Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—05
Arumi menghela nafas, saat melihat motor Bumantara ada dibelakang motornya, mengikutinya, itu membuat Arumi jengkel. Namun, dia tetap menjalankan motornya sampai ke gang kontrakan nya, dan berhenti setelah sampai.
Disana Dipta Artos, sedang menunggu Arumi, duduk di kursi depan terasnya. Sedangkan Arumi yang sudah melihat Dipta, mendengus secara spontan, lalu Arumi menengadah menatap motor Bumantara yang juga berhenti di sebelah motornya.
"Kamu ngapain kesini, Bumantara?" tanya Arumi, mengerutkan kening, saat melihat Bumantara yang melepaskan helm nya.
"Lalu, membiarkan anda bersama pria itu Arumi. Tidak... saya akan mengawasi kalian Arumi. Dan ... selesai kan secepatnya, Arumi," sahut Bumantara, sembari menatap Dipta dengan dingin. Iya! Ia tau siapa pria itu. Dan, ia menginginkan Arumi memutuskan hubungan mereka, apa lagi Arumi pasti sudah tau bagaimana kelakuan pria itu diluar sana.
"Siapa dia, Arumi? Adik kamu?" tanya Dipta, berdiri dari duduk nya, sambil membuang sepotong rokoknya. "Aku ingin kita bicara berdua, Arumi. Kamu enggak mengangkat telepon dari ku, bahkan chat whatsapp ku hanya kamu lihat, Arumi ... dengar sayang ... jadi tolong usir pria itu!" seru Dipta dengan nada datarnya.
Arumi menghela napas. "Bicara aja Mas. Dia enggak akan ganggu apa yang ingin kamu bicara kan," sahut Arumi, menatap Dipta dengan datar. Dan memang, ia ingin memutuskan hubungan nya bersama Dipta, tidak ada lagi yang bisa di pertahankan di dalam hubungan yang dinodai dengan perselingkuhan.
"Arumi — "
"Saya tahu, Mas. Dan, saya iklas melepaskan hubungan ini. Wanita yang ada di apartemen, dan yang sedang Mas goyang itu, aku juga lihat Mas Dipta. Semua nya sudah aku lihat. Hanya aja aku enggak tau kapan kalian menjalin hubungan dibelakang aku Mas? Sejak kapan? Itu memang ingin selalu aku tanyakan saat bertemu sama kamu Mas. Namun, aku pikir lagi buat apa. Mas Dipta bersama wanita lain pasti sudah mikir, enggak mungkin enggak, dan itu entah apa," sela Arumi, menjelaskan panjang lebar, dan sudah pasti yang akan di tanya Dipta tentang ia malam itu, atau alasan Dipta kenapa bersama wanita itu, atau bisa saja ia yang menjadi orang ketiga dalam hubungan Dipta bersama wanita itu.
"Arumi ... dengarkan penjelasan ku dulu. Wanita itu ... Menjebak ku Arumi, kamu pasti ingat kan sayang, aku ada memberikan kabar untuk kamu kan Arumi, waktu itu, sore itu ada acara diluar kantor, kami merayakan nya dan bisa kamu tebak Arumi bagaimana akhirnya. Aku di jebak Arumi." Dipta perlahan mendekati Arumi, yang masih duduk di atas motornya, Arumi bahkan tidak bergeming mendengar kan cerita Dipta yang menurut nya tidak masuk akal.
Sedangkan Bumantara yang mendengar pembicaraan itu, yang menurut nya bertele-tele, membuat ia jengkel. Yang ia mau, Arumi langsung memutuskan hubungan itu, tanpa harus menunggu penjelasan yang tidak perlu itu. Karena jika pria sudah bermain sama perempuan lain, meski dia bilang di jebak, tetap saja tidak usah lanjutkan hubungan mereka, lagian cuma pacaran, bukan suami istri.
"Benar-benar di jebak," celetuk Bumantara, mengangguk-anggukan kepalanya, menyeringai menatap ekspresi wajah pria itu, sambil berdiri di depan motor Arumi. "Tapi, saya sering melihat perempuan itu keluar masuk unit apartemen 601," sambung Bumantara, sambil mengangkat kedua bahunya. Arumi menengadah, menatap Bumantara dengan penuh rasa penasaran.
"Tau apa kau bocil! Jangan sekali-kali kau mengarang cerita yang tidak benar," kata Dipta, dengan nada tegas. Sorot mata Dipta menyiratkan banyak hal, dan Arumi bisa menangkap itu, kebohongan, kepanikan, rasa takut.
Arumi bersama Dipta bukan hanya setahun dua tahun, tapi hampir lima tahun, bahkan sekarang usianya 27 tahun. Dan, bersama Dipta hanya membuang-buang waktu.
"Bukan kah itu nomor unit apartemen mu, Mas?" tanya Arumi, mendesah lelah, menatap manik hitam Dipta yang gelisah. "Bumantara, kamu tinggal di gedung apartemen itu juga?" Arumi menatap Bumantara yang menggeleng.
"Bukan saya, Arumi. Tapi, kakak perempuan saya. Dan saya sering datang menemui Mbak saya, di unit apartemen 603," sahut Bumantara dengan santai.
"Mungkin yang sering dia lihat itu sepupu aku sayang. Melda. Kamu ingat kan, Arumi?" jawab Dipta, mencoba untuk lebih dekat dengan Arumi.
Namun, Bumantara menahan nya. "Melda yang berambut pendek sebahu, dengan Selena, berambut panjang kecoklatan. Arumi, yang mana perempuan yang anda lihat saat menaiki tubuh pria ini?" tanya Bumantara, menunjukkan tubuh Dipta.
Arumi terperangah, namun tetap menjawab, "Rambut panjang kecoklatan."
Bumantara tergelak, lalu menghentikan suara tawanya saat menatap wajah Dipta yang sudah memerah. "See. Saya benarkan, Mas Dipta?" tanya Bumantara, dengan nada mengejek. Dipta yang tidak tahan dengan kicauan Bumantara akhirnya melayangkan pukulan. Satu pukulan membuat Bumantara oleng ke samping.
"Bumantara ...," teriak Arumi, sembari turun dari atas motornya, dan membatu Bumantara. "Mas Dipta ... Apa-apa kamu ini! Kenapa main pukul, kalo memang yang dikata kan Bumantara benar, seharus nya kamu malu." Arumi berteriak marah, kepada Dipta yang terperangah, baru kali ini dia di teriakan sama Arumi, yang dia tahu lemah lembut.
"Kamu teriak sama aku, Arumi? Demi dia ... Pria ingusan yang kurang ajar itu, iya, Arumi?" Dipta menatap Arumi dengan marah, lalu memegang lengan sebelah Arumi, dan menariknya. Namun, Bumantara tidak tinggal diam, ia menarik Arumi dan membawanya kebelakang tubuhnya.
"Pria ingusan mana yang anda sebutkan pak tua?!" seru Bumantara. "Dan ... Jangan menyentuh Arumi, tangan anda penuh kuman cairan wanita," lanjut Bumantara, dengan wajah tengil nya, menyeringai, lalu mau mengembalikan satu pukulan ke wajah Dipta dengan keras, sehingga Dipta terjungkal kebelakang.
"Bumantara!" seru Arumi, memeluk pinggang Bumantara untuk mundur, agar menjauh dari Dipta.
Dipta tertawa terbahak-bahak, sambil bertepuk tangan beberapa kali. "Ohhh ... Sekarang aku tau, Arumi. Yang selingkuh itu kamu, bersama bocah berandalan ini, dan kamu menuduh aku hanya untuk menutupi kasus kelakuan kamu kan?!" Dipta bangun, sambil mengusap sudut bibir yang sakit, bahkan berdarah, pukulan pria berandalan itu tidak main-main.
"Perempuan murahan. Jalang... Kamu jalang Arumi — " belum selesai ucapan penuh makian dari Dipta untuk Arumi. Dia sudah di terjang terlebih dahulu oleh Bumantara, memukul wajah Dipta hingga babak belur, Bumantara terlihat beringas, tatapan nya menyala penuh amarah.
"Tolong ... tolonggg ... tolong saya pak!" seru Arumi berteriak, memanggil bapak dan pria yang baru keluar dari kontrakan, untuk memisahkan Bumantara yang kesetanan.
Arumi syok, ia terkejut saat melihat Bumantara yang seperti itu, mungkin ini bukan yang pertama, karena pagi tadi di sekolah juga ia melihat bagaimana lihai nya Bumantara melawan Rangga.
"Ini yang anda sebut murahan. Dipta Artos!"
"Hentikan! Mas, mas, jangan pada berantem disini. Tolong bantu aku, Mas Brio buat pisahin, kalo enggak bisa mati mas yang di bawah tubuh anak muda itu," teriak pak Ujang, memisahkan Bumantara dari atas tubuh Dipta yang sudah tidak berdaya.
"Mas Buma, tolong sabar. Mas nya membuat neng Arumi ketakutan itu," seru Brio, yang juga kenal sama Bumantara. Akhirnya menyadarkan Bumantara, lalu menengok kearah belakang dimana Arumi sedang berjongkok sambil menutup wajahnya dengan lutut di sela-sela kedua tangannya.
"Arumi ...." Bumantara mendekati Arumi, lalu memeluk tubuh kecil itu yang sedang meringkuk ketakutan, isak kan tangisnya terdengar memilukan, dan hati Bumantara terasa tidak nyaman saat mendengarkan nya.
"Mas Buma, bawain aja neng Arumi kedalam. Biar Mas nya ini kami antarkan ke rumah sakit," kata Brio. "Ayo Pak Ujang, bantu aku, kita antar Mas ini kerumah sakit."
Setelah kepergian warga kontrakan itu, hingga akhirnya sepi kembali, dan Dipta juga diantarkan kerumah sakit, lalu Bumantara mengendong Arumi ala bridal stay. "Arumi, kunci nya mana hm?" tanya Bumantara dengan nada lembut. Arumi justru semakin menenggelamkan wajahnya di dada Bumantara. "Kunci motor," lirih Arumi.
Bersambung....