Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 13
Malam telah jatuh sepenuhnya di kediaman paviliun, menyelimuti taman belakang dengan selimut kegelapan yang pekat.
Suara jangkrik bersahutan di balik semak-semak, menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian rumah yang kini penghuninya telah terlelap.
Martha dan para pelayan lainnya sudah lama masuk ke peraduan mereka, kelelahan setelah hari yang penuh dengan drama dan ketegangan.
Ilwa berdiri di ambang pintu belakang, menatap hamparan rumput yang bermandikan cahaya perak bulan purnama. Ia tidak bisa tidur.
Pikirannya terus berputar pada surat undangan pelatihan yang tadi siang ia terima. Training dasar klan Eldersheath bukan sekadar latihan kebugaran;
itu adalah tempat penempaan yang bisa menghancurkan mental dan fisik siapa pun yang lemah.
"Jika aku datang ke sana dengan kondisi fisik seperti ini, aku hanya akan menjadi sasaran empuk bagi Leo dan antek-anteknya," gumam Ilwa rendah.
Ia berjalan santai menyusuri jalan setapak berbatu.
Di pojok gudang kecil, matanya menangkap sebuah sapu kayu tua yang tersandar lesu.
Ilwa mengambilnya, menimbang beratnya sejenak, lalu dengan satu hentakan tangan yang presisi, ia mematahkan bagian ujung serabutnya.
Kini, yang tersisa di tangannya adalah sebatang kayu lurus sepanjang satu meter—sebuah pedang kayu darurat.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menajamkan indra sensoriknya untuk memastikan tidak ada satu pun mata yang mengawasi.
Setelah yakin bahwa ia benar-benar sendirian di bawah naungan malam, seulas senyum tipis yang dingin muncul di wajahnya.
"Baiklah, mari kita lihat sejauh mana raga kecil ini bisa mengikuti kehendak sang Albus."
Ilwa menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata untuk memvisualisasikan kembali teknik-teknik yang dulu membuatnya dijuluki Sang Pembawa Kehancuran.
Ia sempat ragu sejenak, memilih gaya mana yang paling cocok untuk kerangka tubuh anak berusia delapan tahun. Setelah satu helaan napas panjang,
ia membuka matanya. Tatapannya berubah drastis; tidak ada lagi kesan bocah polos, yang ada hanyalah tatapan tajam seorang predator.
*Srak!*
Ilwa memasang kuda-kuda rendah. Kaki kirinya sedikit ditarik ke belakang, sementara tangan kanannya memegang kayu itu dengan mantap di samping pinggang. Secara tiba-tiba, ia bergerak.
Gerakannya bukan sekadar ayunan kasar anak kecil. Ilwa menggunakan gaya **"Siluet Bayangan"**, sebuah teknik *Sword Master* tingkat tinggi yang mengutamakan efisiensi gerakan dan titik fatal.
Kayu sapu itu membelah udara dengan suara siulan yang tajam.
Ia berputar, melesat maju dua langkah, lalu memberikan tusukan beruntun ke udara kosong.
"Latihan ini... memang bagus untuk menutupi niat asliku," bisik Ilwa di sela-sela gerakannya. "Training ksatria bangsawan pasti akan dipenuhi instruktur yang haus akan disiplin. Mereka tidak akan memberi ampun pada anak yang mereka anggap cacat."
Ia mulai mengalirkan mana ke kakinya. Kilatan energi biru tipis berpendar samar di bawah bayang-bayang malam.
Kecepatannya meningkat dua kali lipat. Ilwa melompat, melakukan tebasan vertikal yang sangat presisi,
lalu berputar di udara dan mendarat tanpa suara, seolah-olah berat tubuhnya tidak lebih dari sehelai bulu.
"Omni-Overlord... aku belum tahu sepenuhnya apa yang bisa dilakukan gelar ini," ucapnya sambil terus mengayunkan pedang kayunya dengan ritme yang semakin gila.
"Tapi jika benar gelar ini memungkinkan aku menggabungkan semua disiplin, maka aku harus bisa menyelaraskan kontrol mana eksternal sambil mempertahankan kecepatan fisik ini."
Setiap gerakannya terlihat sangat ahli, sangat matang.
Sudut-sudut serangannya begitu tajam sehingga jika ada seorang ksatria ahli yang melihatnya, mereka pasti akan jatuh berlutut karena ngeri melihat seorang bocah memiliki teknik yang bahkan butuh waktu tiga puluh tahun untuk dikuasai.
Ia menari di bawah cahaya bulan, pedang kayunya menciptakan bayangan-bayangan mematikan di atas rumput.
Namun, saat ia mencoba melakukan transisi ke teknik pedang yang lebih berat—sebuah teknik *Grand Sword Magic* untuk melapisi kayu itu dengan api mana—sesuatu yang salah terjadi.
*Dug-dug! Dug-dug!*
Jantung Ilwa tiba-tiba berdegup dengan kencang, memberikan rasa sakit yang menghujam tepat di ulu hati.
Napasnya seketika tersumbat.
Jalur mana yang mengalir ke paru-parunya seolah-olah terjepit oleh belenggu yang dingin dan keras.
Ilwa berhenti seketika.
Ia menjatuhkan kayu sapu itu dan berlutut di atas rumput, memegangi dadanya dengan tangan yang gemetar hebat.
Peluh dingin mengucur deras dari dahinya, membasahi rambut putihnya yang kini tampak berantakan.
"Hah... hah... hah..."
Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti terbakar.
Ia berusaha mengatur kembali aliran mananya, namun dinding *Aura-Lock* itu terasa sangat kokoh, bereaksi terhadap paksaan fisik yang baru saja ia lakukan.
"Cih... bajingan," umpat Ilwa dengan suara parau yang penuh kekesalan. Ia menatap telapak tangannya yang masih bergetar. "Penyakit ini... dinding sialan ini masih menghambat fisikku secara drastis. Tubuh bayi ini belum siap menerima beban teknik tingkat tinggi."
Ia duduk di atas rumput dingin, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tidak beraturan.
Rasa kesal yang luar biasa membuncah di dadanya.
Sebagai Albus, ia tidak pernah merasakan kelemahan fisik seperti ini.
Dulu, ia adalah badai yang tak terhentikan, namun sekarang, hanya bergerak selama sepuluh menit saja sudah membuatnya hampir pingsan.
"Tampaknya aku terlalu terburu-buru," gumamnya sambil menatap langit malam yang luas.
"Aku harus melatih fisik ini dari nol. Memperkuat otot, memperlebar kapasitas paru-paru, dan perlahan-lahan mengikis dinding Aura-Lock itu melalui latihan fisik yang ekstrem. Training bulan depan... mungkin itu memang kunci yang kubutuhkan."
Ilwa bangkit berdiri dengan susah payah, memungut kembali kayu sapunya.
Ia memandang ke arah rumah utama yang berdiri megah di kejauhan, tempat di mana Robert dan Elisa mungkin sedang merencanakan cara untuk membuangnya.
"Lihat saja nanti," desis Ilwa. "Aku akan menggunakan training kalian sebagai tungku untuk menempa raga ini kembali. Jika fisik ini lemah, maka aku akan memaksanya menjadi kuat melalui penderitaan."
Dengan langkah yang masih sedikit goyah namun penuh tekad, Ilwa berjalan kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan taman yang kini kembali sunyi.
Kayu sapu yang ia patahkan tadi tertinggal di atas rumput, menjadi saksi bisu atas tarian maut seorang legenda yang sedang berjuang melawan penjara dagingnya sendiri.
Malam itu, Ilwa tidur dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, namun di dalam mimpinya, ia sudah mulai menyusun strategi untuk menaklukkan barak latihan Eldersheath dan membuktikan pada dunia bahwa sang Omni-Overlord telah benar-benar kembali.
----
Satu bulan bukanlah waktu yang lama bagi seorang manusia biasa, namun bagi sosok seperti Ilwa, tiga puluh hari adalah kanvas yang ia gunakan untuk melukis kembali fondasi kekuatannya.
Selama satu bulan penuh, paviliun yang biasanya tenang itu berubah menjadi saksi bisu transformasi fisik seorang anak laki-laki berusia delapan tahun.
-------
Ilwa memulai latihannya dengan sangat terukur.
Ia tahu bahwa memaksakan teknik *Sword Master* saat tubuhnya masih terkunci *Aura-Lock* adalah tindakan bunuh diri.
Maka, ia memilih jalan yang membosankan namun mematikan: **Ketahanan Fondasi.**
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menyentuh ufuk, Ilwa sudah berada di halaman belakang.
Latihannya dimulai dengan *Calisthenics* kuno—gerakan beban tubuh yang ia susun sendiri. Ia melakukan *push-up* dengan jari-jarinya untuk memperkuat cengkeraman, *squat* lambat untuk melatih kepadatan otot kaki, dan posisi *plank* yang ia pertahankan selama berjam-jam sambil melakukan meditasi mikro untuk mengalirkan mana ke serat-serat otot yang meradang.
Minggu kedua, ia mulai menambah beban.
Ia mengisi dua ember kayu kecil dengan air dan membawanya berlari mengelilingi paviliun. Para pelayan yang lewat hanya menatapnya dengan pandangan kasihan.
Di mata mereka, Ilwa hanyalah seorang anak kecil yang ketakutan akan pelatihan militer dan berusaha melakukan apa pun yang dia bisa.
Mereka tidak tahu bahwa setiap tetes keringat Ilwa adalah upaya untuk mengikis dinding transparan yang menyumbat sirkuit energinya.
"Tuan Muda, istirahatlah sebentar. Anda sudah berlari sejak fajar," tegur Martha suatu siang sambil membawa handuk kering.
Ilwa berhenti, napasnya teratur—sebuah tanda bahwa kapasitas paru-parunya meningkat. "Otot yang tidak ditempa akan menjadi daging yang busuk, Martha. Aku harus siap," jawabnya singkat sebelum melanjutkan latihan ayunan kayu yang ia lakukan seribu kali setiap sore.
Pada akhir bulan, tubuh Ilwa tampak sedikit lebih padat.
Meski secara visual ia masih terlihat seperti anak kecil yang ramping, namun ada ketegasan dalam setiap langkahnya.
Penyakit itu masih ada, namun Ilwa telah berhasil membuat "kerjasama" antara fisik dan mananya agar tidak saling menghancurkan saat ia bergerak aktif.
---
Waktu akhirnya habis.
Hari yang dinantikan sekaligus ditakuti tiba.
Pagi itu, sebuah kereta kuda logistik—bukan kereta mewah keluarga—datang menjemput Ilwa.
Ia membawa koper kulit kecil berisi pakaian dan perlengkapan pribadinya. Di dunia klan Eldersheath, pelatihan ini adalah masa transisi dari "anak-anak" menjadi "kadet".
Yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pengumuman kali ini sangat samar.
Tidak ada tanggal kepulangan.
Tidak ada durasi pasti.
Ini adalah pertama kalinya pelatihan dilakukan dengan sistem *Open-End*—artinya, para kadet akan tinggal di barak sampai instruktur menganggap mereka layak, entah itu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Di depan gerbang barak yang terbuat dari besi hitam dan batu granit, suasana sangat riuh. Puluhan anak dari berbagai cabang keluarga berkumpul dengan wajah yang beragam; ada yang menangis memeluk orang tuanya, ada yang terlihat sombong seperti Leo, dan ada yang berdiri gemetar menatap menara pengawas yang dijaga ksatria bersenjata lengkap.
Ilwa turun dari kereta kuda, merasakan aroma tanah, keringat, dan besi yang tajam di udara. Martha berdiri di sampingnya, wajahnya sembab karena tangis yang ia tahan sejak semalam.
"Tuan Muda... tempat ini terlihat sangat kejam," bisik Martha sambil memandang barak-barak kayu yang berjajar rapi. "Tidak ada pelayan yang akan membantu Anda mencuci baju atau menyiapkan air hangat. Bagaimana jika penyakit Anda kambuh di tengah malam?"
Ilwa menghela napas panjang, menatap wanita tua yang telah mengurusnya dengan tulus itu. "Jangan sedih begitu, Martha. Aku bukan pergi ke medan perang untuk mati. Bukankah setiap lembaga pendidikan punya hari libur? Aku akan pulang sesekali untuk mencicipi masakanmu."
"Tapi mereka tidak memberitahu kapan ini berakhir! Bagaimana jika Anda tidak pulang selama setahun?" Martha mulai terisak lagi.
Ilwa menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya. "Jika aku tidak pulang, itu berarti aku sedang sibuk melampaui mereka semua. Berhentilah mengkhawatirkanku."
Saat Ilwa berbalik untuk melangkah menuju pos pendaftaran, Martha tiba-tiba memanggilnya. "Tuan Muda! Tunggu sebentar!"
Ilwa berhenti dan berbalik.
Martha merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus kain sutra.
Saat bungkusan itu dibuka, sebuah kalung perak dengan liontin kristal murni berkilau di bawah sinar matahari.
Ilwa tertegun. Ia mengenali benda itu. "Itu... kalung Ibu?"
"Benar," Martha tersenyum lembut meski matanya masih basah. "Nyonya Elara meninggalkannya untuk Anda. Saya pikir, di tempat sekeras ini, Anda membutuhkan sesuatu untuk mengingatkan bahwa Anda dicintai. Anggap saja ini sebagai jimat pelindung, Tuan Muda. Pakailah."
Ilwa terdiam sejenak. Di dalam jiwanya yang dingin sebagai Albus, ada kehangatan kecil yang menyelinap.
Ia mengambil kalung itu, merasakannya di telapak tangannya, lalu mengenakannya di lehernya.
Kristal itu terasa dingin di kulitnya, namun entah bagaimana, ia merasa mananya bereaksi dengan tenang terhadap benda tersebut.
"Terima kasih, Martha. Aku akan menjaganya," ucap Ilwa dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
"Jaga diri Anda baik-baik, Ilwa!" seru Martha saat Ilwa mulai berjalan menjauh, menyeret kopernya di atas tanah berpasir.
Ilwa hanya melambaikan tangan tanpa menoleh kembali.
Ia berjalan melewati gerbang besi barak, melangkah masuk ke dalam dunia militer yang kaku.
Di depannya, puluhan anak bangsawan menatapnya dengan pandangan merendahkan, namun Ilwa tidak peduli.
Ia mengencangkan pegangan pada kopernya dan menyentuh liontin di dadanya.
Di kejauhan, di atas panggung peninjau, terlihat sosok Aris yang sedang berdiri bersedekap, memperhatikan kedatangan para kadet baru dengan seringai misterius.
Mata Aris terkunci pada sosok bocah berambut putih yang berjalan dengan ketenangan yang tidak wajar di tengah kekacauan para bocah lainnya.
"Selamat datang di neraka, Omni-Overlord kecil," gumam Aris pelan, suaranya hilang ditelan angin musim gugur yang mulai berhembus dingin.
Langkah kaki Ilwa resmi menginjakkan kaki di tanah pelatihan, memulai babak baru di mana ia tidak lagi hanya berlatih melawan bayangan, melainkan melawan manusia-manusia yang akan menjadi batu loncatan menuju tahta kekuasaannya yang hilang.
Bersambung....