NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22. Kelembutan dibalik siksaan

Suara langkah kaki Dante yang berat dan teratur perlahan menjauh, menggema di lorong batu sebelum akhirnya lenyap di balik pintu besi di ujung tangga. Keheningan segera menyergap ruang bawah tanah The Velvet Manor, menyisakan suara derit rantai perak yang menahan tubuh Julian dan suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu yang lembap.

Obor yang menempel di dinding berderak pelan, melemparkan cahaya oranye yang gelisah, menciptakan bayangan yang menari-nari di wajah Julian yang hancur. Julian masih tergantung, napasnya tersengal dan dangkal. Kepalanya terkulai lemas dengan rambut cokelatnya yang biasanya tertata rapi kini basah oleh keringat dingin dan menutupi matanya yang sayu. Ia tampak seperti malaikat yang sayapnya telah dipatahkan, menunggu vonis terakhir dari tuhan yang ia khianati.

Aira berdiri tepat di depan jeruji besi. Ia menatap sosok pria di dalamnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tidak ada smirk di bibirnya saat ini. Hanya ada kehampaan yang dalam. Perlahan, tangannya yang terbungkus sarung tangan sutra hitam meraih kunci yang ditinggalkan Dante di meja kayu dekat sel.

Klik.

Bunyi engsel besi yang berkarat seolah menyayat kesunyian malam. Aira melangkah masuk ke dalam ruang sempit yang berbau pengap, besi, dan aroma bahan kimia yang menyengat. Hawa dingin dari lantai batu merayap naik melalui sepatunya, namun Aira terus melangkah hingga ia berdiri tepat di hadapan Julian.

Julian tidak bergerak. Ia pasrah, menunggu cambukan, makian, atau mungkin ludahan yang akan keluar dari mulut "Isabella". Ia sudah siap untuk dihancurkan secara fisik setelah pengkhianatannya terbongkar.

Namun, yang ia rasakan bukanlah rasa sakit yang tajam.

Aira mengulurkan tangannya yang halus. Dengan gerakan yang sangat perlahan—hampir seperti hembusan angin yang lewat di musim gugur—ia menyisir rambut Julian yang berantakan, menyingkirkannya dari dahi pria itu yang panas karena demam. Jemari Aira berhenti di pipi Julian yang membiru, tepat di tempat ia menghantamkan wajah pria itu ke meja makan pagi tadi.

Julian tersentak hebat. Tubuhnya yang terantai gemetar karena kontak fisik yang tak terduga itu. Matanya yang merah dan berair perlahan terbuka, menatap Aira dengan keterkejutan yang murni, seolah-olah ia baru saja melihat hantu di tengah kegelapan.

"N-nyonya...?" suaranya pecah, hanya sebuah bisikan parau yang penuh dengan kepedihan.

"Sstt..." bisik Aira. Suaranya tidak lagi dingin seperti es atau tajam seperti belati. Suaranya kini lembut, dipenuhi dengan nada empati yang belum pernah didengar Julian selama belasan tahun ia mengabdikan hidupnya di bawah bayang-bayang keluarga von Raven. "Jangan bicara. Kau hanya akan membuat lukamu semakin perih, Julian."

Aira mengambil sapu tangan sutra putih dari saku gaun beludrunya. Ia mendekati Julian hingga jarak di antara mereka hilang sepenuhnya. Aira sedikit berjinjit, menggunakan sapu tangan itu untuk menyeka noda darah yang mengering di sudut bibir Julian. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah-olah Julian adalah porselen retak yang paling berharga dan rapuh di dunia ini.

"Kenapa kau melakukan ini, Julian?" tanya Aira pelan, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Julian yang bergetar. Ada binar kesedihan yang nyata di sana—sisi "Aira" yang manusiawi, yang selama ini ia tekan habis-habisan untuk bertahan hidup. "Kenapa kau harus meracuniku hanya untuk mencari tahu rahasia yang bahkan tidak akan mengubah posisi kita?"

Julian terpaku. Hatinya yang selama ini hanya dipenuhi oleh rumus kimia, obsesi gelap, dan keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu di sekitarnya, tiba-tiba terasa seperti diremas oleh tangan yang tak terlihat. Kelembutan ini... perhatian ini... jauh lebih menyakitkan bagi mentalnya daripada seribu cambukan Dante. Rasa bersalah mulai merayap di dadanya seperti racun yang lebih mematikan dari apa pun yang pernah ia racik.

"Saya... saya takut Anda akan benar-benar pergi," bisik Julian parau. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang lebam. "Anda berubah begitu drastis, Nyonya. Anda menjadi sosok yang tidak bisa saya baca lagi. Saya merasa jika saya tidak mengikat Anda dengan ramuan saya, Anda akan menghilang ke tempat yang sangat jauh... tempat di mana saya tidak akan pernah bisa menjangkau Anda lagi."

Aira tersenyum sedih, sebuah senyum yang mengandung kepahitan tersembunyi. Ia mengelus rahang Julian yang kaku dengan ibu jarinya, memberikan sentuhan yang menenangkan sekaligus menghancurkan pertahanan pria itu.

"Kau bodoh, Julian. Sangat bodoh," bisik Aira. "Dengan mencoba meracuniku, kau justru menciptakan jarak yang kau takuti itu. Aku tidak butuh pelayan yang mencoba menjadi tuhan atas pikiranku. Aku butuh seseorang yang bisa menjagaku saat aku merasa mansion ini terlalu gelap untuk kutinggali sendirian."

Julian menatap Aira dengan pemujaan yang kini berubah menjadi pengabdian yang gila. Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini memiliki sisi yang jauh lebih adiktif daripada Isabella yang lama. Isabella yang lama hanya memberikan rasa sakit, tapi wanita ini memberikan harapan—dan harapan adalah narkotika yang paling berbahaya bagi pria seperti Julian.

Aira merendahkan wajahnya, mencium kening Julian yang panas dengan lembut. Sebuah ciuman yang sangat murni, seolah-olah ia sedang memberkati seorang pendosa. Julian mendesah panjang, sebuah isakan kecil lolos dari bibirnya saat ia menyandarkan keningnya di bahu Aira yang harum mawar.

"Maafkan saya... Nyonya... bunuh saja saya jika itu bisa menebus rasa malu ini..." isak Julian.

"Tidak," bisik Aira tepat di telinga Julian, suaranya kembali sedikit dingin namun tetap memiliki nada kasih sayang yang menjerat. "Aku tidak akan membunuhmu. Tapi aku akan membiarkanmu di sini malam ini. Bukan untuk menyiksamu secara fisik, tapi agar kau bisa merenungkan setiap tetes air mata yang kau jatuhkan karena pengkhianatanmu sendiri. Rasakan kesepian ini, Julian. Rasakan bagaimana rasanya kehilangan kepercayaanku."

Aira menarik diri tepat saat ia mendengar suara gerendel pintu di atas tangga terbuka kembali. Dalam hitungan detik, ekspresi wajahnya bertransformasi. Kelembutan di matanya menghilang, digantikan oleh smirk yang dingin dan angkuh. Ia melangkah keluar dari sel tepat saat Dante muncul membawa nampan berisi segelas air dan sekerat roti kasar.

"Berikan air itu padanya, Dante," perintah Aira dengan nada yang sangat datar dan tidak peduli. "Aku tidak ingin pelayan farmasiku mati karena dehidrasi sebelum ia sempat meracik obat tidurku besok malam. Pastikan dia tetap hidup untuk mempertanggungjawabkan setiap kesalahannya."

Dante menatap Aira dengan pandangan yang sangat tajam. Ia melangkah mendekat dan mencium aroma parfum mawar murni Aira yang kini menempel kuat pada kemeja Julian yang kotor. Dante melihat jejak sapu tangan putih di lantai sel, dan ia menyadari sesuatu telah terjadi di saat ia pergi.

Ketegangan yang menyiksa kembali memenuhi ruangan bawah tanah itu. Dante tahu Aira telah melakukan sesuatu untuk "menjinakkan" Julian dengan caranya sendiri. Kecemburuan yang membakar mulai berkobar di mata Dante, membuatnya mencengkeram nampan itu hingga peraknya berderit.

"Sesuai perintah Anda, Nyonya," ujar Dante dengan suara yang ditekan. "Saya akan memastikan dia mendapatkan apa yang dia layak dapatkan."

Aira berjalan pergi menyusuri tangga batu tanpa menoleh lagi ke belakang. Di dalam hatinya, ia berbisik dengan tekad yang semakin gelap: "Satu serigala telah kujatuhkan mentalnya. Julian tidak akan lagi menyerangku dengan racun. Mulai sekarang, dia akan menjadi perisaiku yang paling setia, yang siap meracuni siapa pun yang mencoba menyentuh rahasia 'Aira'."

Di pojok tangga yang gelap, pantulan Isabella asli di genangan air lantai bawah tanah tampak tertawa sinis. "Langkah yang sangat cantik, Aira. Kau menghancurkan hatinya dengan memberikan cinta yang palsu... itu jauh lebih kejam daripada semua siksaan fisik yang pernah kulakukan selama ini. Kau benar-benar sudah siap untuk menjadi ratu di sini."

Aira menutup pintu besi itu dengan dentuman keras, meninggalkan Julian dalam tangis pemujaannya dan Dante dalam kecemburuannya yang mematikan. Malam ini, keseimbangan kekuatan di The Velvet Manor telah bergeser secara permanen.

1
Irsyad layla
si kael dimana thor?
Senja_Puan: next bab dia muncul kak😍
total 1 replies
Irsyad layla
kael mana?
Senja_Puan: Kael lagi jaga perbatasan hutan dan melindungi gerbang utama kak
total 1 replies
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
Anisa675
emang, strategi Aira beracun bangetttt
Anisa675
santai Kael... rusuh Mulu dah
Anisa675
Keren-keren, bisa berubah secepat itu. strateginya emang gitu kalia ya? jadi kejam tapi ada sisi lembutnya gitu
Anisa675
transformasinya langsung drastislah. kenapa ga dari awal thoooor
Anisa675: ya biar seru ya🤭
total 2 replies
Anisa675
Jangan lemah Aira!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!