Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pintu apartemen mewah itu tertutup rapat, meninggalkan hiruk-pikuk mal dan tatapan iri teman-teman Mila di belakang mereka.
Jati meletakkan tas-tas belanjaan bermerek itu di atas meja marmer, namun matanya sama sekali tidak lepas dari sosok Lintang yang berdiri agak kaku di samping tempat tidur.
Jati melangkah mendekat, mengambil tas kecil berisi lingerie hitam sutra yang tadi ia pilihkan dengan penuh semangat.
Ia menyodorkannya pada Lintang dengan tatapan yang dalam dan penuh damba.
"Mas, aku malu," bisik Lintang dengan suara yang hampir tak terdengar.
Jemarinya meremas ujung tuniknya, dan rona merah di pipinya menjalar hingga ke leher.
Ia belum pernah membayangkan akan memakai pakaian seberani itu, bahkan di depan suaminya sendiri.
Jati tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan kasih sayang sekaligus gairah yang tertahan.
Ia meraih tangan Lintang, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari untuk menenangkan kegugupan istrinya.
"Ayo lah, Sayang. Mas ingin melihat kecantikan istri Mas yang sebenarnya," bujuk Jati dengan suara rendah yang serak, terdengar sangat persuasif di telinga Lintang.
"Ini bukan tentang pakaiannya, tapi tentang betapa Mas mengagumi setiap inci dari dirimu. Kamu adalah ratuku, dan Mas ingin merayakan keindahan itu malam ini."
Jati mengecup dahi Lintang dengan lembut, memberikan rasa aman di tengah rasa malu yang melanda.
"Mas tunggu di sini ya? Mas janji, kamu akan terlihat sangat luar biasa di mata Mas."
Lintang menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberaniannya.
Ia menerima tas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu berjalan pelan menuju kamar mandi.
Di dalam kamar, Jati mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram, menciptakan suasana hangat yang sangat privat.
Jantungnya berdebar kencang, menanti kemunculan wanita yang tidak hanya menyembuhkan fisiknya, tapi juga telah menghidupkan kembali jiwanya yang sempat mati.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka perlahan.
Lintang melangkah keluar dengan sangat hati-hati, tangannya mencoba menutupi bagian tubuhnya yang kini hanya terbalut sutra hitam tipis dan renda transparan.
Jati terpaku. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan melihat pemandangan di depannya.
Lintang terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dan menggoda di bawah cahaya lampu yang remang.
Jati mematung di tepi ranjang. Pandangannya terpaku pada dirinya sendiri, pada reaksi tubuhnya yang terjadi begitu spontan saat melihat Lintang melangkah keluar dengan lingerie hitam itu.
Tanpa pijatan, tanpa rangsangan fisik, dan tanpa bantuan terapi apa pun, "senjatanya" telah bangkit dengan gagah dimana sebuah respons alami yang selama berbulan-bulan ini ia anggap telah mati terkubur bersama kecelakaan itu.
Seketika, pertahanan emosional Jati runtuh. Air mata yang selama ini ia tahan di balik wajah dinginnya sebagai CEO sukses, kini mengalir deras membasahi pipinya.
Bahunya bergetar hebat. Ia menunduk, menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya, terisak pelan dalam keheningan kamar yang temaram.
"Mas, kenapa?" Lintang yang tadinya malu, seketika lupa akan pakaian minimnya.
Ia berlari kecil menghampiri Jati, berlutut di depan suaminya dan memegang kedua lutut pria itu dengan cemas.
"Apa ada yang sakit? Mas, bicara sama saya..."
Jati menggelengkan kepalanya kuat-kuat, lalu menarik napas panjang yang tersengal.
Ia meraih tangan Lintang dan menekannya ke dadanya yang berdegup kencang.
"Lintang, aku tidak percaya," bisik Jati dengan suara parau yang basah oleh air mata.
"Dia bangun sendiri, Sayang. Tanpa bantuan, tanpa harus dipaksa. Aku merasa benar-benar menjadi laki-laki lagi."
Lintang terpaku, lalu matanya perlahan turun mengikuti arah pandangan Jati.
Menyadari apa yang terjadi, air mata haru pun ikut menetes di pipi Lintang.
Ia memeluk pinggang Jati dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Tuhan sudah mengembalikan segalanya pada Mas," isak Lintang tulus.
"Keajaiban ini karena Mas sabar, dan karena kita bersama."
Jati mengangkat wajah Lintang, menangkup pipi istrinya dengan tangan yang masih gemetar.
Ia menatap Lintang dengan pandangan penuh rasa syukur yang tak terhingga.
Tangisan harunya kini berganti dengan senyum penuh keyakinan.
"Ini semua karena kamu, Lintang. Kamu adalah obat sesungguhnya. Kamu yang menyembuhkan jiwaku, dan tubuhku mengikutinya," gumam Jati.
Ia menghapus air mata di pipi Lintang, lalu perlahan membimbing istrinya untuk naik ke atas tempat tidur yang bertabur mawar.
Malam ini bukan lagi tentang terapi pengobatan, melainkan perayaan kemenangan atas takdir yang sempat merenggut harga dirinya.
Jati menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang berpacu hebat antara rasa syukur dan gairah yang membuncah.
Ia membimbing Lintang untuk duduk di tepi ranjang, lalu ia berlutut di hadapan istrinya, menatap mata Lintang dengan tatapan yang begitu memuja.
"Lintang, terima kasih sudah tidak menyerah padaku," bisik Jati parau.
Ia perlahan berdiri, membiarkan Lintang melihat sendiri bukti nyata dari kepulihannya yang sempurna.
Tanpa ada lagi keraguan atau rasa rendah diri yang menghantui, Jati menunjukkan kejantanannya yang kini telah tegak dengan gagah—sebuah kemenangan atas semua hinaan yang pernah ia terima.
Lintang terpaku, matanya berkaca-kaca melihat keajaiban di depannya.
Ia menyentuh dada bidang Jati dengan ujung jarinya yang gemetar, merasakan detak jantung suaminya yang kuat.
"Mas, ini benar-benar mukjizat," lirih Lintang.
Jati menyatukan kening mereka, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Lintang yang selalu menenangkannya.
Dengan penuh cinta dan kelembutan, ia mulai mengecup setiap inci wajah istrinya, turun ke leher, hingga bahu yang terbuka.
Tidak ada lagi rasa terburu-buru seperti malam sebelumnya; kali ini adalah perayaan murni seorang pria yang telah menemukan kembali jati dirinya.
Jati mengangkat tubuh Lintang dengan perlahan, membaringkannya di atas hamparan kelopak mawar yang lembut.
Ia menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya dengan sentuhan yang sangat halus, memastikan Lintang merasakan betapa ia sangat diinginkan dan dicintai.
"Malam ini, biarkan Mas membuktikan padamu, bahwa istrimu ini memiliki suami yang utuh," gumam Jati di telinga Lintang.
Di bawah temaram lampu kamar yang hangat, Jati bergerak dengan penuh kepastian.
Setiap sentuhannya adalah janji, dan setiap kecupannya adalah syukur.
Lintang menyambutnya dengan tangan terbuka, membiarkan dirinya tenggelam dalam lautan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tidak ada lagi rasa perih yang menyiksa, yang ada hanyalah penyatuan dua jiwa yang telah lama terikat takdir sejak di bawah pohon jambu dulu.
Jati membuktikan kejantanannya bukan dengan kekuatan kasar, melainkan dengan kelembutan yang membuat Lintang merasa menjadi wanita paling berharga di dunia.
Malam itu menjadi saksi bisu bagaimana cinta yang tulus dan kesabaran seorang istri mampu membangkitkan kembali harga diri seorang pria yang sempat hancur.