"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Besar
Beni adalah putra kedua keluarga Wibisono. Salah satu pengusaha mebel sukses di kota S. Semasa hidupnya ia berhasil membesarkan dua putra hingga kuliah diluar negeri. Putra pertamanya sukses di Eropa, sudah menikah dan tinggal disana.
Begitu juga dengan Beni. Ia kuliah S1 di jepang. Namun pertemuannya dengan Amira saat Amira jadi TKW, mengubah arah hidupnya. Ia yang digadang-gadang melanjutkan S2 di Eropa, menyusul kakaknya, justru memilih pulang ke Indonesia dan meminang Amira.
Satu lagi anak Wibisono, adalah seorang gadis, yang 8 tahun lebih muda dari Beni, saat ini masih kuliah di Australia.
"Apa kau nggak malu kalau kakakmu pulang ke Indonesia? Dia punya tiga anak yang lucu-lucu dan menggemaskan, hidupnya juga sukses. Sedangkan kau... cuma pegawai bank!" nyiyir Loretta. "Ibu malu memperkenalkan kamu sama besan juga menantu ibu! Apalagi itu, istri kampungmu itu!"
"Cukup, Bu!" Amira berdiri tegak, dengan kedua tangan memilin ujung kemeja lusuhnya. Wajahnya sudah bersih dari air mata, meski masih sembab jelas terlihat. "Baiklah, aku akan pergi!" ucapnya kemudian menguatkan langkah kakinya menuju ke kamarnya, di lantai dua.
"Nah, Bu. Amira sudah menurut, sekarang letakkan pisaunya ya?" bujuk Beni dengan jantung yang masih berdetak cepat, takut jika ibunya akan nekat.
"Tidak! Sebelum anak kampung itu benar-benar keluar dari gerbang di depan rumah itu!" kekeh Loretta masih dengan wajah bermuram durja.
Beni tak berani meninggalkan ibunya yang tak kendor menekankan bilah pisau itu di pergelangan tangannya. Tak sedetik pun wanita itu lengah.
Hingga beberapa saat kemudian, Amira terlihat berjalan lesu menuruni tangga, dengan satu koper di tangan kanannya dan sebuah tas jinjing di tangan kirinya.
Lagi-lagi Loretta kesurupan. Ia seperti orang gila, berjalan cepat menghadang Amira di bawah tangga. Dengan waspada ia bahkan mengacung-acungkan pisaunya ke arah menantunya itu. "Buka koper dan tas itu!"
Beni menatap kelu, "Ibu... Apa lagi?" tanyanya setengah pasrah, berharap kegilaan ibunya segera berakhir.
Sedangkan Amira tampak biasa saja. Ia tak menyahut, seolah ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Dengan tenang, ia melanjutkan menuruni tangga, lalu membuka koper dan tas jinjingnya. "Aku hanya membawa pergi apa yang dulu kubawa ke tempat ini!" ucapnya berani.
Namun Loretta masih tak terima, ia merebut tas jinjing milik Amira, menggeledahnya dengan paksa. "Apa ini?!" bentaknya dengan mata melotot hampir keluar dan otot leher yang menonjol seperti akan meledak. Di tangannya ia menunjukkan sebuah kalung dan gelang emas.
Amira berdiri bersedekap, ia masih berdiri di anak tangga tangga terakhir, membuatnya sedikit lebih tinggi dari mertuanya. "Itu perhiasanku! Ibuku sendiri yang membelikannya! Disana ada suratnya kalau nggak percaya!"
Kali ini Amira berbeda, ia berani membalas ucapan Loretta. Beni sedikit terkejut dibuatnya.
Loretta benar-benar memeriksa nama di kuitansi itu. Beni tertunduk antara malu dan terkejut. Ia hanya bisa memberikan isyarat pada istrinya dengan menggoyangkan tangan kanannya, membuat gerakan jempol dan kelingking terjulur sementara jari yang lain ditekuk, seolah ingin menyampaikan, 'Nanti kita kabar-kabar, atau nanti telepon aku, atau nanti kutelepon' , karena Loretta tak memberinya kesempatan untuk berbicara dengan Amira.
Amira mengangguk lesu, antara butuh dan tak butuh hal itu. Di satu sisi ia tak ingin kehilangan Beni, tapi di sisi lain, ia juga marah karena Beni tak bisa tegas pada ibunya, atau setidaknya membela dirinya sekali saja, atau mungkin menyenangkan hatinya dengan cara lain.
Wajar, Amira juga hanya manusia. Terkadang selama sebulan ini, ia berpikir ingin membicarakan hal itu dengan Beni, 'Mas, kenapa ibumu tak tinggal bersama kakakmu saja, atau Mas, kan rumah ibumu kosong, kenapa dia nggak tinggal disana aja, toh akan ada bibi Suki dan suaminya yang membantu mengurus rumah?'
Tapi Amira selalu menggulung kembali pikiran-pikiram itu, ia tahu batas, ia tahu itu tak seharusnya. 'Bagaimanapun, beliau adalah ibu dari suamiku. Aku harus menyesuaikan diri dan menerimanya, seperti dulu waktu Mas Beni menerima ibuku yang lumpuh, bahkan merawat ibuku hingga masa terakhirnya.'
Tapi kali ini Amira tak lagi mendapat tempat di rumah itu, ibu mertuanya justru mengusirnya, tak memberikan pilihan baginya.
Amira mengambil amplop dari saku belakang celananya, mengulurkannya pada Loretta. "Ambil kembali uang ibu, aku tidak membutuhkannya!" ucapnya berusaha tegar. Meski sebenarnya hatinya benar-benar hancur. Terlebih saat menoleh pada Beni, yang justru tak berbuat apa-apa.
"Cih! Dasar sombong!" pekik Loretta tak terima. Padalah dalam hatinya ia senang, karena uangnya kembali, lebih tepatnya uang yang ia ambil dari brangkas Beni, sebenarnya. "Baiklah, Jangan menyesal ya, dan jangan kembali untuk merengek karena kelaparan di jalan!"
Amira benar-benar melangkah pergi dari rumah itu, rumah yang telah dia tempati bersama Beni selama sepuluh tahun pernikahan. Amira bukan istri yang malas. Ia begitu pintar mengurus keuangan, rumah yang awalnya hanya berlantai satu, sedikit demi sedikit bertambah dan direnovasi berkat kepandaiannya berhemat.
Ya, karena setelah menikahi Amira, Wibisono tak kuasa memberikan uang untuk putranya itu. Sudah jelas kan ya, keuangan keluarga dipegang Nyonya Loretta. Jadi mendiang Pak Wibisono hanya bisa membantu keuangan Beni secara sembunyi-sembunyi dan tentunya tak bisa banyak, karena Loretta sangat jeli soal keuangan.
Beni bernapas lega, ia terduduk lemas di anak tangga. Sebagian hatinya bersyukur karena ibunya sudah tenang, tapi sebagian hatinya sedang berpikir kemana Amira pergi, istrinya itu sebatang kara sejak dua tahun lalu ibunya meninggal. Beni berusaha memikirkan nama jika saja Amira berteman dengan seseorang diluar sana.
"Ya ampun, istriku jarang keluar rumah, apa dia punya teman diluar sana?" lirihnya setengah menyesal. "Oh, kenapa aku tak pernah bertanya... ternyata aku tak mengenal istriku sendiri!"
Melihat ibunya sudah duduk tenang sambil makan di depan televisi, Beni bergegas naik ke kamarnya. Ia mencari-cari dimana ponselnya. "Perasaan tadi kutaruh di sini, apa terbawa Amira?" gumamnya.
Beni kemudian turun, menghampiri telepon rumah di dekat televisi. Loretta melirik sejenak sambil mengunyah. "Mau telpon siapa?" tanyanya bernada menuduh. "Awas ya kalau nelpon gembel itu!" tuduhnya.
Beni menelan ludah, kemudian menyunggingkan senyum yang terpaksa. "Bukan, lagi nyari ponselku, mau telpon teman kantor," bohongnya.
Loretta diam tak berkomentar, hanya menyiratkan gerakan ujung bibir yang tertarik sebentar, seperti senyuman licik dan menang!
Beni menekan beberapa nomor sambil sesekali melirik ekspresi ibunya yang tampak datar, menatap ke layar televisi.
Tut.... Tut...
Dzzz... Dzzzz
Beni tak habis pikir, ia benar-benar terkejut. Namun ia mencoba lagi dengan nomor yang lain, sementara Loretta masih tampak datar.
Tut... Tut...
Dzzz... Dzzz
Bersamaan dengan suara sambungan telepon, disaat itu juga terdengar bunyi bergetar tak jauh dari tempatnya duduk.
"Halo!"
Beni terkejut hingga tanpa sadar gagang telepon itu lolos dari tangannya. "Ibu?!"
...****************...
Bersambung