NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Bayangan yang Tidak Terlihat

Malam itu tidak benar-benar berakhir.

Ia hanya berubah bentuk.

Aluna berdiri diam di halaman rumah lama, sementara dua mobil sudah menghilang di ujung jalan. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya, atau mungkin itu hanya perasaannya saja.

Pesan misterius itu masih terngiang di kepala semua orang.

Permainan baru saja dimulai.

Bukan hanya ancaman.

Tapi pernyataan percaya diri.

Seseorang tidak hanya mengetahui masa lalu mereka—

seseorang sedang mengendalikannya.

Arkan berdiri di samping Aluna. Tidak menyentuhnya. Tidak berbicara. Namun jarak di antara mereka tidak lagi seperti sebelumnya.

Kevin masih memegang ponselnya, wajahnya pucat.

Surya terlihat terguncang, pikirannya jelas tidak stabil setelah mengetahui keterlibatan ayahnya.

“Kita tidak bisa berdiri di sini,” akhirnya Arkan berkata pelan namun tegas. “Kita pindah.”

“Ke mana?” tanya Aluna lirih.

“Tempat yang tidak diketahui siapa pun.”

Kevin menelan ludah.

“Kalau pesan itu benar… berarti semua perangkat kita sudah dipantau.”

Arkan langsung mengambil keputusan.

“Kita tidak gunakan ponsel. Tidak gunakan mobil pribadi. Kita keluar terpisah.”

Surya tertawa hambar.

“Kedengarannya seperti film konspirasi.”

“Ini bukan film,” Arkan menatapnya tajam. “Ini hidup kita.”

Satu jam kemudian mereka berada di apartemen lama milik Arkan yang sudah lama tidak digunakan. Tempat itu tidak tercatat sebagai properti aktif perusahaan.

Lampu dinyalakan.

Ruangan itu sederhana. Minimalis. Bersih.

Aluna duduk perlahan di sofa.

Tubuhnya lelah. Tapi pikirannya terlalu aktif untuk beristirahat.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” bisiknya.

Kevin berdiri di dekat jendela.

“Ada seseorang yang memanfaatkan semua konflik lama ini.”

“Kenapa sekarang?” Surya bertanya.

Arkan menyilangkan tangan.

“Karena semua bidak sudah kembali ke papan.”

Cemalia muncul.

Ayahnya ditangkap.

Ayah Surya muncul terang-terangan.

Dokumen lama hampir terbuka.

“Ini momen paling rapuh,” Arkan melanjutkan. “Dan seseorang memilih waktu ini untuk masuk.”

Aluna menatap Kevin.

“File itu benar-benar hilang?”

Kevin mengangguk pelan.

“Aku punya backup offline. Tapi kalau mereka sudah tahu keberadaannya, tempat penyimpanan itu mungkin sudah tidak aman.”

“Siapa yang tahu lokasi backup itu?” tanya Arkan.

Kevin terdiam sesaat.

“Hanya aku… dan satu orang.”

Ruangan membeku.

“Siapa?” Surya mendesak.

Kevin menatap lantai sebelum menjawab.

“Asisten lamaku.”

“Di mana dia sekarang?” Arkan langsung bertanya.

“Keluar negeri dua tahun lalu.”

Aluna merasa ada sesuatu yang tidak sinkron.

“Kenapa kau tidak menyebutnya tadi?”

“Karena aku tidak ingin percaya kemungkinan itu.”

“Nama,” Arkan berkata tegas.

Kevin mengangkat wajahnya perlahan.

“Raisa.”

Nama itu membuat Aluna menegang.

Raisa.

Nama itu tidak asing.

“Raisa… yang pernah bekerja di kantor Ayahku juga?” Aluna berbisik.

Kevin membeku.

“Kau ingat?”

“Ia sering datang ke rumah.”

Surya terlihat berpikir keras.

“Raisa pernah bekerja di perusahaan ayahku juga. Magang bagian audit.”

Ruangan kembali hening.

Arkan menyimpulkan dengan suara rendah.

“Dia berada di semua sisi.”

Aluna merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Berarti… selama ini dia yang berdiri paling dekat.”

Kevin menggeleng cepat.

“Itu terlalu sederhana.”

“Tapi masuk akal,” Arkan balas dingin.

Aluna menutup matanya sejenak.

Wajah Raisa muncul samar dalam ingatannya.

Perempuan pendiam. Senyum sopan. Tatapan tenang.

Terlalu tenang.

“Apa motifnya?” Surya bertanya.

Kevin menghela napas.

“Ayahnya dulu auditor internal Wijaya Group.”

Semua terdiam.

“Dan?” Arkan menekan.

“Dia dipecat… karena laporan keuangan yang tidak sesuai.”

Aluna merasakan sesuatu mencuat di dadanya.

“Siapa yang memecatnya?”

Kevin menatap Arkan.

“Rendra.”

Sunyi itu lebih berat dari sebelumnya.

“Dan enam bulan setelah itu,” Kevin melanjutkan pelan, “ayah Raisa meninggal.”

“Bunuh diri?” Surya bertanya pelan.

Kevin tidak menjawab langsung.

“Tercatat sebagai kecelakaan.”

Aluna merasa dunia kembali menyempit.

“Jadi ini balas dendam?” ia berbisik.

Arkan menatap kosong ke depan.

“Kalau itu benar… berarti dia sudah menunggu sangat lama.”

Kevin mengangguk.

“Dan dia pintar. Dia tidak pernah terlihat mencurigakan.”

Aluna tiba-tiba teringat sesuatu.

“Malam pemakaman Ayah… Raisa ada di sana.”

Semua menoleh padanya.

“Ia memelukku. Dan berkata satu hal.”

“Apa?” Arkan mendekat sedikit.

Aluna membuka mata perlahan.

“Katanya… ‘Kebenaran selalu punya waktu sendiri.’”

Ruangan menjadi sunyi total.

Surya menelan ludah.

“Itu bukan kalimat penghiburan.”

Kevin menghela napas panjang.

“Kalau dia yang mengirim pesan tadi… berarti dia sudah menguasai lebih dari yang kita kira.”

Arkan mengangguk pelan.

“Pertanyaannya sekarang bukan siapa dalangnya.”

“Tapi apa yang dia inginkan,” Surya menyambung.

Aluna berdiri perlahan.

“Dia ingin kita saling curiga.”

“Kenapa?” Kevin bertanya.

“Karena selama kita saling mencurigai, kita tidak akan bersatu.”

Arkan menatap Aluna.

Untuk pertama kalinya malam itu, tatapan mereka selaras.

“Lalu apa langkah berikutnya?” Surya bertanya.

Arkan menjawab tanpa ragu.

“Kita balikkan permainan.”

Kevin mengerutkan kening.

“Bagaimana?”

“Kita buat seolah-olah file itu masih ada.”

“Tapi sudah hilang.”

“Kita buat umpan.”

Semua terdiam.

Aluna mengerti arah pikirannya.

“Kita sebarkan kabar bahwa dokumen asli akan diserahkan besok pagi.”

Kevin perlahan tersenyum tipis.

“Itu akan memaksa dia bergerak.”

“Dan saat dia bergerak,” Arkan berkata dingin, “kita tangkap.”

Surya terlihat ragu.

“Kalau kita salah?”

Arkan menatapnya.

“Kalau kita tidak bergerak, dia yang akan menang duluan.”

Aluna menggenggam tangannya sendiri.

Ada rasa takut.

Tapi juga sesuatu yang baru.

Keberanian.

Selama ini ia selalu menjadi korban situasi.

Sekarang ia ingin mengambil kendali.

“Kita lakukan,” katanya mantap.

Kevin menatapnya.

“Kau yakin?”

Aluna mengangguk.

“Sudah terlalu lama aku hanya berdiri di tengah permainan orang lain.”

Arkan menatapnya dengan sesuatu yang hampir seperti bangga.

“Baik.”

Kevin mulai menyusun rencana.

“Kita butuh lokasi publik. Kamera banyak. Dan akses keluar terbatas.”

Surya berpikir cepat.

“Gedung arsip kota. Ada konferensi pers kecil besok.”

Arkan mengangguk.

“Kita umumkan di sana.”

Aluna menarik napas dalam.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

Ia merasa menjadi bagian dari keputusan.

Namun di sudut ruangan—

Televisi yang tadi mati tiba-tiba menyala sendiri.

Semua membeku.

Layar menampilkan siaran berita lokal.

Tapi itu bukan berita.

Itu rekaman lama.

Gudang.

Api.

Suara teriakan.

Aluna menjerit pelan.

“Itu malam itu…”

Rekaman berhenti di satu frame.

Seorang pria berdiri di bayangan.

Wajahnya tidak jelas.

Namun posturnya—

Sangat familiar.

Lalu teks muncul di layar.

Jangan terlalu percaya pada ingatanmu.

Layar mati.

Keheningan mencekam ruangan.

Kevin perlahan berkata,

“Dia sudah selangkah lebih dulu.”

Arkan menatap televisi yang gelap.

“Tidak,” katanya pelan.

“Dia hanya ingin kita berpikir begitu.”

Aluna merasa jantungnya berdetak keras.

Kalau Raisa benar dalangnya—

Maka ia bukan hanya pengamat.

Ia sudah masuk ke dalam hidup mereka.

Mungkin jauh lebih dalam daripada yang mereka sadari.

Dan satu pertanyaan mulai muncul di benak Aluna—

Kalau Raisa ingin balas dendam…

Kenapa ia tidak pernah langsung menyakitinya?

Kenapa justru melindunginya dari kebenaran terlalu cepat?

Kepala Aluna tiba-tiba berdenyut hebat.

Sebuah potongan ingatan kecil muncul.

Bukan dari gudang.

Bukan dari api.

Tapi dari hari sebelum kebakaran.

Raisa berbicara dengan Ayahnya.

Berbisik.

Dan Ayahnya berkata satu kalimat—

“Kalau sesuatu terjadi, jaga Aluna.”

Aluna membuka mata dengan napas terengah.

Semua menatapnya.

“Aku ingat sesuatu,” suaranya gemetar.

“Apa?” Arkan langsung mendekat.

“Sehari sebelum Ayah meninggal… Raisa menemuinya.”

Kevin membeku.

“Sendiri?”

Aluna mengangguk pelan.

“Dan Ayah memintanya menjagaku.”

Ruangan kembali sunyi.

Surya berbisik,

“Kalau begitu… mungkin ini bukan balas dendam.”

Arkan menatap kosong ke depan.

“Mungkin ini perlindungan.”

Aluna merasakan jantungnya bergetar.

Kalau Raisa ingin melindunginya…

Lalu siapa yang sebenarnya sedang ia hadapi?

Dan kenapa caranya terasa seperti perang?

Angin di luar jendela bertiup pelan.

Di suatu tempat yang tidak mereka ketahui—

Seseorang sedang memperhatikan.

Dan mungkin—

Tersenyum.

END BAB 16 🔥

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!