NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Tidak ada yang benar-benar berubah. Lala tetap berangkat kerja pagi, tetap pulang dengan rasa lelah yang sama, tetap mengeluh soal macet dan laporan yang tak ada habisnya.

Hanya saja, kini ada Rendra di sela-sela semua itu.

Tidak ada kesepakatan kapan mereka mulai lebih sering berbincang. Tidak ada pembicaraan soal “kita sekarang sering ketemu, ya.” Semuanya terjadi begitu saja, mengalir pelan dan terasa wajar.

Pagi-pagi, Rendra mengirim pesan singkat menanyakan apakah Lala sudah sampai kantor. Siang hari, mereka saling mengirim foto makan siang kadang hanya nasi dengan lauk seadanya, kadang kopi yang terlihat lebih menarik dari rasanya. Malam hari, obrolan mereka sering berakhir dengan keluhan lelah yang sama, lalu tawa kecil yang entah kenapa cukup untuk menutup hari.

Sesekali mereka pulang bersama. Tidak selalu dengan tujuan yang jelas. Kadang hanya makan malam, kadang hanya duduk sebentar lalu pulang. Tidak ada yang istimewa, tapi justru di situlah letaknya.

Lala tidak merasa sedang mendekati siapa pun. Ia hanya merasa punya teman yang hadir.

Suatu malam, mereka duduk di sebuah warung kecil dekat kantor Rendra. Tempatnya sederhana, meja kayu yang sudah penuh goresan, lampu kuning yang membuat suasana terlihat lebih hangat dari aslinya. Mereka baru saja selesai makan dan menunggu minuman datang.

“Capek ya kerjaan sekarang?” tanya Rendra sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Capek. Tapi kalo ga capek, malah curiga,” jawab Lala santai.

Rendra terkekeh. “Bener juga.”

Mereka terdiam sejenak. Tidak canggung, hanya jeda yang nyaman. Rendra menatap lalu lintas yang berlalu-lalang di depan mereka, sementara Lala sibuk dengan pikirannya sendiri yang entah sedang memikirkan apa.

“La,” panggil Rendra tiba-tiba.

“Hm?”

“Gue nanya sesuatu boleh ga?”

Nada suaranya terdengar biasa saja, tapi entah kenapa Lala mengangkat kepala dan menatapnya.

“Boleh,” jawabnya.

Rendra menghela napas pendek, lalu berkata seolah sedang membahas hal paling ringan di dunia.

“Lo sebenernya kepikiran nikah ga sih?”

Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena kaget, tapi karena pertanyaan itu datang tanpa peringatan. Tidak ada nada bercanda, tapi juga tidak terdengar serius berlebihan.

“Kok nanya gitu?” Lala balik bertanya.

“Ga tau,” jawab Rendra jujur. “Kepikiran aja.”

Lala menunduk sebentar, lalu tersenyum kecil. “Gue bukan ga mau nikah.”

“Terus?” Rendra menoleh, kali ini menatapnya.

“Cuma belum tau kapan,” lanjut Lala. “Dan belum ngerasa siap.”

Rendra mengangguk pelan. Ia tidak mengejar dengan pertanyaan lanjutan.

“Masuk akal,” katanya singkat.

Lala meliriknya. “Kenapa?”

“Karena ga semua orang harus siap di waktu yang sama,” jawab Rendra. “Dan ga semua orang harus buru-buru.”

Jawaban itu membuat Lala terdiam. Ia tidak tahu apakah Rendra sedang bicara tentang dirinya, atau tentang dirinya sendiri.

Minuman mereka datang, memecah keheningan. Obrolan pun beralih ke hal lain tentang pekerjaan, tentang rekan kantor yang menyebalkan, tentang rencana akhir pekan yang belum tentu jadi.

Namun sejak pertanyaan itu terucap, ada sesuatu yang tertinggal di kepala Lala.

Malam itu, saat mereka berpisah di stasiun seperti biasa, Rendra hanya berkata, “Hati-hati,” seperti biasa. Tidak ada kelanjutan, tidak ada penegasan.

Lala melangkah pergi dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Tidak gelisah, tidak senang berlebihan hanya penuh dengan berbagai pikiran tentang obrolan mereka tadi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menyadari satu hal kecil kedekatan yang paling berbahaya bukan yang datang dengan pengakuan, melainkan yang tumbuh perlahan dan terasa aman.

Sesampainya di rumah, Lala tidak langsung masuk ke kamar seperti biasanya. Ia melihat mamanya masih duduk di ruang tengah, menonton televisi dengan volume sedang. Lala melangkah mendekat, lalu menunduk sedikit untuk salim sebelum ikut duduk di sisi sofa.

“Mah,” sapanya pelan.

“Iya,” jawab mamanya sambil tetap menatap layar. “Baru pulang?”

“Iyaa,” jawab Lala singkat. “Tadi keluar bentar. Biasa.”

Ia ikut menonton acara berita yang sedang ramai dibicarakan orang-orang. Namun fokusnya tidak sepenuhnya pada televisi. Ada rasa lelah yang masih menempel.

Beberapa menit berlalu dalam diam, sampai akhirnya mamanya memecah keheningan dengan pertanyaan yang selalu berhasil membuat Lala menegang.

“Kamu kapan mau kenalin pacar ke mama?”

Lala menghela napas pendek, seolah sudah menebak arah pembicaraan ini.

“Kapan-kapan, Mah,” jawabnya malas. “Pacar aja ga ada. Mau ngenalin siapa?”

Mamanya menoleh, menatap Lala lebih serius.

“Ini kamu sering keluar, pulang malem, mama liat kamu sering sama Rendra, kan?”

Lala langsung menoleh.

“Emang dia bukan pacar kamu?” lanjut mamanya, datar tapi penuh arti.

“Ihh, bukan!” jawab Lala agak cepat, nadanya naik tanpa ia sadari.

“Dia temen aku dari SMA, Mama juga tau itu.”

Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, wajahnya mulai terlihat kesal.

“Kenapa sih Mama nanyainnya ke situ terus?” sambungnya.

“Katanya ga mau buru-buruin aku buat nikah.”

Mamanya menghela napas pelan.

“Mama bukan buru-buruin kamu,” katanya lembut.

“Mama cuma mau bilang, kalo memang kamu belum punya pacar, anaknya temen Mama ada yang mau kenalan sama kamu.”

Lala langsung menggeleng.

“Aku ga tertarik, Mah.”

Ia bangkit dari sofa, perasaannya mendadak penuh.

Bukan marah lebih ke lelah.

Saat Lala mulai melangkah menuju kamar, suara mamanya kembali terdengar dari belakang.

“Kalo nanti kamu berubah pikiran, bilang ke Mama ya. Anaknya Tante Eva baik.”

Lala tidak menoleh. Ia melanjutkan langkahnya, memilih tidak menjawab. Pintu kamarnya tertutup pelan di belakangnya. Sesampainya di kamar, Lala menjatuhkan diri ke tepi kasur. Tangannya menekan wajah, napasnya sedikit memburu.

“Kenapa sih,” gumamnya kesal.

“Kenapa semua orang tiba-tiba bahas nikah.”

Ia menatap langit-langit kamar, merasa kepalanya penuh.

“Gue belum mau,” lanjutnya lirih. “Belum siap.”

Perasaan itu menumpuk obrolan dengan Rendra, pertanyaan soal masa depan, lalu ucapan mamanya barusan. Semuanya seperti datang bersamaan, tanpa memberi ruang untuknya bernapas.

Akhirnya Lala bangkit, berjalan menuju kamar mandi. Ia membuka keran, membiarkan air mengalir deras. Mungkin air bisa membantu meredakan emosi yang tak kunjung turun.

Atau setidaknya, memberi jeda sebelum pikirannya kembali bertanya hal yang sama

tentang waktu, kesiapan, dan hal-hal yang belum ingin ia hadapi sekarang.

Lala berdiri di bawah pancuran lebih lama dari biasanya. Air hangat mengalir di bahunya, turun ke punggung, tapi pikirannya tetap penuh. Suara air yang jatuh ke lantai kamar mandi tak sepenuhnya menenggelamkan kalimat-kalimat yang terus berputar di kepalanya.

Kapan mau nikah?

Udah kepikiran belum?

Emang ga mau?

Ia memejamkan mata, membiarkan air mengenai wajahnya. Bukan karena ingin menangis ia hanya butuh berhenti berpikir sebentar.

Selesai mandi, Lala mengganti pakaiannya dengan kaus longgar dan celana rumah. Rambutnya dibiarkan setengah basah, ia duduk di tepi kasur sambil mengeringkannya asal-asalan dengan handuk. Kamar itu sunyi, hanya lampu meja yang menyala temaram.

Ia merebahkan diri, menatap langit-langit.

Kenapa semua orang seolah punya jadwal yang sama soal hidupnya?

Lala tidak pernah bilang ia tidak mau menikah. Ia juga tidak membenci gagasan itu. Yang ia benci adalah perasaan seperti sedang dikejar seolah waktu adalah musuh, bukan sesuatu yang seharusnya dijalani.

Pikirannya melayang pada Rendra.

Pertanyaannya sore tadi terlintas kembali, sederhana, tanpa tekanan. Tidak menghakimi, tidak mendesak. Hanya ingin tahu.

Lo kepikiran nikah ga sih?

Berbeda dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang selama ini ia dengar.

Lala memiringkan tubuhnya, meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Layar menyala, memperlihatkan nama Rendra di deretan chat teratas. Tidak ada pesan baru. Ia juga tidak berniat mengirim apapun.

Ia hanya menatap nama itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Bukan karena rindu. Bukan juga karena berharap.

Atau mungkin justru karena ia belum siap mengakui salah satunya.

Lala menghela napas pelan, lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Pandangannya kembali ke langit-langit kamar yang terlihat samar dalam cahaya lampu meja.

Ia tidak pernah menolak masa depan. Ia hanya belum ingin dipaksa sampai ke sana.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, pertanyaan soal menikah tidak langsung ia tepis. Tidak ia dorong menjauh seperti biasanya. Pertanyaan itu bertahan, menggantung di kepalanya tidak menakutkan, tapi juga belum bisa dijawab.

Dan di tengah keheningan kamar, Lala menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa sedikit sesak. bahwa ada seseorang yang kini berani menanyakan hal-hal yang selama ini ia hindari, dan entah sejak kapan...

ia membiarkannya.

Rendra duduk di ruang tamu rumahnya dengan lampu yang tidak ia nyalakan sepenuhnya. Hanya satu lampu kecil di sudut ruangan yang menyala, cukup untuk menerangi meja kopi dan sofa tempat ia duduk. Jaketnya masih tergeletak sembarangan, helm belum sempat ia simpan.

Ia menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Layar sudah mati, tapi nama Lala masih terasa tertinggal di kepalanya. Pertanyaannya tadi terulang lagi, lebih keras dari yang ia kira.

Lo kepikiran nikah ga sih?

Rendra menghela napas panjang, menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Ia tidak merencanakan pertanyaan itu. Tidak ada maksud khusus. Setidaknya begitu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri.

Tapi kenyataannya, pertanyaan itu keluar terlalu mudah. Ia memejamkan mata sebentar. Bukan Lala yang membuatnya berpikir soal menikah. Pikiran itu sudah ada sejak lama jauh sebelum ia putus, jauh sebelum kondangan sore tadi. Hanya saja, bersama Lala, pertanyaan itu terasa… aman untuk diucapkan.

Rendra membuka ponselnya lagi, membuka chat dengan Lala. Tidak ada pesan baru. Ia mengetik sesuatu, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu berhenti.

Ia tidak ingin terdengar sok penting. Tidak ingin terlihat menekan. Ia tahu betul seperti apa rasanya ketika hidup terasa seperti dikejar-kejar waktu.

Ia berdiri, berjalan ke dapur, menuang segelas air putih. Saat kembali ke sofa, pikirannya melayang ke senyum Lala sore tadi. Bukan senyum yang dibuat-buat, bukan yang dipaksakan untuk terlihat baik-baik saja. Senyum kecil yang muncul tanpa usaha.

Dia belum siap, pikir Rendra. Dan entah kenapa, itu tidak mengecewakannya.

Justru membuatnya ingin lebih berhati-hati.

Rendra menyesap airnya perlahan. Ia sadar satu hal yang tidak ia ucapkan pada siapa pun bahwa kedekatannya dengan Lala tidak ia perlakukan seperti pelarian. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. menggenggam sesuatu terlalu erat, terlalu cepat.

Untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, Rendra tidak merasa perlu memastikan apa

pun. Ia hanya tahu satu hal malam itu.

bahwa ada seseorang yang membuatnya ingin berjalan lebih pelan,

bukan untuk mengejar,

tapi agar tidak kehilangan.

Dan dengan pikiran itu, Rendra kembali menatap ponselnya masih tanpa pesan, masih tanpa jawaban membiarkan malam berjalan seperti adanya.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
Anonymous
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
Anonymous
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!