NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: DI ANTARA LAMPU DAN BISIKAN

Ballroom Hotel Aruna dipenuhi cahaya kristal dan suara gelas yang beradu pelan. Para tamu berdatangan dengan senyum profesional, mengenakan setelan terbaik dan gaun mahal—semua terlihat sempurna, terukur, dan penuh kepentingan.

Aira Senja berdiri di sisi Arlan Dirgantara, mengenakan gaun hitam sederhana yang dipinjamkan bagian HR. Potongannya rapi, sopan, namun jelas berbeda kelas dibanding gaun-gaun glamor di sekelilingnya.

Ia menyadarinya.

Dan mereka juga.

“Jangan berdiri terlalu dekat.”

Suara Arlan rendah, nyaris tak bergerak di bibirnya.

Aira refleks bergeser setengah langkah menjauh.

“Bukan karena aku malu,” lanjut Arlan dingin. “Kau sekretaris. Bukan pasangan.”

Kalimat itu menusuk, namun Aira hanya mengangguk. “Baik, Pak.”

Mereka melangkah masuk. Beberapa pasang mata langsung menoleh. Bisik-bisik muncul seperti angin yang tak terlihat, tapi terasa.

“Itu sekretarisnya?”

“Yang kemarin masuk mendadak?”

“Katanya punya masa lalu…”

Aira menunduk, fokus pada tablet di tangannya. Jadwal, nama klien, poin penting—ia mengulang semuanya di kepala agar tidak runtuh oleh tatapan.

“Arlan.”

Suara itu lembut, manis, dan terlalu dikenal.

Clarissa Mahendra melangkah mendekat, mengenakan gaun merah marun yang memeluk tubuhnya sempurna. Rambutnya disanggul anggun, senyumnya menyala seperti lampu sorot.

“Kau datang tepat waktu,” katanya pada Arlan, lalu menoleh ke Aira. “Oh. Kamu juga.”

Nada suaranya sopan. Terlalu sopan untuk tulus.

“Selamat malam, Nona Clarissa,” ucap Aira.

Clarissa tersenyum. “Tidak perlu formal. Kita akan sering bertemu.”

Ia meraih lengan Arlan tanpa ragu. “Ayo, aku ingin mengenalkanmu pada beberapa relasi ayahku.”

Arlan tidak menepis, tidak pula mengiyakan. Ia hanya membiarkan.

Aira melangkah setengah di belakang mereka, mencatat nama-nama, wajah-wajah, dan kalimat basa-basi. Beberapa tamu menatapnya sekilas—ada yang penasaran, ada yang meremehkan.

“Sekretarisnya kelihatan… biasa.”

“Arlan biasanya lebih selektif.”

Aira menelan perih. Ia tahu posisinya. Ia tidak datang untuk dipuji.

Di salah satu sudut ruangan, Clarissa berhenti dan menoleh padanya. “Aira, tolong ambilkan minum untuk kami.”

Nada itu lembut. Perintahnya jelas.

“Baik, Nona.”

Saat Aira berbalik, Clarissa mencondongkan tubuh ke Arlan, berbisik cukup pelan—namun tidak cukup pelan bagi Aira untuk tidak mendengar serpihannya.

“Kasihan sekali. Kau selalu punya selera… unik.”

Aira berjalan menuju meja minuman dengan langkah stabil. Tangannya gemetar saat menuang, tapi ia menahannya. Ia tidak boleh jatuh di sini.

Saat kembali, seorang pria paruh baya menghentikannya.

“Kamu sekretaris Arlan?” tanyanya ramah.

“Iya, Pak.”

“Kerjanya berat, ya? CEO seperti dia—dingin dan sulit.”

Aira tersenyum tipis. “Saya berusaha menyesuaikan.”

Pria itu mengangguk, lalu tertawa kecil. “Kuat juga kamu. Tidak banyak yang bertahan.”

Aira menyerahkan minuman pada Arlan dan Clarissa. Clarissa menerima dengan senyum puas.

“Terima kasih,” katanya manis. “Kamu bisa berdiri di sana saja.”

Jauh. Terpisah. Tidak terlihat.

Aira patuh.

Beberapa menit berlalu. Percakapan bisnis berputar, tawa terdengar, gelas kembali beradu. Aira berdiri seperti bayangan—hadir tapi diabaikan.

Tiba-tiba, seorang wanita mendekat, menatap Aira dari ujung rambut hingga sepatu.

“Kamu sekretaris baru itu?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Iya.”

Wanita itu mengangguk, lalu tersenyum tipis. “Saran saja. Dunia Arlan bukan tempat untuk orang yang salah langkah.”

Sebelum Aira sempat menjawab, wanita itu pergi.

Dadanya terasa sesak. Ia menghembuskan napas perlahan.

Tenang. Bertahan.

“Arlan.”

Clarissa kembali bersuara, kali ini lebih keras. “Ayah ingin berbicara denganmu. Sekarang.”

Arlan mengangguk. “Aira, catat.”

Aira mendekat, berdiri terlalu dekat dengan mereka. Beberapa pasang mata kembali mengarah.

Clarissa menoleh padanya. “Kamu tidak perlu ikut ke meja utama. Tunggu di sini.”

Arlan menatap Aira. Sepersekian detik. Hanya sepersekian.

“Dia ikut,” katanya singkat.

Clarissa terdiam. Senyumnya mengeras tipis. “Arlan—”

“Aku bilang, dia ikut.”

Nada Arlan datar. Tidak meninggi. Tidak menjelaskan.

Hening singkat tercipta.

“Baiklah,” Clarissa tersenyum kembali. “Kalau itu maumu.”

Mereka berjalan bersama menuju meja utama.

Aira bisa merasakan perubahan atmosfer. Tatapan-tatapan yang tadinya meremehkan kini berubah menjadi penasaran. Ia menegakkan punggung, membuka tabletnya, mencatat dengan cepat dan rapi.

Di tengah percakapan, Clarissa mencondongkan tubuh ke Arlan. “Kau terlalu baik.”

Arlan menjawab tanpa menoleh, “Aku hanya memastikan pekerjaanku dilakukan dengan benar.”

Jawaban itu dingin—namun bagi Aira, itu cukup.

Acara berakhir mendekati malam. Saat mereka meninggalkan ballroom, Aira baru menyadari kakinya pegal dan tengkuknya nyeri.

Di mobil, keheningan kembali menyelimuti.

“Kau melakukan tugasmu dengan baik,” kata Arlan tiba-tiba.

Aira menoleh, terkejut. “Terima kasih, Pak.”

“Jangan salah paham,” lanjutnya cepat. “Itu bukan pujian.”

Aira mengangguk. “Saya mengerti.”

Mobil berhenti. Aira turun.

“Dan Aira,” panggil Arlan sebelum ia menutup pintu.

Ia menoleh.

“Di tempat seperti ini,” ucap Arlan rendah, “kau akan diserang tanpa alasan. Jangan berharap aku selalu ada.”

Aira menahan napas. “Saya tidak berharap.”

Arlan menatapnya lama. Terlalu lama.

“Bagus,” katanya akhirnya. “Karena berharap padaku hanya akan menyakitimu.”

Mobil melaju pergi.

Aira berdiri di trotoar, lampu kota memantul di matanya. Malam ini ia dipermalukan, diuji, dan hampir dihancurkan.

Namun untuk pertama kalinya—

Arlan tidak membiarkannya sendirian sepenuhnya.

Dan itu…

lebih berbahaya daripada kebencian.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!