Hidup Xiao Chen berubah ketika sebuah kejadian misterius membuatnya terlempar ke jaman kerajaan, dengan berbekal sistem beladiri dan rasa ingin tahu ia mulai menjalani kehidupan barunya yang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pengawalan
"Kakak dan ayahmu begitu panik ketika mendengar kabar bahwa ada beberapa orang misterius berpakaian ala ninja membawamu, apalagi jejakmu tidak juga terlacak hingga malam tiba.." Ucapan Xiao Yi masih terngiang jelas oleh Xiao Chen.
"Kakak dan ayah panik?? Tidak mungkin.." Gumam Xiao Chen dengan senyum sinis.
Sesuai memori yang ia dapatkan dari pemilik tubuh sebelumnya, jelas terlihat bahwa ayah dan kakaknya tidaklah seperhatian itu, bahkan mereka juga menganggap kehadiran Xiao Chen sebagai beban karena kebodohannya.
Hanya ibunya lah yang selama ini tulus menyayanginya, dan tidak pernah membanding bandingkan Xiao Chen dengan kakaknya.
Hari sudah beranjak siang ketika Xiao Chen bangun, tapi selain ibu dan pelayan, tidak ada orang lain lagi yang masuk ke kamarnya. "Jika mereka memang seperti yang diucapkan oleh Xiao Yi, maka seharusnya mereka berdua sudah kemari dan menanyakan keadaanku.." Batin Xiao Chen yang sudah bersiap untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, Xiao Chen berendam sambil membuka jendela transparan dan mulai menggulir gulir serta mengamati item-item tertentu.
"Disini terlihat jelas jika koin yang aku miliki adalah nol emas, apakah sistem tahu jika aku sedang tidak memiliki uang sama sekali? Lalu apakah bar ini adalah progres tingkatan kultivasiku?" Gumam Xiao Chen.
Xiao Chen menutup pintu lalu bergegas mencari ibunya setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dikarenakan pakaiannya yang kemarin robek.
Saat ini Xiao Chen merasa dalam kondisi segar bugar, luka robek di punggungnya telah sembuh tak berbekas sama sekali setelah Xiao Chen menutup lukanya menggunakan tenaga dalam.
"Ibu, bagaimana kabarmu.." Xiao Chen memeluk ibunya dari belakang, ketika melihat ibunya sedang menyiram bunga di taman belakang rumah.
"Ibu baik-baik saja.. Justru ibu yang harusnya bertanya, bagaimana keadaanmu dan dari mana saja kau kemarin malam?? Tahukah kau jika ayah dan kakakmu panik bukan main.." Jawab ibunya dengan antusias dan senyum ramah.
"Benarkah ayah dan kakak sepanik itu bu??"
"Hmmmm, buat apa ibu bohong?"
"Lalu kemana ayah dan kakak sekarang?"
"Ayahmu masih tidur, ia baru kembali bersama kakakmu selepas tengah malam. Ketika aku memberitahu jika kamu baik-baik saja, mereka segera menuju kamarmu..Namun ternyata kamu sudah tidur."
"Jadi apa yang diucapkan Xiao Yi bukanlah sebuah kebohongan???" Ucap Xiao Chen dalam hati.
"Baiklah bu, kalau begitu aku akan mencari kakak.." Xiao Chen bangkit lalu mencium kedua pipi ibunya sebelum beranjar pergi.
"Jangan lupa makan terlebih dahulu.."
"Nanti saja buu..." Xiao Chen setengah berlari di lorong koridor menuju kamar kakaknya.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?? Dimana sopan santunmu...!!!" Teriak Xiao Wu tepat ketika Xiao Chen tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya saat dirinya sedang berganti baju.
WHUUUSSSS...
Xiao Chen reflek mengelak ketika sebuah buku dilempar kearahnya, dengan cepat juga ia segera keluar dan menutup pintu kamar kakaknya.
"PERGIIII.. !!!!" Teriak Xiao Wu.
Xiao Chen terus berlari hingga ke pelataran rumah, napasnya tersengal-sengal tapi senyum terlihat jelas di bibirnya yang tipis.
"Masih pagi tapi kau sudah tersenyum, habis mengerjai kak Wu ya??" Bisik Xiao Yi, membuat Xiao Chen terperanjat kaget.
"Hahahahahha.." Xiao Yi tak bisa menahan tawa melihat sahabatnya terkejut.
"Sialan.. Dari mana kau?"
"Ahhh, itu tidak penting.. Kesini.. Mendekatlah.. Aku ada info penting untukmu..!!!" Ucap Xiao Yi sambil tangannya melambai.
Karena rasa penasaran, membuat Xiao Chen mendekat. Xiao Yi kemudian mengajak Xiao Chen ke sebuah kedai yang letaknya tidak terlalu jauh dengan kediaman keluarga besar Xiao.
"Berikan kami teh 1 poci, dan beberapa kue cemilan.." Xiao Yi menatap salah seorang pelayan sambil memberikan sekeping koin perak.
"Baik tuan muda, mohon ditunggu sebentar.." Pelayan tersebut bergegas pergi ke dapur setelah membersihkan meja yang hendak dipakai Xiao Chen dan Xiao Yi.
"Ada info apa? Awas kalau ternyata infomu tidak penting.." Ancam Xiao Chen.
"Apakah aku pernah mengecewakanmu sampai saat ini??" Ucap Xiao Yi yang lagaknya sudah mirip seperti detektif.
"Jadi, info ini aku dapat dari sumber terpercaya, ia mengatakan bahwa ayahmu, kakak wu dan timnya akan melakukan sebuah misi pengawalan.."
"Ehhmm.. Terus?" Jawab Xiao Chen sambil menikmati teh melati hangat.
"Mereka akan melakukan pengawalan ke ibukota kekaisaran..!!!"
Xiao Chen terdiam, cangkir teh yang berada di mulutnya ia taruh kembali.
"Jadi, jika kakak ikut dalam misi pengawalan ini, maka dia akan melewatkan turnamen Xiao muda??" Gumam Xiao Chen.
"Tepat sekali..!!! Jarak antara ibukota kekaisaran dengan kota Yunshang begitu jauh, jika ditempuh dengan berkuda saja bisa menghabiskan waktu sekitar 2 hingga 3 pekan, itu juga perkiraan waktu tercepat."
"SIALANN..!!!! Kapan mereka akan berangkat?" Xiao Chen menggebrak meja kedai hingga berbekas.
"Harusnya sih siang ini.."
"Apa??? Kenapa tidak ada yang memberitahuku??"
"Eh maaf, tapi bukannya aku baru saja memberitahumu ya???" Xiao Yi menggaruk rambutnya yang tidak terasa gatal.
"Terima kasih infonya, aku harus pergi.." Xiao Chen segera melesat, meninggalkan sahabatnya sendirian.
Sementara itu di kediaman klan Xiao, terlihat Xiao Feng dan Xiao Wu bersama 28 orang lainnya tengah bersiap untuk menjalankan misi pengawalan.
Semua perbekalan sudah di naikkan di kuda-kuda yang kini berjejer rapi di pelataran klan Xiao, ke 30 orang itu menggunakan pakaian yang seragam, sebuah jubah hitam polos dengan aksen naga putih dan tulisan kaligrafi "Xiao" dalam lingkaran di punggung. Sementara pedang terselip rapi di pinggang.
"TUNGGU...!!!"
Suara Xiao Chen memecah suasana, tepat ketika mereka hendak menaiki kuda dan bersiap untuk berangkat.
"Kau? Apa yang kau lakukan disini??" Teriak Xiao Wu sambil berjalan menghampiri Xiao Chen.
"Apa yang aku lakukan disini? Tentu saja aku ingin ikut."
"Ikut? Apa kau pikir kami hendak tamasya??"
BUAAAAGGGGHHHH..
Xiao Wu melayangkan sebuah pukulan yang kena dengan telak ke tepi bibir Xiao Chen adiknya, membuat tubuh Xiao Chen terpelanting.
"Pergi dari hadapanku sebelum kesabaranku habis..!!!"
Xiao Wu berbalik membelakangi Xiao Chen.
CUIIIII...
Xiao Chen membuang darah lalu menyeka mulutnya, "Kau tahu kan kenapa Ketua utama menyuruhmu melakukan misi pengawalan kali ini??"
"Itu bukanlah urusanmu, sebaiknya kau segera menyingkir karena jika tidak maka pedangku lah yang akan berkata..!!!"
"Sudah..Sudah.. Wu'er, ijinkan ayah berbicara sebentar dengan Chen'er.." Xiao Feng menatap tajam anak pertamanya.
"Ckkk, terserah.." Xiao Wu melangkah pergi dari pelataran klan menuju ke arah kediamannya.
"Chen'er, ikuti ayah.."
Xiao Feng berjalan menuju ke halaman, diikuti Xiao Chen yang mengekor di belakang.
Halaman belakang kediaman keluarga besar Xiao adalah sebuah hutan mini, dimana banyak pohon bambu yang tumbuh rimbun, membuat suasana di sekitarnya menjadi sejuk dan rindang.
"Ayah, kita bicara disini saja."
Xiao Feng menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap erat wajah anak keduanya.
Ada keheningan diantara mereka, baik Xiao Chen maupun ayahnya Xiao Feng masih menunggu dalam diam.
"Chen'er, meskipun ayah tahu niatmu baik, tapi melakukan misi pengawalan adalah kewajiban setiap orang yang menyandang marga Xiao..!!! Ketika ketua klan telah memberikan perintah, maka sudah sepatutnya kita untuk mematuhinya." Terang Xiao Feng dengan sebijak mungkin.
"Aku tahu yah, tapi jika kita mengacu pada aturan klan.. Maka seharusnya sekarang adalah giliran Xiao Huang..!!! Sebenarnya ayah juga tahu kan kenapa ketua menyuruh ayah dan kakak Wu melakukan misi pengawalan ini??"
"Haaaaahh.." Xiao Feng menghempaskan dirinya di sebuah bangku yang ada di halaman belakang.
Tatapan pria setengah baya itu menerawang diantara belaian bambu yang bergoyang kesana kemari tertiup angin.
"Akan jadi sebuah kebohongan jika ayah mengatakan ayah tidak tahu maksud dan tujuan ketua, namun ayah dan Wu'er telah sepakat untuk tidak memperpanjang masalah ini."
"Lagipula ayah sudah tua, dan kakakmu Wu'er juga akan meninggalkan klan setelah misi pengawalan ini selesai.." Ucap Xiao Feng sambil membalas tatapan tajam Xiao Chen yang seolah olah menusuk hingga jauh kedalam hatinya.
"Meninggalkan klan? Maksudnya? Apakah kakak akan mendaftar di sebuah perguruan atau sekte beladiri?"
"Hmmm, Kakakmu mendapatkan sebuah undangan dari sebuah sekte besar yang berpusat di ibukota kekaisaran. Jadi tujuan kami kesana bukan hanya sekedar misi pengawalan semata."
Xiao Chen nampak mulai mengerti akan keputusan yang ayah dan kakaknya buat, amarahnya mereda seketika dan akalnya mulai bisa mencerna situasi.
"Baiklah kalau begitu, tapi aku akan tetap ikut..!!! Aku tahu jika selama ini kalian menganggapku sebagai beban klan, mungkin inilah saatnya aku membuktikan bahwa aku juga bisa berguna untuk klan..!!!"
Xiao Feng tersenyum hangat, "Tidak ada satu orang pun yang menganggapmu beban Chen'er, tidak ada... Bagi ku kau adalah seorang anak yang ceria dan menyenangkan, sedangkan bagi kakakmu Wu'er, kau adalah adik yang membuatnya mengerti arti dari kata melindungi.."
"Ayah akan mengijinkanmu ikut dalam misi ini, namun dengan satu syarat. Apakah kau bisa memenuhinya??"
"Apa syaratnya?"
"Ketika terjadi hal-hal yang diluar kendali, maka larilah secepat yang kau bisa..!!! Apa kau bisa berjanji?"
"Syarat macam apa itu?"
"Berjanjilah, atau lupakan.." Xiao Feng melangkah pergi, meninggalkan Xiao Chen yang masih kesal karena dianggap tidak bisa menjaga diri sendiri.
"Baiklah, baik aku berjanji.." Teriak Xiao Chen, namun tanpa Xiao Feng tahu, Xiao Chen membentuk tanda (X) dengan menyilangkan kedua jarinya.
"Kalau begitu cepatlah, kita sudah terlambat dari jadwal yang sudah direncanakan.." Pungkas Xiao Feng sambil melingkarkan tangannya ke pundak putra bungsunya yang kini sudah lebih tinggi dari dirinya.