Dunia fantasy dengan sistem yang digolongkan dari g hingga ssssr(tingkat tertinggi yang jarang ada). Guild SSAWF adalah salah satu aktivitas petualang tebesar di wilayah barat, sementara altar jiwa muda adalah tempat kelahiran Pattisiwiana Klobahrgeevinik sebuah lokasi yang dipercaya memiliki hubungan dengan sumber energi dunia namun belum pernah terungkap secara jelas.
Pattisiwiana (sering dipanggil Patti) adalah pemuda yang sejak kecil mendambakan menjadi petualang. Karna tidak memiliki bakat tempur atau sihir yang terlihat, ia hanya bisa bergabung ke regu scarlet Blades sebagai pembantu penghasil hasil buruan monster. Anggota regunya selalu merendahkannya, menyebutnya "bodoh dan tidak berguna" karena tidak mengerti taktik atau kesulitan mengikuti instruksi pada misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon djase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN MENJADI DANAU ILUSI
Dengan Lyra sebagai pemandu mereka, perjalanan tim Patti menjadi jauh lebih lancar. Lyra mengenal setiap jalan dan celah tersembunyi di dalam Hutan Gelap Morghast, membawa mereka melalui jalur yang aman dan menghindari area yang penuh dengan makhluk buas atau ilusi magis yang kuat.
“Suku kami telah tinggal di sekitar hutan ini selama berabad-abad,” jelas Lyra saat mereka berjalan melalui jalan yang ditutupi lumut hijau yang lembab. “Kita belajar untuk hidup berdampingan dengan alam dan makhluk-makhluk yang tinggal di sini, bukan melawan mereka. Itu adalah kunci untuk bertahan hidup dan menemukan apa yang kalian cari.”
Dia menunjukkan kepada mereka berbagai jenis tanaman obat yang tumbuh di sepanjang jalur, menjelaskan kegunaannya dan cara mengumpulkannya dengan benar tanpa merusak lingkungan sekitar. Patti dengan senang hati mencatat semua informasi tersebut, mengetahui bahwa pengetahuan ini bisa sangat berguna tidak hanya untuk misi saat ini tapi juga untuk petualangan di masa depan.
Selama perjalanan, Lyra juga mengajari mereka cara berkomunikasi dengan makhluk magis yang hidup di dalam hutan. “Banyak makhluk di sini tidak berbahaya jika kalian menghormati mereka dan menunjukkan bahwa kalian datang dengan niat baik,” katanya sambil menunjukkan pada sekelompok rusa dengan tanduk yang bersinar dengan cahaya lunak. “Kita bisa memberikan mereka penghormatan kecil dengan menyemburkan sedikit energi magis yang lembut dan mengucapkan kata-kata penghormatan yang telah kita warisi dari nenek moyang kita.”
Patti mencoba melakukan apa yang diajarkan Lyra, dan dengan terkejut dia melihat bahwa rusa-rusa tersebut tidak berlari menjauh melainkan berdiri diam dan bahkan mendekat sedikit untuk memeriksa mereka dengan mata yang penuh dengan rasa ingin tahu. “Mereka menerima kalian,” ucap Lyra dengan senyum lembut. “Itu berarti jalur kita akan tetap aman selama beberapa saat ke depan.”
Beberapa hari berlalu dengan cepat selama mereka menjelajahi kedalaman hutan. Mereka beristirahat di tempat-tempat yang aman yang hanya diketahui oleh suku Lyra gua tersembunyi dengan sumber air panas alami, atau tempat terbuka kecil di tengah pepohonan yang dilindungi oleh sihir pelindung alami. Di setiap tempat istirahat, Lyra berbagi cerita tentang sejarah hutan dan sukunya, menjelaskan bagaimana mereka bertahan hidup melalui berbagai tantangan dan bagaimana mereka selalu menjaga keseimbangan alam di dalam hutan.
“Danau Ilusi terletak tidak jauh dari sini,” ucap Lyra pada pagi yang berkabut, menunjukkan pada arah yang jauh di antara pepohonan yang menjulang tinggi. “Namun jalur terakhir menuju sana adalah yang paling berbahaya. Ilusi magis di sana sangat kuat dan bisa membingungkan bahkan saya jika tidak berhati-hati.”
Dia kemudian memberi tahu mereka bahwa sebelum mencapai danau, mereka harus melewati “Lembah Bayangan” sebuah lembah yang dihuni oleh ilusi magis yang bisa menunjukkan keinginan terdalam atau ketakutan paling dalam dari setiap orang yang memasuki nya. “Yang terpenting adalah tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh apa yang kalian lihat,” peringatkan Lyra dengan suara yang serius. “Ilusi tersebut hanya kuat jika kalian mempercayainya dan membiarkannya menguasai pikiran kalian.”
Setelah berjalan selama beberapa jam lagi, mereka akhirnya mencapai gerbang masuk ke Lembah Bayangan. Udara di sini terasa lebih dingin dan lebih berat, dengan kabut tebal yang menyelimuti seluruh area. Mereka bisa melihat bayangan-bayangan yang tidak jelas bergerak di dalam kabut, dan suara-suara yang misterius terdengar dari dalam lembah.
“Mari kita bergerak bersama-sama dan jangan pernah melepaskan tangan satu sama lain,” perintah Lyra dengan suara yang jelas. “Jika kalian terpisah dari kelompok, ilusi akan dengan mudah menguasai kalian.”
Mereka membentuk lingkaran kecil dengan tangan saling menggenggam, kemudian mulai memasuki lembah dengan langkah yang hati-hati. Segera setelah mereka memasuki area lembah, ilusi mulai muncul di sekeliling mereka. Patti melihat bayangan kampung halamannya yang sudah sembuh dan penuh dengan kegembiraan, dengan orang-orang tersenyum dan menyambut dia dengan hangat. Dia merasakan keinginan yang kuat untuk mendekati bayangan tersebut, tapi kemudian dia mengingat nasihat Lyra dan tetap fokus pada tangan teman-temannya yang dia pegang.
Di sebelahnya, Luminarianna melihat bayangan desa nya yang sedang diserang oleh makhluk buas besar, dengan orang-orang yang memanggil bantuan padanya. Dia merasakan rasa cemas dan ingin segera berlari untuk membantu mereka, tapi dengan tekad yang kuat dia tetap tinggal di tempatnya dan terus berjalan bersama kelompok.
Corviniann melihat bayangan keluarganya yang sedang diserang oleh bandit, dengan wajah mereka penuh dengan rasa takut dan putus asa. Dia merasakan amarah yang besar muncul dari dalam dirinya, tapi dia juga mampu mengendalikan emosinya dan tetap fokus pada jalur yang mereka tempuh.
Borthworgiann melihat bayangan bengkel nya yang terbakar dan semua pekerjaannya hancur berkeping-keping. Dia merasakan rasa kehilangan yang mendalam, tapi dengan bantuan energi dari teman-temannya yang berada di sisinya, dia mampu tetap kuat dan melanjutkan perjalanan.
Lyra tetap tenang di tengah semua ilusi tersebut, menggunakan energi magisnya untuk membuat bidang pelindung tipis yang membantu mereka tetap fokus pada realitas yang sebenarnya. “Hanya sedikit lagi,” katanya dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Kita sudah hampir keluar dari lembah ini.”
Setelah beberapa menit yang tampak seperti berjam-jam, mereka akhirnya melihat cahaya terang di ujung lembah. Dengan langkah yang semakin cepat namun tetap hati-hati, mereka berlari menuju cahaya tersebut dan akhirnya keluar dari Lembah Bayangan ke sebuah dataran terbuka yang luas.
Di depan mereka terbentang Danau Ilusi yang indah sebuah danau dengan air yang bening namun mampu mencerminkan gambar-gambar yang berbeda di permukaannya. Di tepian danau yang jauh, mereka bisa melihat sekelompok tanaman dengan bunga-bunga berwarna putih keemasan yang bersinar dengan cahaya sendiri Bunga Pembebas Jiwa yang mereka cari.
“Itulah yang kalian cari,” ucap Lyra dengan senyum penuh dengan kegembiraan. “Bunga Pembebas Jiwa hanya akan mekar selama tiga hari setiap tahun, dan kalian datang pada waktu yang tepat.”
Namun sebelum mereka bisa mendekati bunga-bunga tersebut, sebuah makhluk besar muncul dari balik semak-semak di tepian danau Naga Air Ilusi dengan tubuh yang panjang dan bersinar dengan berbagai warna. Makhluk itu adalah penjaga alami dari Bunga Pembebas Jiwa, dan ia akan menguji setiap orang yang ingin mengambil bunga tersebut untuk memastikan bahwa mereka layak.
“Hanya mereka yang datang dengan niat murni dan siap untuk memberikan pengorbanan yang layak yang bisa mengambil bunga ini,” suara naga terdengar seperti suara gemericik air dan guntur yang bergabung bersama. “Apakah kalian siap untuk menghadapi ujian saya?”
Patti maju ke depan dengan langkah yang mantap, dengan teman-temannya berdiri di belakangnya sebagai dukungan. “Kami siap,” jawabnya dengan suara yang jelas dan penuh dengan tekad. “Kami datang untuk mengambil bunga ini bukan untuk keuntungan pribadi tapi untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit dan membutuhkan bantuan.”
Naga mengangguk dengan kepalanya yang besar, kemudian mulai mengeluarkan serangkaian ujian yang akan menguji karakter dan tekad mereka. Ujian pertama adalah ujian kejujuran mereka harus menjawab pertanyaan tentang motif sebenar mereka dan apakah mereka bersedia untuk berbagi manfaat dari bunga tersebut dengan orang lain yang membutuhkan.
Ujian kedua adalah ujian keberanian mereka harus menghadapi ketakutan terdalam mereka sekali lagi, tapi kali ini bukan dalam bentuk ilusi melainkan dalam bentuk nyata yang harus mereka hadapi dengan keberanian dan keyakinan.
Ujian terakhir adalah ujian pengorbanan mereka harus menunjukkan bahwa mereka bersedia untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi mereka demi keselamatan orang lain. Patti tanpa ragu memberikan medali kehormatan yang dia terima dari guild barang yang sangat berharga bagi dia sebagai tanda bahwa dia bersedia untuk mengorbankan apa pun yang dia miliki untuk membantu orang lain.
Setelah mereka berhasil melewati semua ujian dengan sukses, naga mengangguk dengan penuh penghargaan. “Kalian telah menunjukkan bahwa kalian layak untuk mengambil Bunga Pembebas Jiwa,” katanya dengan suara yang lebih lembut. “Ambil sebanyak yang kalian butuhkan, tapi ingatlah untuk selalu menggunakan khasiatnya dengan bijak dan untuk kebaikan.”
Dengan hati yang penuh dengan kegembiraan dan rasa syukur, Patti mendekati tanaman bunga tersebut dan dengan hati-hati memetik beberapa kuntum bunga yang paling segar dan indah. Saat dia menyentuh bunga tersebut, dia merasakan energi penyembuhan yang kuat mengalir melalui tubuhnya energi yang penuh dengan harapan dan kebaikan.
Setelah mereka mengambil cukup banyak bunga dan menyimpannya dengan hati-hati dalam wadah khusus yang telah disiapkan Borthworgiann, mereka berterima kasih pada naga penjaga dan pada Lyra yang telah membantu mereka dalam perjalanan yang panjang dan penuh dengan tantangan ini.
“Saya tahu bahwa kalian akan menggunakan bunga ini dengan baik,” ucap Lyra dengan senyum hangat saat mereka bersiap untuk kembali dari danau. “Suku kami akan selalu merawat hutan ini dan Bunga Pembebas Jiwa yang tumbuh di sini. Jika kalian membutuhkan bantuan lagi di masa depan, kalian selalu bisa kembali ke sini dan mencari kami.”
Dengan hati yang penuh dengan rasa syukur dan kegembiraan, tim Patti mulai perjalanan pulang mereka dari Danau Ilusi. Mereka tahu bahwa perjalanan pulang tidak akan mudah, tapi dengan Bunga Pembebas Jiwa yang mereka miliki dan persahabatan yang semakin kuat antara mereka semua, mereka merasa siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Mereka tahu bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan misi yang sangat penting sebuah misi yang akan membawa harapan baru bagi banyak orang dan membuktikan bahwa kerja sama, kebaikan hati, dan tekad yang kuat bisa mengatasi segala rintangan yang ada di jalan.