Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Menjelang matahari terbit Pangeran Rong Cheng yang terlelap di bawah pohon tersentak, saat ada yang memanggil manggil namanya.
''Pangeran, pangeran''
''Han Bing'' gumam Rong Cheng melihat orang kepercayaannya ada di depannya.
''Pangeran, apa anda baik baik saja?'' tanya Han Bing.
Rong Cheng hanya menganggukkan kepalanya, tapi beberapa detik kemudian dia tersentak kaget, saat teringat kalau semalam Mingyu terlelap di sampingnya, apa dia sudah pergi pikirnya menoleh kekiri dan kekanan.
''Pangeran, anda mencari siapa?'' tanya Han Bing.
''Tidak ada'' sahut Rong Cheng sembari bangkit berdiri dan Han Bing dengan sigap membantu Tuannya berdiri.
''Siapkan kuda, kita kembali ke kota sekarang'' perintah Rong Cheng membuat Han Bing sedikit kaget, biasanya Tuannya akan kembali ke kota jika Ibu suri memanggilnya, tapi sekarang tidak ada panggilan dari Ibu suri Pangeran Rong Cheng tiba tiba berinisiatif pulang sendiri, apa mungkin karna sudah memiliki istri pikirnya.
''Han Bing, kamu mendengarku''
''Ah, baik Pangeran'' sahut Han Bing.
Sedangkan di kediaman perdana mentri Lu, Mingyu masih terlelap di atas ranjang tidurnya, seperti yang dia katakan pada pelayannya, kalau akan kembali sebelum fajar dan Mingyu benar benar menepatinya.
Mingyu terbangun saat sinar matahari masuk melalui jendela kamarnya, dia menggeliat untuk merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku.
''Hoammm,,, jam berapa sekarang'' gumamnya, tapi dia langsung bangkit duduk, saat mengingat kalau dirinya bukan lagi di zaman abad dua satu lagi.
''Hais,, kenapa bisa lupa lagi'' gerutunya memukul pelan kepalanya karna sering lupa.
Lalu dia memutuskan untuk mandi, karna dia sudah berencana mengajak Xiao Fei untuk berkeliling pasar, membelanjakan uang yang di berikan oleh pria yang dia tolong semalam.
Saat hari sudah menjelang siang Mingyu dan Xiao Fei sudah berada di tengah tengah keramaian pasar yang ada di pusat ibu kota, karna tidak ingin ada yang mengenalinya jadi Mingyu memakai cadar untuk menutupi wajahnya, Mingyu juga membawa pengawal pria untuk mengikutinya, dan kini mereka berada di dalam toko kain yang terkenal sangat besar dan ramai, Mingyu berencana membeli beberapa meter kain untuk dirinya dan juga para pelayannya dengan warna yang senada, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Xiao Fei yang memegang uang milik Nonanya segera membayarnya.
''Nona terimakasih'' ucap si pemilik toko karna Mingyu membeli kain di tokonya dengan jumlah banyak.
''Sama sama'' balas Mingyu tersenyum.
Pengawal pria yang di bawa oleh Mingyu, dengan sigap membawa potongan kain yang yang di beli oleh Nonanya.
''Nona, sekarang kita mau kemana lagi?'' tanya Xiao Fei.
''Kita keliling keliling dulu, siapa tahu nanti ada yang membuatku tertarik untuk di beli'' sahut Mingyu.
''Baik Nona''
Xiao Fei dan pengawal pria itu dengan setia mengikuti kemanapun langkah Nonanya, dan saat Mingyu berhenti di tempat penjual tanghulu, tiba tiba terdengar suara derap langkah kaki kuda.
''Nona, sepertinya Jendral Rong kembali'' bisik Xiao Fei.
Mingyu hanya diam saja sembari memilih tanghulu.
Dan benar saja pasar kota yang sudah ramai dengan orang yang berlalu lalang, semakin ramai saat melihat kedatangan Jendral Rong, semua wanita muda menatap penuh kekaguman pada Jendral Rong yang menunggangi kuda melewati jalan utama yang ada di tengah tengah pusat perbelanjaan, di sisi kanan Jendral Rong ada Han Bing orang kepercayaannya, dan di sisi kirinya seorang wanita muda yang menjadi satu satunya anggota militer perempuan, dia adalah Sun Wan Rou putri kepala sekolah Sun.
Banyak masyarakat yang berfikir kalau Sun Wan Rou memiliki hubungan dekat dengan Jendral Rong, hanya karna mereka sama sama berada di militer, dan lagi semua orang tahu kalau Jendral Rong dan Sun Wan Rou sudah bersama sejak mereka kecil, jadi besar kemungkinan jika wanita yang di sukai oleh Jendral Rong adalah Sun Wan Rou.
Tapi pernikahan Jendral Rong dengan Lu Mingyu berhasil menghancurkan bayangan para masyarakat, banyak dari mereka yang menghina dan merendahkan Lu Mingyu, mereka menganggap Lu Mingyu sama sekali tidak pantas menjadi istri Jendral Rong, apa lagi para pemuja Sun Wan Rou mereka selalu menyebarkan berita kalau Lu Mingyu tidak sebanding dengan Sun Wan Rou, walaupun Mingyu lahir dari seorang ayah perdana mentri dan Sun Wan Rou hanya anak kepala sekolah, tapi Sun Wan Rou memiliki bakat yang luar biasa, selain seorang sarjana Sun Wan Rou juga satu satunya anggota militer perempuan di Negara Yan, sedangkan Lu Mingyu dia tidak memeliki bakat apapun, apa lagi dua kelebihan yang di miliki oleh Sun Wan Rou.
Mingyu dengan santai melahap tanghulu yang barusan di belinya, dia tidak perduli dengan ejekan yang di lontarkan oleh orang orang di sekitarnya menurutnya itu tidaklah penting, karna saat ini raga yang di kenal bodoh oleh orang orang itu sudah di kuasai olehnya, asal tidak ada yang mencari masalah dengannya dirinya akan diam saja.
''Nona, jangan dengarkan omongan orang orang, mereka hanya iri dengan anda'' tukas Xiao Fei khawatir, karna biasanya Nona Mudanya akan menangis jika ada yang menghinanya.
''Kamu tenang saja, ayo kita kembali'' sahut Mingyu berlalu pergi dari gerombolan orang orang yang terus menggosipkannya.
Dari atas kudanya tatapan tajam Jendral Rong mengarah pada punggung wanita yang pergi dari kerumunan orang orang, Jendral Rong merasa tidak asing dengan postur punggung wanita itu.
''Mingyu'' gumamnya.
''Pangeran ada apa?'' tanya Han Bing melihat Jendral Rong menghentikan kudanya di tengah jalan.
''Tidak apa apa'' sahut Rong Cheng dan kembali memacu kudanya.
Setiba di kediamannya Jendral Rong yang baru turun dari kudanya langsung bergegas masuk ke dalam, bahkan langkahnya sangat buru buru.
''Pangeran''
Kepala pelayan panik, karna tidak pernah terfikirkan kalau Jendral Rong akan pulang secepat ini, bagaimana jika Jendral Rong tahu kalau istrinya tidak ada di kediaman.
''Paman Han, apa Nona Lu sedang keluar?'' tanya Rong Cheng sembari duduk di kursi ruang tengah.
Paman Han yang tak lain adalah Ayah Han Bing, dia panik dengan pertanyaan dari Tuannya.
''Pangeran, itu, Nona Lu, sejak tiga minggu yang lalu beliau pulang ke kediaman perdana mentri Lu, dan belum kembali lagi'' jawab Paman Han gugup.
Rong Cheng yang mendengarnya seketika genggamannya di pegangan kursi mengerat.
''Kenapa dia bisa pulang tanpa seizinku?, apa kalian memperlakukannya dengan buruk?'' tanya Pangeran Rong Cheng di penuhi amarah, lebih tepatnya bukan bertanya tapi menuduh, membuat Paman Han berkeringat dingin.
Paman Han dan pelayan lainnya berfikir kalau Tuan Merka tidak akan pernah perduli dengan istrinya, mengingat Jendral Rong meninggalkannya di saat malam pengantin mereka, padahal di negaranya malam pengantin adalah malam yang sangat sakral, dan Jendral Rong pergi begitu saja meninggalkan istrinya, bukankah itu namanya menganggap pernikahannya dengan Nona Lu tidak lah penting, tapi siapa sangka Jendral Rong akan semarah itu saat mendengar istrinya pulang ke kediaman Lu tanpa seizinnya.
''Pangeran, anda mau kemana?, anda baru saja kembali'' tanya Paman Han berlari mengejar Pangeran Rong Cheng yang tiba tiba berjalan keluar dari kediamannya.
''Menjemput kembali Nyonya rumah'' sahutnya dingin lalu kembali menaiki kudanya dan berlalu pergi.