Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Bukan Persahabatan! Tapi Penyiksaan
Apartemen Takara sore itu terasa lebih tenang, namun ada ketegangan yang halus menyusup di antara persiapan mereka. Hari ini adalah malam akrab agensi, sebuah acara yang seharusnya menjadi perayaan keberhasilan proyek, namun bagi Takara, ini adalah medan pembuktian bahwa ia sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus bersandar pada sosok Jake.
Takara berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan gaun sutra berwarna sage green yang elegan namun santai, memberikan kesan segar pada tubuhnya yang sedikit lebih kurus setelah keluar dari rumah sakit. Warnanya sangat senada dengan kemeja earth tone yang dikenakan Arlo.
"Sudah siap?" tanya Arlo, muncul dari balik pintu kamar yang terbuka. Ia tampak sangat tampan dengan rambut yang ditata rapi, menunjukkan aura profesional sekaligus hangat.
Takara tersenyum tipis, tangannya sibuk berkutat dengan pengait kalung emas tipis di lehernya. "Sebentar, pengaitnya agak susah..."
Tanpa diminta, Arlo melangkah mendekat.
"Biar aku bantu," ucapnya lembut.
Takara terdiam, membiarkan Arlo berdiri di belakangnya. Saat jemari Arlo yang hangat bersentuhan dengan kulit lehernya, sebuah deja vu menghantam Takara dengan keras.
Ingatan itu muncul tanpa permisi: Jake, dengan tawa kecilnya yang khas, selalu menjadi orang yang memasangkan kalung untuknya sejak mereka remaja. Jake yang selalu protes karena rambut Takara sering tersangkut di pengait, atau Jake yang sengaja meniup tengkuknya hanya untuk melihat Takara merinding.
Gestur Arlo saat ini sangat mirip. Cara pria itu memosisikan tangan, konsentrasi di wajahnya, hingga jarak napas yang terasa di bahu Takara, semuanya mengingatkannya pada Jake.
"Kenapa semuanya harus terasa seperti dia?" batin Takara perih. Ia segera memejamkan mata, mencoba menghapus bayangan Jake dan fokus pada pria yang nyata ada di belakangnya sekarang.
"Selesai," bisik Arlo, memberikan tepukan ringan di bahu Takara setelah kalung itu terpasang sempurna. "Kamu cantik banget malam ini, Ra."
"Makasih, Arlo," sahut Takara, memaksakan diri untuk menatap mata Arlo lewat pantulan cermin. Ia harus yakin. Ia harus percaya bahwa kehangatan Arlo adalah apa yang ia butuhkan sekarang, bukan gairah yang menyakitkan dari masa lalunya.
Mereka berangkat menuju lokasi acara dengan tangan yang saling bertautan di dalam mobil. Arlo tidak melepaskan genggamannya, seolah tahu bahwa Takara sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menghadapi malam ini.
Aula utama agensi sudah dipenuhi oleh jajaran direksi, staf proyek, dan tentu saja, para member ENHYPEN. Suasana meriah dengan denting gelas sampanye dan musik latar yang upbeat.
Begitu Takara dan Arlo melangkah masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka. Pasangan arsitek yang serasi. Namun, satu pasang mata di ujung ruangan membeku.
Jake, yang sedang berbincang dengan salah satu produser, mendadak kehilangan fokusnya. Ia melihat Takara. Ia melihat bagaimana Takara berjalan dengan anggun, dan ia melihat bagaimana tangan Arlo melingkar di pinggang Takara dengan sikap posesif yang sangat natural.
"Jake, itu Takara, kan? Dia sudah sehat?" tanya Heeseung yang berdiri di sampingnya.
Jake tidak menjawab. Dadanya terasa sesak melihat kalung emas itu melingkar di leher Takara. Ia mengenali kalung itu. Itu adalah kalung yang ia berikan sebagai kado ulang tahun Takara dua tahun lalu. Dan malam ini, pria lain yang memastikan kalung itu terpasang dengan benar.
Angin malam di rooftop gedung agensi berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Takara yang terurai. Ia sengaja melarikan diri ke sini, mencari oksigen di tengah atmosfer aula yang terasa mencekik.
Arlo baru saja dipanggil oleh CEO untuk membicarakan kelanjutan kontrak pengerjaan interior kantor cabang, dan Takara memanfaatkan celah itu untuk menyepi.
Suara langkah kaki di atas dek kayu membuatnya menoleh sedikit, menyangka itu adalah Arlo yang sudah selesai dengan urusannya.
"Arlo udah selesai bicara?" tanya Takara tanpa menoleh sepenuhnya.
Hening. Tidak ada jawaban.
Takara mengerutkan kening dan memutar tubuhnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok yang berdiri hanya beberapa meter darinya bukanlah Arlo. Jake berdiri di sana, masih dengan setelan jas rapi untuk penampilannya nanti, namun wajahnya tampak hancur. Sorot matanya menunjukkan luka yang lebih dalam daripada yang pernah Takara lihat sebelumnya.
Pandangan mereka bertemu. Cukup lama. Tanpa kata, hanya suara bising kota Seoul di kejauhan yang mengisi ruang di antara mereka.
"Setiba-tiba itukah kita berhenti menjadi sahabat?" tanya Jake akhirnya. Suaranya serak, penuh dengan frustrasi yang sudah memuncak di ubun-ubun.
Takara mengepalkan tangannya di balik gaun satinnya. Ia menarik napas panjang, mencoba tetap tegak. "Iya. Lagipula... mana ada sahabat yang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri, Jake?"
Mendengar jawaban dingin itu, pertahanan Jake runtuh. Pria yang biasanya berdiri angkuh di atas panggung megah itu kini melakukan sesuatu yang tak pernah Takara bayangkan. Jake perlahan berlutut, bersimpuh di hadapan Takara.
"Gak bisakah kita kembali seperti dulu?" tanya Jake lirih, matanya menatap Takara dengan penuh permohonan. "Gue nggak siap kehilangan lo, Ra. Gue nggak peduli soal perasaan itu, asalkan lo tetep ada di samping gue sebagai sahabat gue."
Takara tertawa pahit, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia menatap Jake yang bersimpuh di kakinya, pemandangan yang seharusnya membuatnya merasa dicintai, namun kini justru terasa sangat menyakitkan.
"Gak bisa, Jake. Gak bisa," ucap Takara tegas meski suaranya bergetar. "Perasaan ini cuma sepihak, dan menurut lo, gue bakal bisa diem aja? Lo mau gue tetep jadi sahabat lo, liat lo dikejar-kejar jutaan fans, denger lo cerita soal cewek lain suatu saat nanti, sementara hati gue hancur tiap detik? Itu bukan persahabatan, Jake. Itu penyiksaan."
Jake menundukkan kepalanya, tangannya mencengkeram lututnya sendiri. "Tapi lo sama Arlo sekarang... itu cuma pelampiasan kan? Lo cuma mau lari dari gue?"
Takara terdiam sejenak. Ia teringat kehangatan dada Arlo malam itu. "Mungkin awalnya iya. Tapi Arlo ngasih apa yang nggak pernah bisa lo kasih, Jake. Keberadaan. Dia ada di sana pas gue mimisan, dia ada di sana pas gue takut. Dia nggak perlu sembunyi di balik masker buat genggam tangan gue."
Takara melangkah mundur, menjauh dari jangkauan Jake.
"Bangun, Jake. Jangan rendahin diri lo begini. Lo itu idola dunia. Dan gue... gue cuma arsitek yang akhirnya sadar kalau rumah gue bukan di lo lagi."
Tepat saat itu, pintu rooftop terbuka. Arlo berdiri di sana, menatap tajam ke arah Jake yang masih bersimpuh dan Takara yang sedang menghapus air mata.
Pertikaian itu pecah secepat kilat. Arlo segera melangkah maju, memosisikan tubuhnya yang tegap sebagai tameng di depan Takara. Ia menatap Jake dengan tatapan yang tidak lagi ramah, melainkan tatapan seorang pria yang sedang melindungi miliknya.
"Gue mau ngomong sama Takara," kata Jake, suaranya naik satu oktav. Matanya merah, bukan hanya karena air mata yang sempat menggenang, tapi karena api cemburu yang membakar harga dirinya sebagai seorang pria.
Arlo tidak bergeming. "Ngomong aja, tapi jaga jarak lo. Jangan bikin dia makin tertekan," ucap Arlo dengan nada dingin yang menusuk.
Bagi Jake, ketenangan Arlo adalah ejekan. Ia merasa pria di depannya ini sedang meremehkan ikatan belasan tahun yang ia punya dengan Takara. Rasa frustrasi karena ditolak, lelah karena jadwal syuting, dan emosi yang meledak setelah bersimpuh tadi menyatu menjadi satu dorongan nekat.
BUKK!
Satu pukulan mentah mendarat di rahang Arlo. Jake sudah kehilangan akal sehatnya. Arlo tersentak ke samping, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah. Namun, Arlo bukan pria yang akan diam saja jika dipukul. Dengan kecepatan yang sama, ia membalas pukulan Jake tepat di tulang pipi.
BUKK!
"Jake! Arlo! Berhenti!" teriak Takara, suaranya melengking di tengah sunyinya rooftop.
Kedua pria itu saling cengkeram kerah kemeja. Jake mencoba melayangkan pukulan kedua, sementara Arlo mencoba mengunci pergerakan Jake. Mereka bergumul di dekat pagar pembatas, mengabaikan fakta bahwa salah satu dari mereka adalah aset berharga sebuah agensi raksasa.
"Lo nggak tahu apa-apa soal kita!" bentak Jake sambil mencoba melepaskan cengkeraman Arlo.
"Gue tahu lo cuma nyakitin dia!" balas Arlo dengan teriakan yang tak kalah kencang.
Takara tidak punya pilihan lain. Ia berlari ke tengah, menerobos di antara kedua pria itu dan mendorong dada mereka sekuat tenaga dengan tangan yang gemetar.
"STOP! CUKUP!" Takara berteriak dengan napas memburu.
Kedua pria itu terengah-engah, saling melepaskan cengkeraman dengan kasar. Jake mundur beberapa langkah, menyeka darah di pipinya dengan punggung tangan, matanya masih menatap Arlo dengan penuh kebencian. Sementara itu, Arlo berdiri di samping Takara, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.
"Kalian sadar nggak apa yang kalian lakuin?" suara Takara bergetar, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah. "Jake, lo idol! Kalau ada staf atau media yang liat lo berantem di sini, karier lo tamat! Dan Arlo... ini bukan cara nyelesain masalah!"
Takara menatap Jake dengan pandangan yang menyakitkan. "Lo bilang mau gue balik jadi sahabat lo? Sahabat mana yang mukul pacar sahabatnya sendiri, Jake? Pergi, Jake. Pergi sebelum gue bener-bener benci sama lo."
Jake mematung. Kata 'benci' dari mulut Takara terasa lebih menyakitkan daripada pukulan Arlo tadi. Ia menatap Takara, lalu beralih ke Arlo yang kini memegang tangan Takara dengan protektif.
"Ra... gue cuma—"
"Pergi, Jake. Manajer lo pasti nyariin lo," potong Takara dingin.