Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Nara terdiam sepanjang jalan, apalagi setelah Arkan memberi tawaran mereka menjadi sepasang kekasih, Nara merasa sangat canggung.
Di dalam mobil, suasana jauh lebih sunyi dibandingkan ruang makan tadi.
Nara menatap jalanan dari balik kaca, mencoba menenangkan jantungnya yang sejak tadi belum juga kembali ke ritme normal. Tangannya masih terasa hangat, bekas genggaman Arkan yang baru saja ia lepaskan.
Tiba-tiba, ponsel Arkan berdering.
Nama Indah terpampang jelas di layar.
Arkan menghela napas pendek sebelum mengangkat panggilan itu dan langsung mengaktifkan pengeras suara. Nara tidak tahu apa maksud Arkan mengaktifkan pengeras suara.
“Ada apa, Bu?” tanya Arkan sama sekali tidak ada basa-basi.
“Ada apa?” suara Indah terdengar tinggi, tajam, dan jelas menahan amarah.
“Kamu pikir ibu tidak akan tahu?” kata Indah masih dengan nada tinggi.
Nara refleks menegakkan tubuhnya. Nara langsung merasa tidak enak.
“Ada yang mengirimkan video ke ibu,” lanjut Indah.
“Video kamu mencium tangan perempuan yang katanya cuma kerja di rumah kamu. Di depan umum.” kata Indah.
Arkan menoleh sekilas ke arah Nara, lalu kembali fokus ke jalan.
“Itu hanya—”
“Cukup!” potong Indah keras.
“Kalian tinggal satu atap, Arkan!” lanjut Indah.
Nara menahan napas. Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya.
“Bu, Nara itu—”
“Art kamu?” kata-kata Indah terdengar sinis.
“Ibu bukan bodoh. Cara kamu melihatnya, cara dia duduk di sampingmu, cara kamu menyentuhnya, itu bukan hubungan majikan dan asisten.” kata Indah.
Arkan terdiam. Dan justru diam itulah yang membuat Nara semakin gelisah.
“Kamu sadar reputasimu?” lanjut Indah.
“Kamu pikir ibu membiarkan anak ibu hidup dengan perempuan muda di rumah yang sama tanpa ikatan apa pun?”
Nara menggenggam jemarinya sendiri.
“Besok,” kata Indah kemudian, nadanya berubah lebih dingin namun penuh tekanan,
“ibu akan datang ke rumah.”
Arkan mengerutkan dahi. “Besok saya ada—”
“Batalkan.” potong Indah dengan cepat. Nada itu tidak memberi ruang untuk penolakan.
“Kamu jangan pergi ke mana-mana,” lanjut Indah. “Dan perempuan itu—”
Nara menegang.
“—tidak boleh keluar rumah sebelum ibu datang.”
Jantung Nara berdetak keras.
Arkan melirik Nara cepat, lalu berkata,
“Bu, itu berlebihan.” kata Arkan.
“Ini belum apa-apa dibandingkan akibatnya kalau orang lain lebih dulu menyimpulkan,” jawab Indah tegas.
“Ibu tidak mau dengar penjelasan lewat telepon. Kita bicara langsung.” Panggilan terputus. Mobil kembali sunyi.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lampu merah menyala, membuat mobil berhenti. Pantulan wajah mereka terlihat di kaca depan, Arkan yang tampak tenang di luar namun jelas sedang berpikir, dan Nara yang gelisah menahan banyak pertanyaan.
“Maaf,” ucap Nara pelan akhirnya.
Arkan menoleh. “Untuk apa?”
“Kalau aku tidak ikut malam ini, mungkin—”
“Nara,” potong Arkan lembut tapi tegas.
“Ini bukan salah kamu.”
Nara menatap Arkan, matanya sedikit berkaca.
“Tapi ibumu marah karena aku.”
“Beliau marah karena kehilangan kendali,” jawab Arkan jujur.
“Besok…,” Nara ragu. “Apa yang akan terjadi?”
Arkan menarik napas panjang. “Kita hadapi saja.”
Nara terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah Arkan, ia merasa benar-benar takut. Bukan karena Arkan. Melainkan karena dunia Arkan yang ternyata tidak sesederhana kebaikan, kenyamanan, dan perhatian.
Sesampainya di rumah, Arkan memastikan pintu terkunci rapat.
Ia menoleh pada Nara yang berdiri canggung di ruang tamu.
“Ibu memang keras,” ujar Arkan. “Tapi kamu tidak perlu takut.”
Nara tersenyum kecil, getir. “Aku hanya tidak ingin jadi masalah.”
Arkan mendekat, jaraknya cukup dekat hingga Nara bisa mencium aroma parfumnya.
“Kamu bukan masalah,” kata Arkan rendah.
“Kamu adalah kenyataan yang tidak semua orang siap terima.”
Nara menelan ludah. Tidak tahu apa maksud Arkan.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tinggal bersama Arkan, Nara tidur dengan perasaan tidak tenang. Karena besok, bukan makan malam elit yang harus ia hadapi.
Melainkan Ibu Indah, dan Nara menyesal karena tadi asal bicara didepan Hana.
Keesokan harinya, Indah datang tepat waktu ke rumah Arkan, Indah tidak mau terlambat untuk memperingatkan anaknya.
“Kamu tinggal berdua dengannya,” suara Indah meninggi. “Seorang gadis muda, statusnya bekerja di rumahmu, apa kamu tidak memikirkan akibatnya?” tanya Indah saat duduk berhadapan dengan Arkan dan Nara.
Arkan tetap tenang. “Aku tahu batasnya, Bu.” jawab Arkan.
“Batas?” Indah terkekeh getir. “Kalau kamu memang serius, menikah. Kalau tidak, jaga jarak.”
Perkataan Indah membuat Nara bingung, kenapa tiba-tiba ada kata menikah.
“Tenang bu, aku pasti bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan,” ucap Arkan tenang, tapi tegas.
“Dan Nara juga kemarin memang membantu aku mengahadapi Hana.”
Suasana Hening sejenak.
“Justru itu yang membuat Ibu khawatir,” balas Indah pelan.
“Perasaan tidak pernah minta izin Arkan,”
suara Indah melunak, tapi tetap serius.
“Ibu tidak melarang kamu bahagia. Tapi jangan hancurkan reputasi dan masa depan gadis itu.” kata Indah sambil menatap ke arah Nara.
Ruang tamu terasa terlalu besar untuk percakapan dua orang yang ada di hadapan Nara.
Arkan tiba-tiba berdiri, tangannya mengepal ringan di sisi tubuh. Sedangkan Indah tetap duduk dengan sikap tenang, ketenangan yang justru menekan bagi Nara.
“Saya mencintai Nara,” ucap Arkan akhirnya.
Kalimat itu meluncur tanpa ragu dan membuat Nara terdiam.
Dunia seakan berhenti bagi Nara, karena mendengar Arkan mencintainya.
“Apa?” Nara menoleh cepat. “Saya—saya tidak…”
Nara kehabisan kata.
Pengakuan itu terlalu besar. Terlalu tiba-tiba. Dan terlalu tidak masuk akal bagi hidup yang selama ini Nara jalani.
Ibunya Arkan menatap anaknya lama, lalu mengangguk kecil.
“Kalau begitu,” kata Indah datar, “menikah saja.”
Nara refleks menggeleng.
“Saya ke luar kota bukan untuk menikah,” ucap Nara cepat. “Saya ke sini untuk kuliah.”
Nada suara Nara tidak tinggi. Namun tegas.Ibunya Arkan mengalihkan pandangan ke Nara.
“Berapa usia kamu, Nak?” Nada suara Indah berubah lebih lembut, lebih keibuan.
“Januari nanti sembilan belas tahun, Nyonya,” jawab Nara jujur.
Indah tersenyum tipis. “Sudah cukup,” kata Indah pelan.
“Dan jangan panggil saya Nyonya. Panggil Ibu.”
“T-tapi…” Nara mencoba bicara.
“Kamu masih kuliah, kan?” lanjut sang Ibu. “Lanjutkan saja. Menikah tidak menghalangi karier.”
Indah mencondongkan badan sedikit. “Banyak yang kuliah sambil menikah. Kamu bukan yang pertama.”
Dalam diam, Nara tahu bukan hanya Arkan yang harus ia hadapi.
Ada keluarga yang mungkin tidak akan mengerti. Ada dunia lama yang belum tentu menerima dunia barunya.
Dan untuk pertama kalinya, Nara merasa pilihan hidupnya tidak lagi hanya tentang dirinya sendiri.
Nara juga bingung, dia sendirian menghadapi ibu dan anak. Nara juga merasa heran kenapa Arkan bisa gampang jatuh cinta dengannya, apalagi ibunya Arkan yang setuju. Padahal tadinya Nara berpikir Indah akan memberinya sejumlah uang untuk meninggalkan Arkan, tapi malah kejadiannya sebalinya.