Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Sebelum Take-Off
Pesawatnya seharusnya berangkat siang hari. Namun karena delay, semuanya bergeser hingga sore. Waktu hari itu terasa aneh—tidak benar-benar berjalan, tapi juga tidak berhenti. Seperti menggantung, sama seperti perasaanku.
Yeye berpamitan padaku di depan hotel. Dia memesankan Grab untukku pulang ke rumah, sementara dia juga memesan Grab lain untuk pergi ke bandara. Aku berdiri di dekatnya, memperhatikan cara dia membuka ponsel, mengetik cepat, lalu menyimpan kembali dengan tenang, seolah perpisahan ini hanya bagian kecil dari harinya.
Aku sempat bertanya padanya, kenapa tidak memakai mobil saja. Dia tersenyum ringan dan menjawab,
“It’s faster by motorbike. I’m a simple person.”
Dan memang begitu Yeye.
Dia hanya membawa satu ransel di punggungnya dan satu tas kecil untuk menyimpan dompet serta barang-barang penting. Tidak berlebihan, tidak ribet. Hari itu dia mengenakan baju oranye, celana training, sepatu seperti New Balance, dan topi hitam. Penampilannya sederhana, tapi entah kenapa justru detail-detail itu tertanam kuat di kepalaku, seperti sesuatu yang nanti akan kurindukan.
Sebelum benar-benar pergi, dia menatapku, tersenyum, lalu memelukku. Pelukannya tidak lama, tapi cukup erat.
“I’ll text you when I arrive at the airport,” katanya.
Saat itu hujan turun tipis. Gerimis kecil yang membuat jalanan sedikit basah. Aku menatapnya dengan rasa khawatir yang tidak bisa kusembunyikan.
“Are you sure it’s okay?” tanyaku.
Dia mengangguk santai, seolah hujan bukan apa-apa.
“It’s okay. Don’t worry.”
Aku mengangguk, meski hatiku tidak sepenuhnya tenang. Aku melihatnya pergi, naik motor, lalu perlahan menghilang dari pandanganku. Aku masuk ke Grab yang sudah menungguku, duduk diam, dan untuk pertama kalinya hari itu, dadaku terasa kosong.
Beberapa waktu kemudian, ponselku bergetar. Pesan dari Yeye. Foto bandara. Dia sampai dengan selamat. Aku menghela napas lega.
Tak lama setelah itu, dia mengirim pesan lagi. Dia bilang bajunya sedikit basah karena hujan, jadi dia mengganti pakaian. Dia mengirim foto dirinya mengenakan kemeja hitam dengan dalaman putih, tetap dengan topi yang sama. Aku menatap foto itu lebih lama dari seharusnya, mencoba menyimpan wajahnya dalam ingatan.
Lalu masuk foto lain—foto makanan.
“I’m eating at the airport now,” tulisnya.
“Waiting for boarding.”
Aku membalas singkat, karena pekerjaanku menunggu. Tapi di sela-sela aktivitas, pikiranku terus kembali ke pesan-pesan itu. Ke cara dia tetap mengabariku, ke caranya membuatku merasa masih diingat, meski jarak mulai terbentuk.
Beberapa menit sebelum pesawat lepas landas, pesan terakhir masuk. Ada foto wajahnya. Ada foto jam tangannya. Dan ada kata-kata yang membuat tanganku berhenti bergerak.
“I’m leaving Bali now. I hope you’re okay. I’m happy to have met you. I hope we can continue. See you.”
Aku menatap layar ponselku lama sekali. Ada perasaan hangat, tapi juga rasa takut yang pelan-pelan menyusup. Aku tahu, tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk berlanjut. Tapi aku juga tahu, perasaanku saat itu nyata.
Aku membalas akhirnya, dengan jujur sebisaku.
“Thank you. I’m also happy to know you again. I hope you won’t forget me.”
Karena sebelumnya, dia pernah berjanji.
“I’ll call you every night.”
Janji yang terdengar sederhana, tapi terasa besar bagiku.