Lea Michele wanita berusia ( 22 ) tahun, seorang wanita berdarah dingin, dan bekerja sebagai pembunuh bayaran, yang harus mengalami kecelakaan hebat. alih-alih pergi ke alam baka. jiwanya malah terperangah di dalam tubuh seorang gadis yang bernama Carlin Christine. seorang gadis yang sudah menikah. tapi yang tidak pernah di anggap sebagai istri oleh suaminya.
__________________________________________
lantas bagaimana kelanjutan kisahnya, mari kita bersama-sama untuk membacanya. mampukah Lea sang pembunuh bayaran, berperan sebagai Carlin Christine. atau malah sebaliknya...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ecly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keras kepala.
Selama Axel menjelaskan semuanya, Lea hanya diam saja' tapi sesekali mendengus dingin. Menatap Axel dengan malas, melotot atau mengeram marah' dengan ke-dua tangannya mengepal kuat. dia terpaksa meredamkan emosinya,soal suami laknat-nya sudah mengancam-nya akan menciumnya jika dia berani memotong perkataan. dari suaminya. Lea pun akhirnya terpaksa menahan diri.
( new york. )
" Bri. Apa kamu yakin mau tetap bekerja di sini? Tidak mau bekerja dengan ku saja? Lebih baik kalau kamu mau bekerja di tempat ku saja? Bagaimana? " Tanya Gyan.
" Iya aku sudah nyaman, bekerja di sini? Yah walaupun bayarannya. tidak banyak! Tapi aku, rasa cukup untuk menghidupi ku! Kamu tidak perlu khawatir! " balas Bryan.
" Bryan lebih baik kalau kamu resign, trus bekerja di restauran. punyaku saja. "
Gyan tidak tega melihat Bryan, yang bekerja. yang terkadang lembur, dengan gaji bulanan yang sangat kecil, dan tidak sesuai dengan pekerjaannya.
" Tidak usah gy. Aku benar-benar sudah nyaman, di sini dan aku tidak mau terus-menerus, merepotkan kamu. dan yang lainnya! aku merasa tidak enak. merepotkan kalian bertiga. " tolak Bryan.
Bryan sudah memutuskan untuk bekerja, lebih tepatnya karena terpaksa setelah kakak-nya meninggal dunia. Dia memutuskan untuk mencari pekerjaan saja, tentunya untuk menghidupi dirinya sendiri, karna sekarang Bryan hanya mengandalkan dirinya sendiri, setelah kakaknya. pergi meninggalkannya.
" Aku dan yang lainnya tidak pernah merasa di repot kan bri, selain itu semua barang berharga yang Lea. tinggalkan kan mahal semua. Pajak dan biayanya, tidaklah murah dan maaf gaji kamu mungkin sangat jauh sekali dari kata cukup untuk semuanya..." Gyan mencoba mengingat temannya, meskipun dia tidak enak dengan endingnya.
Sebenarnya Gyan Alvin dan Ethan sudah sepakat untuk menanggung semua biaya kehidupan Bryan. tapi Bryan menolak mentah-mentah, keinginan mereka ber 3.
" Aku tahu soal itu, aku akan mencoba untuk menjual beberapa koleksi mobil. yang sudah kakakku belikan untuk ku. Dan uangnya bisa aku tabung untuk kehidupan ku, 2 tahun kedepannya. lagian untuk mengurangi semua pajaknya. mungkin kamu benar aku belum tentu mampu membayar semua pajaknya! "
" Sudah lah bri lebih baik kalau kamu mau resign, dari restaurant itu, trus bekerja di restauran ku saja. kalau kamu melakukan itu
Aku yakin Lea akan sakit hati, kemudian menghantui kamu lewat mimpi. Karena sudah berani menjual apa yang sudah dia belikan untuk mu! kalau kamu tetap memaksakan keinginan mu, kami ber 3 tidak akan menuruti keinginan mu, sebelumnya! Kami akan menanggung semuanya. Jangan keras kepala ini juga demi kebaikan mu! " Gyan bicara panjang lebar.
Sementara Bryan, langsung membelalakkan matanya,dan menatap tajam.
" Apa ini, jadi maksud mu kamu mulai mengancam ku Gyan? " tanya-nya kesal.
" Aku nggak mengancam,aku hanya memberikan pilihan yang tepat kepada mu! Aku rasa kamu juga bisa memikirkannya. Tanpa perlu aku jelaskan! "
Gyan tidak sepenuhnya bohong, setidaknya kalau Bryan, tidak mau mereka ber 3 membiayai kehidupannya, Bryan kerja di tempat yang menghasilkan gaji jauh lebih besar. Dari pada dia harus bekerja keras tapi menerima gaji yang kecil.
akhirnya Bryan dan Gyan pun berdebat karena kekeh, tidak mau di ancam. Meskipun Gyan sudah menjelaskan semuanya secara detail, Bryan tetap marah dan kesal, kepada Gyan karena sudah memaksanya untuk berhenti dari pekerjaannya.
" Dengar baik-baik? jangan karena kalian ber 3 berteman baik dengan kakakku. Kalian sesuka hati mau mengatur hidup ku? meskipun kakakku sudah tidak ada lagi di dunia itu. Aku masih bisa bekerja dan menghidupi diriku sendiri! Aku ingatkan lagi jangan sampai pertemanan kita hancur. hanya karena keegoisan, kalian ber 3. Aku masih sehat, masih mampu untuk bekerja! Untuk memenuhi kebutuhan ku, tanpa harus mengemis kepada kalian bertiga! " ucap Bryan dengan wajah merah padam.
" Bryan tunggu dengerin dulu penjelasan ku, kamu salah paham dengan kat---"
" Cukup Gyan! Sudah aku mau kerja. Terimakasih atas tumpangan nya? ingat kata-kata ku tadi? Lebih baik kamu pulang sana. "
Dug~
Pintu mobilnya di tutup dengan keras. Gyan menghembuskan nafas berat' lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
" Aku pikir Lea adalah manusia paling keras kepala. Ternyata Bryan jauh lebih keras kepala lagi, dari kakaknya! Padahal kami ber 3 hanya ingin yang terbaik untuknya! " gumam-nya, geram kesal menjadi satu.
Selama ini Gyan Ethan dan Alvino memang duluan berteman dengan Lea. Ketimbang dengan Bryan, mereka mengenal Bryan setelah Lea membawa mereka ber 3 ke apartemennya. Jadi lah mereka ber 5 memutuskan untuk berteman, hingga sampai sekarang. Gyan memutuskan pergi setelah melihat Bryan. masuk ke dalam restaurant. Tempatnya bekerja.
Bryan menghela nafas panjangnya setelah melihat kepergian Gyan. Dia menatap rumit ponsel di tangannya, dan membaca pesan yang di kirim oleh nomor asing, padanya.
" Kali ini aku akan mencari tahu sendiri aku tidak boleh bergantung kepada mereka bertiga. " gumam-nya penuh tekat. karena Bryan tidak memberi tahu pesan nomor asing itu, kepada ke 3 teman-temannya.
" Tolong datang ke mimpi ku kak? Bryan kangen. " ucap-nya sendu, menatap foto sang kakak yang dia jadikan wallpaper di poselnya.
" Bryan kamu masuk malam ternyata? Aku pikir kamu tidak kerja tadi. "
Bryan Segera menyimpan poselnya, ke dalam saku celananya, kemudian mendekat.
" Iya aku bertukar dengan felix. "
" Bri. are you Oke? "
" Hmm! "
" Bohong banget, kelihatan dari wajah mu. "
" Aku serius! Aku baik-baik saja! "
" Tapi. Mata mu tidak bisa berbohong."
Bryan terdiam. Matanya memang tidak bisa untuk di ajak kerja sama.
" Aku tidak tahu bagaimana jadi mu, apa lagi kehilangan seseorang seperti yang sedang kamu alami Bri. Tapi tolong jangan lupa untuk menjalani hidup dengan lebih baik lagi.
you know! Apa yang aku maksud kan? " ucapnya dengan binggung.
" Yeah, dan kamu malah mengingatkan ku pada kakakku. Dia juga kalau sedang bicara serius suka belepotan. " ucap Bryan mengusap air matanya.
" Oh, come her---"
" O, No...! Diam di situ, hanya seorang perempuan yang boleh memeluk ku! " Bryan dengan cepat, menjauhi teman-nya. Yang sudah ancang-ancang, mau memeluknya.
" Bryan. Seriously? " sang teman menatap Bryan dengan jengkel, karna ucapannya tadi.
*****
" Kita berhenti di sini.!"
Seorang pasukan Alexander, segere menghentikan laju mobilnya, setelah mendengar perkataan Juan. Juan menekan tombol di sisi mobilnya untuk memberi sinyal kepada pasukan Alexander, yang sudah lebih dulu tiba di tempat itu.
" Ketua tim,kamu bisa mendengar suara ku?"
" Iya saya bisa mendengar suara anda? " sahut seorang dari seberang.
" Bagus, mulai bergerak.!" perintah Juan dengan tegas.
" Siap. "
Juan segera beralih melakukan hal yang serupa, kemudian mengantongi beberapa senjata api. Sedangkan Axel dari tadi hanya menyesap cerutunya. Sambil menatap datar ke arah iPad. Di iPad itu menunjukkan para pasukannya sudah mulai melumpuhkan musuhnya.
Juan dan para pasukan mulai meninggalkan mobilnya. Begitu juga dengan Axel dia membiarkan Juan dan para pasukannya mengandalkan lantai 1 dan lantai 2 sedangkan dia segera menuju ke lantai 3.
Seorang pria gendut, berbadan besar tinggi tegap dan kekar. sedang mengerang nikmat di atas tubuh seorang wanita, lawan mainnya.
" Oh nikmat sekali ---" suara manja bercampur desahan,dari si wanita itu.
" Nikmat kata mu huh! " pria itu memukul tubuh wanita itu, dengan kasar'
" Iya tuan tolong cepat tuan, aku sudah tidak tahan lagi! tolong lebih dalam lagi tuan. "
" Dasar jalang! Yang kamu bisa hanyalah mengangkang huh! "
Pria itu merebahkan tubuhnya, sambil mencekik leher wanita itu. Dan mempercepat gerakannya. Saking larutnya dalam permainannya, kedua orang itu tidak tahu seperti apa keadaan di luar yang sudah sangat kacau sekali. Bahkan kedua orang itu tidak menyadari bahwa Axel, sudah berdiri Dan bersandar di dinding pintu kamarnya. Sambil menonton permainan kedua orang itu.
" Tuan...! Aku...! Ahh..! "
" Dasar jalang cepat menungging! "
Wanita itu langsung mengikuti perintah pria itu. Jeritan dan Geraman menjadi akhir dari permainan kedua orang itu. saat keduanya lelah ambruk di atas kasurnya Axel tiba-tiba bertepuk tangan dengan keras.
Pok~pok~pok~
" Kamu! " si wanita dengan cepat menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya yang polos Sedangkan si laki-laki melotot kan matanya, dengan kaget.
" Pertunjukkannya boleh juga? aku sangat menikmati tontonan gratis tadi! " Ejek Axel.
" Axel Alexander! bagimana kamu bis---"
Dor~
Dor~dor~dor~!
Beberapa menit kemudian mansion itu di penuhi dengan suara letusan senjata api, yang saling bersahutan.
Klik~
Dor~
" Sayang sekali lawan main mu, sudah pergi ke neraka! " Axel tersenyum tipis di bibirnya.
dia menatap penuh ejekan ke arah musuhnya.
Pria itu mengutuki Axel, Axel bukan hanya membunuh si jalang, kesukaannya. Melainkan juga menembak pelurunya di dadanya.
tidak lama kemudian Juan dan beberapa pasukan Alexander! Datang menyusul Axel.
mereka terkejut, dan jijik saat melihat apa yang ada di hadapannya. Juan memalingkan wajahnya ketika melihat wanita bugil yang sudah tewas, sedangkan pria itu juga bugil sambil merintih, menahan rasa nyeri di dadanya.
" Bawa bajingan itu. Lalu hancurkan semuanya? Jangan sampai ada yang tersisa."
" Baik, tuan. "
Axel langsung pergi menuju ke mobilnya, dia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Lalu menyesap cerutunya.
" Sialan aku kan jadi ingi---! Tidak aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Aku hanya akan melakukannya dengan istri ku, yah dengan istri ku.. " gumam-nya. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Setelah Axel dan para pasukannya menjauh
Mansion musuhnya, langsung di lahap si jago merah. Ada juga suara ledekan bom di beberapa titik bagian.
" Tinggal kamu yang belum hancur. Tapi tenang' saja, aku tidak akan menghancurkan mu. Ada seseorang yang akan melakukan itu karena aku sudah menyiapkannya! " Ucap Axel pada si musuhnya, yang sudah terikat tali, dan di bawa menuju ke mobil pasukannya. dia tersenyum mesterius.
*****
" Tuan muda, biar saya bantu? "
" Tidak perlu! " tolok seorang remaja laki-laki yang berjalan mengunakan Walker. Dia menjauhi dan membawa buku-bukunya, yang ingin di rebut oleh penjaga tadi.
Penjaga itu hanya mengangguk kepalanya saja. dia membiarkan remaja laki-laki itu, pergi melewatinya, sambil menundukkan kepalanya
Tapi tidak lama kemudian terdengar, suara benturan keras dari sana, penjaga itu dengan cepat melihat ke arah pemuda itu.
Buk~
Bruk~
" Oh my God. sorry! " ucap Julia. Sambil memasang wajah sedihnya, tapi berapa detik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Lalu berkata.
" Tapi aku memang senjata membuat mu jatuh hahaha! " tawa Julia menggema.
Pemuda laki-laki itu, hanya menatapnya tajam dari rumput. karena Julie menabraknya hingga jatuh tersungkur di rumput. Tapi... tiba-tiba sebuah buah apel, dengan kecepatan tinggi mengarah ke kepala, bagian kiri Julie.
Bug~
" Aaahhh...!" jerit Julie. Dia memegangi kepalanya yang terasa perih, dan berdenyut sakit' akibat pukulan dari buah apel itu.
Bruk~
Julie melotot kan matanya, saat melihat buah apel yang terbelah dua. jatuh tepat di bawah kakinya.
" Ya ampun pasti sakit ya? Sorry tangan ku bergerak sendiri tadi...!!!"
Julie, dan remaja anak laki-laki itu. segera menoleh ke sumber suara, dan langsung melotot kan matanya. Setelah mengetahui siapa yang sudah berani melemparkan buah apel itu.
" Kamu...! Kamu yang sudah melemparkan ku pakai buah apel itu? Kamu mau mat---"
" Nona Julie kira-kira hukuman apa yang pantas untuk mu? Cambukan? di seget pake listrik? Mencabut rumput dengan mulutmu? Atau kamu mau kehilangan salah satu mata..dan telinga mu? " tanya-nya dengan wajah ceria. tapi auranya berbanding terbalik.
Para penjaga, dan pelayan mendadak merinding, mungkin kalau yang bicara barusan itu adalah sang nyonya yang dulu, mereka akan meresponnya dengan mengejeknya. serta tawa, tapi nyonya-nya. yang sekarang sangat berbeda dan sangat mengerikan' kejam bahkan lebih kejam dari tuan-nya.
" Kamu, memangnya kamu pikir kamu itu siapa hah? Berani-beraninya mau menghukum ku? Kalau pun ada yang harus di hukum' seharusnya kamu yang pantas di hukum, bukan aku? Kamu sudah kurang ajar kepada ku? " geram Julie tangannya masih mengusap-usap kepalanya.
" Apa ada yang sakit? Aku tadi melihat mu terjatuh! " tanya Lea kepada tuan muda anggota keluarga Alexander! Mengabaikan Julie.
" Tidak apa-apa! " sahut tuan muda Luke Alexander! Dia nampak tak suka dengan Lea. meskipun begitu, dia tetap menjawab, dengan ekspresi wajah datarnya.
" Bohong...! Jangan suka berbohong dosa tau nggak boleh gitu! " goda Lea. Membuat Luke memalingkan wajahnya, karena malu dan kesal.
Julie yang di abaikan menggeram marah' dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Lea. Yang sedang membantu luke berdiri, dan membantunya mengambil buku-bukunya, yang sudah berserakan di rumput.
" Aku sedang bicara dengan mu. Tapi kamu malah dengan sengaja mengabaikan ku! Dasar wanita tidak tahu diri, tidak punya sopan santun. Wanita miskin! " marah Julie.
Plak~
Hening' langsung melingkupi di sekitarnya.
para pelayan penjaga, Luke dan yang lainnya langsung tercengang matanya melebar mulutnya terbuka sedikit. Mereka semua menelan ludahnya bersusah payah, yang tiba-tiba nyangkut di tenggorokannya, Kelly yang melihatnya menutup mulutnya dengan tangannya.
Saat melihat wajah Lea yang menggelap karena Julie, sudah berani menampar pipinya.
Dia menatap tajam Julie, yang langsung menggelap tangannya dengan tisu, seolah-olah baru saja menampar kotoran.
yaaahhh mungkin cuma kebetulan sama aja kali yAA