Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan sahabat
"Nyonya, Nona muda belum juga bangun," ucap seorang pelayan kepada Raisa.
Raisa menghela napas berat, lagi-lagi putrinya itu sulit dibangunkan.
"Kamu kembali kerja saja, saya sendiri yang akan membangunkan Rania," ucap Raisa.
"Baik, Nyonya."
Raisa langsung menuju kamar Rania, lalu mengetuk pintunya.
"Rania! Rania, bangun Nak!" ucap Raisa dengan nada tinggi.
Raisa terus mengetuk pintu kamar Rania.
Ceklek!
Rania membuka pintu. Dari raut wajahnya terlihat ia baru saja bangun, rambutnya sedikit berantakan.
"Ada apa sih, Mom? Pagi-pagi sudah teriak," ucap Rania dengan suara serak.
"Kamu bilang ini masih pagi, hah! Buka mata kamu, lihat jam!" ucap Raisa dengan nada tegas dan kesal.
Rania langsung mendongak menatap jam yang tergantung di dinding. Matanya langsung terbelalak saat melihat waktu.
"What! Gue udah telat!" ucapnya, lalu buru-buru masuk ke dalam toilet, meninggalkan Raisa di depan kamar.
"Dasar anak itu," ucap Raisa dengan napas berat, lalu kembali ke meja makan.
"Gimana, Mom? Rania sudah bangun?" tanya Rhea pada mommynya.
Raisa mengangguk. "Iya, dia pikir masih pagi," jawabnya, lalu duduk di samping suaminya.
"Putri kita yang satu ini dari dulu memang tidak berubah," ucap Radit dengan nada terkekeh.
"Nanti dia juga akan berubah kok, Dad," balas Raisa.
"Mom, Dad, aku duluan ya," ucap Rhea sambil beranjak dari duduknya, lalu salim kepada kedua orang tuanya.
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan, jangan ngebut," pesan Raisa.
"Jangan lupa doa, sayang," ucap Radit sambil mencium kening putrinya.
"Iya, Dad. Rhea berangkat ya," balas Rhea, lalu meninggalkan meja makan.
Beberapa saat kemudian, Rania turun ke meja makan. Ia melihat hanya sang Mommy yang masih berada di sana.
"Mom, Rania duluan ya," ucap Rania lalu salim pada Raisa.
"Gak sarapan dulu, Nak?" tawar Raisa.
"Gak keburu, Mom. Aku sudah telat," jawab Rania.
"Lain kali kamu jangan begadang. Telat begini kan sampai tidak sempat sarapan," ucap Raisa, lalu memberikan kotak bekal kepada Rania. "Ini, bawa bekal."
"Makasih, Mom. Bye-bye..."
Rania langsung buru-buru menuju bagasi mengambil motornya, lalu mengendarainya ke sekolah dengan kecepatan tinggi.
Di jalan, banyak orang yang menegurnya, tetapi Rania tidak peduli. Di pikirannya hanya satu, ia harus cepat sampai ke sekolah.
Saat tiba di sekolah, satpam sudah hampir menutup gerbang.
"Pak, bukain, pak!" ucap Rania kepada satpam.
"Kamu sudah terlambat," ucap satpam.
"Telat cuma dua menit saja kok, Pak. Tolong bukain, Pak, please," ucap Rania memohon.
Pak satpam menghela napas berat, lalu berkata, "Ini terakhir kalinya ya. Lain kali Bapak tidak akan membukakan untuk kamu," ucap satpam, lalu membuka gerbang untuk Rania.
"Makasih, Pak," ucap Rania.
Setelah memarkirkan motornya, Rania langsung berlari menuju kelasnya. Ia melihat sekeliling sudah tampak sunyi karena waktu belajar sudah dimulai.
Rania masuk ke kelas dan langsung duduk di tempatnya. Untung saja guru yang mengajar belum masuk.
"Akhirnya," gumamnya sambil mengelus dadanya dan merasa lega karena guru belum datang.
"Gue kira lo gak masuk sekolah, Ran," ucap Lara kepada Rania yang duduk di sampingnya.
"Telat bangun," ucap Rania singkat.
Lara mengangguk, lalu kembali berkata, "Ran, buku lo ketinggalan kemarin."
"Buku apaan?" tanya Rania.
"Gue gak tahu buku apa. Waktu gue kembali ke kelas kemarin, buku lo ada di meja lo. Gue sempat panggil lo, tapi lo sudah keburu pergi," jelas Lara.
"Terus buku gue ke mana?" tanya Rania.
"Gue sudah kasih ke teman lo," jawab Lara.
"Teman?"
"Iya, teman lo yang waktu di kantin itu. Gue nitip ke mereka," jawab Lara.
"Oh, oke. Thanks," ucap Rania. Lara membalasnya dengan anggukan.
Beberapa saat kemudian guru tiba, dan pelajaran pertama akhirnya dimulai.
~~
Kring... kring…
Bel tanda istirahat berbunyi. Teman-teman Rania langsung keluar dari kelas menuju kantin, sedangkan Rania tetap duduk menunggu teman-temannya keluar terlebih dahulu. Ia malas berdesak-desakan. Setelah semua keluar, barulah Rania beranjak dari duduknya.
Di luar kelas, sahabat-sahabatnya sudah menunggunya.
"Akhirnya lo keluar juga," ucap Bunga.
"Malas gue desak-desakan," balas Rania.
"Kantin yuk," ajak Freya. Mereka bertiga mengangguk.
Selama perjalanan, sahabat-sahabat Rania tidak mengeluarkan suara, yang membuat Rania merasa bingung.
Saat sampai di kantin, mereka mencari bangku yang kosong. Setelah melihat bangku kosong, Rania dan sahabat-sahabatnya langsung duduk dan memesan makanan.
"Ran, buku lo ada di gue. Teman sekelas lo yang ngasih," ucap Freya.
"Nanti gue ambil," balas Rania.
"Ini pesanannya," ucap ibu kantin sambil membawakan pesanan mereka.
"Terima kasih, Bu," ucap mereka berempat.
"Kok kalian pada diam?" ucap Rania sambil menatap sahabat-sahabatnya.
"Gak. Lo kok tiba-tiba ngomong gitu?" ucap Bunga.
"Gak biasanya kalian diam gini," ucap Rania.
"Lagi malas ngomong aja," sahut Balqis sambil menikmati makanannya.
Rania menatap mereka satu per satu. Ia tidak yakin dengan jawaban Balqis. Rania merasa ada kesalahan yang membuat mereka tidak seperti biasanya. Rania hafal betul mereka; jika salah satu di antara mereka membuat kesalahan, pasti mereka akan diam seperti ini. Rania pun enggan bertanya lagi dan memilih menikmati pesanannya.
"Di antara kalian, yang namanya Rania yang mana?" ucap seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berempat.
Rania menoleh, lalu berkata, "Gue. Kenapa?"
"Oh, lo. Lo ditunggu di taman sama Kak Adrian," ucapnya.
Mendengar nama Adrian, Rania tersenyum tipis. Sahabat-sahabat Rania yang melihat ekspresinya itu hanya menatapnya malas.
"Oh oke, selesai makan gue ke sana," balas Rania.
"Oke, kalau gitu gue duluan," ucapnya lalu meninggalkan kantin.
"Guys, gue hari ini yang traktir kalian," ucap Rania dengan nada antusias.
"Gak usah, Ran. Gue punya uang," ucap Balqis.
"Iya, Ran. Gue juga gak usah," sahut Bunga.
"Gue juga gak usah," sambung Freya.
"Kok kalian gitu sih? Salah gue apa sama kalian, hah!" ucap Rania sambil menatap mereka satu per satu.
"Lo gak salah apa-apa, Ran. Mending lo makan lalu samperin Adrian, nanti dia lama nungguin lo," ucap Freya.
"Kalian tega ya. Bukannya sahabat itu saling mendukung? Sahabat yang membuat dia bahagia. Apa gue salah kalau gue dekat dengan Adrian?" ucap Rania mengeluarkan unek-uneknya.
Sahabat-sahabat Rania menghela napas berat. Rania benar-benar keras kepala.
"Gue sayang lo, Ran. Bukan cuma sekadar sahabat, tapi gue sudah anggap lo saudara gue. Kami bertiga gak suka, Ran, kalau ada yang nyakitin lo lagi. Jadi please dengarkan kami, Ran. Dia tidak sebaik yang lo kira, Rania," ucap Freya dengan nada penuh tekanan.
"Kebahagiaan gue ada di situ, Freya. Satu lagi, itu cuma masa lalu. Dia sudah berubah, gak kayak dulu lagi. Percaya sama gue," ucap Rania keras kepala.
"Lo keras kepala banget, Ran. Semenjak lo dekat lagi sama dia, lo tambah pembangkang, tahu." sahut Balqis.
"Kalau lo merasa Adrian kebahagiaan lo, pergi sana susul dia," ucap Bunga.
Mendengar ucapan Bunga, Rania langsung beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan sahabat-sahabatnya.
"Kok lo suruh dia pergi sih?" ucap Balqis kepada Bunga.
"Gak apa-apa. Biarin dia pergi. Mau sampai mulut kita berbusa pun, Rania gak akan dengarkan kita," jelas Bunga.
~~
"Hai," sapa Rania pada Adrian.
Adrian tersenyum, lalu sedikit menggeser duduknya. "Duduk sini, Ran." Ia juga mematikan rokok yang ada di tangannya.
"Kamu masih merokok?" tanya Rania.
"Iya. Kamu gak suka, ya?" tanya Adrian balik.
"Iya," jawab Rania jujur.
"Oke, aku gak akan merokok lagi demi kamu," ucap Adrian.
"Kok aku sih?" ucap Rania bingung.
"Apa pun yang kamu gak suka, aku akan lakukan, Rania. Aku gak mau kehilangan kamu kedua kalinya," ucap Adrian sambil memegang tangan Rania. Rania tersenyum mendengar ucapan Adrian.
"Kamu udah lama di sini?" tanya Rania basa-basi.
"Lumayan," jawab Adrian.
"Maaf ya, udah buat kamu lama nunggu," ucap Rania merasa bersalah.
"Iya, gak apa-apa kok," ucap Adrian santai. "Kamu tumben telat tadi?"
"Kamu lihat aku?"
"Iya, kebetulan tadi aku ingin ke perpustakaan," ucap Adrian berbohong, padahal dia juga hampir terlambat.
"Telat dikit doang," balas Rania.
"Nanti setelah pulang sekolah kamu ada waktu?" tanya Adrian.
"Emangnya kenapa?" tanya balik Rania.
"Aku mau ajakin kamu ke suatu tempat," ajak Adrian.
'Kalau aku ikut sama Adrian nanti Mommy nyariin, tapi kalau gak ikut rugi gue. Bagaimana ini?' batin Rania bimbang.
"Hari ini saja, Ran," ucap Adrian dengan nada memohon.
'Gue alasan kerja kelompok aja ya,' batin Rania.
"Iya, aku mau. Tapi kita sebentar aja ya, nanti Mommy cariin," jawab Rania.
"Iya, sebentar aja. Terima kasih, Ran," ucap Adrian sambil tersenyum penuh arti. Di kepalanya, rencana itu sudah hampir berhasil.