NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekuatan Diri

Udara kampus masih basah embun pagi ketika Dewa melangkah melewati gerbang utama. Ia baru saja mengantar Ibu Dosen hari ini, perempuan itu lebih tenang, jarak pandangnya lebih jernih dibanding kemarin berkabut oleh kejutan surat Arif. Mungkin semalam ia telah memutuskan untuk tidak membiarkan masa lalu merusak presentasinya.

Gedung Fakultas Ekonomi menatap dengan facade batu bata usang. Dewa menyusuri koridor lantai dua, langkahnya terdengar berirama di lantai keramik yang baru saja dilap. Tepat di depan ruang fotokopi, seseorang mencengkeram lengannya dan menariknya ke sudut yang lebih gelap.

"Wa! Wa! Ada berita penting!"

Rina, matanya berkilat-kilat seperti kucing menemukan tikus, memastikan koridor kosong sebelum berbisik: "Pak Dekan... masuk rumah sakit tadi malam."

"Apa? Serius?"

"Iya! Kata Bu Lastri, darah tingginya kambuh. Sampai 190 per 110. Bahaya, itu."

Dewa merasa ada yang menarik-narik di ulu hatinya. Ingatannya kembali ke ruang rapat kemarin—ke wajah Prof Hadi memerah, ke ancaman terlontar begitu saja: "Kalau ada yang berani mengusik reputasi fakultas ini..."

Apa ini... gara-gara Ibu Dian? Atau gara-gara surat itu?

"Lo tahu penyebabnya?" tanya Dewa, suaranya lebih rendah dari bisikan.

Rina mengangguk penuh semangat. "Kata perawatnya—kebetulan sodara sepupu saya—Pak Dekan habis membaca surat tensinya naik, mukanya pucat, terus kolaps di kamar mandi.

Surat.

Kata itu berdentum di kepala "Surat dari siapa?" tanyanya, meski ia sudah menduga jawabannya.

"Entahlah," Rina mengangkat bahu. "Yang jelas, bukan surat cinta bisa membuat orang senyum-senyum sendiri, bukan pingsan."

.

Dari Arif? Atau dari... siapa lagi yang punya dendam cukup dalam untuk mengguncang dekan?

---

Bagian II: Kebenaran yang Terbongkar

Pukul 10.00.

Dewa masuk ruangan mengetuk—kebiasaan baru terbentuk dalam dua puluh dua hari terakhir. Perempuan itu sedang menyusun berkas-berkas di mejanya, jari-jarinya bergerak dengan ketenangan terlatih, meski Dewa melihat ada kerutan halus di antara alisnya sebelumnya tidak pernah ada.

"Bu, dengar kabar?" Dewa memulai, suaranya hati-hati. "Pak Dekan masuk RS."

Dian berhenti sejenak. Pulpennya melayang di udara sebelum diletakkan dengan lembut di atas kertas. Ia menatap Dewa, dan dalam sorot matanya ada masalah kompleks dari sekadar keprihatinan—ada pengakuan, ada beban, sesuatu yang telah ia simpan sendiri"

"Saya tahu, tadi pagi dapat kabar dari sekretarisnya."

" Infonya pak Hadi mendapatkan surat."

"Dia dapat surat juga."

"Maksud Ibu?"

Ia meletakkan pulpen menatap ketidakberdayaan di wajahnya—Dian yang selalu terkendali, selalu tenang, kini seorang perempuan baru saja kehilangan pijakan.

"Arif, Dia mengirim surat ke semua orang."

"Apa?"

"Pak Dekan dapat, saya dapat. Bahkan..." Dian menggigit bibirnya. "Rektor katanya juga dapat."

Dewa pusing kepalanya berdenyut-denyut. "Kalau boleh tahu Isinya apa, Bu?"

"Isinya... tentang masa lalu... kesalahannya."

Ia berhenti, mencari kata-kata yang tepat.

"Dia minta maaf ke semua orang, 'ingin membersihkan nama dan meminta ke rektor agar saya dimudahkan dalam segala urusan administrasi, konferensi, publikasi, networking. Pokoknya..." Dian tertawa getir, "Dia seperti orang kalap."

"Kenapa dia melakukan ini semua, Bu?"

"Karena dia mau kembali, dan dia tahu... aku sulit didekati, maka memilih jalur yang tidak bisa ditolak: karier, masa depan dan reputasi."

Dewa mengepalkan tangan di saku celananya. Jari-jarinya menekan telapak tangan terasa sakit.

"Bu, Ibu tidak perlu—"

"Saya tahu, Dewa," Ia memotong lembut. "Saya tidak akan mudah terpengaruh."

Tapi raut wajahnya mengatakan hal lain ada tekanan di sana— 15 tahun tiba-tiba hadir pundaknya lagi. Dewa melihat bayangan perempuan muda pernah hancur, kini harus berdiri tegak kembali.

---

Bagian III: Markas Darurat

Pukul 12.00, kantin.

Mereka berkumpul di meja panjang pojok kanan—markas darurat yang telah menjadi ritual. Rina, Roby, Joko, Budi. Wajah-wajah yang kini familiar bagi Dewa seperti saudara-saudara baru ditemukan.

Rina membuka dengan gaya presenter berita: "Oke, update: Pak Dekan di RS, surat misterius bertebaran, Ibu Dian dapat tekanan dari mana-mana. Ada yang mau nambahin?"

Budi mengunyah mi instan. "Ini kayak sinetron SCTV, Ri. Ratingnya pasti tinggi."

Joko menatap Dewa. "Lo tahu dalangnya?"

Dewa mengangguk pelan. "Arif, mantan Ibu Dian."

Rina menepuk meja. "TUH KAN! GUE UDAH BILANG! Dari awal gue bilang, ini pasti ada hubungannya sama mantan!"

Roby, yang selalu lebih tenang, bersandar di kursi. "Dia main besar, bro. Mengirim surat ke rektor, dekan, semua orang. Itu bukan tindakan spontan. Itu strategi."

"Strategi apa?" tanya Joko.

"Dia ingin menunjukkan ke Dian: 'Lihat, aku punya akses, pengaruh. Aku bisa membantu kariermu lebih dari siapa pun.' Dia memperlihatkan kekuasaan, bukan cinta."

Budi mengangguk sambil mengunyah. "Berat, Wa. Lo saingan sama lulusan S3. Mantan dekan. Punya jaringan luas."

Rina memotong penuh semangat: "Tapi Dewa punya sesuatu yang Arif tidak punya!"

Semua menatapnya.

"Dewa... ada di sini," kata Rani, suaranya lebih lembut. "Setiap hari, bukan cuma lewat surat, lewat kenangan. Dewa ada di saat Ibu Dian butuh antar jemput, di saat dia butuh bubur, di saat dia butuh..." ia berhenti, mencari kata yang tepat. "...di saat dia butuh seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sebagai proyek."

Joko mengangguk perlahan. "Rina benar. Itu poin penting. Kehadiran itu nilai yang tidak bisa dibeli."

"Tapi surat bisa membuat orang luluh," kata Budi, realistis seperti biasa. "Surat yang bagus, penuh penyesalan, menjanjikan segalanya... itu bisa merobohkan benteng."

Roby menatap Dewa tajam. "Makanya, Wa. Lo jangan diam saja."

Dewa merasa dilempar ke tengah arena melawan singa lapar. "Gue harus ngapain?"

"Kamu harus... show up!" Rina membuat tanda kutip di udara. "Kasih lihat ke Ibu Dian kalau lo lebih dari sekadar asisten!"

"Tapi jangan lebay," tambah Joko cepat. "Ntar dikira maksa malah jadi kontra-produktif."

Budi mengangkat sumpitnya seperti profesor pikun "Kayak lo jual bubur, kalau terlalu maksa malah nggak laku. Orang jadi curiga, 'Ini bubur expired ya, rasanya kaya gulai jengkol?'"

"Lo bandingin Ibu Dian sama bubur, Bud?"tanya Rina mangkel

"Prinsipnya sama," Budi mengangkat bahu. "Supply and demand. Scarcity creates value."

Dewa memegang kepalanya. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak strategi. Yang ia inginkan hanya satu: melihat Ibu dosen tersenyum tanpa beban di wajahnya.

---

Pukul 15.00, taman kampus.

Dewa duduk sendiri di bangku kayu yang lapuk, di bawah pohon ketapang yang rindangnya mulai menguning. Memikirkan semua yang terjadi dalam 22 hari terakhir—bagaimana hidupnya yang sederhana tiba-tiba dipenuhi oleh perempuan lebih tua, lebih bijak, dan lebih rapuh dari yang ia kira.

Ponsel bergetar di saku.

Dewa, jam 5 jemput. Ada yang mau saya omongin.

Ia membalas: Siap, Bu.

---

Pukul 17.00, parkiran.

Dewa menunggu di samping motor bututnya. Dian keluar tepat waktu, blazer abu-abunya terbuka mengikuti gerakan berjalan, rambutnya yang biasanya di kuncir kini tergerai di bahu. Wajahnya letih—bekas dari semalam yang mungkin tidak tidur—tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya ketika melihat Dewa.

"Pulang, Bu?"

"Iya. Tapi mampir dulu ke suatu tempat."

"Ke mana?"

Ia mengenakan helm dengan gerakan yang kini familiar—dahulu kaku, kini hampir terbiasa. "Pasar Inpres saya lapar bubur."

Dewa tersenyum. Ada sesuatu yang hangat di dadanya. "Siap, Bu."

---

Pukul 17.30, Pasar Inpres.

Suara pasar sore: dagangan sayuran yang ditawar, motor yang berseliweran, anak-anak yang berlari di antara kios. Mereka duduk di bangku panjang dekat gerobak bubur Dewa—tempat yang kini menjadi milik mereka berdua, meski tidak pernah diucapkan.

Dua mangkuk bubur mengepul di depan. Pedagang lain sudah biasa melihat pemandangan ini: dosen anggun dan mahasiswa selalu membawa helm cadangan.

"Dewa," Dian membuka suara setelah suapan pertama. " Saya mau cerita."

Dewa menatapnya menunggu.

"Waktu saya menerima surat Arif..."Ia memutar sendok di tangannya. "Saya sempat bimbang, sungguh."

Laki laki itu hanya diam tidak ingin mengatakan "aku tahu" atau "tidak apa-apa"—ia hanya ingin mendengar.

"Saya membaca surat itu berulang kali. 15 tahun penyesalan, katanya, dia telah berubah, ingin memperbaiki semuanya."Perempuan itu tertawa getir. "Dan saya... saya hampir percaya, hampir."

"Tapi hari ini," lanjutnya, "setelah melihat dia mengirim surat ke mana-mana... saya sadar."

"Apa, Bu?"

"Dia masih sama. 15 tahun lalu, mengatur semuanya agar saya mau menerima—memanfaatkan posisinya, mengisolasi dari teman-teman, membuat saya bergantung padanya. Sekarang, dia melakukan hal yang sama lewat jalur belakang. "

Ia menoleh mata mereka bertemu.

"Dia tidak berubah, masih laki-laki ingin menang dengan cara apa pun, melihatku sebagai... hadiah yang harus dimenangkan. bukan sebagai manusia."

Dewa menunggu. Jantungnya berdegup lebih kencang.

"Tapi kamu..." Ia berhenti seperti menahan sesuatu yang besar. "Kamu tidak pernah memaksa. Kamu hanya... ada. Kamu bertanya apa yang saya inginkan, bukan memberitahuku apa yang harus kulakukan. Kamu mengantar ketika aku butuh, memberi ruang ketika aku ingin sendiri. Kamu..."

"Bu?"

Perempuan itu menggeleng, tersenyum kecil, "sudah, aku hanya ingin mengatakan... terima kasih untuk hari ini, kemarin. Untuk semua hari yang tidak saya minta tapi kamu berikan."

Dewa tersenyum. Hangat, tulus, tanpa pamrih. "Sama-sama, Bu."

---

Bagian V: Keputusan

Pukul 19.00, Apartemen Anggrek.

Dian turun dari motor dengan gerakan canggung melepas helm, rambutnya berjatuhan ke bahu, dan untuk sejenak Dewa melihatnya bukan sebagai dosennya, bukan sebagai perempuan yang lebih tua, tapi sebagai Dian: manusia sedang berusaha bangkit dari puing-puing masa lalunya.

"Makasih, Dewa. Untuk buburnya."

"Sama-sama, Bu."

Tapi ia ragu di depan pintu, tangannya di gagang pintu, tapi tubuhnya masih menghadap "Besok saya akan mengirim balasan kepada Arif."

Dewa menegang. Otot-ototnya siap untuk apa pun. "Bilang apa, Bu?"

Ia tersenyum, "cuma ingin mengucapkan terima kasih sudah peduli. Tapi saya tidak butuh bantuan mengatur hidup."

"Bu... Ibu yakin?"

"Saya yakin, 15 tahun lalu saya hancur karenanya dan sekarang... saya kuat."

Dewa mengangguk perlahan. "Selamat malam, Bu."

"Selamat malam, Dewa."

Pintu tertutup. Dewa berdiri di sana, di depan pintu kayu yang sama, memandangi bekas sentuhan tangannya di gagang.

Ia tersenyum melihat seseorang yang peduli menemukan kekuatannya kembali.

1
D_wiwied
sayang Dewa apa kekayaannya?? dasar cewek licik bin matre
D_wiwied
loe sendiri msh perawan ga Sha,, bertanya dg nada selembut dering hp nokia jadul 🤭🤭
Ddie: mba wied masih ingat hape Nokia jadul ya...heheh. Sasha itu cewek opurtunis, mencari celah agar bisa dekat mba 😄
total 1 replies
D_wiwied
Si tepung bumbu ini tipe oportunis, deketin Dewa lg krn tau kalo Dewa anak org kaya.. nyesel kan kau sekarang sha, sukuriiiin 😆🤣
Ddie: hahahah...mba wied ..eneg banget
ama Sasha ...padahal dia cantik lho mba. 😄
total 1 replies
ALWINDO BM
yes
Ddie: terimakasih sobatku 🙏
total 1 replies
D_wiwied
jauh banget ya jarak antara apartemen dg kampus, berangkat jam 6 pagi nyampe kampus jam 7.30 ga pegal tu pulang pergi tiap hari 🤭😆😁
Ddie: Itulah mba Wid ...kampus ibu Dian itu di planet mars, tapi demi ayang biby ...jarak tidak terasa hehe
Trims mba Wid koreksinya...emang benar...satu jam setengah...kalau author mungkin udah capek duluan 😄😄🙏
total 1 replies
D_wiwied
yg masih jd tanda tanya, kenapa bisa tiba-tiba sekonyong-konyong Sasha tepung bumbu pindah ke kampusnya Dewa, siapa yg nyuruh.. apakah pak dekan ato si mantan 🤔🤔
D_wiwied: kakk.. mlh ngajak berteka teki 😁
total 2 replies
D_wiwied
rasanya spt belum ditembak tp udah ditolak duluan ya Wa 🤭😆
makanya jujur aja deh Wa, jangan cm dipendam tok gimana bu Dian tau kalo kamu cm diem aja
Ddie: Dewa takut kalau rahasia cincin nya tertukar mba..apa yng terjadi kalau Ibu dosen tahu cincin itu untuk Sasha
total 3 replies
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!