Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ular yang Terluka
Penahanan Daniel memang menjadi berita besar di media bisnis, namun di balik jeruji besi, Daniel tidak diam. Ia hanyalah bidak catur dari sebuah faksi rahasia di dalam dewan direksi yang disebut "The Syndicate".
Malam itu, di sel tahanannya, Daniel menerima kunjungan dari seorang pria misterius berpakaian rapi yang membawa tas koper hitam.
"Anda gagal, Daniel," ucap pria itu dingin. "Tapi kami tidak bisa membiarkan Arsenia Valen menghancurkan rencana jangka panjang kita untuk wilayah barat. Ada kandungan mineral langka di bawah tanah pemukiman Raka yang bahkan Arsenia sendiri belum tahu."
Daniel menyeringai, wajahnya tampak kusam namun matanya penuh dendam. "Bantu aku keluar, atau setidaknya berikan aku cara untuk menghancurkan Raka. Selama pria itu ada, Arsenia tidak akan bisa disentuh."
Pria itu meletakkan sebuah foto di kaca pembatas. Foto itu bukan foto Raka yang sekarang, melainkan foto masa kecil Raka di depan sebuah panti asuhan yang terbakar dua puluh tahun lalu.
"Raka bukan sekadar orang biasa, Daniel. Dia adalah kunci dari masa lalu keluarga Valen yang terkubur."
Perubahan di Valen Group
Di kantor pusat, Arsenia merasa menang, namun suasana kantor terasa mencekam. Banyak staf yang mulai mengundurkan diri secara massal—sebuah sabotase internal yang rapi.
Arsenia sedang duduk di mejanya ketika asisten barunya, Maya, masuk dengan wajah pucat.
"Nona Arsenia, ada tamu yang memaksa ingin bertemu. Beliau mengaku sebagai pemilik saham mayoritas yang selama ini 'tidur'."
Pintu terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya dengan aura yang sangat berkuasa masuk. Dia adalah Ibu Sofia Valen, bibi Arsenia yang sudah sepuluh tahun tinggal di luar negeri dan dikenal sangat dingin.
"Arsenia, kau telah membuat kekacauan besar dengan memenjarakan Daniel," ujar Sofia tanpa basa-basi. "Kau lebih memilih seorang pria jelata daripada stabilitas perusahaan. Mulai hari ini, aku akan mengawasi setiap langkahmu. Dan satu hal lagi..."
Sofia mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat jantung Arsenia seolah berhenti berdetak.
"Jangan pernah bawa pria bernama Raka itu ke dalam lingkaran keluarga kita. Jika kau melakukannya, kau akan tahu mengapa ayahmu dulu membuang silsilah keluarga tertentu dari catatan kita."
Di Sisi Raka: Rahasia yang Mulai Terungkap
Sementara itu, Raka yang sedang membersihkan warungnya menemukan sebuah surat tua yang terselip di balik laci kasir milik Pak Tua penjaga warung yang sudah meninggal.
Surat itu berkop surat Valen Group, bertanggal 20 tahun yang lalu. Isinya adalah perintah pengosongan lahan panti asuhan tempat Raka dibesarkan. Di bawah surat itu, ada tanda tangan yang sangat ia kenali: Ayah Arsenia.
Dunia Raka serasa berputar. Wanita yang sangat ia cintai, yang baru saja ia perjuangkan, ternyata adalah putri dari orang yang menghancurkan masa kecilnya dan menyebabkan panti asuhannya terbakar.
Tiba-tiba, ponsel Raka berbunyi. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal:
"Ingin tahu siapa yang sebenarnya membakar panti asuhanmu? Tanya pada Arsenia tentang proyek 'Lentera Merah' tahun 2006."
Konflik Baru Dimulai
Sore itu, saat Arsenia datang ke warung dengan senyum ceria untuk merayakan kemenangan mereka, ia mendapati Raka berdiri mematung dengan surat tua di tangannya.
"Raka? Ada apa?" tanya Arsenia khawatir.
Raka menatap Arsenia dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya—tatapan penuh luka dan keraguan. "Senia... apakah nama ayahmu adalah Bramantyo Valen?"
Arsenia terdiam, firasat buruk mulai merayap di hatinya. "Iya, kenapa?"
Raka mengangkat surat itu. "Apakah dia juga yang bertanggung jawab atas proyek pengosongan lahan panti asuhan di wilayah barat dua puluh tahun lalu?"
Hujan tiba-tiba turun dengan deras, seolah ikut merasakan keretakan yang mulai muncul di antara mereka. Arsenia terpaku. Ia masuk ke dalam sebuah labirin masa lalu yang bahkan ia sendiri tidak tahu pintu keluarnya.