“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Satu-satunya yang Tidak Tahu
Fahri menyipitkan mata. “Berjaga?”
Kaisyaf mengangkat wajahnya perlahan, menatap Fahri lekat.
“Tidak ada yang benar-benar tahu masa depan,” ucapnya pelan, namun tegas.
Ia berhenti sejenak.
“Dan… aku ingin Alvian bangga padamu.”
Fahri terkekeh pelan.
“Al sudah bangga, Kak. Waktu tahu aku juara dua pertama kali… lalu juara satu… bahkan waktu aku hanya masuk lima besar di Asia, dia tetap cerita ke semua orang.”
Kaisyaf mengangguk pelan. Tatapannya tidak berubah.
“Piala kamu…” ucapnya pelan, “tidak bisa dipakai untuk menghidupi anak dan istri kamu nanti.”
Fahri terdiam. Nada itu… berubah. Tidak lagi sepenuhnya bercanda.
“Belajar bisnis lebih serius,” lanjut Kaisyaf. “Jangan setengah-setengah.”
Fahri menatapnya. Ada sesuatu di balik kalimat itu. Sesuatu yang terasa… lebih dari sekadar nasihat biasa.
“Kak…” panggilnya pelan.
Namun Kaisyaf sudah kembali menunduk pada berkasnya.
“Kerjakan dulu yang kuberikan kemarin.”
Nadanya datar. Seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi.
Fahri tidak langsung menjawab.
Entah mengapa… ia merasa, ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh pria itu.
***
Setelah keluar dari ruangan Kaisyaf, langkah Fahri tidak langsung berhenti.
Pikirannya masih dipenuhi pertanyaan. Tanpa banyak pikir, ia berbalik arah. Matanya mencari satu orang.
Ridho.
Tak butuh waktu lama hingga ia menemukan pria itu di lorong.
“Ridho.”
Nada suara Fahri cukup untuk membuat pria itu berhenti.
“Ke ruangan,” lanjutnya singkat.
Ridho tidak bertanya. Ia hanya mengangguk dan mengikuti.
Begitu pintu tertutup, Fahri langsung berbalik.
“Katakan padaku,” ucapnya tanpa basa-basi. “Apa yang disembunyikan Kak Kaisyaf?”
Ridho terdiam sejenak. Sorot matanya tetap tenang. “Pak Kaisyaf tidak menyembunyikan apa pun, Pak.”
Fahri menyipitkan mata. “Jangan bohong.” Langkahnya mendekat satu langkah. “Kau menutupi sesuatu.”
Ridho menarik napas pendek.
“Pak,” ucapnya tenang, “kalau masalah pekerjaan, Anda bisa bertanya pada saya. Tapi kalau masalah pribadi… sebaiknya Anda bertanya langsung pada orangnya.”
Ia menatap Fahri lurus.
“Saya profesional. Saya bekerja untuk mengurus bisnis. Bukan… hati.”
Fahri mendengus pelan. “Kalau begitu,” katanya tajam, “kenapa akhir-akhir ini dia sering melimpahkan pekerjaannya padaku?”
Ridho tidak menghindar.
“Karena selama ini Pak Kaisyaf terlalu sibuk… dan Anda terlalu santai.”
“What?!” Fahri langsung melotot. “Aku juga sibuk—”
“Dan saat beliau sibuk,” potong Ridho tenang, “sebagai adik, bukankah seharusnya Anda membantu?”
Fahri berdecak. “Itu bukan jawaban.”
Ridho tersenyum tipis. “Pak Kaisyaf tidak pernah salah menilai orang.”
Ia melanjutkan dengan suara datar, tapi penuh makna.
“Dulu beliau mempertaruhkan namanya untuk Anda. Saat semua orang sudah memberi tanda… beliau tetap percaya.”
Fahri terdiam. Itu benar.
“Dan hasilnya?” lanjut Ridho. “Anda bisa masuk lima besar di balap Asia. Itu bukan prestasi kecil.”
Ridho mengangkat bahu sedikit.
“Sekarang… beliau hanya melakukan hal yang sama. Melihat potensi Anda. Di bidang yang berbeda.”
Fahri akhirnya menghembuskan napas kasar.
“Sudahlah,” katanya sambil mengibaskan tangan. “Percuma bicara sama kamu.”
Ia berbalik.
“Kau selalu pakai fakta. Dan aku tidak bisa membantahnya.”
Ridho tersenyum tipis.
“Memang tidak seharusnya Anda membantah saya, Pak.”
Fahri mendengus, lalu keluar dari ruangan.
Pintu tertutup.
Ridho menatap ke arah itu beberapa detik. Lalu pelan ia bergumam,
“Fahri…”
Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih berat.
“Pria tiga puluh tahun…” gumam Ridho pelan. “Tidak pernah dekat dengan wanita mana pun.”
Ia terdiam sejenak.
Tatapannya kembali mengarah ke pintu yang baru saja tertutup.
“Bukan karena tidak bisa…” lanjut Ridho lirih. “Tapi karena memilih untuk menutup diri.”
Ia terdiam sejenak.
“Dan itu… bukan tanpa alasan.”
Tatapannya masih tertuju ke pintu. Seolah berbicara pada seseorang yang sudah pergi… tapi juga pada dirinya sendiri.
“Alasannya? Saya tahu. Pak Kaisyaf juga tahu.”
Ridho menghela napas pelan.
“Anda memang tidak sedarah dengan Pak Kaisyaf…”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih dalam.
“Tapi beliau mempercayai Anda… lebih dari saudara.”
Tatapannya sedikit meredup.
“Mungkin karena… beliau tahu, ada hal yang tidak akan pernah Anda khianati.”
Ia menggeser pandangannya.
“Perasaan yang Anda pilih untuk dipendam… demi tetap berada di tempat Anda sekarang.”
Ridho menunduk sedikit.
“Tidak semua orang mampu melakukan itu.”
Suaranya merendah.
“Memilih mundur… bukan karena kalah. Tapi karena tidak ingin kehilangan.”
Ia menghela napas panjang.
“Dan justru karena itu…”
Ada jeda kecil.
“Beliau mempercayakan banyak hal pada Anda.”
Hening mengisi ruangan.
“Tapi kepercayaan itu…” lanjutnya pelan, “bukan untuk membuat Anda masuk ke dalam urusan yang ingin beliau jaga sendiri.”
Ridho akhirnya menutup kalimatnya dengan tenang.
“Dan kali ini… saya tidak bisa membantu Anda.”
***
Malam itu, Ayza menyiapkan makan malam seperti biasa.
Dua piring.
Bukan tiga.
Tangannya sempat terhenti sesaat saat meletakkan sendok di sisi piring. Namun ia kembali bergerak, seolah tak terjadi apa-apa.
“Umi…”
Suara kecil itu membuatnya menoleh.
Alvian sudah duduk di kursinya. Tatapannya tidak langsung ke makanan… tapi ke kursi di seberangnya.
Kursi yang biasanya ditempati Kaisyaf.
Dada Ayza terasa sesak.
“Ya?” jawabnya lembut.
Alvian akhirnya mengalihkan pandangannya.
“Abi… gak pulang lagi?”
Pertanyaan itu keluar pelan. Hati-hati. Seolah takut jawabannya akan menyakitkan.
Ayza berjalan mendekat. Ia mengusap rambut tebal putranya dengan lembut.
“Abi lagi sibuk,” ucapnya pelan. “Al maklumi Abi, ya?”
Alvian terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum. Tipis..Mengangguk kecil.
“Iya. Abi kerja buat kita.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat hati Ayza terasa tergores.
Ia tersenyum. Namun terasa berat. “Pintarnya anak Umi…”
Namun belum sempat suasana kembali tenang—
“Tapi, Umi…”
Ayza menoleh lagi.
Alvian tampak ragu sejenak. “Lusa ada acara di sekolah,” lanjutnya pelan. “Kegiatannya… harus sama ayah masing-masing. Hari ayah.”
Jantung Ayza seperti berhenti sesaat.
“Boleh Al telepon Abi?”
Ayza menatap wajah kecil itu. Harapan di matanya terlalu jelas untuk diabaikan.
Ia tersenyum. Masih.
“Iya,” jawabnya lembut. “Nanti setelah makan, kita telepon Abi.”
Wajah Alvian langsung berubah cerah.
“Iya, Umi!”
Ia tersenyum lebar.
Dan entah kenapa, malam itu, di mata Ayza, senyum Alvian terasa lebih menyakitkan daripada tangisnya.
Usai makan malam, Ayza menggenggam ponselnya lebih erat.
Ada rasa ragu… lebih tepatnya, takut. Takut kalau panggilan itu tidak diangkat. Namun perlahan, ia tetap menekan tombol panggil.
Satu kali.
Nada sambung terdengar. Tidak diangkat.
Ayza menatap layar. Jemarinya sedikit mengencang. Ia mencoba lagi.
Dua kali.
Masih sama. Hening. Hanya suara nada sambung yang terasa semakin menekan.
Di depannya, Alvian menatap.
“Gak diangkat…?” tanyanya pelan. Sorot matanya perlahan meredup.
Ayza tersenyum. Dipaksakan. “Kita coba lagi, ya…”
Alvian mengangguk kecil.
Ayza menarik napas, lalu menekan panggilan sekali lagi. Nada sambung kembali terdengar.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
“Assalamualaikum.”
Suara itu akhirnya terdengar.
Tapi bukan itu yang membuat Ayza terdiam. Ada suara lain… di belakangnya.
...🔸🔸🔸...
...“Kadang yang paling menyakitkan bukan kebohongan, tapi tidak dilibatkan dalam kebenaran.”...
...“Ada hal yang disembunyikan bukan untuk mengkhianati, tapi untuk melindungi, meski akhirnya tetap melukai.”...
...“Tidak semua yang diam itu tenang. Kadang justru paling berisik di dalam.”...
...“Kepercayaan bisa membuat seseorang bertahan… bahkan saat semuanya mulai terasa salah.”...
...“Yang paling dekat… justru yang paling lama tidak menyadari perubahan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.