NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Aroma Pagi, Kerupuk Kaleng, dan Sesuatu yang Mulai Berubah

Pagi di Bandung itu selalu punya cara untuk membuat orang merasa seperti sedang berada di dalam sebuah lagu lama. Dinginnya tidak jahat, tapi merasuk pelan-pelan lewat pori-pori jaket, meminta kita untuk segera mencari teh hangat atau sekadar pelukan yang tidak mungkin didapatkan dari guling. Saya memacu Si Kumbang menyusuri Jalan Pajajaran. Suaranya yang batuk-batuk kecil seolah sedang memprotes kenapa saya harus bangun sepagi ini hanya untuk mengejar upacara bendera yang isinya cuma mendengarkan amanat pembina tentang pentingnya memotong kuku.

"Sabar, Kumbang. Kita harus sampai sebelum gerbang ditutup oleh Pak Satpam yang kumisnya mirip sikat WC itu," gumam saya sambil memutar gas lebih dalam.

Di depan gerbang sekolah, saya melihat pemandangan yang membuat jantung saya sedikit bergeser dari posisinya. Arkan baru saja sampai dengan motor besarnya. Dan di belakangnya, turunlah seorang gadis dengan seragam yang sangat rapi, dasi yang terpasang sempurna, dan wajah yang sepertinya sudah siap untuk jadi bintang iklan sabun cuci muka di televisi.

Itu Kayla. Dia berangkat bareng Arkan.

Saya memperlambat laju Si Kumbang, berusaha tetap terlihat keren meski motor saya sedang mengeluarkan asap tipis dari knalpotnya. Saya memarkir motor di pojokan, tempat biasa para pecundang—maksud saya, para pengamat—memarkir kendaraannya agar tidak terlihat oleh guru piket.

"Pagi, Bumi!" Kayla melambai ke arah saya setelah melepas helm Arkan yang harganya mungkin bisa buat beli sepuluh unit Si Kumbang.

"Pagi, Kay. Tumben berangkat pagi? Biasanya kamu baru muncul pas bel bunyi, bareng sama datangnya lalat-lalat kantin," kata saya sambil melepas helm.

Kayla tertawa, tapi Arkan yang menyahut duluan. "Tadi saya jemput lebih pagi, Bumi. Biar dia bisa sarapan dulu di depan sekolah. Bubur ayam Mang Oleh enak lho, kamu harus coba kapan-kapan."

Saya menatap Arkan. Senyumnya itu, ya Tuhan, kenapa harus serapi itu? "Saya sudah sarapan di rumah, Kan. Sarapan doa dari ibu saya, lebih mengenyangkan daripada bubur ayam mana pun."

Kayla mencubit lengan saya pelan. "Kamu itu ya, pagi-pagi sudah kumat anehnya. Ayo masuk, bentar lagi upacara."

Kami berjalan bertiga menuju lapangan. Saya di sebelah kiri Kayla, Arkan di sebelah kanannya. Saya merasa seperti sebuah pengawal yang sedang mengapit seorang putri, tapi masalahnya, sang putri sepertinya lebih banyak menoleh ke arah pengawal di sebelah kanan. Mereka bicara tentang rapat semalam. Tentang bagaimana mereka harus menghubungi pihak sponsor untuk acara pensi.

"Bumi, nanti pas upacara jangan melamun terus ya. Kemarin kamu hampir saja hormat ke arah pohon mangga, bukannya ke bendera," goda Kayla sambil menyenggol bahu saya.

"Pohon mangga itu juga ciptaan Tuhan, Kay. Dia juga butuh dihormati karena sudah memberikan kita oksigen secara gratis tanpa minta bayaran sepeser pun," jawab saya membela diri.

Upacara dimulai. Panas matahari mulai terasa menyengat di ubun-ubun. Saya berdiri di barisan belakang, tepat di belakang Kayla. Dari posisi ini, saya bisa melihat tengkuknya yang sedikit berkeringat. Saya ingin sekali mengambil sapu tangan dari saku dan mengusapnya, tapi saya sadar, saya bukan Dilan yang punya keberanian seluas samudra untuk melakukan hal-hal manis di depan orang banyak. Saya cuma Bumi, yang keberaniannya hanya sebatas menuliskan namanya di halaman belakang buku tulis Fisika.

Di tengah pidato Pak Kepala Sekolah yang sudah masuk ke menit ke-20 dan mulai membahas tentang kebersihan toilet, saya melihat Arkan yang berdiri di barisan sebelah, sesekali mencuri pandang ke arah Kayla. Dia tersenyum saat Kayla menoleh padanya karena kepanasan. Mereka seperti punya bahasa isyarat sendiri yang tidak saya pahami.

Selesai upacara, kami berhamburan menuju kelas. Hausnya minta ampun. Saya langsung menuju kantin, tapi langkah saya terhenti saat melihat Kayla dan Arkan sudah duduk di pojokan kantin, di depan kaleng kerupuk besar yang warnanya sudah pudar.

"Bumi! Sini!" teriak Kayla.

Saya mendekat dengan malas. Di meja itu sudah ada tiga gelas es teh manis.

"Ini buat kamu, tadi aku pesenin sekalian," kata Kayla sambil menyodorkan satu gelas ke arah saya.

"Terima kasih, Kay. Kamu memang tahu kalau Bumi itu butuh air supaya tidak retak-retak," kata saya sambil meminum es teh itu dalam sekali teguk.

"Pelan-pelan, Bumi. Nanti tersedak," Arkan mengingatkan dengan nada yang—sekali lagi—terlalu sopan.

"Saya sudah biasa tersedak, Kan. Tersedak kenyataan yang pahit saja saya kuat, apalagi cuma tersedak es teh," jawab saya sambil menaruh gelas yang sudah kosong.

Kami duduk bertiga. Suasana kantin yang berisik sebenarnya adalah tempat favorit saya untuk bicara berdua dengan Kayla. Tapi sekarang, ada Arkan di antara kami. Dia mulai bercerita tentang masa kecilnya di Jakarta. Tentang sekolahnya yang lama, tentang teman-temannya yang kaya, dan tentang hobi mahalnya bermain golf.

Kayla mendengarkan dengan mata berbinar. "Wah, golf ya? Kayaknya susah ya pukul bolanya?"

"Nanti kapan-kapan aku ajarin, Kay. Seru kok, melatih fokus," kata Arkan.

Saya cuma bisa memainkan sedotan di gelas saya. Golf? Apa serunya memukul bola kecil masuk ke lubang di tanah luas? Di kampung saya dulu, kami main kelereng di atas tanah becek, dan itu jauh lebih seru karena ada risiko kelereng kita hilang ditelan bumi kalau kita kalah.

"Bumi, kamu hobi apa?" Arkan tiba-tiba bertanya pada saya. Sepertinya dia merasa bersalah karena sudah terlalu lama memonopoli percakapan.

"Hobi saya? Menghitung berapa kali Kayla berkedip dalam satu menit," jawab saya serius.

Kayla tersipu. Mukanya memerah seperti tomat yang baru matang. "Bumi! Apaan sih, malu-maluin aja."

Arkan tertawa paksa. "Kamu memang unik ya, Bumi. Pantas Kayla bilang kamu itu spesial."

Kata 'spesial' itu seharusnya membuat saya senang, tapi entah kenapa, keluar dari mulut Arkan rasanya seperti makanan sisa yang sudah dihangatkan berkali-kali. Tidak ada rasanya.

"Spesial itu untuk martabak, Kan. Kalau saya ini cuma manusia biasa yang kebetulan lahir di planet yang namanya sama dengan nama saya sendiri," kata saya sambil berdiri. "Saya duluan ya, mau ke perpustakaan. Ada buku yang harus saya temui."

"Buku apa?" tanya Kayla.

"Buku tentang cara menghadapi orang yang terlalu sopan," kata saya sambil melenggang pergi tanpa menoleh lagi.

Di perpustakaan yang sepi dan bau kertas tua, saya duduk di pojokan. Saya tidak benar-benar mencari buku. Saya cuma ingin sendiri. Saya memandangi rak-rak buku yang tinggi, memikirkan bagaimana caranya agar saya tidak terlihat menyedihkan di depan mereka.

Saya menyadari bahwa dunia saya dan dunia Kayla mulai terbelah. Dulu, dunia kami adalah dunia anak-anak yang sederhana. Sekarang, Kayla sedang ditarik menuju dunia orang dewasa yang penuh dengan organisasi, rencana masa depan, dan orang-orang seperti Arkan. Sementara saya, saya masih tertinggal di dunia saya yang lambat, yang lebih suka memperhatikan bagaimana semut membawa remah roti daripada memikirkan anggaran pensi.

"Apa saya harus berubah?" tanya saya pada diri sendiri.

Lalu saya teringat kata-kata Kayla kemarin, bahwa dia betah berteman dengan saya karena saya tidak pernah meminta apa-apa darinya dan saya selalu ada sebagai 'kursi tua yang nyaman'. Kalau saya berubah jadi seperti Arkan, apakah Kayla masih akan merasa nyaman dengan saya? Atau malah dia akan merasa asing?

Tiba-tiba, ada seseorang yang duduk di depan saya. Bukan Kayla. Tapi Dara, siswi pendiam yang kemarin saya lihat di perpustakaan. Dia sedang membaca buku tebal tentang astronomi.

"Kamu Bumi, kan?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

"Iya. Kok tahu?"

"Semua orang tahu siapa kamu. Kamu itu satu-satunya orang di sekolah ini yang berani mendebat Pak Subagyo sampai beliau hampir kena stroke ringan," kata Dara datar.

Saya tersenyum tipis. "Itu bukan debat, Dara. Itu namanya klarifikasi ilmiah."

Dara menutup bukunya, lalu menatap saya dengan tatapan yang sangat dalam. Matanya tajam, seperti bisa melihat apa yang sedang saya sembunyikan di balik seragam sekolah saya yang sedikit berantakan ini.

"Kamu sedang sedih ya?" tanyanya.

"Sedih? Tidak. Saya cuma sedang mengamati bagaimana debu-debu ini jatuh ke lantai," jawab saya, berusaha kembali ke karakter saya yang biasa.

"Jangan bohong pada diri sendiri, Bumi. Menjadi Bumi itu memang berat, tapi kamu tidak harus menanggung semua bebannya sendirian. Kadang, kamu butuh hujan untuk membersihkan permukaanmu yang kotor oleh ego," kata Dara, lalu dia berdiri dan pergi meninggalkan saya yang terpaku.

Kata-kata Dara barusan rasanya seperti tamparan halus di wajah saya. Ternyata, ada orang lain yang memperhatikan saya. Orang yang bahkan tidak pernah saya sadari keberadaannya.

Saya keluar dari perpustakaan dengan pikiran yang semakin penuh. Di koridor, saya berpapasan lagi dengan Kayla. Dia sedang sendirian, sepertinya habis dari ruang guru.

"Bumi! Tadi kamu ke mana saja? Aku cariin di kantin sudah tidak ada," katanya sambil menghampiri saya.

"Kan tadi saya bilang mau ke perpustakaan, Kay. Kamu saja yang terlalu sibuk dengerin cerita golf-nya Arkan sampai tidak dengar kata-kata saya," kata saya, ada sedikit nada cemburu yang gagal saya sembunyikan.

Kayla berhenti jalan. Dia menatap saya dengan raut wajah yang serius. "Bumi, kamu marah ya sama Arkan? Atau sama aku?"

"Buat apa marah? Tidak ada gunanya marah-marah di sekolah yang SPP-nya makin mahal ini," jawab saya sambil terus berjalan.

Kayla menarik tas saya, memaksa saya untuk berhenti. "Bumi, lihat aku. Arkan itu cuma teman baru. Dia baik, dia bantu aku di mading. Tapi dia tidak akan pernah bisa menggantikan kamu. Kamu itu... ya kamu. Sahabatku yang paling aneh sedunia."

Saya menatap mata Kayla. Kejujurannya selalu berhasil meruntuhkan tembok pertahanan saya. "Iya, Kay. Saya tahu. Cuma terkadang, menjadi 'sahabat yang paling aneh' itu melelahkan kalau harus bersaing dengan 'ketua mading yang paling sempurna'."

Kayla tersenyum manis, lalu dia merapikan dasi saya yang miring. "Kamu tidak perlu bersaing sama siapa pun, Bumi. Karena di dunia ini, cuma ada satu Bumi Aksara. Dan aku suka Bumi yang sekarang."

Kalimat itu, meski sederhana, cukup untuk membuat hari saya yang mendung jadi sedikit lebih terang. Saya tahu badai belum benar-benar lewat, tapi setidaknya untuk saat ini, saya tahu di mana posisi saya di hati Kayla.

"Ya sudah, ayo masuk kelas. Nanti Pak Subagyo bisa benar-benar stroke kalau lihat kita telat lagi," ajak saya.

Kami berjalan beriringan menuju kelas. Sore itu, sekolah terasa sedikit lebih bersahabat. Saya tahu akan ada banyak kerikil di jalanan kami. Tapi selama Kayla masih mau merapikan dasi saya, saya rasa saya masih sanggup untuk terus berputar mengelilingi dunianya.

Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa cemburu itu wajar, tapi kehilangan kepercayaan pada diri sendiri itu jangan sampai. Karena matahari memang indah, tapi tanpa Bumi yang menampungnya, cahaya matahari tidak akan pernah punya tempat untuk hinggap.

1
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!