Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3: Harga Diri Tak Di Jual
Pukul 08.55 WIB. Suasana SMA Pelita Bangsa yang biasanya bising oleh tawa siswa, mendadak senyap secara tidak alami. Tiga buah mobil SUV hitam mengkilap masuk ke area parkir khusus tamu VIP dengan formasi yang presisi. Pintu mobil tengah terbuka. Seorang pria keluar.
Danu Setiawan.
Langkah kakinya yang terbungkus sepatu kulit handmade Italia menciptakan bunyi ketukan yang berirama di atas aspal. Ia mengenakan setelan jas charcoal grey yang dijahit sempurna mengikuti tubuh tegapnya. Kacamata hitam menutupi matanya, namun rahangnya yang tegas menunjukkan bahwa ia sedang tidak dalam suasana hati untuk bernegosiasi.
Di belakangnya, dua asisten pria berbadan tegap dan seorang sekretaris wanita mengikuti dengan langkah sinkron, membawa aura korporat yang dingin ke dalam lingkungan sekolah yang hangat.
Siswa-siswi berbisik di balik jendela kelas.
"Itu kakaknya Karin! Gila, auranya lebih serem daripada di majalah bisnis!"
"Habis sudah Bu Nara... Singa lapar sudah datang."
Karin sudah menunggu di lobi dengan mata yang sengaja dibuat sembab menggunakan sedikit bantuan riasan. Begitu melihat kakaknya, ia langsung berlari kecil dan merangkul lengan Danu dengan manja, namun wajahnya sengaja ia tundukkan seolah-olah ia adalah korban yang sangat tertekan.
"Kak... akhirnya Kakak datang," bisik Karin dengan nada bergetar yang dibuat-buat.
Danu menghentikan langkahnya sejenak. Ia mengusap rambut adiknya pelan, namun tatapannya tetap lurus ke depan, ke arah pintu ruang Kepala Sekolah.
"Jangan takut, Karin. Kakak sudah bilang, tidak ada yang boleh membuatmu menangis di tempat ini. Siapa pun itu, mereka akan membayar setiap tetes air mata yang kamu keluarkan."
Suara Danu yang rendah dan berat itu terdengar sangat meyakinkan. Bagi Danu, dunia ini hanya terbagi dua, keluarganya dan orang lain yang harus tunduk pada keinginannya.
Pak Handoko, sang Kepala Sekolah, berdiri di ambang pintu dengan postur tubuh yang membungkuk sebuah gestur otomatis saat seseorang berhadapan dengan kekuasaan yang jauh di atasnya.
"Selamat pagi, Pak Danu. Suatu kehormatan... benar-benar kehormatan," suara Pak Handoko hampir pecah.
Danu masuk ke ruangan tanpa melepas kacamata hitamnya. Ia langsung duduk di kursi utama tamu, sementara asistennya berdiri sigap di belakangnya.
"Saya tidak punya banyak waktu, Pak Handoko. Di mana guru yang merasa punya otoritas lebih besar daripada nama keluarga Setiawan itu?"
"S-sedang menuju ke sini, Pak. Bu Nara sedang menyelesaikan doa pagi bersama siswanya di kelas sebelah," jawab Pak Handoko terbata-bata sambil menyeka keringat di dahinya.
"Doa pagi?" Danu mendengus sinis.
"Sepertinya dia memang butuh banyak doa untuk nasibnya setelah ini."
Tepat saat itu, pintu diketuk tiga kali. Tenang dan berirama.
Nara masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan gamis berwarna nude dengan jilbab senada yang menutupi dada secara sempurna. Ia membawa sebuah buku catatan kecil dan pena di tangannya. Wajahnya bersih tanpa riasan tebal, namun ada binar ketenangan di matanya yang membuat suasana ruangan yang panas mendadak mendingin.
Danu perlahan melepas kacamata hitamnya. Ia ingin melihat lebih jelas wanita yang telah membuat adiknya menangis. Untuk sesaat, Danu tertegun. Ia terbiasa dikelilingi model atau wanita karir yang berdandan habis-habisan untuk menarik perhatiannya. Tapi wanita di depannya ini... dia tampak sangat "biasa" namun memiliki kehadiran yang sangat kuat.
"Selamat pagi, Pak Handoko. Selamat pagi, Pak Danu," sapa Nara dengan suara lembut namun stabil. Tidak ada getaran ketakutan dalam vokalnya.
"Duduk, Bu Nara!" perintah Pak Handoko dengan nada mendesak.
Nara duduk di depan Danu. Ia tidak menunduk. Ia menatap langsung ke dalam mata elang pria di depannya.
"Jadi," Danu memulai, suaranya seperti geraman rendah.
"Anda yang merasa berhak mempermalukan adik saya di depan umum? Mengusirnya seperti pengemis dan menyuruhnya membersihkan perpustakaan?"
"Saya mendisiplinkannya, Pak Danu," jawab Nara tenang. "Karin melanggar etika dasar. Dia menghina profesi guru dan menolak mengikuti instruksi pelajaran. Sebagai wali kelas, saya wajib memberikan konsekuensi agar dia mengerti bahwa di kelas ini, semua siswa setara."
"Setara?" Danu tertawa hambar, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata.
"Anda sangat naif, Bu Nara. Dunia ini tidak pernah setara. Ada orang yang memberi perintah, dan ada orang yang melaksanakan perintah. Adik saya berada di kelompok pertama. Tugas Anda sebaga guru adalah mengajarinya, bukan menghukumnya seperti anak jalanan."
"Bagi saya, Pak Danu, nilai karakter seorang anak jauh lebih mahal daripada saldo rekening keluaganya," balas Nara, suaranya tetap tenang meski Pak Handoko sudah memberi kode agar ia berhenti.
"Jika saya membiarkan Karin hari ini, saya tidak sedang mendidiknya. Saya sedang menghancurkannya secara perlahan dengan membiarkannya merasa bahwa uang bisa membeli etika."
Danu mencondongkan tubuhnya ke depan, mengintimidasi ruang gerak Nara. Aroma parfum maskulin yang mahal memenuhi udara di antara mereka.
"Berapa yang Anda inginkan? Sepuluh juta? Seratus juta? Untuk mencabut kata-kata Anda, meminta maaf di depan seluruh siswa, dan mengakui bahwa Anda yang salah?"
Nara tersenyum tipis sebuah senyum yang mengandung rasa iba, yang membuat ego Danu mendidih.
"Bapak benar-benar menganggap semuanya punya label harga, ya? Sayangnya, Pak Danu, harga diri saya tidak dijual. Kejujuran saya juga tidak punya nominal."
"CUKUP!"
Danu menggebrak meja jati itu hingga vas bunga di atasnya bergetar.
"Pak Handoko, saya tidak ingin melihat wanita ini lagi di sekolah ini besok pagi. Atau saya akan membatalkan dana hibah pembangunan laboratorium dan menarik semua investasi Setiawan Group dari yayasan ini."
Pak Handoko hampir menangis. "Bu Nara... tolonglah... minta maaf saja..."
Nara berdiri dengan anggun. Ia merapikan pakaiannya.
"Pak Handoko, saya mencintai pekerjaan saya. Tapi saya lebih mencintai prinsip saya. Jika Bapak ingin memecat saya karena saya menjalankan tugas saya dengan benar, silakan. Tapi saya tidak akan pernah meminta maaf kepada orang yang salah hanya karena dia kaya."
Nara menatap Danu untuk terakhir kalinya dalam ruangan itu. "Pak Danu, kekuasaan Anda mungkin bisa membeli pekerjaan saya, tapi kekuasaan Anda tidak akan pernah bisa membeli rasa hormat saya. Permisi."
Nara keluar dari ruangan dengan langkah yang tetap tenang, meninggalkan Danu yang mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Belum pernah dalam hidupnya, Danu Setiawan ditolak secara terang-terangan oleh seseorang, apalagi oleh seorang guru perempuan yang terlihat begitu rapuh.
Karin yang menguping di balik pintu, segera menghampiri kakaknya yang baru keluar dengan wajah merah padam.
"Gimana, Kak? Dia dipecat kan?" tanya Karin dengan nada penuh kemenangan.
Danu tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju mobilnya. Pikirannya masih tertuju pada tatapan mata Nara yang tidak goyah sedikit pun. Ada sesuatu yang mengusik hatinya bukan hanya kemarahan, tapi sebuah rasa penasaran yang berbahaya.
"Andra," panggil Danu kepada asistennya saat sudah berada di dalam mobil.
"Ya, Pak?"
"Cari tahu semuanya tentang Nara Setianingrum. Di mana dia tinggal, siapa keluarganya, apa titik lemahnya. Saya tidak suka ada orang yang merasa bisa menang dari saya. Dia butuh pelajaran... pelajaran yang jauh lebih berat dari sekadar kehilangan pekerjaan."
Perang ini baru saja dimulai, Bu Guru, batin Danu dingin.