NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Tersembunyi

Sepasang kaki berbalut sepatu berjalan menuju arah yang tak pernah berubah. Rambutnya yang semula digulung rapi, kini sedikit berantakan dengan beberapa helai yang terlepas dari ikatannya. Tangannya beberapa kali sibuk menyelipkannya di balik daun telinga.

Untuk kesekian kalinya dia berkunjung ke pintu ini. Entah untuk sekedar mengantarkan obat atau mengganti infus, semua perawat mendadak sibuk kecuali Alana. Bangsal 505 sepertinya memang dikhususkan untuk Alana.

Setelah sempat mengetuk pintu sebanyak tiga kali, Alana langsung masuk seperti biasa. Langkahnya tampak ringan seperti yang sudah-sudah. Seolah kamar ini sudah menjadi tujuan utamanya setiap dia sampai di rumah sakit.

"Permisi, Pak Kinan. Hari ini anda harus melakukan terapi--"

Ucapan Alana terpotong begitu dia menaikkan pandangannya dari lembaran di balik map yang dia bawa. Matanya terkunci pada satu arah yang membuatnya terdiam. Mendelik dengan tatapan kosong, jelas dia terkejut.

Setelah tersadar, buru-buru dia kembali membalikkan badannya menghadap dinding. "M-maaf, Pak. Saya nggak tahu kalau Bapak sedang ganti baju."

Berbeda dengan Alana yang panik setengah mati, Kinan malah kembali menautkan kancing baju pasiennya dengan santai. Toh, dia sudah selesai berpakaian begitu Alana masuk tadi. Tapi perbuatan Alana tentu bukan hal yang dapat dimaklumi begitu saja.

"Suster nggak lihat kalau tirai kamar saya tertutup?" tanya Kinan setelah membenahi posisi bajunya. Suaranya dingin, entah karena marah atau memang tabiatnya yang seperti itu.

Mendengar itu, Alana lantas mendongak. Dia menoleh pada jajaran kaca yang seharusnya menyalurkan sinar matahari dari luar. Benar saja, tirai yang biasanya terikat di setiap sisi kacanya kini tertutup rapat. Hanya lampu kamar yang menjadi sumber cahaya utama.

"Maaf, Pak. Saya terlalu fokus sama catatan medis yang ada di tangan saya. Jadi nggak lihat kalau tirainya tertutup."

Setelahnya, terdengar roda tiang infus yang bergerak di balik tubuhnya. Dari suaranya yang kian nyaring, Alana tahu bahwa Kinan semakin mendekatinya. Entah apa yang pria itu lakukan padanya.

"Mau sampai kapan Suster berdiri di situ? Bukannya harus mengantar saya terapi?" tanya Kinan.

Alana kembali menoleh dan mendapati Kinan yang sudah berpakaian lengkap, tak compang-camping seperti sebelumnya. Dengan begitu, Alana langsung meraih kursi roda yang memang tersedia di kamar Kinan dan meminta Kinan duduk di sana.

"Saya bisa jalan sendiri," tolak Kinan.

"Tapi, ini sudah prosedur rumah sakit, Pak," jelas Alana.

Perempuan itu tersenyum ramah, meski sebelumnya dia memang sempat berbuat kesalahan dan meminta maaf dengan canggung. "Silakan duduk, Pak. Biar saya antar."

...****************...

Pintu ruangan psikologi klinis sudah ada di depan mata. Alana mengentikan kursi roda yang diduduki Kinan. Perempuan itu sedikit menunduk guna mengunci roda yang mungkin akan tergelincir dengan sendirinya.

"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya mau ngasih berkasnya kedalam dulu," pamit Alana.

Begitu punggung Alana menghilang di balik pintu putih di depan sana, Kinan menundukkan kepalanya. Hea nafasnya terdengar begitu berat. Entah apa yang terjadi padanya hingga Ella akhirnya harus memasukkannya ke dalam jajaran pasien yang harus mengunjungi tempat ini.

Senyum getir menghiasi wajahnya yang tampak kosong sejak malam di mana dia kehilangan separuh hatinya dalam kecelakaan itu. Masa yang sebenarnya tak ingin dia ingat namun selalu terbayang dan terputar bagai film setiap malam sebelum dirinya menutup mata.

"Masih lama nggak ya, Mbak?"

Terdengar suara Alana bersama dengan seberkas cahaya yang melesak di antara celah pintu yang kembali terbuka. Kini Alana tak muncul seorang diri, melainkan ada seorang perawat lain yang tampak memegang dokumen data Kinan di tangannya.

"Tinggal tunggu Dokter Tifa siap-siap aja di dalam, sebentar lagi juga selesai. Hari ini cuma pasien kamu kok yang daftar," sahut seorang perawat lain.

Alana tersenyum kecil. "Makasih ya, Mbak."

Setelah perawat tadi kembali masuk ke dalam ruangan, Alana kembali menghampiri Kinan. Perempuan itu berlutut di depan kursi roda milik Kinan. Dia mendongak dan tersenyum kecil pada pasien yang sudah hampir satu bulan tak pernah absen dari pandangan Alana.

Kedua tangannya bertumpu di atas pahanya sendiri sambil berkata, "Sebentar lagi, Pak Kinan akan masuk sama perawat yang ada di dalam. Nanti saya tunggu di sini sampai tindakannya selesai, lalu saya antar kembali ke kamar."

Sempat hening sejenak di antara mereka. Alan pikir, mungkin karena Kinan yang sedikit gugup karena ini kali pertama dia akan bertemu dengan seorang psikolog. Meski begitu, matanya menatap Alana dengan tatapan datar.

Mendapati itu, Alana kembali mendekat sembari masih bersimpuh pada lututnya. "Bapak nggak perlu takut, di dalam sana Pak Kinan hanya perlu menjawab pertanyaan dari Dokter Tifa."

"Siapa bilang saya takut?" sahut Kinan. Suaranya datar menggema di antara ruang tunggu poli yang lebih sunyi dari biasanya. Lebih datar dari dinding-dinding dingin yang tersentuh oleh hangatnya sinar matahari di balik kaca besar.

Alana mengangkat alisnya. "Hah?"

Kinan menelengkan kepalanya, melirik pada lutut Alana yang masih bersimpuh di atas lantai. "Suster nggak perlu berlutut gitu," ujarnya.

Mendengar itu, Alana menundukkan kepalanya dan ikut melihat pada kedua lututnya yang bertumpu pada lantai yang keras. Belum lagi sepasang tangan dengan jemari yang menggenggam erat di atas pahanya berlapis celana bahan berwarna putih.

Perempuan itu meringis samar. Memang perlakuannya ini tampak sedikit berlebihan. Kinan bukan lagi anak kecil yang perlu ditenangkan dengan cara seperti ini. Sepertinya Alana sudah mulai kehilangan akal sehatnya.

Tepat saat itu juga, perawat yang sebelumnya berbicara dengan Alana pun keluar. "Mari, Pak Kinan. Saya antar ke dalam."

Setelahnya, kursi roda Kinan kembali bergulir memasuki ruangan yang tertutup oleh pintu putih. Meninggalkan Alana yang masih asyik merutuki dirinya sendiri sambil membenturkan kepalanya di permukaan kursi baja dingin di sampingnya.

"Kenapa kayak gitu sih, Lan?! Berlebihan banget!" tegurnya pada diri sendiri.

Lututnya tak lagi bersimpuh pada permukaan lantai. Kini dia benar-benar terduduk di atasnya sambil masih menumpukan dahinya pada permukaan kursi baja berwarna hitam.

"Kamu mau sampai kapan duduk di situ?" tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.

Alana menoleh pada perawat yang sempat berbincang dengannya sekaligus yang membawa Kinan masuk ke dalam sana. Senyumannya hangat pada Alana sambil menyodorkan sebuah permen kacang dari dalam sakunya.

"Nih, hasil aku nyolong dari meja Dokter Tifa," katanya.

Alana menerima permen itu meski tak langsung memakannya. "Makasih, Mbak," katanya sambil naik ke kursi.

Wanita tadi lantas duduk di kursi baja di samping Alana, menimbulkan derit pelan di antara koridor yang sepi. Krasak-krusuk bungkus permen yang dibuka lantas menyapa pendengaran mereka. Membunuh sunyi yang terdengar sangat tidak nyaman.

"Pasien kecelakaan?" tanyanya pada Alana.

Alana mengangguk. "Sekitar beberapa minggu yang lalu. Datang dalam kondisi pingsan dan perdarahan luar, untung bisa selamat."

Wanita tadi menganggukkan kepalanya beberapa kali. Matanya sesekali melirik ke arah Alana yang tampak lebih lelah dari yang terakhir kali dia temui. Rambutnya lepek tak karuan, begitu juga sol sepatunya yang tampak lebih tipis.

"Dia yang katanya dekat sama kamu?" tanyanya lagi.

Mendengar itu, Alana mengurungkan niatnya untuk membuka bungkus permen. Dia tersenyum masam bersama tawa palsu yang menguar dari bibirnya. "Ternyata sudah sampai sini juga rumornya."

"Bener?" tanya wanita itu lagi.

Alana menaikkan bahunya. "Ya... begitulah!"

"Kayaknya aku orang pertama yang percaya kalau kalian memang nggak ada hubungan apa-apa, Lan," ucap perawat itu sambil tersenyum pongah.

"Kenapa begitu?" tanya Alana dengan tawa kecil.

Wanita itu menarik nafasnya dan melemparkan punggungnya pada sandaran kursi. "Percaya, nggak percaya.... Aku termasuk dari jajaran tenaga medis yang datang ke lokasi."

"Hari itu dia nggak sendirian, sama tunangannya katanya."

"Tunangan?" beo Alana.

Wanita itu mengangguk. "Sayangnya, tunangan dia meninggal di tempat. Terjepit di dalam mobil dan mobilnya kebakar tepat beberapa menit setelah kecelakaan."

Alana meringis pelan. "Kasihan...," gumamnya.

"Tapi yang ditinggalkan...," Perawat tadi menunjuk pintu putih di mana terdengar suara isakan lirih dari dalamnya. "dia harus bertaruh dengan trauma yang hinggap dalam dirinya sejak malam itu, tanpa dia sadari."

Tepat setelahnya, Alana hanya dapat mendengar isakan kecil di antara sunyi. Entah berapa banyak air mata yang jatuh, tapi suara itu terdengar begitu pilu. Seolah ada luka yang masih basah dan dibiarkan begitu saja tanpa perawatan dalam dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!