Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: MALAM BULAN PURNAMA
Dua hari berlalu dalam ketegangan yang tak terkatakan.
Istana Kekaisaran berdenyut dengan aktivitas normal, tapi di balik permukaan yang tenang, intrik menggeliat seperti ular dalam sarang. Para dayang berlalu-lalang dengan senyum palsu, para pengawal berjaga dengan mata waspada, dan di paviliun-paviliun mewah, para pejabat menyusun rencana mereka sendiri.
Namgung Jin menghabiskan dua hari itu dengan mempersiapkan segalanya.
Ia mempelajari peta bawah tanah istana yang didapat dari Miho, menghafal setiap lorong, setiap pintu rahasia, setiap titik jaga. Ia juga mengajarkan beberapa jurus dasar pada Putri Sohwa—bukan untuk bertarung, tapi untuk bertahan hidup.
"Ingat, jika terjadi sesuatu, lari jangan berhenti. Jangan mencoba jadi pahlawan."
Putri Sohwa mengangguk, meskipun wajahnya pucat. "Aku tidak akan lari. Aku akan bertarung."
"Kau tidak bisa bertarung. Kau tidak punya kekuatan."
"Tapi aku punya nyali."
Namgung Jin menghela napas. Gadis ini keras kepala.
---
Malam bulan purnama tiba.
Bulan bersinar bundar sempurna di langit tanpa awan, menerangi istana dengan cahaya perak yang dingin. Di taman-taman, bunga-bunga malam mekar, mengeluarkan aroma harum yang memabukkan. Tapi di balik keindahan itu, malam ini adalah malam pembantaian.
Namgung Jin berdiri di ambang jendela paviliunnya, menatap bulan. Di tangannya, Mawanggeom bergetar pelan—seolah merasakan darah yang akan segera tumpah.
Nyonya Hwa Ryun masuk dengan pakaian hitam longgar, siap bergerak. Di pinggangnya, sebilah pedang tipis terselip.
"Miho sudah masuk. Ia akan memberi sinyal begitu ritual dimulai."
"Bagus."
"Putri Sohwa?"
"Sudah kubilang untuk tetap di sini. Tapi kau tahu dia."
Nyonya Hwa Ryun tersenyum tipis. "Dia keras kepala. Sepertinya dia belajar dari yang benar."
---
Di kediaman Putri Sohwa, gadis itu justru sedang bersiap.
Ia mengenakan jubah hitam sederhana, rambutnya diikat ke belakang. Di tangannya, sebilah belati kecil—hadiah dari Namgung Jin untuk berjaga-jaga.
"Aku tidak akan diam di sini." Ia menatap bayangannya sendiri di cermin. "Ini hidupku. Aku yang akan memperjuangkannya."
Ia membuka jendela, menyelinap keluar.
---
Satu jam kemudian, sinyal dari Miho datang.
Seekor burung kertas kecil melesat masuk ke paviliun Namgung Jin—teknik sederhana dari kertas berenergi. Di sayapnya, tulisan kecil: "Ritual dimulai. Kuil bawah tanah. Masuk lebar lorong timur."
"Sekarang."
Mereka bergerak.
---
Lorong timur ternyata adalah koridor pelayanan yang biasa digunakan para pelayan. Sepi, gelap, dan berbau lembab. Di ujungnya, sebuah pintu besi setengah terbuka—pintu menuju kuil bawah tanah.
Namgung Jin masuk pertama, Mawanggeom terhunus. Nyonya Hwa Ryun mengikuti di belakang, matanya awas ke segala arah.
Di dalam, kuil itu luas.
Lorong-lorong bercabang ke berbagai arah, dan dari kejauhan terdengar suara denging—mantra? Atau ratapan? Mereka mengikuti suara itu, melewati ruangan-ruangan kosong dengan peralatan ritual yang mengerikan: meja batu dengan belenggu, pisau-pisau upacara, dan mangkuk-mangkuk untuk menampung darah.
Akhirnya, mereka tiba di ruang utama.
---
Ruang itu besar, setinggi dua lantai, dengan langit-langit berkubah. Di tengah, sebuah altar batu hitam menjulang, dihiasi ukiran naga dan iblis. Di sekeliling altar, puluhan lilin hitam menyala, menciptakan lingkaran api.
Di atas altar, terikat di batu persembahan, terbaring Putri Sohwa.
Gadis itu setengah sadar, matanya sayu. Jubahnya compang-camping, dan di pergelangan tangannya, luka sayatan mengeluarkan darah yang menetes ke mangkuk perak di bawahnya.
Di sekitar altar, berdiri dua puluh wanita muda—para tahanan dari penjara. Mereka semua dalam keadaan setengah telanjang, tubuh mereka dihiasi simbol-simbol aneh dengan darah. Mereka meratap pelan, suara mereka seperti angin malam.
Di depan altar, Janda Permaisuri berdiri dengan jubah upacara hitam dan emas. Di tangannya, sebuah pisau upacara berkilauan. Di sampingnya, Nyonya Go—yang entah bagaimana bisa lepas—membacakan mantra dari gulungan kuno.
Di belakang mereka, berjajar dua puluh pengawal bersenjata lengkap, dipimpin Jenderal Baek Woong.
Namgung Jin mengamati dari balik pilar. Dua puluh pengawal, satu jenderal, dan dua wanita tua. Bukan lawan seimbang, tapi dengan Putri Sohwa sebagai sandera, situasinya rumit.
"Aku akan mengalihkan perhatian," bisik Nyonya Hwa Ryun. "Kau selamatkan Putri."
"Terlalu berisiko."
"Tidak ada pilihan lain."
Sebelum Namgung Jin bisa menahan, Nyonya Hwa Ryun sudah melesat keluar dari persembunyian. Pedangnya menyambar, menebas dua pengawal terdekat sebelum mereka sempat bereaksi.
"PENYUSUP!"
Kekacauan meledak.
---
Nyonya Hwa Ryun bertarung dengan lincah, gerakannya cepat dan mematikan. Tapi lawannya terlalu banyak. Dalam hitungan detik, ia sudah dikepung.
Jenderal Baek Woong tertawa. "Beraninya kau datang sendirian, wanita!"
"Aku tidak sendirian."
Saat itulah Namgung Jin bergerak.
Mawanggeom menyambar dari bayangan, menebas dua pengawal yang menjaga altar. Ia melompat ke atas altar, meraih Putri Sohwa.
"Bangun!"
Putri Sohwa membuka mata—sayu, tapi sadar. "J-Jin..."
"Diam. Aku bawa kau keluar."
Tapi Janda Permaisuri sudah melihatnya.
"TANGKAP MEREKA!"
Para pengawal berbalik, mengepung altar. Jenderal Baek Woong maju dengan pedang besarnya, matanya penuh kebencian.
"Bocah sialan! Kau merusak ritual suci!"
"Ritual suci? Kau menyebut pembunuhan massal sebagai ritual suci?"
"DIAM!"
Jenderal Baek Woong menyerang. Pedang besarnya menyambar dengan kekuatan luar biasa.
Namgung Jin menghindar, masih menggendong Putri Sohwa yang setengah pingsan. Gerakannya terbatas, tapi ia masih bisa bertahan.
"Lepaskan dia dan bertarung seperti pria!"
"Aku tidak perlu mendengarkan nasihat dari budak wanita tua."
Jenderal Baek Woong mengamuk. Serangannya semakin ganas.
Tapi Namgung Jin melihat celah. Dengan Putri Sohwa masih dalam gendongannya, ia melompat ke samping, menendang sebuah lilin besar. Lilin itu jatuh, mengenai tirai di belakang altar. Api menjalar cepat.
"KEBAKARAN!"
Kekacauan bertambah. Para pengawal panik, berusaha memadamkan api. Janda Permaisuri berteriak histeris.
"RITUAL! RITUAL HARUS DILANJUTKAN!"
Tapi tidak ada yang mendengarkan.
---
Di tengah kekacauan, Namgung Jin membawa Putri Sohwa keluar dari altar. Nyonya Hwa Ryun menyusul, terluka di lengan tapi masih bisa bertarung.
"Kau selamat?"
"Aku baik. Cepat, keluar!"
Mereka berlari meninggalkan kekacauan di belakang.
---
Di luar, di taman belakang istana, mereka berhenti untuk mengatur napas.
Putri Sohwa sudah sadar penuh, meskipun masih lemah kehilangan darah. Nyonya Hwa Ryun membalut lukanya dengan kain sobekan.
"Kau gila," gumam Nyonya Hwa Ryun pada Namgung Jin. * "Masuk ke sarang mereka sendirian."*
· "Aku tidak sendirian. Ada kau."*
Nyonya Hwa Ryun tersenyum, meskipun sakit.
Tapi ketenangan mereka tidak berlangsung lama.
Dari bayangan, suara tepuk tangan terdengar.
"Bagus. Sungguh bagus."
Janda Permaisuri melangkah keluar dari balik pohon. Ia sendirian, tanpa pengawal, tanpa Jenderal Baek Woong. Jubah upacaranya kotor, rambutnya acak-acakan. Tapi matanya... matanya bersinar gila.
"Kau pikir kau menang, bocah?"
· "Aku menyelamatkan Putri Sohwa. Aku menggagalkan ritualmu. Sepertinya aku menang."*
"Menang?" Janda Permaisuri tertawa—tawa gila yang mengerikan. "Kau tidak tahu apa-apa. Ritual ini bukan untuk menghidupkan kembali putraku."
"Apa?"
"Ini untuk membangkitkan sesuatu yang jauh lebih tua. Sesuatu yang telah tidur selama ribuan tahun."
Ia membuka jubahnya. Di dadanya, sebuah simbol aneh terukir—simbol yang sama dengan yang ada di Kitab Sembilan Jurang.
"Iblis Murim tidak akan kembali. Tapi sesuatu yang lain akan bangkit. Dan kau, bocah, akan menjadi korbannya!"
Dari balik Janda Permaisuri, tanah mulai bergetar. Retakan muncul, dan dari dalam, cahaya merah menyala.
Sesuatu bangkit.
---