapmu sudah berubah sejak kami datang untuk merayakan ulang tahunmu malam itu. Kalian pulang terpisah, dan tatapan kalian berdua..."

‎‎"Tatapan kalian seperti sedang menyembunyikan sesuatu!" bentak Anita.

‎‎"Ma... Mama salah paham," Nara mencoba bertahan meski suaranya sudah terdengar putus asa. "Tidak ada masalah apa-apa antara aku dan mas Arga. Kami hanya sedang ada sedikit masalah kecil, itu saja."

‎‎"Masalah kecil?" Anita menggeleng tak percaya. "Nara, jangan coba menutupi apapun dari Mama, Nak. Arga bahkan membiarkan kamu menginap diluar dan tidak menyusulmu, Mama semakin yakin kalau ada apa-apa diantara kalian berdua. Ceritakan pada Mama sayang, ada apa sebenarnya?"

‎‎Nara menunduk, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Rasa sesak memenuhi dadanya. Bagaimana mungkin dia menjelaskan bahwa masalah 'kecil' itu sebenarnya adalah kehancuran dalam rumah tangganya? Bagaimana mungkin dia bilang kalau suaminya telah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri. Dan sekarang... Sekarang dia malah terjerat dalam hubungan terlarang dengan sahabat suaminya.

‎"Memang benar..." suara Nara bergetar pelan, air mata mulai menetes tanpa bisa ditahan. "Mas Arga berselingkuh, dia menjalin hubungan dengan sekretarisnya, Ma."

‎Suasana ruangan seakan membeku mendengar pengakuan itu. Anita mematung, matanya terbelalak tak percaya, mulutnya sedikit terbuka namun tidak bisa mengeluarkan suara.

‎‎"Apa yang kamu bilang?" Anita tergagap, tubuhnya sedikit gemetar. "Arga... Arga selingkuh? Itu benar?"

‎‎Nara mengusap air matanya dan mengangguk, dia berjalan mendekati sang Mama dan meraih kedua tangannya, menggenggamnya erat.

‎‎"Tolong jangan sampai ada yang tahu masalah ini dulu, Ma," pinta Nara, berusaha untuk tegar. "Aku tidak mau Papa sampai mendengar dan tahu soal ini. Papa punya riwayat sakit jantung, aku takut kalau Papa tahu dan emosi, penyakitnya kambuh, Ma."

‎‎Anita mematung, tubuhnya gemetar. Rasa marah, kecewa, dan juga rasa takut bercampur menjadi satu di dadanya. Dia menatap kosong ke depan, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja dia terima. ‎Putrinya dikhianati. Menantunya yang selama ini dia kenal baik ternyata brengsek. Dan suaminya tidak boleh tahu karena alasan kesehatan.

-

-

-

Bersambung...

1
Aisyah Siregar
yeayyy happy ending. first time bace novel sampai habis tanpa skip chapter 🤭
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak sudah berkenan mampir 🙏😁
total 1 replies
Estianty
bagus
Vera
Udh mulai malas baca nya,konflik melulu
Suhadi
kenapa juga harus resepsi megah, nggak selamatan nikah aja sihh...🙏
Rismawati Damhoeri
kasihan sebenarnya sama kamu arga, tapi kamu juga sih...nggak kuat iman...
Rismawati Damhoeri
kamu 6 kasih umpnnya rendra, setelah kamu dapat ikannya, trus kamu mainin, kau siksa ikannya.., goreng kek🤭🤭🤭🤭
Rismawati Damhoeri
teman curhatmu tuh...
Rismawati Damhoeri
laki2 selingkuh bisa cuma nafsu, tpi perempuan pake hati, .

💪💪
Aisyah Siregar: betul
total 1 replies
Rismawati Damhoeri
kenapa juga nitipin harta berharga sama pencuri, arga..arga....
Rismawati Damhoeri
kenapa tak bercerai saja nara, drpd ikutan brensek seperti suamimu..
Nur Aulia
cerai dl naea SM Arga,,jgn JD wanita murahan
💗 AR Althafunisa 💗
Heran, kenapa ditutupi sih. Baru tau rasa malah kamu nanti yang dibilang selingkuh duluan 🥴
💗 AR Althafunisa 💗
Masih aja ditutupi, bukannya udah KLO mau cerai. Jangan malah nanti Boomerang buat diri kalau kamu juga berselingkuh. Seharusnya selesaikan dulu masalah baru pindah haluan 😌
Deni marvianawati
modusnya rendraaaaa,,,
Partini Minok Nur Maesa
makanya cerai dulu
Partini Minok Nur Maesa
jd kasian sama arga
Partini Minok Nur Maesa
ternyata rendra licik
Partini Minok Nur Maesa
knp gx minta cerai aja
Partini Minok Nur Maesa
apa gx kecepeten ren
Partini Minok Nur Maesa
arga biasanya nama yg baik tp sayang disini jd jht
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!