akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 – Di Ambang Gerbang Waktu
Langit kota dipenuhi asap hitam.
Jeritan dan suara tembakan energi bercampur dengan raungan makhluk terinfeksi.
Leoni menembakkan rentetan peluru otomatis ke arah sekelompok zombi yang merangsek dari balik reruntuhan.
“Ke kiri! Mereka banyak banget!” teriaknya.
Boy berdiri di depan, tubuhnya dilapisi api merah jingga. Setiap langkahnya meninggalkan jejak hangus di aspal.
“Aku tahan sisi depan! Jangan biarkan mereka mendekati anak-anak!”
Ledakan api menyapu jalanan, menjatuhkan puluhan zombi sekaligus. Namun dari lorong-lorong sempit, makhluk-makhluk itu terus bermunculan.
Di belakang mereka, Sila berdiri melindungi Deva.
Petir kecil berkilat di sekitar tubuhnya, membentuk lingkaran pertahanan, beberapa kilatan kecil menyambar ke sejumlah zombi.
Deva menarik baju Sila. “Kak Sila… apa aku boleh ikut bertarung”
Sila mengelus rambutnya. “Saat ini belum”
Sementara itu, di kejauhan…
Gerbang keemasan masih terbuka.
Cahayanya mulai meredup.
Rey menoleh ke timnya sekali lagi.
“Aku masuk sebentar,” katanya cepat. “Jaga Deva. Jangan biarkan siapa pun mendekat ke gerbang.”
Leoni menoleh sekilas. “Jangan lama!”
Boy mengangguk. “Kalau kamu nggak keluar…”
Rey tidak menjawab. Ia berlari menuju cahaya emas.
Begitu tubuhnya menyentuh permukaan gerbang, dunia berubah udara terasa ringan.
Langit berwarna hijau kebiruan. Tanah dipenuhi rumput bercahaya. Pohon-pohon tinggi menjulang dengan daun berkilau seperti kristal.
Bangunan kuno berdiri di kejauhan, setengah tertutup lumut emas.
Rey menelan ludah.
“Tempat ini masih sama seperti dulu…”
Ia berlari menuju reruntuhan utama.
Di dalam bangunan, peti-peti logam kuno tersusun rapi. Rak batu penuh botol ramuan berwarna-warni. Senjata dengan ukiran asing bersandar di dinding.
Pedang berlapis cahaya.
Busur dengan tali transparan.
Perisai berukir simbol kosmik.
Tanaman kecil dalam pot batu memancarkan aroma segar.
“Harta karun…” gumam Rey.
Ia berlari menuju altar batu di tengah ruangan.
Di sanalah dulu…
Ia menemukan mutiara itu.
Namun sekarang…
Altar kosong.
Tidak ada mutiara putih keemasan.
Rey terdiam.
“…Tidak ada.”
Dadanya terasa sesak.
“Aku sangat yakin, harusnya mutiara itu disini?”
Ingatan tentang kematiannya di kehidupan sebelumnya melintas. Tentang rasa sakit, tentang kehampaan dan pertanyaan.
Apakah karena aku telah kembali…?
Mutiara itu telah kupakai dikehidupan sebelumnya jadi sekarang mutiara itu sudah tidak ada.
"Apa itu berarti hanya benda itu saja yang tidak terpengaruh dengan waktu yang ku jalani?"
Tidak ada waktu untuk berpikir.
Cahaya di langit mulai bergetar.
Gerbang akan menutup.
Rey mengepalkan tangan.
“Setidaknya… aku tidak boleh keluar dengan tangan kosong.”
Ia membuka ruang dimensinya.
Udara beriak.
Satu per satu, peti-peti harta karun menghilang masuk ke ruang gelap di belakangnya.
Ramuan.
Senjata.
Perisai.
Tumbuhan langka.
Rey mengumpulkan semuanya secepat mungkin.
"Untung saja dikehidupan ini aku memiliki ruang dimensi"
Dinding bangunan mulai retak. Cahaya keemasan menipis.
“Aku harus cepat…!”
Ia memasukkan rak terakhir.
Tanah bergetar.
Rey berlari kembali ke arah gerbang.
Di dunia nyata, Leoni dan Boy semakin terdesak.
Zombi datang dari tiga arah.
“Rey lama banget!” teriak Leoni sambil menembak kepala makhluk terinfeksi.
Boy memutar tubuhnya, melepaskan semburan api besar. “Kalau dia nggak keluar sekarang—”
Cahaya emas berdenyut kuat.
Gerbang mulai menyusut.
Sila berteriak, “GERBANGNYA MENUTUP!”
Deva memandang dengan mata besar. “Om Rey… belum keluar…”
Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul dari dalam cahaya.
“REY!” teriak Leoni.
Rey melompat keluar tepat saat gerbang menyusut menjadi garis tipis.
Dalam satu detik…
Cahaya emas menghilang.
Gerbang tertutup.
Langit kembali kelabu.
Rey jatuh berlutut di aspal.
Terengah-engah.
“Berhasil…” gumamnya.
Sila berlari menghampiri. “Kakak, Kamu hampir terjebak!”
Boy tertawa lega. “Sedikit lagi kamu jadi penghuni dunia harta karun.”
Deva memeluk kaki Rey. "Paman berhasil balik…”
Rey mengusap kepala Deva dengan tangan gemetar.
“Iya… Paman balik dan membawa hadiah kecil.”
Ia menoleh ke arah tempat gerbang tadi berada.
Kosong.
Tidak ada tanda apa pun.
Namun di dalam ruang dimensinya…
Tersimpan harta karun dari dunia lain.
Dan satu jawaban besar masih samar terungkap:
Jika mutiara waktu tidak ada…
Berarti kali ini jika Rey.... Rey tidak bisa kembali lagi.
Di kejauhan, raungan zombi masih terdengar.
Pertempuran belum selesai.
Dan rahasia tentang waktu…
baru saja mulai terkuak.
Rey kembali ke pertarungan, zombi-zombi itu tidak ada habisnya, tidak terlalu kuat namun jumlah mereka sangat banyak.
Boy melemparkan bola Api raksasa ke gerombolan zombi, banyak yang hangus.
"Api sangat efektif mengurangi jumlah mereka"
Sila masih dengan kilatan listriknya yang kini menjalar semakin panjang , bagaikan cambuk listrik raksasa.
Rey melindungi orang-orang yang masih disana dengan Tameng raksasanya yang kini sudah mencapai radius dua ratus meter. Mereka semua berkembang, semakin banyak pertarungan, semakin cepat berkembang.