Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 05
Pagi itu, Samira terbangun dengan perasaan was-was. Samar-samar ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat, ia sengaja masih berpura-pura tidur sambil memperkirakan siapakah yang datang.
Arga duduk di tepi ranjang, bersiap membangunkan Samira. Sementara Larissa berdiri di dekat jendela, membuka tirai jendela agar sinar matahari langsung menyorot ke wajah Samira.
“Samira, bangunlah. Sudah pagi,” kata Arga lembut seraya mengusap kening Samira.
Samira tak langsung bangun, ia merasakan cahaya matahari menerpa wajahnya. Apa lagi rencana mereka sekarang? pikirnya.
“Samira, ayo bangunlah. Hari ini kita akan pergi menemui dokter,” kata Arga pelan.
Samira menggeliat, membalikkan badan kemudian bangun. Tatapannya lurus ke depan, tangannya menggapai-gapai udara. “Arga, kau di mana?” Tanyanya.
Arga menoleh ke arah Larissa, tatapannya seolah berkata bahwa kecurigaan Larissa terhadap Samira tidaklah berdasar.
Perempuan itu hendak protes tapi Arga langsung mengangkat tangannya. Bibirnya bergerak-gerak seolah mengatakan sesuatu. “Jangan membuat masalah lagi, atau rencana kita akan gagal,” katanya memberi isyarat.
Larissa tampak kesal dan langsung berjalan keluar dari kamar Samira.
“Aku di sini, Sayang. Hari ini kita akan pergi ke dokter untuk memeriksa matamu,” ucap Arga lembut. Lalu ia meraih tangan Samira untuk memapahnya ke kamar mandi.
“Tumben sekali kau mau mengantarku ke dokter, biasanya Larissa yang menemaniku,” kata Samira, meraih tangan Arga dan berdiri perlahan.
Arga tersenyum penuh arti, kemudian menjawab, “Apakah tidak boleh aku mengantar istriku sendiri?” tanya balik Arga.
Samira pun tersenyum, namun bukan karena senang Arga akan mengantarnya ke dokter, melainkan karena ia tahu apa rencana Arga yang sebenarnya.
Arga memapahnya masuk ke kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan kamar mandi. “Aku ingin buang air kecil,” katanya pada Arga.
“Baik, aku akan membantumu, ya. Setelah itu, aku akan membantumu untuk mandi.” Arga sudah menggulung lengan kemejanya dan bersiap untuk membantu Samira.
Tetapi, perempuan itu menahan tangannya. “Aku mau mencoba melakukannya sendiri,” kata Samira tiba-tiba.
Arga menengadah tak percaya, “Apa? Bagaimana jika kau terpleset? Aku tidak mau kau sampai terluka,” kata Arga berpura-pura perhatian. Padahal yang sesungguhnya, ia sudah menyiapkan jebakan di dalam kamar mandi.
“Aku harus mencobanya sendiri, agar kelak tidak terus-menerus merepotkan mu dan Larissa,” katanya seraya tersenyum lembut.
Arga pun berdiri, “Baiklah, tapi aku akan menunggumu di luar, ya? Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu,” katanya tersenyum licik.
Begitu Samira menjejakkan kakinya di lantai kamar mandi, ia merasakan lantainya licin, bau sabun pencuci piring langsung tercium begitu ia berjongkok dan memeriksa lantainya.
“Ternyata seperti itu rencana kalian. Ingin membuatku celaka, ya?” gumamnya lalu terpikir untuk membalas mereka dengan cara mereka sendiri.
Samira berjalan dengan sangat hati-hati, lalu duduk di closet. Ia menyalakan shower dan berpura-pura mandi. Samira menyiramkan air ke semua permukaan lantai itu dan melemparkan shower-nya ke lantai dengan cukup keras.
“Auw! Arga, tolong!” teriak Samira lantang.
Arga yang tengah menunggu di luar itu pun lantas tersenyum dan berjalan ke kamar mandi. Ia langsung membuka pintu dan melihat Samira yang terduduk di lantai.
Arga berjalan mendekat namun tidak mengira lantai kamar mandi itu begitu licin sehingga ia terjatuh.
Melihat Arga yang terjatuh, Samira berusaha untuk menahan tawanya. Ia berpura-pura meraih udara di depannya, wajahnya terlihat panik.
“Arga? Apakah itu kau? Hati-hati, lantainya sangat licin, entah siapa yang sudah membuang sabun cuci piring di sini,” katanya sengaja menyebut-nyebut sabun cuci piring. “Kau di mana? Kau baik-baik saja, kan?”
Arga merintih sambil berusaha bangun, ia berdecak kesal. “Sialan, senjata makan tuan,” gumamnya seraya memegangi pinggangnya yang terasa nyeri.
“Aku baik-baik saja. Kau bagaimana? Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya, kembali berjalan. Namun, baru satu langkah ia berjalan, Arga kembali jatuh, kali ini ia tersandung shower yang masih menyala.
“Su-suara apa itu? Arga? Kau sungguh baik-baik saja, kan?” tanyanya sambil menahan tawa. Ia sendiri mencoba bangun dengan mudah dan kembali duduk di closet. “Rasakan itu,” katanya dalam hati.
***
Pada akhirnya, Samira pergi sendiri, hanya diantar oleh supir rumah mereka. Supir yang sudah bekerja dengannya selama 2 tahun itu mengantar dan memapahnya hingga ke depan ruangan dokter spesialis mata.
“Aku bisa sendiri, kau boleh pergi,” katanya tegas pada supir itu. “Jangan lupa memberitahu Arga bahwa kita sudah tiba.”
Supir itu mengangguk paham dan langsung pergi dari sana.
Samira berdiri beberapa lama di sana, menatap pintu yang sering ia kunjungi. Suasananya begitu sunyi hingga ia bisa mendengar suara napasnya sendiri. Namun, bukan hanya itu yang membuat Samira terdiam, melainkan bagaimana ia harus menemui sang dokter.
Ia menarik napas panjang, hendak membuka pintu. Namun, sebelum tangannya sampai meraih handle-nya, pintu itu sudah membuka sempurna. Sesosok dokter terlihat terkejut ketika melihat Samira yang berdiri.
“Samira? Kau pasti datang untuk melakukan pemeriksaan rutin, ya. Masuklah,” katanya ramah.
“Terima kasih, Dok.” Samira berjalan masuk dengan langkah pasti lalu duduk di kursi dengan tenang.
Dr. Rayhan. Dokter spesialis mata yang selama ini menangani Samira cukup terheran-heran melihatnya. Namun, ia tidak berani berkomentar banyak sebelum melakukan pemeriksaan.
Ketika Dr. Rayhan duduk di kursinya, ia menatap Samira dengan senyum ramah. “Bagaimana kabarmu, Samira? Kuharap kau selalu dalam keadaan baik, ya.”
“Kabarku … cukup baik,” kata Samira sedikit menunduk. Kepalanya menatap punggung tangan Dr. Rayhan di meja, ke pulpennya, terakhir menatap langsung wajah sang dokter.
Dr. Rayhan tersenyum, “Ya kelihatannya kau sangat baik. Tunggu di sini sebentar, ya, kita akan melakukan pemeriksaaan sebentar lagi,” katanya lalu berdiri.
“Dok, sepertinya … kita tidak perlu melakukan pemeriksaan rutin itu lagi,” kata Samira tiba-tiba. Menatap langsung wajah Dr. Rayhan yang tertegun.
“Apa maksudmu, Samira?” tanyanya heran, balik menatap wajah Samira. Untuk beberapa detik yang singkat, tatapan mereka bertemu.
“Samira … jangan bilang …” ucapnya menggantung.
Samira memutus pandangannya lebih dulu, kepalanya kembali tertunduk.
Dr. Rayhan berharap ia sudah salah lihat. Tetapi mata Samira terlalu jujur untuk menyembunyikan kesedihannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Samira?” tanyanya kemudian, kembali duduk di kursinya. “Kau bisa mempercayaiku. Katamu, aku sudah seperti keluargamu, kan?”
“Aku bingung harus memulai ini dari mana,” katanya dengan suara yang bergetar. “Aku … sebenarnya penglihatanku sudah kembali, Dok.”
“Apa? Bagaimana bisa? Tidak, tunggu dulu. Ini kabar baik, kan? Aku harus memberitahunya, dia pasti senang.” Rayhan sudah merogoh ponselnya dan bersiap untuk memberitahu Arga ketika Samira menghentikannya.
“Kumohon, jangan. Jangan lakukan itu,” kata Samira pelan seraya menggelengkan kepala.
“Tapi kenapa, Samira?”