Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Makan Siang yang Memuakkan
Pagi itu Ardi bangun dengan perasaan berat yang tidak bisa dijelaskan.
Maya masih tidur di sampingnya, rambutnya berantakan di atas bantal, napasnya teratur. Ardi menatapnya sebentar—wajah yang tenang, bebas dari kerutan, bebas dari rasa bersalah setidaknya untuk beberapa jam. Dia ingin membiarkan Maya tidur lebih lama, tapi ponselnya bergetar di meja samping.
Pesan dari Sari: Di, hari ini kita makan siang bareng ya. Aku, kamu, sama Kak Maya. Aku yang traktir.
Ardi menegang. Dia membaca pesan itu dua kali, tiga kali, mencari makna di balik kata-kata yang tampak biasa. Sari mengajak makan siang. Bersama Maya. Setelah semuanya terbuka. Setelah Sari tahu.
Dia mengetik: Ada perlu apa?
Tidak ada. Aku kangen. Lagian kita kan tetap teman, kan? Atau kamu nggak mau?
Ardi tidak bisa menjawab. Di satu sisi, ini kesempatan untuk menjelaskan, untuk meminta maaf, untuk mencoba memperbaiki sesuatu yang sudah hancur. Tapi di sisi lain, ini jebakan. Sari tidak mungkin tiba-tiba baik-baik saja. Wanita yang semalam menangis di apartemennya tidak akan bangun pagi ini dengan senyum dan ajakan makan siang.
Oke. Jam berapa? balas Ardi akhirnya.
Jam 12. Di restoran langganan kita di Senopati. Aku tunggu.
Ardi meletakkan ponsel, menatap langit-langit. Di sampingnya, Maya bergerak, tangannya meraih pinggang Ardi, menariknya mendekat.
"Pagi," bisik Maya, suaranya masih serak karena kantuk.
"Pagi."
Maya membuka mata, menatap Ardi sebentar. Matanya masih sayu, tapi ada kecemasan di sana. "Kamu gelisah."
"Sari ajak makan siang. Kita bertiga."
Maya terdiam. Perlahan dia duduk, menarik rambutnya ke belakang, menatap Ardi dengan mata yang kini sepenuhnya sadar. "Dia tahu?"
"Aku sudah bilang. Dia tahu."
"Dan dia masih mau makan siang dengan kita?" Maya tertawa kecil, tapi tawanya tidak bahagia. "Dia hebat. Aku tidak akan bisa seperti itu."
Ardi duduk di tepi ranjang, menghadap Maya. "Kita bisa tidak usah datang."
"Tidak." Maya menggeleng, tangannya meraih tangan Ardi. "Kalau kita tidak datang, dia akan semakin curiga. Dan dia sudah tahu semuanya, Ardi. Satu-satunya yang belum dia tahu adalah—" Maya berhenti, menarik napas. "Dia belum tahu bahwa aku juga tahu kalau dia tahu."
Ardi mengerutkan dahi. "Kedengarannya rumit."
"Karena memang rumit." Maya melepaskan tangan Ardi, turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi. Di ambang pintu, dia menoleh. "Kita akan datang. Kita akan berpura-pura semuanya normal. Dan kita akan lihat apa yang sebenarnya dia mau."
---
Restoran di Senopati itu tempat yang dulu sering Ardi dan Sari kunjungi. Meja favorit mereka di pojok, dekat jendela, dengan pemandangan taman kecil yang selalu rapi. Sekarang Ardi duduk di meja yang sama, tapi di hadapannya ada Maya dan Sari, dan udara di antara mereka terasa seperti kaca yang siap pecah kapan saja.
Sari datang lebih dulu. Dia mengenakan blus putih, rambutnya diikat rapi, senyumnya cerah—terlalu cerah. Ketika Ardi dan Maya masuk, Sari berdiri, menyambut Maya dengan pelukan hangat.
"Kak Maya! Aku kangen. Kok jarang ke apartemenku lagi?"
Maya tersenyum, membalas pelukan itu dengan kaku. "Sibuk, Sari. Banyak urusan rumah."
"Urusan rumah?" Sari melepaskan pelukan, menatap Maya dengan mata yang berbinar. "Kak Maya kan punya ART, masa sih repot?"
Maya tertawa kecil, mengambil kursi di seberang Sari. "Yuni memang membantu, tapi tetap saja ada yang harus aku urus."
Ardi duduk di samping Maya, menjaga jarak yang cukup agar tidak mencurigakan. Sari duduk di hadapan mereka, matanya bergerak cepat dari Maya ke Ardi, seperti sedang menghitung sesuatu.
"Kalian berdua akrab banget ya?" Sari bertanya dengan nada bercanda, tapi matanya serius.
Ardi menegang. Maya menjawab lebih cepat. "Iya. Di rumah cuma kami berdua sering. Bram jarang ada. Jadi ya terpaksa akrab."
Sari mengangguk, membuka menu. "Aku pesen steak, biasa. Kak Maya?"
Maya mengambil menu, membacanya tanpa benar-benar melihat. "Sama. Steak."
"Di?"
"Juga."
Pelayan datang, mencatat pesanan, lalu pergi. Tiga orang duduk diam-diam, tidak ada yang tahu harus memulai percakapan dari mana. Sari yang akhirnya memecah keheningan.
"Di, kamu tahu, tadi pagi aku ketemu ibu kamu."
Ardi mengangkat alis. "Ibu? Maksudmu ibu Sari?"
"Iya." Sari tersenyum, memainkan sendok di atas meja. "Ibu tanya kenapa kita jarang keliatan bareng. Aku bilang kita lagi sibuk."
"Kamu bohong?" Maya ikut bertanya, suaranya terdengar sedikit aneh.
Sari menoleh ke Maya, senyumnya masih terpasang. "Sedikit. Aku nggak bilang kalau kita putus. Soalnya aku nggak yakin kita beneran putus."
Ardi menatap Sari. "Sari—"
"Aku belum selesai, Di." Sari memotong, suaranya tetap lembut tapi ada nada yang tidak bisa diabaikan. "Aku pikir kita butuh waktu. Bukan putus. Hanya jeda. Biar kamu pikir-pikir lagi."
Maya diam, tangannya menggenggam erat ujung rok. Ardi merasakan kakinya bergerak tanpa sadar, mencari kaki Maya di bawah meja, tapi Maya menarik kakinya menjauh.
"Kamu tidak perlu melakukan itu, Sari," kata Ardi pelan.
"Melakukan apa?"
"Berpura-pura. Kamu tahu—" Ardi berhenti, matanya bertemu dengan Maya sekilas. "Kamu tahu semuanya sudah selesai."
Sari tertawa. Tawa yang pahit. "Kamu lihat, Kak Maya? Dia selalu begitu. Terus terang sampai menyakitkan." Sari menatap Maya, menunggu reaksi.
Maya tersenyum tipis, tidak menunjukkan apa pun. "Mungkin dia hanya tidak mau berbohong."
"Tidak mau berbohong?" Sari mengulang kata-kata itu, matanya tidak lepas dari Maya. "Menurut Kak Maya, apakah Ardi pernah berbohong?"
Ruangan terasa sesak. Ardi menahan napas, tangannya di bawah meja mengepal. Maya menatap Sari dengan tenang—terlalu tenang.
"Setiap orang pernah berbohong, Sari," jawab Maya akhirnya. "Termasuk aku."
Sari menatapnya lama. Lalu dia tersenyum lagi, senyum yang tidak sampai ke mata. "Kak Maya baik banget. Selalu membela Ardi."
"Karena dia anak Bram. Aku harus menjaga dia."
"Aku juga sayang Ardi, Kak. Tapi mungkin tidak seperti Kak Maya."
Kalimat itu menggantung di udara, tajam dan mengancam. Ardi melihat Maya menelan ludah, jari-jarinya memilin ujung rok lebih erat. Sari tidak mengalihkan pandangan, terus menatap Maya dengan senyum yang tidak pernah luntur.
Untungnya, pelayan datang membawa pesanan. Tiga piring steak diletakkan di atas meja, dengan saus yang mengilap dan kentang goreng di sampingnya. Ardi mengambil pisau dan garpu, mulai memotong daging dengan gerakan mekanis, meskipun perutnya terasa mual.
Maya juga makan, tapi hanya beberapa suap. Sari makan dengan lahap, sesekali berkomentar tentang rasa daging, tentang restoran, tentang film yang baru saja dia tonton—topik-topik biasa yang terasa tidak biasa karena ketegangan di antara mereka.
"Kak Maya," Sari memecah keheningan setelah beberapa menit.
"Ya?"
"Kamu tahu, Di dulu kalau ke apartemenku suka banget bawa bunga. Setiap kali, bunga yang berbeda. Aku suka banget." Sari tersenyum, matanya menerawang. "Sekarang dia nggak pernah lagi. Mungkin dia kasih bunga ke orang lain sekarang."
Ardi menghentikan gerakan pisaunya, menatap Sari. "Sari—"
"Aku cuma bercanda, Di." Sari tertawa, tapi tawanya tidak ramah. "Kamu jangan tegang. Aku kan cuma ngobrol."
Maya meletakkan garpu, mengambil gelas air, menyesap pelan. Ardi melihat tangannya sedikit gemetar.
"Kak Maya kenapa?" Sari bertanya. "Makanannya nggak enak?"
"Enak. Aku hanya kenyang."
"Makannya sedikit banget." Sari mencondongkan tubuh, matanya menatap Maya dengan penuh perhatian. "Jangan-jangan Kak Maya lagi diet? Atau lagi—" dia berhenti, matanya berbinar. "Atau lagi hamil?"
Maya tersedak. Ardi ikut menegang, jantungnya berdebar kencang.
"Tidak," Maya menjawab cepat, suaranya sedikit serak. "Aku tidak hamil."
"Untung." Sari kembali memotong steaknya, bicara sambil makan. "Soalnya kan Pak Bram jarang di rumah. Kalau Kak Maya hamil, orang pasti bertanya-tanya."
Ardi merasakan darahnya mendidih. "Sari, cukup."
Sari mengangkat wajah, menatap Ardi dengan mata yang tiba-tiba kehilangan senyumnya. "Cukup apa, Di? Aku cuma ngobrol biasa. Kenapa kamu marah?"
"Kamu—"
"Di." Maya memotong, tangannya menyentuh lengan Ardi sebentar. "Tenang. Sari tidak bermaksud apa-apa."
Sari melihat sentuhan itu, sekilas, tapi cukup untuk membuat senyumnya kembali. "Iya, Di. Aku nggak bermaksud apa-apa. Aku cuma kangen ngobrol sama kalian. Soalnya—" suaranya berubah, menjadi lebih pelan, lebih lembut. "Soalnya aku nggak tahu kapan bisa ngobrol lagi seperti ini."
Ardi terdiam. Maya juga. Mereka bertiga makan dalam sunyi, hanya suara pisau dan garpu yang beradu dengan piring, suara yang terasa terlalu keras di tengah keheningan yang penuh.
Setelah selesai, Sari memanggil pelayan untuk membayar. Dia mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya, menyerahkannya tanpa melihat jumlah.
"Aku duluan, ya," kata Sari sambil berdiri. "Ada janji sama teman."
Ardi dan Maya ikut berdiri. Sari menghampiri Maya, memeluknya lagi, lebih lama dari sebelumnya. "Kak Maya, terima kasih sudah mau makan siang bareng. Aku senang banget."
Maya membalas pelukan itu dengan kaku. "Iya, Sari. Sama-sama."
Sari melepaskan pelukan, menatap Maya dengan mata yang basah. "Kak, aku titip Di, ya. Jaga dia baik-baik."
Maya tidak menjawab. Sari tersenyum, lalu berpaling ke Ardi. Dia berdiri di depan Ardi, menatapnya lama.
"Di," bisiknya.
"Sari."
"Aku nggak akan bilang apa-apa ke siapapun." Suaranya begitu pelan, hanya Ardi yang bisa mendengar. "Tapi suatu hari, aku harap kamu bisa memilih. Bukan antara aku dan dia. Tapi antara benar dan salah."
Ardi tidak bisa menjawab. Sari mencium pipinya cepat, lalu berbalik, meninggalkan restoran dengan langkah tegap, tidak menoleh.
Ardi dan Maya berdiri di samping meja, melihat Sari menghilang di balik pintu kaca. Di luar, langit masih mendung, dan mulai turun hujan rintik-rintik.
"Aku ingin pulang," bisik Maya.
Ardi mengangguk. Mereka berjalan keluar, masuk ke mobil yang diparkir di depan restoran. Ardi menyalakan mesin, wiper mulai bergerak perlahan membersihkan air yang menetes di kaca.
Maya duduk di kursi penumpang, menatap ke luar jendela, tidak bicara. Ardi melaju perlahan, masuk ke arus lalu lintas yang mulai padat karena hujan.
Di tengah perjalanan, Maya berbicara tanpa menoleh. "Dia tahu."
"Tahu apa?"
"Dia tahu kita tahu. Dan dia tahu aku mencintaimu." Maya menarik napas, suaranya bergetar. "Dia tidak marah. Dia hanya—" dia berhenti, mencari kata. "Dia hanya memberi tahu kita bahwa dia ada di sana. Bahwa dia tidak akan pergi. Bahwa dia akan menunggu."
Ardi tidak menjawab. Di depan, lampu merah menyala, dia menginjak rem, mobil berhenti. Hujan semakin deras, membasahi kaca, membuat lampu lalu lintas terlihat buram.
"Mungkin dia benar," kata Ardi akhirnya.
Maya menoleh, menatapnya dengan mata yang basah. "Benar tentang apa?"
"Bahwa aku harus memilih. Antara benar dan salah."
Maya terdiam. Lampu hijau menyala, Ardi melaju lagi, meninggalkan persimpangan dengan perasaan yang tidak pernah lebih berat.
---
Di rumah Menteng, Yuni sedang merapikan dapur ketika mereka masuk. Wanita itu menoleh sekilas, lalu kembali mencuci piring tanpa berkata apa-apa. Sejak insiden foto, sikap Yuni berubah—tidak lagi ramah, tidak lagi hangat. Hanya netral, seperti orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Ardi dan Maya naik ke lantai dua tanpa bicara. Di kamar Maya, mereka duduk di tepi ranjang, berdua, dengan jarak yang tidak biasa.
"Kita tidak bisa terus begini," bisik Maya.
Ardi menatapnya. "Apa maksudmu?"
"Berpura-pura. Mengabaikan. Berlari dari kenyataan." Maya menunduk, jari-jarinya memainkan ujung baju. "Sari ada di luar sana, menunggu. Bram mulai curiga. Rudy tahu. Yuni tahu. Semakin lama kita diam, semakin banyak orang yang akan tahu."
"Apa yang kau mau aku lakukan?"
Maya mengangkat wajah, matanya jujur. "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku tidak bisa kehilangan kamu. Tapi aku juga tidak bisa terus bersembunyi."
Ardi meraih tangan Maya, menggenggam erat. "Kita akan cari jalan."
"Mencari jalan?" Maya tersenyum pahit. "Kita sudah mencoba, Ardi. Dan kita selalu berakhir di sini. Di ranjang yang sama, di rumah yang sama, dengan rahasia yang semakin berat."
Ardi tidak menjawab. Karena Maya benar. Mereka selalu berputar di lingkaran yang sama—bertemu, bersembunyi, merasa bersalah, lalu bertemu lagi. Tidak pernah maju, tidak pernah mundur.
"Aku lelah," bisik Maya. "Tapi aku tidak bisa berhenti."
Ardi menarik Maya ke dalam pelukan, merasakan tubuhnya yang dingin, merasakan napasnya yang tidak teratur. Di luar, hujan masih turun, membasahi taman, membasahi rumah besar yang terasa semakin sempit.
Malam itu, mereka tidak bicara lagi. Tidak ada janji, tidak ada rencana. Hanya keheningan yang penuh, yang terasa seperti pengakuan bahwa mereka tidak tahu harus ke mana lagi.
---