Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Mekanisme Sunyi
Gedung kantor berlantai enam itu selalu tampak lebih abu-abu di mata Colette. Begitu ia melangkah masuk, lobi yang biasanya bising oleh suara sepatu dan denting lift mendadak sunyi sesaat.
Para resepsionis yang tadinya tertawa kecil langsung menunduk, pura-pura sibuk dengan tumpukan dokumen. Mereka tidak ingin menatap mata Colette yang seolah-olah bisa menyedot seluruh energi kehidupan dari ruangan itu.
Colette tidak peduli. Ia berjalan lurus, masuk ke dalam lift yang mendadak kosong karena dua orang yang tadinya ingin masuk memilih menunggu lift berikutnya.
Sesampainya di kubikelnya, Colette duduk. Ia meletakkan tasnya di laci bawah dengan gerakan yang sangat presisi, seolah setiap senti gerakannya sudah diatur oleh mesin. Tak lama kemudian, sang atasan—seorang pria paruh baya yang selalu tampak terburu-buru—meletakkan setumpuk map merah di atas mejanya tanpa berani menatap wajahnya.
"Selesaikan ini sebelum jam lima, Colette," ucapnya singkat, lalu segera melenggang pergi dengan langkah cepat, seakan takut tertular oleh kesuraman yang menyelimuti meja itu.
Dan Colette pun mulai bekerja.
Cetak... cetak... cetak...
Bunyi tuts mesin tik manual di era 80-an itu menjadi detak jantungnya. Colette bekerja dengan kecepatan yang tidak wajar. Ia tidak berhenti untuk minum, tidak menoleh saat rekan-rekan di sebelahnya berbisik-bisik sambil meliriknya, dan tidak pula bergeming saat seseorang dengan sengaja menyenggol kursinya hingga ia sedikit terguncang.
Ia bekerja layaknya sebuah algoritma. Jika diberi sepuluh, ia selesaikan sepuluh. Jika diberi seratus, ia selesaikan seratus. Baginya, angka-angka dan laporan keuangan di hadapannya jauh lebih masuk akal daripada interaksi manusia.
Angka tidak akan menyentuhnya secara paksa. Laporan tidak akan mencolek pahanya atau menertawakannya saat ia terjepit di kegelapan.
Suasana di kantor semakin memuakkan. Di era 80-an yang maskulin dan penuh tekanan ini, posisi Colette yang lemah secara mental menjadi sasaran empuk bagi mereka yang haus akan kuasa.
"Hei, Colette," suara cempreng seorang karyawan wanita bernama Linda memecah konsentrasi Colette. Linda meletakkan gelas keramik kosongnya tepat di samping mesin tik Colette.
"Mesin kopi di lantai bawah sedang penuh, tapi aku tahu kau sangat rajin. Buatkan aku kopi hitam, tanpa gula."
Colette tidak menjawab, tapi ia bangkit berdiri. Tangannya meraih gelas itu tanpa protes.
"Dan sekalian, ini," potong seorang pria bernama Bram dari kubikel seberang. Ia melempar sebuah resi paket ke atas tumpukan dokumen Colette. "Ambilkan paketku di lobi. Katanya kurirnya tidak mau naik ke atas. Jangan lama-lama, isinya barang penting."
"Oh, satu lagi!" teriak karyawan lain sambil tertawa kecil.
"Aku ingin makan siang dari kedai di ujung jalan sana. Cuacanya sedang terik, jadi aku malas keluar. Kau kan sudah biasa jalan kaki, Colette. Belikan aku dua porsi, ya?"
Colette tetap diam.
Ia mengumpulkan gelas, resi, dan catatan pesanan makanan itu seperti sedang mengumpulkan tugas sekolah. Baginya, menjadi "babu" jauh lebih mudah daripada harus berdebat atau membela diri. Jika ia menuruti mereka, setidaknya mereka akan berhenti berbicara padanya untuk sementara.
Saat Colette berjalan menuju pintu keluar dengan tumpukan tugas "suruhan" itu, bisikan-bisikan beracun mulai merayap di belakang punggungnya.
"Lihat dia, benar-benar seperti mayat berjalan," bisik Linda dengan nada jijik. "Aku heran bos masih mempertahankannya. Aura wajahnya saja sudah seperti pembawa sial. Pantas saja sampai sekarang tidak ada laki-laki yang mau mendekatinya."
"Mungkin dia memang sudah gila," timpal Bram sambil menyalakan rokoknya. "Atau jangan-jangan dia penganut aliran sesat? Lihat saja matanya, kosong sekali. Kalau dia tidak mengerjakan pesananku, aku akan bilang pada atasan kalau dia mencuri dokumen."
Tawa mereka pecah, memenuhi ruangan kantor yang pengap.
Colette mendengar setiap kata. Setiap hinaan. Setiap tawa. Namun, wajahnya tetap datar. Ia berjalan menembus koridor, menuruni tangga karena ia tidak sanggup menunggu lift yang penuh dengan orang-orang yang membencinya.
Di dalam hatinya, Colette merasa seolah ia sedang berjalan di dasar laut yang gelap. Tekanannya begitu besar, oksigennya begitu tipis. Ia melakukan semua suruhan itu—membuat kopi, mengambil paket di lobi yang panas, berjalan jauh di bawah terik matahari untuk membeli makanan—semuanya ia lakukan tanpa sedikit pun keluhan.
Di sudut ruangan, Jude Rhodes hanya bisa menyandarkan punggungnya ke kursi dengan helaan napas yang berat dan pasrah. Matanya yang tajam menatap nanar ke arah meja Colette yang kini kosong, karena gadis itu sedang sibuk menuruni tangga demi tangga hanya untuk memenuhi "titipan" rekan-rekan mereka yang tak tahu diri.
Ia meremas pulpen di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang membuncah setiap kali melihat Colette diperlakukan layaknya pesuruh.
"Kalian benar-benar tidak punya rasa malu?" tegur Jude dengan suara bariton yang dalam, membuat tawa Linda dan Bram seketika terhenti.
"Ayolah, Jude. Dia saja tidak keberatan. Anggap saja dia sedang olahraga pagi," sahut Bram sambil mengedikkan bahu acuh tak acuh, lalu kembali menyesap rokoknya.
Jude tidak membalas lagi. Ia menyadari bahwa membela Colette di depan orang-orang ini terasa seperti berteriak di depan tembok. Namun, yang paling menyakitkan bagi Jude bukanlah perilaku jahat rekan-rekannya, melainkan sikap diam Colette yang mutlak.
Ia mulai meraba-raba ingatannya, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia mendengar suara gadis itu. Ia tersadar dengan perasaan ngeri bahwa ia mulai lupa bagaimana bunyi suara Colette. Gadis itu benar-benar tidak pernah menolak apa pun. Tidak ada kata "tidak", tidak ada keluhan, bahkan tidak ada desahan napas lelah. Colette hanya menerima semua beban itu seperti sebuah lubang hitam yang menelan segalanya tanpa sisa.
Colette telah menjelma menjadi keheningan yang berjalan, dan Jude merasa sangat tidak berdaya menyaksikannya.
Setiap kali Jude mencoba menawarkan bantuan atau sekadar menyapa untuk memancingnya bicara, Colette hanya akan menatapnya dengan pandangan kosong yang sangat dingin. Tatapan yang seolah-olah berkata bahwa segala bentuk kepedulian dari Jude adalah hal yang sia-sia karena jiwanya sudah tidak lagi berada di sana.