Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Besar Pasak Daripada Tiang
Bulan berganti, dan masalah baru mulai muncul. Masalah yang tak pernah terbayangkan oleh Arman saat ia bermimpi memiliki dua istri. Masalah uang.
Awalnya, gaji enam juta dari Nadia terasa lebih dari cukup. Tapi setelah dibagi untuk dua rumah, semuanya berubah. Arman duduk di kos-kosan lamanya—kamar sempit dengan satu jendela kecil—menghitung angka-angka di secarik kertas. Keningnya berkerut, jari-jarinya gemetar memegang pulpen.
Pengeluaran Bulanan:
· Cicilan KPR rumah Bekasi: Rp 1.500.000
· Uang bulanan Rani & Aldi: Rp 2.000.000
· Kebutuhan Nadia di Jakarta (listrik, air, makan): Rp 1.500.000
· Transportasi pulang-pergi kampung: Rp 500.000
· Kebutuhan pribadi (rokok, pulsa, jajan): Rp 500.000
· Total: Rp 6.000.000
Pas. Tidak ada sisa. Bahkan untuk jajan Aldi pun harus pas-pasan. Dan yang lebih menyakitkan, uang itu semua dari Nadia. Ia tak bisa meminta lebih karena gaji sudah ditetapkan. Ia tak bisa meminta dari Rani karena istrinya itu sedang merintis usaha kue dari nol, hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari Aldi.
Arman memijat pelipisnya yang berdenyut. Stres finansial yang dulu ia rasakan sebagai driver ojol, kini kembali menghantuinya. Tapi kali ini lebih rumit. Karena ada dua perempuan yang bergantung padanya.
---
Pertengkaran pertama dimulai dari hal kecil. Nadia membeli peralatan dapur baru—panci anti lengket seharga tiga ratus ribu. Arman, yang sedang sensitif soal uang, langsung bereaksi.
"Belanja apa aja tadi, Nad?" tanyanya saat melihat struk belanjaan.
"Beli panci. Yang lama udah jelek, lengket."
"Tiga ratus ribu? Mahal amat?"
Nadia menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh, matanya tajam. "Masalah buat kamu?"
"Bukan masalah, tapi kita harus hemat. Pengeluaran bulanan udah gede."
Nadia meletakkan panci dengan agak keras. "Arman, aku beli panci pake uangku sendiri. Dari hasil jerih payahku. Kamu ngatur-ngatur?"
"Aku cuma ngomong, Nad. Jangan sensitif."
"Aku sensitif? Kamu yang dari tadi ngeliatin struk belanjaan kayak polisi!" Nadia mendekat.
"Kamu tahu nggak, selama ini aku nggak pernah minta lebih. Aku kasih kamu gaji, aku biayain hidup mu di sini, aku traktir kamu ke mana-mana. Dan kamu malah ngomelin aku beli panci tiga ratus ribu?"
“Lo hidup dari uang gue Man”
Arman terdiam. Ia tahu Nadia benar, tapi egonya tak mau mengalah. "Aku cuma mikirin masa depan. Kita harus nabung."
"Nabung? Nabung buat apa? Buat lo kasih ke Rani?" Nadia menyeringai getir. "Atau buat lo anter ke kampung tiap dua minggu?"
"NAD!" bentak Arman, kesal.
"JANGAN BENTAK-BENTAK!" balas Nadia, matanya merah. "Gue tahu kondisi kita! Gue tahu lo kirim uang ke mereka! Gue ikhlas! Tapi jangan mentang-mentang gue kasih, lo jadi merasa punya hak ngatur keuangan Gue!"
Pertengkaran itu berakhir dengan Nadia mengurung diri di kamar. Arman tidur di sofa, menatap langit-langit dengan perasaan bersalah dan kesal bercampur jadi satu.
---
Pertengkaran kedua datang seminggu kemudian. Kali ini soal biaya transportasi Arman ke kampung. Ia minta tambahan uang bensin ke Nadia karena harga naik. Nadia menolak.
"Aku nggak bisa, Arman. Bulan ini pemasukan lagi sepi. Banyak stok nggak laku."
"Tapi aku harus ke kampung. Aldi udah nunggu."
"Naik bus aja, kayak biasa."
"Bus sekarang mahal. Tiket naik."
Nadia menghela napas panjang. "Arman, denger. Aku nggak bisa terus-terusan ngebantu. Ini bisnisku, pemasukanku. Aku juga harus mikirin masa depanku sendiri. Aku nggak punya jaminan apa-apa."
"Maksud kamu?"
"Maksudku, aku nggak tahu kapan kamu akan memutuskan untuk balik ke Rani sepenuhnya. Aku nggak tahu kapan kamu akan ninggalin aku. Makanya aku harus siap."
Arman terpaku. "Kamu nggak percaya sama aku?"
"Percaya?" Nadia tertawa getir. "Arman, kamu nikah sama aku diam-diam, sementara kamu masih punya istri. Kamu bohong ke Rani berbulan-bulan. Terus kamu minta aku percaya?"
"Tapi itu dulu..."
"Iya, itu dulu. Tapi pola kamu sama, Arman. Kamu selalu cari jalan keluar yang enak buat kamu sendiri. Dan aku yang kena getahnya."
Udara di ruangan itu terasa beku. Arman tak bisa berkata-kata.
---
Puncaknya terjadi di akhir bulan. Arman pulang dari kampung dengan perasaan hancur. Aldi menangis minta ikut. Rani tetap dingin, bahkan tak menyapa.
Ia butuh ketenangan, butuh pelukan. Tapi yang ia dapat dari Nadia justru pertanyaan-pertanyaan tajam.
"Kok kamu keliatan lebih sedih dari biasanya?" tanya Nadia, melihat Arman duduk lemas di sofa.
"Biasa. Aldi nangis."
"Kamu tidur di ruang tamu lagi?"
"Iya."
"Rani masih dingin?"
Arman mengangguk lesu.
Nadia duduk di seberangnya. "Arman, aku mau ngomong serius."
Arman mengangkat wajah, lelah.
"Aku sudah mikir panjang. Tentang kita, tentang aku, tentang masa depan." Nadia menarik napas.
"Aku nggak bisa terus-terusan begini. Hidup bersama mayat yang pikirannya di tempat lain. Aku nggak bisa terus-terusan jadi dompet, sementara aku sendiri nggak dapat apa-apa selain sakit hati."
"Nad, jangan..."
"Biarkan aku selesai." Nadia memotong. "Aku minta kamu pindah dari sini. Kembali ke kosan kamu."
Arman tersentak. "Apa? Nad, Aku suami kamu."
"Suami?" Nadia tersenyum getir. "Suami yang tiap malem tidur dengan punggung membelakangi aku? Suami yang pikirannya selalu ke anak sama mantan istrinya? Suami yang cuma bisa ngatur tapi nggak bisa ngasih rasa aman?"
"Nad, aku akan berusaha lebih baik. Aku janji."
"Janji mu sudah terlalu sering aku dengar." Nadia berdiri, menatap Arman dari atas.
"Kamu harus cari solusi, Arman. Atas hidup mu, atas keuangan mu, atas hubungan mu dengan Rani. Aku nggak bisa terus-terusan jadi pelarian. Aku juga punya harga diri."
Ia berjalan ke kamar, lalu kembali dengan sebuah amplop. "Ini uang untuk mu bulan ini. Tapi ini terakhir kali. Mulai bulan depan, kamu harus mandiri."
Arman menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Nad, jangan gini. Kita bisa omongin baik-baik."
"Udah. Aku capek omong." Nadia berbalik, melangkah ke kamar. Sebelum masuk, ia berhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh, ia berkata, "Arman."
"Iya?"
"Kalau kamu nggak nemu solusi. Kalau kamu nggak tahu harus bersikap gimana. Kalau kamu terus-terusan begini..." Nadia terdiam sejenak. "Ceraikan aku."
Pintu kamar tertutup. Tidak dibanting, tapi lebih menusuk dari itu. Arman berdiri membeku di ruang tamu, memegangi amplop yang terasa begitu berat.
Ceraikan aku. Tiga kata yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut Nadia. Perempuan yang dulu begitu mencintainya, begitu menginginkannya, begitu memujanya. Kini memintanya pergi.
---
Malam itu, Arman mengemasi barang-barangnya. Hanya satu tas kecil, karena ia tak pernah benar-benar memiliki banyak di rumah Nadia. Jaket, beberapa kemeja pemberian Nadia, dan foto Aldi di dompet. Itu saja.
Sebelum pergi, ia menulis pesan singkat dan meletakkannya di meja makan.
"Nad, maaf untuk semuanya. Maaf karena aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Maaf karena aku terus menyakiti kamu tanpa sadar. Aku akan cari solusi. Aku akan perbaiki semuanya. Tapi kalau kamu memang sudah muak, aku akan lepaskan kamu. Karena kamu pantas bahagia. Aku sayang kamu. - Arman."
Lalu ia pergi. Membawa tas kecil dan hati yang hancur.
Pintu rumah Nadia tertutup di belakangnya, dan untuk pertama kalinya, Arman merasa benar-benar sendiri. Bukan seperti di kampung yang masih ada Aldi, bukan seperti di rumah Bekasi yang dulu hangat bersama Rani.
Di sini, di tengah malam Jakarta yang dingin, ia hanya seorang pria dengan dua istri yang tak bisa ia bahagiakan, satu anak yang jauh, dan kantong yang mulai menipis.
Di kosan lamanya, ia merebahkan diri di kasur sempit. Langit-langit yang retak menyambutnya seperti teman lama. Ia tersenyum pahit. Kembali ke titik awal, pikirnya. Tapi dengan luka yang jauh lebih dalam.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Nadia, singkat:
[Nadia] : Aku sudah baca surat kamu. Makasih. Jaga diri.
Hanya itu. Tidak ada "aku sayang kamu", tidak ada "aku tunggu". Hanya ucapan perpisahan yang sopan.
Arman menatap pesan itu lama, lalu membalas satu kata:
[Arman] : Kamu juga.
Ia mematikan ponsel, memejamkan mata. Di luar, suara kendaraan malam masih ramai. Jakarta tak pernah tidur. Tapi di dalam hati Arman, semua terasa mati. Harapan, cinta, mimpi tentang poligami yang indah—semua telah terkubur di bawah tumpukan tagihan, pertengkaran, dan air mata.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.