NovelToon NovelToon
Menantu Pilihan Untuk Sang CEO Duda

Menantu Pilihan Untuk Sang CEO Duda

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Duda / Romansa / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: ijah hodijah

“Fiona, maaf, tapi pembayaran ujian semester ini belum masuk. Tanpa itu, kamu tidak bisa mengikuti ujian minggu depan.”


“Tapi Pak… saya… saya sedang menunggu kiriman uang dari ayah saya. Pasti akan segera sampai.”


“Maaf, aturan sudah jelas. Tidak ada toleransi. Kalau belum dibayar, ya tidak bisa ikut ujian. Saya tidak bisa membuat pengecualian.”


‐‐‐---------


Fiona Aldya Vasha, biasa dipanggil Fio, mahasiswa biasa yang sedang berjuang menabung untuk kuliahnya, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena satu kecelakaan—dan satu perjodohan yang tak diinginkan.

Terdesak untuk membayar kuliah, Fio terpaksa menerima tawaran menikah dengan CEO duda yang dingin. Hatinya tak boleh berharap… tapi apakah hati sang CEO juga akan tetap beku?

"Jangan berharap cinta dari saya."


"Maaf, Tuan Duda. Saya tidak mau mengharapkan cinta dari kamu. Masih ada Zhang Ling He yang bersemayam di hati saya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ijah hodijah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Fio menunduk, rasa sakit di kaki bercampur rasa hancur di hatinya. Semua usaha, semua risiko yang ia ambil untuk datang tepat waktu… sia-sia. Ia mengangguk perlahan, mencoba menahan tangis.

 “Aku... Harus kuat. Ini belum berakhir... Aku pasti bisa menemukan jalan keluarnya."

Dengan langkah berat, Fio meninggalkan kafe, sadar bahwa hidupnya kini berada di persimpangan yang tak terduga: terluka secara fisik, kehilangan pekerjaan, tapi juga berhadapan dengan masa depannya yang terombang-ambing.

Fio melangkah keluar dari kafe dengan langkah berat. Gaji separuh yang diterimanya terasa begitu sedikit di tangan, jauh dari cukup untuk membayar biaya kuliah yang semakin menumpuk. Hatinya sesak, campur aduk antara frustrasi, lelah, dan putus asa.

Ia berhenti di tepi jalan, menatap layar ponselnya, dan setelah ragu beberapa detik, memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada ayahnya.

 [“Ayah… aku butuh bantuan. Sebentar lagi ujian, dan aku belum bisa bayar kuliah…”]

Balasan ayahnya cepat muncul, dingin dan mengejutkan:

[“Ayah tidak ada uang. Kamu berhenti kuliah saja.”]

Fio menunduk, jantungnya serasa tercekat. Ia mengetik lagi, suara hati dan tangisnya bercampur:

[“Ayah… aku anak ayah bukan? Jangan hanya Lira saja yang ayah biayai kuliahnya. Lira bukan anak ayah?”]

Tak lama, jawaban singkat datang, menusuk:

[“Gak usah hubungi ayah lagi kalau mau membandingkan.”]

Fio menatap layar, mata berkaca-kaca. Jantungnya perih, tapi ia mencoba tetap menulis, menumpahkan semua harapan yang tersisa dalam pesan terakhirnya:

[“Ayah… aku mohon. Sebentar lagi aku lulus. Aku gak akan membebani ayah lagi.”]

Ia menekan tombol kirim sambil menahan tangis, berharap sedikit belas kasihan. Tapi layar hanya menunjukkan centang biru—dibaca—tanpa balasan sedikit pun. Fio menunduk, dada sesak. Ia tahu, kali ini, ia benar-benar sendirian.

Dengan napas berat, ia menatap langit senja, mencoba menguatkan diri. Pilihan sulit menanti, tapi Fio tahu: ia harus bertahan, apa pun yang terjadi.

ibu, andai ibu tidak pergi. Andai ibu bawa aku. Ibu... Aku benar-benar sendirian sekarang. Kenapa ibu secepat itu meninggalkan aku? Bahunya bergetar, air matanya lolos begitu saja, tidak ia tahan.

"Sshh! Tiba-tiba rasa linu di kakinya semakin menjalar. Tubuhnya gemetar dan ia memutuskan untuk duduk di bangku pinggir jalan.

***

Sementara itu di tempat lain. Bu Rania dan Darrel tiba di rumah sakit dengan mobil mewah keluarga. Bu Rania duduk di kursi penumpang depan, matanya tajam menatap jalan, sementara Darrel tetap diam, wajahnya dingin dan sulit ditebak seperti biasa.

Begitu sampai, Bu Rania segera turun dan memimpin langkah ke ruang perawatan Fio. Namun, begitu pintu terbuka…

“Fio? Di mana dia? Kenapa kamar ini kosong?” ia begitu panik.

Darrel hanya menatap sekeliling dengan ekspresi datar, tangannya di saku jas. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Bu Rania berbalik, matanya menyipit menatap suster yang berdiri di dekat pintu:

“Suster! Apa ini maksudnya? Fio tidak ada di kamar. Bagaimana bisa kalian membiarkannya pergi?”

Suster tampak kebingungan, menatap Bu Rania dan Darrel dengan panik.

“Maaf, Nyonya… kami tidak tahu… tadi ia ada, tapi mungkin… dia keluar sebentar…”

Bu Rania menghela napas panjang, wajahnya merah karena marah dan kesal.

 “Keluar sebentar? Dari rumah sakit? Tanpa izin? Ini serius! Saya ingin melihat rekaman CCTV sekarang juga. Semua langkahnya harus jelas!”

Darrel akhirnya angkat bicara dengan nada datar, tapi tetap dingin:

“Mama, ada juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan sampai ada kelalaian.”

Hanya pura-pura, karena kalau tidak begitu takutnya mamanya tantrum di sana.

Bu Rania menatap putranya sejenak, lalu kembali menatap suster dengan tajam. “Segera tunjukkan rekaman CCTV. Saya ingin tahu ke mana Fio pergi dan siapa yang bertanggung jawab.”

Suster tergagap, tapi buru-buru mengajak mereka ke ruangan CCTV dan menyiapkan rekaman CCTV. Bu Rania menahan napas, menyadari bahwa langkah Fio—meski mungkin tampak nekat—adalah awal dari sesuatu yang bisa jadi rumit.

 Sementara Darrel tetap diam, menatap layar dengan mata dingin, seperti sedang menunggu permainan dimulai.

***

Bu Rania menatap layar CCTV dengan mata tajam. Hatinya campur aduk—marah karena Fio bisa saja terluka lagi, tapi juga terenyuh melihat gadis itu begitu berani menanggung sendirian masalahnya.

Ia menoleh ke Darrel, yang tetap duduk dengan wajah dingin, tangan disilangkan di dada.

 “Darrel… mama ingin kita menemukan Fio. Lacak dia dari arah saat dia keluar dari rumah sakit. Jangan sampai dia tersesat atau terluka lagi.”

Darrel menatap ibunya sekejap, ekspresinya datar.

 “Baik, Ma. Tapi aku rasa dia bisa bertahan sendiri. Gadis itu cukup tangguh.”

 “Tangguh atau tidak, dia masih muda dan sendirian. Mama tidak mau mengambil risiko. Ini tanggung jawabmu sebagai anak mama.”

Darrel menghela napas pelan, tapi akhirnya mengangguk.

 “Baik. Aku akan mencari dia. Jangan khawatir, Ma.”

Bu Rania menatap putranya, sedikit lega. Meski dingin dan cuek, Darrel selalu bisa diandalkan ketika urusan keluarga serius. Ia tahu, untuk menemukan Fio sebelum terjadi hal yang lebih buruk, hanya Darrel yang bisa diandalkan.

***

Darrel mengambil kunci mobilnya, menyalakan mesin, dan meninggalkan rumah sakit dengan langkah tenang tapi tegas. Sementara Bu Rania menunggu di ruangan adiknya, direktur di rumah sakit tersebut.

Di dalam mobil, wajahnya tetap dingin, mata menatap jalanan, tapi pikirannya mulai menyesuaikan arah dan strategi untuk menemukan Fio. Ia menelusuri jalanan kota mengikuti arah yang terlihat di CCTV. Matanya tajam menatap sekeliling, mencari sosok kecil yang menonjol.

Di sisi jalan, ia melihat seorang gadis duduk di kursi trotoar, kaki masih dibalut perban, wajahnya letih, ponsel di tangan, seakan menahan tangis. Tanpa ragu, Darrel menurunkan jendela mobil dan menepikan kendaraan.

Fio menoleh, kaget saat melihat sosok tinggi dan tampan dengan wajah dingin menatapnya dari dalam mobil. Ia terkejut dan menahan rasa cemas. “T-tuan…?” ia sedikit mengenali Darrel dari wajahnya.

Darrel menatapnya dengan mata dingin, suaranya datar dan tegas.

“Fio. Kamu tidak seharusnya ada di sini. Rumah sakit bukan tempat jalan-jalan.”

Fio menelan ludah, mencoba tersenyum tipis, tapi napasnya masih berat.

“Saya… saya hanya… saya harus bekerja… saya terlambat… jadi saya keluar sebentar.”

Darrel mengerutkan alis, tetap tenang tapi menekankan kekuasaan dan kewibawaannya.

“Keluar sebentar? Kamu terluka, sendirian, dan hampir terjadi hal lebih buruk. Ikuti saya kembali ke rumah sakit sekarang.”

Fio menunduk, malu dan ketakutan, tapi tubuhnya lemah dan tidak bisa melawan. Ia tahu menolak bukan pilihan.

Tanpa banyak bicara, Darrel mempersilakan Fio masuk ke mobil. Ia menyalakan mesin, wajahnya tetap dingin, menatap jalan di depan, tapi ada ketelitian dan perhatian tersembunyi—cara dia memastikan gadis itu aman, meski tak pernah diucapkan.

Fio duduk di kursi penumpang, rasa gugup dan canggung bercampur lega. Ia sadar, hidupnya kini benar-benar berubah sejak hari ini. Dan gadis tangguh seperti dirinya, seakan dipaksa masuk ke dalam dunia orang-orang yang dingin, kaya, dan penuh rahasia.

***

"Sshh!" Fio mendesis saat kakinya dilangkahkan setelah turun dari mobil. Sampai akhirnya tiba-tiba ambruk.

"Fio!"

Bersambung

1
Yunita Asep
lanjuutt...
Yunita Asep
jngn pura2 Dell, ntar bucin tau...
Yunita Asep
smoga aj fio di tolong bu Rania, y thorr...
Yunita Asep
sedih banget fio aku nangiss...
Marina Tarigan
sdhlah pak Ruslan fio tak pernah kamu perhatikan sbgi anakmu sendiri dia pontang panting menghidupi dirinya sendiri biaya kuliah sendiri tdk pernah kasi uang utk pendidikannya sekarang dia punya keliargi yg sangat menyayanginya dam jauh lebij betkuasa dari kami
Marina Tarigan
maunya si lira dan ayah kandung vio itu didatangi Derrel dan papanya minta pertanggung jawapan dari Lira yg laptopnya rusak henpon jua
Marina Tarigan
katanya tdk perduli hanya diatas kertas nikah hanya dibawah KUA tapi kenapa jd tdk fokus kejanya bos kan kehadiran Fio gak dianggap
Marina Tarigan
yah ceo tanpan dan ibu Rania kek ada bodoh2nya ya jgn tahu siapapun dikampus dan dikantor tapi diantar jemput fio itu tahu orang kampis gadis yg sangat susah dan berjuang sendiri dlm hidupnya dipermalukan dulu ya ibu Rania Darrel
Marina Tarigan
sebaiknya awal pernikahan fio kalau ke kampus pakai motornya dulu karena pernikahan itu mau disembunyikan dulu supaya mahadiswa jgn nganggap Fio wanita simpanan
Marina Tarigan
jalani saja Fio walaupun farrel belum menerimamu tak apa dari pernikahanmu kuliahmu bisa selesai nantinya dan kebutuhan harianmu bisa teratasi karena ayah dan ibu mertuamu menerima kamu dgn penih kasih sayang
Marina Tarigan
menurut kita kalau ibunya farrel suka sm fio selidiki dulu gimana fio dia sangat kesusahan beri kerjaan supaya kesulitannya berkurang buat dia seperti keluarga lalu laksanakan cita2 ibu ini baru ketemu 1hari dlm kecelakaan terus dijodohkan sm anak sendiri kenal tdk apa asal usulnya pun tdk tahu pantas anak ibu membantah rasa2nya enggak waras ibunya
Devi Alfian
keren bgt...
Dadang Supriatna
dasaaaar beleguuug siaaaah ...
Siti Maulidah
ceritanya menarik
Karsa Sanjaya
sampai sini liat ayah nya fio seperti sayang sama anaknya tpi sepertinya ada ke salah pahaman dan d sini karakter darel itu d bikin sebolah olah GK bisa apa apa walau dia seorang CEO
harusnya d selidiki
Yunita Asep
Terima aj fi.. kamu bisa lanjut kuliah.. hidupmu terjamin...
Yunita Asep
lannjuuuttt.,
Yunita Asep
kejam...
Tamirah
Kenapa ya seorang Suami kalau sdh ditinggal mati isterinya gak peduli dgn anaknya, kalau menikah lagi dgn wanita lain Tujuan ya jelas' untuk kebutuhan biologis nya.Memang tak semua suami spt itu .Tapi rata rata nikah lagi agar hasrat tersalurkan pada tempat nya , urusan anak nomer dua. Di dunia nyata istri baru meninggal 40 hari suami nya sdh menikah lagi .ini terjadi pada teman ku.Ayahnya boleh menikah tapi keluar dari rumah gak boleh bawa apa apa hany baju secukupnya . wesss angelllll.
Tamirah
Demi kelangsungan hidup mu Fio terima aja perjodohan dgn Darrell ,kuliah mu terjamin,toh ayahmu juga gak peduli.walau calon suami mu duda tapi duda keren CEO lagi wes ojo kesuwen le meker.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!