Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Tiga minggu sudah Novita bekerja di kantor administrasi itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia mulai benar‑benar mengenal ritme tempat kerjanya. Ruangan administrasi tidak pernah benar‑benar sepi. Setiap hari selalu ada laporan yang harus diselesaikan, tabel yang harus dirapikan, serta data yang harus diperiksa dengan teliti sebelum dikirim ke bagian lain.
Suasana kerja di sana sebenarnya cukup tegang. Banyak orang bekerja dengan fokus tinggi, suara ketikan keyboard hampir tidak pernah berhenti, dan sesekali terdengar printer yang mencetak lembar demi lembar laporan.
Namun bagi Novita, ada sesuatu yang berubah sejak beberapa waktu terakhir.
Yanti dan Risa menjadi jauh lebih perhatian kepadanya.
Hampir setiap pagi salah satu dari mereka datang membawa sesuatu untuk dimakan bersama. Kadang kue bolu yang dipotong kecil, kadang biskuit cokelat, kadang juga roti isi yang masih hangat dari toko dekat kantor. Mereka meletakkannya begitu saja di tengah meja kerja seolah hal itu sudah menjadi kebiasaan lama.
"Sarapan kecil dulu sebelum kerja," kata Yanti suatu pagi sambil membuka kotak berisi potongan kue.
"Kalau kerja dari pagi sampai siang tanpa makan bisa pingsan," tambah Risa sambil tertawa kecil.
Awalnya Novita merasa sedikit canggung menerima semua itu. Ia sudah terbiasa hidup sendiri selama beberapa tahun terakhir. Mengurus semuanya sendiri, memikirkan semuanya sendiri, dan menyelesaikan setiap masalah tanpa bergantung pada siapa pun.
Karena itu perhatian kecil seperti itu terasa sangat besar baginya.
Perhatian tersebut semakin terasa sejak ia tanpa sengaja menceritakan masa lalunya.
Beberapa hari sebelumnya, saat makan siang bersama, percakapan ringan berubah menjadi cerita panjang tentang hidupnya. Tanpa sadar Novita menceritakan tentang keluarganya yang hancur, tentang bagaimana ia harus bertahan hidup sendiri, dan tentang usahanya mencari pekerjaan agar bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Sejak hari itu sikap orang‑orang di sekitarnya berubah.
Bukan hanya Yanti dan Risa.
Bu Rika dari bagian HRD juga sering datang menghampiri mereka saat waktu makan siang.
"Ayo ikut makan," kata Bu Rika suatu hari sambil berdiri di dekat meja mereka.
"Saya sudah bawa bekal, Bu," jawab Novita sedikit sungkan.
Bu Rika tersenyum.
"Kalau begitu kita tambah lauknya saja," katanya santai.
Beberapa kali bahkan Bu Rika sengaja membeli makanan lebih banyak lalu meminta bagian dapur membungkus lauk untuk Novita.
"Ini buat kamu nanti malam," katanya sambil menyodorkan bungkusan kecil.
Perhatian itu membuat Novita merasa hangat sekaligus sedikit tidak nyaman.
Ia tidak ingin dianggap sebagai seseorang yang harus selalu dikasihani.
Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa senang memiliki orang‑orang yang peduli kepadanya.
Dalam hati ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.
Setelah gajian nanti, ia ingin membalas kebaikan mereka.
Mungkin dengan mentraktir makan siang.
Atau membeli sesuatu untuk dimakan bersama.
Hal kecil saja, tetapi cukup untuk menunjukkan rasa terima kasihnya.
Meski kehidupan kerjanya mulai terasa nyaman, bayangan tentang Andra masih sesekali muncul di pikirannya.
Direktur administrasi itu pernah membuat hari‑hari awalnya di kantor terasa sangat berat. Cara bicaranya yang dingin, tekanan yang ia berikan, serta ancaman yang pernah ia lontarkan masih tersimpan jelas dalam ingatan Novita.
Namun belakangan ini Andra tampaknya tidak lagi mengganggunya.
Ia jarang memanggil Novita ke ruangannya.
Bahkan hampir tidak pernah menegurnya lagi.
Novita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi ia memilih tidak memikirkannya terlalu jauh.
Selama ia bisa bekerja dengan tenang, itu sudah lebih dari cukup.
Ia memusatkan seluruh perhatiannya pada pekerjaannya.
Setiap laporan ia kerjakan dengan teliti. Angka‑angka diperiksa dua kali sebelum dikirim. Tabel‑tabel dirapikan dengan hati‑hati agar mudah dibaca oleh siapa pun yang melihatnya.
Perlahan‑lahan reputasinya di bagian administrasi mulai terbentuk.
Orang‑orang mulai menyadari bahwa gadis yang awalnya terlihat pendiam itu ternyata bekerja dengan sangat rapi dan cepat.
Pagi itu suasana kantor masih cukup tenang ketika Risa datang membawa sebuah kotak plastik kecil.
"Cemilan pagi," katanya sambil membuka tutup kotak itu.
Di dalamnya ada potongan buah apel yang sudah dipotong rapi.
"Hari ini aku bawa buah. Biar kita terlihat sehat," katanya sambil tertawa kecil.
Yanti yang duduk di meja sebelah langsung melirik.
"Tumben sehat," katanya.
"Biasanya kamu bawa donat atau kue manis."
Risa memutar matanya.
"Sekali‑sekali hidup sehat tidak apa‑apa," balasnya.
"Diam kamu," tambahnya sambil melempar tatapan kesal.
Novita tersenyum kecil melihat keduanya.
Risa lalu mendorong kotak apel itu ke arah Novita.
"Ambil satu," katanya.
Novita mengambil satu potong apel dan menggigitnya pelan.
Rasa segar buah itu langsung terasa di mulutnya.
"Enak," katanya singkat.
Sambil mengunyah apel, Risa melirik layar komputer Novita.
"Laporan bulanan sudah sampai mana?" tanyanya.
Novita menunjuk tabel di layar.
"Data dari minggu kedua sudah selesai. Sekarang lagi merapikan grafiknya," jelasnya.
Risa memperhatikan layar itu beberapa detik. Matanya bergerak mengikuti baris angka dan kolom yang tersusun rapi.
"Cepat juga," katanya akhirnya.
"Aku kira kamu masih di bagian data mentah."
"Sudah lewat dari tadi," jawab Novita santai.
"Kalau grafiknya selesai tinggal cek ulang saja."
Risa mengangguk pelan.
"Bagus."
Ia kemudian berdiri tegak sambil melipat tangan.
"Sepertinya kamu sudah tidak perlu diawasi lagi," katanya.
"Pekerjaanmu sudah jalan sendiri."
Novita hanya tersenyum kecil mendengar itu.
Di meja sebelah, Yanti yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka tiba‑tiba mengeluh.
"Kenapa dia cepat sekali sih," katanya sambil menatap layar komputernya sendiri.
Risa langsung menoleh.
"Ya karena dia kerja," katanya datar.
"Kamu juga harusnya sudah sampai bagian grafik."
Yanti mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Jangan bandingkan aku dengan Novita," protesnya.
"Dia itu jenius angka."
"Aku ini tipe mahasiswa yang lulus dengan IPK mepet."
Risa memicingkan mata.
"Jangan bangga bilang begitu," katanya.
"Tetap saja kamu harus kerja cepat."
Yanti mendesah panjang.
"Aku bekerja keras juga kok," katanya.
"Cuma otakku tidak secepat dia."
Novita yang mendengar itu langsung menggeleng.
"Tidak begitu," katanya pelan.
"Aku cuma terbiasa mengerjakan angka dari dulu. Itu saja."
Namun Yanti langsung menunjuk layar komputer Novita.
"Lihat itu," katanya.
"Tabelnya rapi sekali. Kalau aku yang buat pasti sudah berantakan."
Risa tertawa kecil.
"Makanya belajar," katanya.
"Bukan malah mengeluh."
Yanti menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menghela napas.
"Baiklah, baiklah," katanya pasrah.
"Aku akan belajar dari guru baru kita."
Ia lalu menoleh ke arah Novita.
"Mulai sekarang kamu jadi tutor administrasi," katanya sambil tersenyum lebar.
Novita hampir tertawa mendengar itu.
"Aku juga masih belajar," katanya.
"Tetap saja," jawab Yanti.
"Sekarang kamu yang paling cepat di antara kita."
Suasana meja kerja mereka kembali dipenuhi obrolan ringan dan suara tawa kecil.
Di tengah tumpukan laporan dan angka‑angka di layar komputer, untuk pertama kalinya sejak mulai bekerja di kantor itu, Novita benar‑benar merasa bahwa ia memiliki tempat.
Tempat untuk bekerja.
Tempat untuk bertahan.
Dan mungkin… tempat untuk memulai kehidupan yang baru.
Namun ketenangan seperti itu tidak selalu bertahan selamanya.
Di balik hari‑hari kerja yang mulai terasa normal, ada sesuatu yang belum benar‑benar selesai.
Karena Novita tahu satu hal.
Direktur administrasi itu mungkin saja terlihat diam sekarang.
Tetapi belum tentu ia benar‑benar berhenti.
Dan selama Andra masih berada di kantor itu…
Novita belum tentu benar‑benar bebas dari bayangannya.