NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Melihat nama Celestine berkedip di layar, Tobias tertegun. Seharusnya, ada badai emosi yang mengamuk di dadanya. Seharusnya, ia murka melihat skandal foto Celestine dengan pria-pria asing yang kini mengotori reputasi Labyrinth di jagat maya. Seharusnya, ia merasa lega karena di tengah kehancuran rumah tangganya, wanita yang ia anggap "cinta sejati" itu masih mencarinya.

​Namun, yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang dingin. Tobias menatap cahaya ponsel itu dengan tatapan kosong sebelum akhirnya menggeser ikon hijau.

​"Halo?"

​"Toby..." Suara Celestine mengalun lembut, sebuah nada melankolis yang biasanya mampu meluluhkan benteng pertahanan Tobias. "Toby, apa kamu marah padaku?"

​Tobias menghela napas, menyandarkan kepalanya yang mulai terasa berat. "Tidak, Celestine. Aku tidak marah padamu."

​"Lalu, kenapa kamu tidak datang? Kita punya janji makan malam, tapi kamu menghilang. Aku sangat khawatir, apalagi setelah semua berita sampah itu tersebar..."

​Tobias terdiam, membiarkan kebisingan di kepalanya meredam suara Celestine. Pandangannya terpaku pada gelas vodka di tangannya, merasa dunia seakan berputar lebih lambat.

​"Kamu percaya pada berita itu?" tanya Celestine dengan nada yang nyaris pecah.

​"Tidak," sahut Tobias pendek.

​"Yah... sebenarnya, semua itu benar."

​Kalimat itu bagai petir di siang bolong. Tobias membeku.

​"Foto-foto itu nyata," lanjut Celestine lirih. "Itu terjadi saat aku baru pindah ke New York. Kakekmu membuangku ke sana tanpa sepeser pun uang. Aku tidak bisa menjadi model, aku tidak punya pekerjaan. Sampai aku bertemu Carla, pemilik klub malam. Dia menawarkan uang besar jika aku mau menjadi penghibur. Hutangku menumpuk, dan pria-pria itu..." Suaranya tercekat oleh isak tangis yang tertahan. "Maafkan aku, Tobias."

​Tobias memejamkan mata. Ia mengerti rasa sakit itu; perjuangan untuk bertahan hidup di tengah kerasnya dunia. Namun, sebuah realita pahit menghantamnya. Mendengar Celestine tidur dengan banyak pria demi uang tidak membuatnya merasa cemburu sedikit pun. Dadanya tidak terasa sesak. Ia tidak ingin menghancurkan dunia demi membalas dendam.

​Ia hanya merasa... kasihan. Sebuah empati yang kering, jauh dari gairah posesif yang ia rasakan pada Amara.

​"Tidak apa-apa, Celestine. Aku mengerti," ucapnya tenang.

​"Benarkah?" Suara Celestine mendadak cerah oleh harapan.

​"Ya. Tim PR-ku akan mengurus semuanya. Aku pastikan skandal ini terkubur."

​“Terima kasih, Toby. Kamu penyelamatku.”

​“Sama-sama,” gumam Tobias sambil kembali menenggak alkoholnya. Suara denting gelas dan tegukan itu terdengar jelas di telpon.

​"Toby, apa kamu mabuk?" tanya Celestine cemas. "Jangan minum lagi. Aku akan ke rumahmu sekarang."

​“Jangan. Jangan datang.”

​Penolakan itu begitu telak hingga Celestine terhenyak. “Kenapa? Aku ingin menemanimu.”

​Kenapa? Pertanyaan itu menggema di benak Tobias. Tiba-tiba, bayangan Amara melintas. Amara tidak pernah suka ada orang asing mengganggu privasi rumah mereka. Dan entah mengapa, Tobias merasa jika ia membiarkan Celestine masuk, ia akan mengkhianati sesuatu yang suci.

​“Sudah terlalu malam, Celestine,” bohongnya sambil menjauhkan botol vodka. “Tetaplah di sana.”

​"Tapi aku bisa naik taksi—"

​"Tetap di sana." Suaranya berubah tegas, otoritas seorang penguasa yang tak terbantahkan.

​"Baiklah... selamat malam, Toby."

​Panggilan terputus. Tobias kembali dalam pelukan keheningan yang menyesakkan. Rasa penasaran yang membakar jiwanya tak kunjung padam. Ia meraih ponselnya lagi, mencari nama yang paling ia hindari sekaligus ia rindukan: Amara.

​Dengan jantung yang berdegup kencang karena pengaruh alkohol dan emosi, ia menekan tombol panggil.

​Satu nada sambung... dua... tiga... hingga akhirnya seseorang mengangkatnya.

​"Amara."

​"Siapa ini?"

​Tobias tersentak. Itu bukan suara lembut istrinya. Itu suara laki-laki. Berat, dingin, dan terdengar sangat familiar. Seketika, rasa cemburu yang tajam menusuk ulu hatinya, lebih sakit dari apa pun yang pernah ia rasakan malam ini.

​“Siapa ini?” tuntut Tobias dengan nada membunuh.

​“Saya yang bertanya duluan. Untuk apa menelepon malam-malam?”

​Tobias langsung mengenali suara itu. Pria pirang di hotel. Pria yang memeluk Amara seolah wanita itu adalah miliknya. Tawa sinis lolos dari bibir Tobias. Ternyata benar, Amara sudah jatuh ke pelukan pria kaya itu.

​“Di mana Amara? Berikan ponselnya!”

​“Dia tidak mau bicara denganmu.”

​“Jangan ikut campur! Berikan ponsel itu padanya!” bentak Tobias, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.

​“Aku tidak akan melakukannya,” sahut pria itu dengan ketenangan yang menghina. “Amara bahkan tidak sudi melihat wajahmu lagi, Tobias William Larsen.”

​Gigi Tobias gemeretak. “Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku?”

​“Hanya satu hal,” suara pria itu terdengar tajam dan final. “Tanda tangani surat cerai itu. Segera.”

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!