ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7--Pencari Keris
Rahmat hampir saja tersedak tawanya sendiri saat membaca pesan dari Maya. Huruf kapital semua dan emoji menangis itu sudah cukup menjelaskan betapa daruratnya situasi di Galeria. Maya, yang bisa membobol server tingkat tinggi dalam hitungan menit, ternyata kalah telak hanya karena harus menghadapi satu orang tamu.
"Kenapa, Le? Kok mukanya senyum gitu?" tanya Ibu Dewi sambil menenteng tas belanjaan bermerek yang terasa seperti memehang barang paling berharga di hidupnya (mungkin karena harganya yang gak ngota).
"Ah, ini Bu... Temanku. Sepertinya dia sedikit butuh bantuan," jawab Rahmat sambil menyimpan ponselnya.
Bella memiringkan kepalanya, telinga kucing di topinya ikut miring. "Bantuan? Kenapa kak?"
"Ini tentang bisnis galeri barang antikku. Katanya ada pelanggan datang," bisik Rahmat ke telinga bella, berusaha agar tidak ada orang yang mendengarkan. Termasuk ibunya.
Tentu dia belum bisa cerita bahwa dia punya usaha saat ini.
"Iya kenapa?"
"Ada tamu yang mau beli barang antik, tapi temanku yang jaga sepertinya sudah mau pingsan karena canggung."
Bella langsung tertawa renyah. "Aduhh, kasihan teman kakak! Dia orang tipe pemalu pasti."
Rahmat sedikit terkekeh, tipe pemalu. Jika bicara tentang maya levelnya bukan gitu lagi.
"Aku boleh ikut? aku mau bantu kak Rahmat!" Ucap bella penuh semangat.
Lalu Rahmat menatap dua temannya itu. "Kamu yakin mau ikut ?"
"Iya, kak! Kakak udah bantu bella banyak banget, kasih hadiah juara satu, sekarang belanjain Bella. Jadi biarkan aku balas budi!"
"Tapi bagaimana dengan temanmu?"
Seolah baru sadar, dia tersentak, wajah penuh semangat Langsung hilang begitu saja. Topi telinga kucing itu yang sebelumnya naik penuh semangat sekarang turun seolah menggambarkan perasaan si gadis.
Kecewa.
Seolah paham perasaan temannya, dua orang itu berkata.
"Santai aja bella! Kamu boleh pergi sama kak Rahmat!"
"Iya-iya. Yang akrab ya, kabari kami kalau sudah jadian, hahaha "
"Ih, kalian aku sama kak Rahmat engga gitu!"
Si rambut kuncir kuda menggoda bella. "Apa iya? kamu ceritain kak Rahmat terus setiap hari kaya bicarain nabi."
"Dia lagi fase keasmaraan kak!" Timpal teman satunya lagi.
Wajah Bella langsung memerah padam sampai ke ujung telinga kucingnya. Ia sibuk mengibas-ngibaskan tangan, sementara dua temannya tertawa geli melihat reaksi sahabat mereka yang biasanya lincah itu mendadak salah tingkah.
"kalian ini jangan bilang gitu di depan kak Rahmat! Bella Malu tahu!"
timpal bella. Mereka tertawa.
Sambil tersenyum tenang, Rahmat menoleh ke arah ibunya.
"Kamu ada urusan sama temanmu nanti?"
"Iya, Bu. Tapi nanti aku anter ibu dulu aja—"
"Jangan!" Putus sang ibu cepat.
Ibu Dewi menggeleng tegas, matanya melirik tumpukan tas belanjaan di tangannya dengan raut wajah yang masih sedikit "trauma" karena harganya.
"Ibu pulang naik taksi online saja, Le. Kamu sama temanmu ini saja," ucap Ibu Dewi sambil menunjuk Bella dengan dagunya.
"Kasihan anak cewek, dia kalau harus nunggu, lagian ibu nanti jadi obat nyamuk, iya kan, nak Bela?"
Bella menggelengkan kepala. "Enggak kok Tante!"
Rahmat tertegun sejenak. "Tapi barang belanjaan Ibu banyak banget..."
"Sopir taksinya nanti kan bisa bantu angkut ke dalam hotel. Lagipula, Ibu mau mampir ke rumah teman ibu sebentar, mau pamer dikit pakai baju baru ini,"
Ibu Dewi mengedipkan mata, membuat Rahmat tertawa kecil. Ternyata ibunya punya sisi narsis juga setelah dimanjakan kemewahan.
Setelah memastikan ibunya masuk ke dalam mobil taksi mewah yang dia pesan Rahmat segera mengajak Bella.
Mereka naik mobil Mclaren warna hitam yang terparkir megah di sana.
Dua teman Bella melambai heboh dari kejauhan sambil memberikan gestur "semangat" dan "hati-hati di jalan" yang membuat wajah Bella kembali memanas.
"Kak... "
tanya Bella pelan saat mereka sudah di dalam mobil.
"Iya?"
"Nanti teman Kakak nggak makin gugup kalau ada aku? Aku kan orang asing buat dia."
Rahmat memutar kemudi, meluncur membelah kemacetan menuju arah tujuan.
"Justru sebaliknya, Bel. Maya—temanku itu—dia jenius kalau urusan teknis, tapi kalau harus senyum ke pelanggan, dia bisa error total. Dia butuh orang yang energinya kayak kamu buat mencairkan suasana."
Rahmat bisa membayangkan. Hubungan interaksi seperti apa yang terjadi ketika orang kayak bella bertemu Maya.
Pasti menarik.
"Hehe, kalau itu sih serahkan ke Bella! Aku bakal buat dia nggak canggung lagi!"
Bella menepuk dadanya bangga, membuat pin stroberi di topinya bergoyang-goyang lucu.
Galeria Spesial Rahmat.
Nama itu terpampang jelas. Bella mematung menatap lahan Ruko yang dia miliki sekarang jadi tempat galeri yang lumayan.
Namun yang buat dia heboh itu namanya ... Ia gak nyangka Rahmat itu punya selera penamaan yang norak.
Tentu dia tidak bisa komentar.
"Ayuk masuk, temenku sudah nunggu."
"Iya, kak!"
Suasana di dalam galeri terasa sangat sunyi, namun tegang. Di sudut ruangan, dekat rak guci peninggalan dinasti lama, Maya berdiri mematung dengan kepala tertunduk dalam. Tangannya meremas ujung kaos kebesarannya.
Di depannya, duduk seorang pria paruh baya mengenakan setelan safari rapi dengan kacamata hitam yang disematkan di kantong kemejanya. Pria itu tampak sangat berwibawa, memegang sebuah katalog tua sambil sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kayu jati.
"Jadi... nona kecil," suara pria itu berat dan berwibawa. "Kamu bilang pemilik tempat ini sedang... belanja?"
"I-iya... Tuan... anu... Kak Rahmat sedang... ada urusan... penting... s-sebentar lagi sampai," jawab Maya dengan suara yang nyaris hilang. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Di dalam otaknya, Maya lebih memilih meretas bank pusat daripada harus berdiri di sini satu menit lagi.
BRAKK!
Pintu depan Galeria terbuka lebar. Rahmat masuk dengan gaya bos muda yang santai, diikuti Bella yang melompat kecil di belakangnya.
"Maya! Aku pulang!" seru Rahmat.
Maya seketika menoleh, matanya berbinar seolah melihat malaikat maut yang berubah jadi malaikat penolong. "KAK RAHMAT!! PLISS!!"
Pria bersafari itu berdiri, berbalik menatap Rahmat. Matanya yang tajam langsung memindai penampilan Rahmat dari ujung rambut sampai ujung kaki.
[DING!]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SYSTEM ANALYSIS Aktif]
Nama: Hendra Wijaya.
Pekerjaan: Kolektor Artefak Tingkat Tinggi / Kurator Museum Nasional.
Status: Sangat Tertarik pada Item "Keris Nogo Siluman" milik Tuan.
Saran Sistem: Jangan jual dengan harga normal. Gunakan aura Bella untuk meningkatkan nilai tawar.
━━━━━━━━━━━━━━━
Aura bella? Ia melirik ke si gadis. Jadi gitu, anak aktif ini juga bisa berguna untuk menaikkan harga, menarik.
"Jadi, ini pemilik Galeria barang antik ini, dia sangat muda?" tanya Pak Hendra sambil tersenyum tipis, tapi aura menidashost-nya tetap kuat.
Rahmat menyalami pria itu dengan tenang. "Perkenalkan, pak. Saya Rahmat. Maaf membuat Anda menunggu, Tuan Hendra. Teman saya ini memang lebih suka bicara dengan komputer daripada dengan manusia."
Bella langsung maju ke depan, memberikan senyum paling ceria miliknya. "Halo Om! Wah, Om hebat ya bisa nemu tempat ini. Biasanya cuma orang-orang yang punya selera seni 'level dewa' yang bisa mampir ke sini!"
Pak Hendra tampak sedikit terkejut dengan keceriaan Bella. Kerutan di dahinya perlahan mengendur. "Hahaha, kamu punya asisten yang sangat kontras ya, Rahmat. Yang satu seperti es kutub, yang satu seperti kembang api."
"Asisten?" Bella mengulangi kata itu, lalu dia membuka lebar. Benar banget, dia dapat hal yang patut dia lakukan kalau mau membalas budi atas kebaikan kak Rahmat!
Dia pun Semakin bersemangat.
Rahmat mempersilakan Pak Hendra duduk kembali. "Jadi, saya dengar Anda tertarik pada sesuatu?"
Pak Hendra mengeluarkan sebuah foto lama dari sakunya. "Saya mencari barang yang kabarnya ada di sini. Saya baru saja melihat postingan di media sosial kalian.
Sebuah keris dengan ukiran naga yang kepalanya terbuat dari batu meteorit. Saya sudah mencari ke seluruh pelosok kota ini, dan informan saya bilang, barang itu jatuh ke galeria yg bahkan belum buka secara resmi ini."
Maya berbisik pelan ke telinga Rahmat. "Kak... itu keris yang mana ya?*
Rahmat menyeringai. Itulah barang yang ia dapatkan dari Gacha Sistem minggu.
"Oh, barang itu," ucap Rahmat santai sambil melirik Bella. "Sebenarnya itu koleksi pribadi yang tidak ingin saya jual. Tapi... kalau penawarannya tepat, mungkin kita bisa bicara."
Bella memahami arti tatapan itu, tersenyum lalu ikut berbicara.
Bella langsung menyambar, "Iya Om! Itu barang langka banget! Kak Rahmat aja sampai harus 'bertarung' buat dapetinnya!" (Padahal Rahmat cuma klik tombol di layar sistem dan nyaris tidak berjuang sama sekali.).
Pak Hendra memperbaiki letak kacamata hitamnya. "Sebutkan harganya. Uang bukan masalah bagi Museum Nasional."
Rahmat menatap layar virtualnya. Skil membuka usaha : 10x lipat dari keuntungan normal.
Jika dia berhasil menjual ini dengan harga tinggi, sistem mungkin akan memberikan bonus yang lebih gila lagi.
"Tiga ratus juta rupiah," ucap Rahmat tanpa berkedip.
Maya nyaris jatuh dari kursinya. Keris kayak gitu seharga tiga ratus juta!?
"Tiga ratus juta?!" Pak Hendra terdiam. Suasana kembali tegang.