NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
​Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
​Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Tak lama kemudian, Sherly membantu Arga menyelesaikan semuanya. “Akun yang kubukakan untukmu adalah akun futures luar negeri terbaik yang bisa didapat perusahaan kami. Akun biasa hanya bisa membuka leverage hingga dua puluh kali, tetapi akun ini bisa sampai seratus kali! Bagaimana, cukup menarik?” katanya dengan nada bangga.

“Sangat menarik. Terima kasih,” ujar Arga sambil mengangguk puas. Jika bukan karena bantuan Sherly, akun seperti ini pasti akan merepotkannya cukup lama.

“Hanya berterima kasih dengan mulut saja? Tidak ada ungkapan lain?” Sherly mengerucutkan bibir.

“Baiklah. Sebagai tanda terima kasih, hari ini aku akan meramal nasibmu secara gratis.” Arga berpura-pura memejamkan mata, menjentikkan jari-jarinya, lalu bergumam, “Aku sudah melihat seperti apa calon suamimu nanti!”

“Seperti apa?” tanya Sherly penasaran.

“Tingginya sekitar 176 sentimeter, beratnya sekitar 65 kilogram, kulitnya cerah, cukup tampan, dan memiliki tahi lalat kecil di bawah sudut mata…”

“Sekalian saja sebutkan nomor KTP-mu!” Sherly memutar mata sambil tertawa geli.

“Eh—aku hanya bercanda.” Arga mendadak bersikap serius. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Sherly, menatap lurus ke dalam mata indahnya, lalu menarik napas dalam-dalam. “Tapi lain kali, Sherly, kamu harus mendengarkan dengan serius. Aku tidak bercanda.”

“Aku tidak bercanda! Aku tidak bercanda! Hal penting harus diucapkan tiga kali!”

“Kamu harus menghentikan Ibumu agar tidak menaiki pesawat pulang ke Indonesia malam ini.”

Sherly tertegun. “Mengapa?”

“Karena aku telah menghitungnya. Jika beliau menaiki pesawat itu, akan terjadi bencana berdarah.”

“Bencana berdarah?”

Sherly menatap Arga dengan penuh kecurigaan, berusaha memastikan apakah pria itu sedang bercanda. Namun, ketika melihat ekspresi wajah Arga, sama sekali tidak tampak tanda-tanda kelakar.

“Ya.” Arga mengangguk dengan sangat serius.

Justru karena kecelakaan pesawat inilah, di kehidupan sebelumnya, Sherly menderita depresi berat, hidup dalam penderitaan setiap hari, hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Arga tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang.

“Baiklah,” jawab Sherly ringan, jelas masih belum sepenuhnya percaya.

Di sisi lain—

Setibanya di rumah, Hadi Setiawan segera menempatkan Ratna dan Dedi, sopir pribadinya, dalam pengawasan ketat. Pada saat yang sama, ia meminta bantuan kakak sulungnya, Hasan, untuk menyelidiki latar belakang Ratna, sekaligus menghubungi rumah sakit tepercaya guna melakukan tes DNA kedua secara kilat.

Hasil tes DNA darurat itu keluar hanya dalam waktu tiga jam. Saat itu jarum jam hampir menunjukkan pukul enam sore ketika telepon dari Hasan masuk.

“Hadi, hasilnya sudah keluar. Anak-anak itu memang darah daging Dedi.”

“Selain itu, benar kata pemuda itu. Ratna memang pernah bekerja di panti pijat di Jalan Timur sepuluh tahun lalu.”

Boom!

Meski sudah menyiapkan mental, begitu kebenaran terungkap, wajah Hadi tetap pucat pasi. Bibirnya kering dan dadanya terasa sesak—seolah ada batu besar yang menyumbat jantungnya. Pengkhianatan ini terlalu dalam.

Baru setelah Hasan tiba di rumahnya, Hadi sedikit demi sedikit berhasil menenangkan diri.

“Hadi, bagaimana rencanamu menangani masalah ini?” tanya Hasan.

“Dedi mengemudi dalam keadaan mabuk dan mengalami kecelakaan maut yang turut merenggut nyawa istriku, Ratna. Keduanya meninggal di tempat karena upaya penyelamatan gagal,” jawab Hadi dengan wajah tanpa ekspresi, seolah sedang membacakan laporan berita masa depan.

Hasan langsung memahami maksud adiknya dan segera memerintahkan orang-orangnya untuk mengatur skenario tersebut.

Dedi dan Ratna tak pernah membayangkan bahwa di kehidupan sebelumnya, merekalah yang merancang kecelakaan untuk Hadi demi menguasai hartanya. Kini, karena campur tangan Arga, roda takdir berputar arah; mereka sendiri yang terjebak dalam skenario maut itu. Inilah yang disebut pembalasan—apa yang ditanam, itulah yang dituai.

“Lalu bagaimana dengan anak-anak itu?” tanya Hasan.

“Anak-anak tidak bersalah. Kirim mereka ke desa, berikan kepada keluarga baik-baik yang tidak memiliki keturunan. Pastikan kebutuhan mereka tercukupi, tapi jangan pernah hubungkan mereka denganku lagi.” Hadi telah melakukan yang terbaik demi keadilan dan belas kasih.

Setelah semua diatur, Hasan kembali bertanya, “Hadi, bagaimana kau bisa mengetahui semua ini?”

Dari hasil penyelidikan Hasan, diketahui bahwa Ratna dan Dedi bertindak sangat rapi. Jika bukan karena laporan tes DNA yang akurat, perkara ini tidak akan pernah terungkap. Bahkan orang tua mereka masing-masing sama sekali tidak tahu.

“Itu karena—” Hadi hampir saja menyebut nama Arga.

Namun tiba-tiba ia teringat peringatan terakhir Arga: “Rahasia ini cukup di antara kita. Jika bocor, bencana besar akan menimpa kita berdua.”

Hadi segera menggeleng. “Mas Hasan, jangan tanya lagi. Simpan saja perkara ini rapat-rapat, jangan katakan pada siapa pun.”

Setelah Hasan pergi, Hadi terbaring lama di sofa. Semakin dipikirkan, ia merasa pertemuannya dengan Arga hari ini seperti petunjuk dari Yang Maha Kuasa melalui perantara orang sakti.

“Orang ini benar-benar luar biasa. Dia pasti sengaja menungguku di gedung sekuritas untuk menyelamatkanku! Aku harus menjalin hubungan baik dengannya. Kesempatan bertemu orang seperti dia hanya datang sekali seumur hidup!”

Pada saat yang sama—

Sepulang kerja, Sherly tiba di rumah dan menyalakan televisi. Awalnya ia tidak terlalu memikirkan ucapan Arga, tetapi entah mengapa hatinya terasa gelisah tanpa sebab.

“Bagaimana kalau... menelepon Ibu?” pikirnya. Sherly merasa lebih baik percaya daripada menyesal. Paling buruk, ia hanya kehilangan uang tiket pesawat internasional yang mahal.

Ia pun menekan nomor ibunya, Ibu Jingga.

“Halo, Bu. Ibu di mana?”

“Ini Ibu lagi antre di pemeriksaan keamanan bandara, mau naik pesawat. Ada apa, Sherly?”

“Bu, jangan naik penerbangan malam ini. Ambil penerbangan besok pagi saja.”

“Kenapa? Ada-ada saja kamu ini.”

“Jangan banyak tanya, Bu. Anggap saja aku memohon, ya? Firasatku tidak enak sekali.”

“Aduh, Nak, tiket internasional ini mahal, tidak bisa di-refund! Meskipun Ayahmu punya uang, bukan berarti bisa dibuang-buang begitu saja. Sudah ya, Ibu mau naik pesawat. Telepon internasional mahal!”

Tut... tut...

Sherly menghela napas tak berdaya, berharap apa yang dikatakan Arga hanyalah lelucon konyol.

Di bandara luar negeri, Ibu Jingga mengomel pelan, “Anak-anak zaman sekarang benar-benar tidak tahu susahnya cari uang.”

Ia membawa bagasi kabinnya dan naik ke pesawat. Begitu masuk, ia melihat seorang pemuda asing tersenyum padanya mengenakan kaos dengan tulisan aksara besar: “Neraka Jahanam”. Ibu Jingga menggeleng geli, mengira orang asing itu hanya asal pakai baju tanpa tahu artinya.

Ia melangkah lebih ke dalam. Sepasang suami istri tampak sedang memarahi anak kecil yang menangis dengan kata-kata kasar soal "mati". Ibu Jingga merasa tidak nyaman. Kata-kata itu terasa sangat tabu di dalam pesawat.

1
Jack Strom
Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom: Eh jangan, entar leduk... 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!