NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak Hujan

Langit di atas Kota Flora tampak seperti kanvas abu-abu yang tak berujung. Sejak semalam, hujan turun dengan intensitas yang seolah enggan memberi jeda pada bumi. Gisel berdiri di depan jendela penginapan sederhana itu, menatap rintik air yang menghantam kaca dengan irama yang monoton.

Ia menghela napas, lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Om Arman.

"Om, sepertinya kami tidak bisa pulang siang ini. Di sini hujan deras sejak semalam. Aku bahkan belum sempat berziarah ke makam Ibu," terang Gisel dengan nada sedikit kecewa.

Suara bariton Om Arman terdengar berat di seberang sana, "Tidak masalah. Jika sampai sore ini masih hujan, kalian tetap di penginapan saja. Jangan nekat berziarah. Jalan menuju perbukitan itu pasti sangat licin dan berbahaya!"

"Iya, Om. Aku tidak akan ke mana-mana," jawab Gisel patuh sebelum mengakhiri panggilan.

Untuk mengganjal perut, Gisel memesan makanan melalui aplikasi ojek daring. Ia tak ingin Fajri, adik sepupunya, kelaparan sementara mereka terjebak dalam penginapan ini. Tak lama kemudian, Fajri masuk ke kamar Gisel membawa aroma nasi goreng yang masih hangat.

"Sepertinya alam benar-benar tidak mengizinkan kita berziarah kali ini, Kak!" celetuk Fajri sambil menyuap makanannya.

Gisel menoleh sekilas. "Sok puitis sekali kamu? Aku jadi merinding."

"Kakak ini! Aku sedang serius," Fajri membela diri.

"Lihat saja, sejak kita menginjakkan kaki di kota ini, hujan mengguyur tanpa ampun. Reda sebentar, lalu tumpah lagi. Kalau kita nekat mendaki ke perbukitan makam, yang ada kita malah celaka di jalan yang licin itu."

Gisel tidak menyahut. Matanya kembali tertuju pada jendela. Apakah benar alam sedang memberinya pertanda? Tentu saja Gisel yang logis tidak percaya pada takhayul semacam itu.

Hujan adalah karunia Tuhan, sebuah siklus alam yang kebetulan hadir di waktu yang kurang tepat bagi rencana mereka. Namun, rasa sesak di dadanya tak bisa dibohongi. Ia merasa gagal menunaikan tugas rutinnya untuk mengunjungi sang ibu.

Karena cuaca yang tak kunjung membaik, Gisel akhirnya mengirim pesan kepada wali kelasnya untuk mengajukan izin tidak masuk sekolah esok hari. Ia menghabiskan sisa hari itu dengan memainkan ponsel, menelusuri berita-berita yang tak terlalu ia pedulikan, sesekali melirik Fajri yang sudah tertidur karena bosan di kamarnya.

Mereka berdua memang tidak akrab dengan Kota Flora. Satu-satunya alasan mereka berada di sini hanyalah karena permintaan terakhir Ibu Gisel yang ingin dikuburkan di samping suaminya. Jika bukan karena wasiat itu, Gisel mungkin lebih memilih menghabiskan liburnya di balik pintu kamar di Jalan Bunga tanpa harus jauh-jauh untuk berziarah yang berakhir gagal.

Di sisi lain.

Arlan sedang berada di titik nadi kesabarannya. Ia terpaksa mengambil izin potong gaji dari kantornya. Pekerjaannya sebagai kepala cabang bank yang menuntut profesionalisme harus bertekuk lutut di hadapan Keira yang sedang tantrum hebat.

Pengasuh yang didatangkan Nancy ternyata menjadi bencana. Alih-alih menenangkan, metode kaku pengasuh berpengalaman itu justru membuat Keira trauma. Anak autis seperti Keira tidak bisa dipaksa; mereka butuh koneksi, bukan sekadar instruksi. Nancy sudah meminta maaf berkali-kali, namun nasi telah menjadi bubur.

"Sayang, kamu masih marah?" tanya Arlan lembut, mencoba mengusap bahu Keira yang sedang meringkuk di balik tumpukan bantal.

Keira tak bergeming. Ia menyembunyikan wajahnya seolah dunia di luar bantal itu adalah ancaman.

"Maafkan Papa, ya? Keira mau ke taman bermain? Papa libur hari ini, kita bisa main sepuasnya," bujuk Arlan lagi.

Keira perlahan mengangkat kepalanya. Matanya sembab, hidungnya memerah. Ia menggeleng pelan.

"Lalu, Keira mau apa?"

"Ma... ma..." lirih Keira.

Jantung Arlan berdenyut perih. Kenapa kata itu lagi? Kenapa Gisel? Sebuah pikiran liar melintas di benak Arlan. Apakah gadis dari Jalan Bunga itu menggunakan semacam "jampi-jampi"? Arlan sering mendengar desas-desus bahwa orang-orang yang hidup di dunia hiburan malam sering menggunakan hal mistis untuk memikat hati orang.

Tapi, kenapa Keira yang terkena? Bukankah targetnya seharusnya dirinya, sang pria dewasa yang mapan? Arlan merinding dengan pemikirannya sendiri. Ia segera tersadar saat Keira menarik lengan bajunya, menuntut jawaban dengan tatapan kosong namun penuh harap.

"Tidak bisa, Sayang. Kakak itu sedang sekolah, dan Papa tidak tahu sekolahnya di mana," dusta Arlan.

Keira kembali menarik diri, masuk ke dalam perlindungannya di balik bantal. Arlan mendesah kasar.

Ia menghubungi ibunya, berharap mendapat dukungan moral, namun sang ibu justru memojokkannya. Bu Ratna bersikeras bahwa keinginan Keira harus dituruti karena dia cucu yang "istimewa".

Arlan memijit pelipisnya yang mulai berdenyut pening. Ia menatap Keira yang masih mogok bicara. Akhirnya, benteng pertahanannya runtuh.

"Sayang... dengarkan Papa. Kalau hari ini Keira berhenti marah, mau mandi, dan makan yang banyak, sore nanti Papa akan membawamu menemui Kakak Gisel. Bagaimana?"

Kalimat itu seperti sihir. Keira tidak langsung bereaksi, membuat Arlan sempat mengernyit heran. Namun, setelah Arlan mengulangi janji itu dengan nada yang lebih tulus dan lembut, Keira tiba-tiba bangkit dan memeluk leher papanya dengan tawa renyah yang sudah lama tak terdengar.

Sepanjang siang, Keira menjadi anak paling penurut di dunia. Ia mandi tanpa merengek, menghabiskan makanannya, bahkan berlatih trampolin di taman bermain dengan penuh semangat. Segala perintah Arlan dipatuhinya demi satu tujuan: Gisel.

Pukul lima sore, mobil Arlan sudah terparkir di mulut gang Jalan Bunga. Namun, sosok yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul. Gisel seolah hilang ditelan bumi. Keira yang awalnya duduk tenang mulai gelisah. Tak sabar, gadis kecil itu tiba-tiba membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam gang, membuat Arlan kalang kabut mengejarnya.

Arlan melangkah lebar, mencoba menyalip orang-orang yang baru saja turun dari bus. Tujuannya hanya satu: rumah Gisel. Namun, di depan teras, ia dicegat oleh seorang wanita dengan pakaian yang sangat minim dan riasan tebal.

"Cari siapa, Ganteng?" goda Tante Ira sambil menghembuskan asap rokoknya.

Arlan segera mundur selangkah, menjaga jarak. "Apakah tadi ada anak kecil yang berlari ke sini?"

Tante Ira tertawa renyah, suara yang terdengar mengerikan di telinga Arlan. "Anak kecil? Di sini tidak ada anak kecil, Sayang. Hanya ada bunga-bunga cantik yang siap dijajakan. Kamu mau pilih yang mana?"

"Saya mencari Gisel. Apakah dia ada?" tanya Arlan dengan nada sedingin es.

Wajah Tante Ira sedikit berubah saat mendengar nama Gisel. "Gisel sedang tidak ada. Lagi pula, dia bukan termasuk bunga yang aku tawarkan. Pilihlah yang lain, mumpung masih segar."

Arlan mengabaikan godaan itu. Matanya menyisir jalanan sempit itu hingga ia melihat kerumunan perempuan di ujung gang. Mereka sedang berjongkok, tertawa, dan mengerumuni sesuatu. Arlan melangkah cepat menghampiri mereka, insting membawanya.

Benar saja. Di pusat kerumunan itu, Keira sedang berdiri tegak, tersenyum lebar karena perempuan-perempuan berpakaian seronok itu memuji kecantikan dan keimutannya.

"Papa!" panggil Keira riang.

Seketika, tatapan belasan pasang mata perempuan itu beralih pada Arlan. Mereka terpukau. Sosok pria dengan kemeja rapi dan aura berkelas seperti Arlan adalah pemandangan langka di tempat seperti ini.

"Wah, Papanya ganteng sekali! Apa kamu ke sini untuk mencarikannya istri baru?" tanya salah satu perempuan sambil mengangkat Keira ke dalam gendongannya.

"Mama..." Keira menunjuk ke arah rumah Gisel yang letaknya tepat di belakang Tante Ira berdiri.

"Dia sudah tua! Kami yang masih muda ini lebih cocok jadi ibumu. Ayo, pilih siapa?" goda perempuan yang menggendong Keira, disambut tawa genit yang lain.

"Jangan bicara sembarangan! Turunkan anak saya!" Arlan meninggikan suara, emosinya memuncak.

Dada Arlan sesak. Bukan hanya karena ia muak dengan lingkungan ini, tapi ia merasa dikhianati oleh keadaan. Gadis kecilnya yang murni, yang selama ini ia jaga dengan protokol kesterilan yang ketat, kini justru tertawa nyaman dalam gendongan perempuan yang tak jelas latar belakangnya.

Ia merasa gagal, sekaligus takut. Bagaimana bisa Keira merasa begitu betah di tempat yang seharusnya menjadi mimpi buruk bagi setiap orang tua?

Arlan menyambar Keira dari gendongan perempuan itu dengan kasar. Genggamannya pada lengan Keira begitu erat, mencerminkan ketakutan dan rasa tak terima yang berkecamuk di dalam hatinya.

Dunia Jalan Bunga ini sepertinya mulai mencoba menelan putrinya, dan Arlan bersumpah tidak akan membiarkan itu terjadi lagi—bahkan jika itu berarti ia harus mematahkan hati Keira dengan menjauhkannya dari Gisel selamanya.

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!