NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Pondok di Atas Bukit

Pagi itu, udara di kawasan perbukitan Jawa Barat terasa begitu menusuk tulang, namun Hana justru sengaja keluar ke teras kayu lebih awal. Di tangannya, sebuah cangkir keramik berisi kopi panas mengepulkan uap yang langsung menari-nari tertiup angin pegunungan. Ini adalah akhir pekan pertama sejak peresmian cabang kedua di Jakarta Utara yang melelahkan namun sukses besar. Raka mengajaknya ke sini, ke sebuah pondok kayu sederhana yang terletak jauh dari hiruk-pikuk klakson dan polusi ibu kota.

Pondok ini adalah karya pribadi Raka—sebuah proyek idealis yang ia bangun sedikit demi sedikit selama tiga tahun terakhir. Dindingnya terbuat dari kayu pinus yang dikeringkan dengan sempurna, memberikan aroma hutan yang khas dan menenangkan.

"Kopinya enak?" suara berat Raka terdengar dari balik pintu geser.

Hana menoleh, melihat Raka keluar mengenakan sweter rajut berwarna cokelat tua. "Sangat enak. Tapi pemandangannya jauh lebih mahal dari kopinya, Ka."

Raka berdiri di samping Hana, menyandarkan lengannya pada pagar kayu. Di depan mereka, lembah hijau terbentang luas, diselimuti kabut tipis yang perlahan terangkat oleh sinar matahari pagi. "Aku membangun pondok ini saat aku sedang berada di titik terendahku, Na. Saat aku merasa tidak punya tujuan setelah kehilanganmu sepuluh tahun lalu. Tempat ini adalah cara aku menyembuhkan diri sendiri."

Hana menyentuh permukaan kayu pagar yang halus. "Dan sekarang, tempat ini menjadi saksi kesembuhan kita berdua."

Siang harinya, suasana di pondok berubah menjadi lebih hangat. Mereka tidak hanya berdiam diri. Raka mengeluarkan beberapa peralatan kayu kecil dan sebuah balok kayu mahoni di meja teras. Ia ingin mengajarkan Hana sesuatu yang belum pernah ia coba: mengukir.

"Ini bukan tentang hasilnya, Na," ucap Raka sambil memberikan sebilah pahat kecil yang tajam pada Hana. "Mengukir itu seperti menjalani hidup. Kamu harus tahu kapan harus menekan kuat, dan kapan harus mengikuti serat kayunya agar tidak pecah. Kalau kamu melawan seratnya, kayu ini akan rusak."

Hana menerima pahat itu dengan ragu. "Seperti pernikahan pertamaku, ya? Aku terlalu lama melawan serat hatiku sendiri sampai akhirnya aku hancur."

Raka menatap Hana dengan tatapan yang dalam dan penuh pengertian. "Tapi lihat sekarang. Kamu sudah belajar cara mengamplas luka-luka itu menjadi sesuatu yang halus. Sekarang, coba buat satu pola sederhana di sini."

Hana mulai menggerakkan pahatnya. Awalnya kaku, beberapa kali serpihan kayu terbang ke arah yang salah. Namun, di bawah bimbingan tangan Raka yang besar dan hangat di atas tangannya, Hana mulai menemukan ritmenya. Ia tidak lagi memikirkan Aris, ia tidak lagi memikirkan Mama Sarah, atau tekanan koperasi di Jakarta. Ia hanya fokus pada detik ini, pada suara srek-srek pahat yang memakan kayu.

Di sela-sela kegiatan itu, mereka berbincang tentang rencana pernikahan mereka yang tinggal menghitung minggu.

"Aku tidak ingin ada pelaminan tinggi yang membuat kita merasa seperti raja dan ratu semalam, Ka," ujar Hana sambil meniup debu kayu. "Aku ingin kita berdiri di tanah yang sama dengan para tamu. Aku ingin kursi-kursinya dari kayu buatanmu, dan bunganya dari kebun wanita-wanita koperasi kita."

"Aku setuju," balas Raka. "Kemewahan yang kita butuhkan adalah kehadiran orang-orang yang tulus mencintai kita. Oh ya, Maya bilang dia sudah mengatur kateringnya. Dia memastikan tidak ada satu pun nama dari masa lalu yang masuk ke daftar undangan, kecuali jika kamu yang memintanya."

Hana terdiam sejenak. Ia teringat kembali pada surat dari Aris dan kondisi Mama Sarah. "Tidak perlu, Ka. Biarkan mereka tenang di dunianya masing-masing. Aku sudah memberikan apa yang menjadi bagian mereka sebagai manusia. Selebihnya, biarlah semesta yang bekerja."

Sore harinya, saat mereka sedang berjalan menyusuri jalan setapak di sekitar pondok, ponsel Hana bergetar. Sebuah pesan singkat dari Bu Endang di Jakarta.

"Mbak Hana, maaf mengganggu waktunya. Cabang kedua kita kedatangan tamu dari Dinas Pemberdayaan Perempuan. Mereka sangat terkesan dengan sistem koperasi kita dan ingin menjadikan 'Ruang Temu' sebagai model percontohan tingkat provinsi. Mereka mengundang Mbak untuk menjadi pembicara utama di forum bulan depan."

Hana membacakan pesan itu kepada Raka. Ada binar kebanggaan sekaligus rasa haru di wajahnya.

"Kamu dengar itu, Na? Duniamu sekarang meluas melampaui ruko kecil kita," ucap Raka sambil merangkul bahu Hana.

"Aku merasa takut sekaligus bersemangat, Ka. Dulu aku hanya ingin menyelamatkan diriku sendiri. Sekarang, ada tanggung jawab besar untuk membawa wanita-wanita lain ikut naik bersamaku," jawab Hana.

"Itulah definisi sukses yang sebenarnya," timpal Raka. "Bukan seberapa banyak uang yang masuk ke rekeningmu, tapi seberapa banyak orang yang terbantu karena keberadaanmu."

Mereka sampai di sebuah pohon besar di puncak bukit kecil dekat pondok. Dari sana, mereka bisa melihat matahari mulai terbenam, menyisakan warna emas kemerahan yang dramatis. Hana merasa seolah-olah ia sedang melihat simbol dari hidupnya. Bagian yang gelap sudah lewat, dan kini ia sedang menatap fajar baru, meskipun matahari sedang terbenam. Karena ia tahu, esok pagi matahari akan kembali terbit dengan kekuatan yang lebih besar.

Malam harinya di dalam pondok, perapian kecil dinyalakan. Suara kayu yang berderak terbakar memberikan suasana yang sangat intim. Hana duduk di sofa, bersandar di dada Raka sambil membaca buku tentang manajemen sosial.

"Ka," panggil Hana pelan.

"Hmm?"

"Terima kasih sudah membawaku ke pondok ini. Terima kasih sudah menungguku selama sepuluh tahun, meskipun aku tidak pernah memberimu janji apa pun dulu."

Raka mencium puncak kepala Hana. "Menunggumu bukanlah sebuah beban bagiku, Na. Itu adalah bentuk investasi terbaik dalam hidupku. Aku selalu percaya bahwa wanita yang aku kenal di sekolah dulu tidak akan pernah hilang. Dia hanya tertutup oleh debu dan kerikil pengkhianatan. Sekarang debu itu sudah hilang, dan kamu bersinar lebih terang dari bintang mana pun."

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!