Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Supportive Parents
Pesawat Boeing 737 yang membawa Tia mendarat dengan sentuhan halus di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Suara mesin yang menderu kencang saat melakukan reverse thrust seolah menjadi tanda berakhirnya petualangan singkat namun bermakna di Yogyakarta.
Tia menarik napas panjang, menghirup udara kabin yang kering, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum kembali menghadapi realita Jakarta.
Sambil menunggu antrean keluar pesawat, Tia menyalakan ponselnya. Sebuah pesan dari Idris masuk tepat saat sinyal internet kembali stabil.
"Aku baru lewat Purwokerto. Keretanya nyaman, tapi kayaknya aku bakal sampai Jakarta tengah malam. Kamu sudah mendarat?Dan langsung kembali ke rumah kan?."
Tia tersenyum tipis. Dia segera membalas: "Baru landing, Dris. Iya, ini langsung pesan taksi ke rumah. Hati-hati di kereta, jangan tidur kebablasan sampai stasiun akhir!"
...----------------...
Taksi yang membawa Tia membelah kemacetan tol bandara yang sudah menjadi pemandangan wajib. Di luar jendela, gedung-gedung abu-abu Jakarta mulai mendominasi pandangan. Sangat kontras dengan perbukitan hijau dan langit biru tak terbatas yang ia saksikan di Gunung Kidul dua hari lalu.
Namun, ada yang berbeda dalam diri Tia. Biasanya, pemandangan macet ini akan membuatnya menggerutu atau merasa tertekan. Sore ini, ia justru merasa tenang. Ia memejamkan mata dan mencoba memanggil kembali sensasi saat tubuhnya terangkat oleh angin di Bukit Shaba. Ia membayangkan beban kerjanya di kantor dan rencana bisnis kue brownies-nya sebagai arus angin; ia tidak perlu melawannya, cukup mengarahkan parasutnya dengan tepat.
Taksi berhenti di depan sebuah pagar besi hitam di kawasan perumahan yang asri. Ini adalah rumah tempat ia tumbuh besar sebelum akhirnya memutuskan tinggal di apartemen dekat kantornya. Bau harum pohon tanjung di depan rumah menyambutnya saat ia turun dari mobil.
"Omg akhirnya pulang juga kamu sayang" Ibunya membuka pintu setelah mendengar langkah kaki yang melangkah kedalam rumah. Kebetulan juga dia berada di ruang tamu.
Tia memeluk ibunya itu "Mama!" Tia menengok kekanan dan kekiriri "Papa dimana ma?" Tanya-nya.
Dengan melepaskan pelukan ia menjawab "Papa di dapur lagi bikin kopi" Tia mengangguk-angguk kepalanya tanda mengerti.
Setelahnya dia meletakkan koper dan barang bawaan miliknya di kamar miliknya, rencananya mungkin dia akan tinggal semalam di rumah orang tuanya lalu baru akan ke apartemen miliknya besok pagi.
...----------------...
Kemudian dia berjalan ke arah dapur atau tempat makan berada untuk menemui ayahnya.
"Papa!" Ayahnya menengok karena mendengar suara lembut yang sedikit cempreng "Akhirnya pulang juga kamu. Gimana disana tambah pusing atau pikiran makin jernih?" Dia belum menjawab tapi langsung memeluk ayahnya. Seperti biasa pelukan hangat seorang ayah adalah hal yang paling di rindukan.
Ayahya terkekeh dan memeluknya dengan erat "Kayaknya kamu betah banget di jogja, emang disana ngapain aja?"
"Papa aku main paralayang di gunung kidul. Itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan" Jawaban tulus terlihat di matanya yang polos.
"Kamu berani?" dia menganggukkan kepalanya "Tentu saja btw ada Idris juga yang menemaniku pa!"
Ayah dan ibunya saling memandang satu sama lain "Wait. Idris? Dosen di kampus yang sama dengan papa?"
Tia menganggukkan kepalanya, membenarkan hal tersebut. "Jadii..... Kalian dekat atau bagaimana kok bisa bertemu disana?" sambung ibunya.
Tia menerjapkan kedua matanya dan memperlihatkan senyumannya itu ke kedua orang tuanya yang sedang duduk di meja makan dekat dapur "Sebenarnya waktu malam setelah sampai disana, dia hampir menabrakku terus akhirnya dia mengantarkan aku ke hotel krena sudah malam dan tidak ada taksi. Jadi saat itulah akhirnya kita semakin dekat dan menjadi teman." Ibunya manggut-manggut.
Ayahnya kembali menyahut "Oh jadi begitu. Bagus deh kalau kalian mulai dekat." ibu dan ayahnya tersenyum hangat.
...----------------...
Saat makan malam berlangsung, Ayah Tia yang sejak tadi lebih banyak mendengarkan akhirnya angkat bicara.
"Jadi, liburan kali ini beneran bikin kamu seger atau malah bikin kamu mau liburan lagi?" tanya Ayah sambil tersenyum menggoda.
Tia meletakkan sendoknya, menatap Ayah dan Ibu bergantian. Inilah momen yang ia siapkan sejak di dalam pesawat tadi. "Papa, Ma... sebenarnya ada yang mau Tia omongin. Perjalanan ke Jogja kemarin, apalagi pas Tia terbang di atas tebing, bikin Tia sadar sesuatu."
Ibu menghentikan kunyahannya. "Sadar apa, sayang?"
"Tia mau berhenti dari kantor akhir bulan ini. Tia mau serius buka toko kue brownies dan cookies. Namanya Crumbs & Clouds," ucap Tia dengan nada suara yang mantap, tidak ada keraguan sedikit pun.
Suasana meja makan mendadak hening. Hanya terdengar suara detak jam dinding tua di sudut ruangan. Ayah meletakkan gelas air putihnya dengan perlahan.
"Tia, apapun yang kamu inginkan papa akan mendukungmu. Uang papa juga banyak jadi tidak masalah buka usaha sendiri" Ayah memulai dengan nada bijaksana, jujur dan tenang.
"Terimakasih papa i love youuu!"
Ibunya menatap mata Tia, mencari sisa-sisa impulsifitas anak mudanya, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan. "Kamu sudah hitung semuanya? Modal? Cara jualannya?"
"Sudah, Ma. Idris juga banyak bantu kasih masukan. Tia bakal mulai dari dapur apartemen dulu. Kalau nanti pesanan sudah banyak, baru Tia cari tempat."
Di tengah percakapan serius itu, ponsel Tia berdering. Sebuah foto masuk dari Idris. Foto pemandangan gelap di luar jendela kereta dengan pantulan wajah Idris yang tampak kelelahan namun puas.
"Gimana? Sudah ngomong sama Papa dan Mama kamu soal rencana 'Cloud Nine' kamu? Kalau Papa marah, bilang aja aku yang tanggung jawab sudah ngajak kamu terbang tinggi sampai lupa daratan!"
Tia terkekeh melihat pesan itu. Ia menunjukkan foto Idris kepada Ayah dan Ibunya. "Tuh, Idris aja dukung, Pa. Dia bilang dia bakal jadi kurir pertama kalau aku butuh bantuan."
Ayah menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Idris itu memang anak nekad. Tapi kalau dia sampai dukung kamu, berarti dia lihat kamu memang serius. Papa cuma mau pesan satu hal: jangan takut jatuh, tapi jangan sengaja menjatuhkan diri. Hitung setiap langkahmu."
Ibu memegang tangan Tia. "Ya sudah, kalau itu maumu. Besok Mama bantu beresin peralatan dapur lama Mama yang masih bagus buat kamu bawa ke apartemen. Ada oven gas kecil yang dulu Mama pakai buat jualan kue lebaran."
Ayahnya menyela percakapan "Kamu ga mau mewarisi perusahaan eyang?" Matanya membola mendengar ucapan ayahnya. "Tidak pa itu biar sekar aja deh yang disana. Takutnya malah ada kesalahpahaman dan jadi pertengkaran kalau aku jadi CEO di perusahaan eyang"
"Alright tapi tidak usah khawatir soal apapun Papa masih punya banyak uang juga. Kalau mau tambahan modal bilang aja ke Papa." Tia akhirnya mengangguk.
Tia merasa matanya memanas. Dukungan dari orang tua adalah "angin tambahan" yang ia butuhkan agar parasut mimpinya bisa mengembang sempurna di langit Jakarta.
...----------------...
Malam itu, Tia memutuskan menginap di rumah orang tuanya. Ia berbaring di tempat tidur lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan stiker bintang yang sudah pudar. Ia mengambil laptopnya dan mulai menulis daftar menu pertama untuk Crumbs & Clouds.
Shaba Fudgy Brownies (dengan taburan sea salt)
Cloud Nine Cookies (marshmallow soft-baked)
Gunung Kidul Crunch (cookies dengan kacang mete pilihan)
Ia membayangkan aroma cokelat yang akan memenuhi apartemennya besok. Ia membayangkan lelehan margarin dan tekstur tepung yang halus.
Jakarta yang di luar sana terasa sangat bising, kini terasa seperti panggung yang luas baginya.
Ia mengirim pesan terakhir untuk Idris sebelum memejamkan mata:
"Dris, misi berhasil. Mama dan Papa kasih lampu hijau. Besok pagi aku balik ke apartemen dan mulai baking batch pertama. Kamu kalau sudah sampai Jakarta langsung istirahat. Besok malam mampir ya, ada brownies hangat buat penguji rasa pertama."
Tia meletakkan ponselnya. Di kejauhan, ia seolah mendengar deru kereta api yang membawa Idris mendekat ke ibu kota.
Mereka berdua telah kembali, bukan sebagai orang yang sama saat berangkat, melainkan sebagai petualang yang siap menaklukkan Jakarta dengan cara mereka masing-masing.
Keesokan paginya dia terbangun dan langsung mandi lalu menyiapkan semua barang bawaan miliknya.
Tia melangkah menuju garasi luas di rumah orang tuanya, tempat deretan mobil mewah milik ayahnya terparkir rapi seperti di ruang pameran. Sang Ayah, yang memang mengoleksi berbagai jenis kendaraan, segera melemparkan kunci sebuah SUV putih yang tangguh namun elegan kepada Tia. "Pakai ini saja untuk pindahan peralatan kue ke apartemenmu, bagasinya luas," ujar Ayah sambil menepuk kap mobil tersebut dengan bangga. Tia tersenyum lebar, merasa sangat terbantu karena ia tidak perlu lagi memesan taksi daring untuk mengangkut oven gas pemberian ibunya.
Ia memasukkan kopernya, beberapa loyang baru, dan bahan-bahan kue premium dari Jogja ke dalam ruang bagasi yang sangat lapang. Duduk di kursi pengemudi yang nyaman dengan aroma kulit jok yang mewah, Tia merasakan kendali penuh di tangannya, sama seperti ia mengendalikan arah parasutnya tempo hari. Sambil menyalakan mesin yang menderu halus, ia berpamitan pada orang tuanya yang melambaikan tangan di depan pagar.
"Hati hati dijalan jangan lupa sering main main kesini sayang!" ucap ibunya. Tia mengangguk dan mengucapkan selamat tinggal.
Perjalanan menuju apartemen terasa jauh lebih tenang dan berkelas dengan mobil ayahnya yang kedap suara dari kebisingan Jakarta. Di tengah kemacetan, Tia merasa mobil ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol dukungan keluarga yang akan menjadi landasan pacu bagi bisnis brownies-nya untuk segera lepas landas.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada