NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Sang Predator Menjadi Mangsa (Godaannya)

Suasana di dalam kamar paviliun tiba-tiba terasa jauh lebih panas daripada suhu perapian di sudut ruangan. Eisérre tidak bergerak menjauh; ia justru semakin mengunci posisi Geneviève di kursinya. Satu tangannya bertumpu pada meja, sementara tangan lainnya dengan berani menyelipkan anak rambut Geneviève ke belakang telinganya.

"Jadi... kau ingin menyuruh seseorang melamarku untukmu?" Bisik Eisérre. Suaranya rendah, serak, dan sangat maskulin—tipe suara yang dulu selalu diimpikan Geneviève remaja saat mengintip dari balik pilar.

Geneviève menelan ludah. Keberaniannya yang muncul tiba-tiba tadi seolah menguap begitu saja saat melihat sorot mata Eisérre yang begitu intens. "I-itu... aku hanya... itu kan cuma pikiran sekilas! Siapa tahu aku hanya salah bicara!"

Eisérre terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat seksi di telinga Geneviève. Ia menundukkan kepalanya, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Aroma maskulin bercampur wangi hujan dari tubuh Eisérre benar-benar melumpuhkan logika Geneviève.

"Tapi aku menganggapnya serius, Ève," ucap Eisérre lagi, kali ini dengan nada yang lebih menggoda. "Lalu, bagian mana dari mataku yang kau bilang 'seksi' tadi? Yang kiri? Atau yang kanan?"

Wajah Geneviève kini sudah merah padam, persis seperti apel yang dikupas Eisérre tadi. Ia mencoba mendorong dada Eisérre, tapi tangannya justru menyentuh otot dada sang Jenderal yang keras dan kokoh di balik kemeja linen tipisnya.

Gawat! Kenapa badannya sekeras batu begini?! batin Geneviève panik.

"Kau... kau terlalu dekat, Jenderal! Maksudku, Eisérre!" Gagap Geneviève. "Aku baru ingat kalau aku... aku harus... memeriksa vas bunga itu! Ya, bunganya sepertinya butuh air!"

Eisérre tidak melepaskannya begitu saja. Ia justru meraih tangan Geneviève yang ada di dadanya, lalu mengecup telapak tangan itu dengan lembut tanpa melepaskan kontak mata. "Bunganya bisa menunggu, Ève. Tapi pengakuanmu tadi... tidak bisa."

Geneviève merasa jantungnya mau melompat keluar. Refleks "petarung"-nya yang tadi muncul tiba-tiba hilang, berganti dengan insting "kabur" yang sangat kuat. Dengan gerakan yang tidak terduga, ia menunduk melewati bawah lengan Eisérre yang menguncinya.

"Air! Aku harus ambil air!" Teriak Geneviève sambil setengah berlari menuju pintu balkon.

Bruk!

Karena terburu-buru dan panik, ia sempat tersandung ujung permadani tebal, namun dengan lihai ia melakukan putaran kecil agar tidak jatuh (refleks beladirinya muncul lagi!) dan langsung melesat keluar menuju taman paviliun.

Eisérre berdiri mematung di tempatnya, menatap pintu balkon yang masih bergoyang. Ia terdiam sejenak, lalu tawa lepas meledak dari bibirnya—sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama bertahun-tahun.

"Kabur, ya?" Gumam Eisérre sambil mengusap bibirnya yang tadi mengecup tangan Geneviève. Senyumnya tidak hilang. "Kau boleh lari sejauh yang kau mau ke taman itu, Putri Mahkota. Tapi di paviliun ini, tidak ada tempat bagimu untuk bersembunyi dariku."

Di Taman Paviliun. Geneviève menyandarkan punggungnya di pohon besar, napasnya memburu dan wajahnya ia tutup dengan kedua tangannya yang terasa panas.

Bodoh! Bodoh! Kenapa aku bicara begitu tadi?! Gerutunya pada diri sendiri. Tapi... matanya memang benar-benar seksi. Dan tangannya... ah! Kenapa Jenderal itu jadi tukang goda begitu?!

Tanpa ia sadari, ingatannya tentang Lize dan masa lalunya yang suka "membahas pria tampan" perlahan mulai terbuka melalui rasa malu yang luar biasa ini. Kenapa juga harus teringat dengan hal seperti itu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!