NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: RETAKAN YANG TERLIHAT

Sore itu, hujan turun cukup deras di depan gerbang SMA Merdeka. Alsya berdiri di bawah kanopi toko kelontong di seberang sekolah, menunggu hujan sedikit reda karena dia membawa motor. Sialnya, dia lupa membawa jas hujan.

"Sial banget sih hari ini," gerutu Alsya sambil menendang kerikil kecil di dekat kakinya.

Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Alsya tahu betul mobil itu. Itu mobil Papa Saga. Jantung Alsya berdegup kencang, dia berharap Papa atau Mama menjemputnya karena hujan deras begini.

Pintu mobil terbuka, dan Papa Saga turun membawa payung besar. Tapi, langkahnya bukan mengarah ke Alsya. Saga berjalan cepat menuju Eliza yang baru saja keluar dari lobi sekolah.

"Ayo masuk, El. Nanti kamu sakit kalau kena hujan," suara Saga terdengar samar namun jelas di telinga Alsya.

"Pa, itu ada Alsya di seberang! Jemput Alsya juga, Pa!" teriak Eliza sambil menunjuk ke arah kakaknya.

Saga melirik sekilas ke arah Alsya yang berdiri mematung di seberang jalan. Tatapannya dingin, sama sekali tidak ada kekhawatiran di sana. "Dia bawa motor, El. Biarkan saja dia urus dirinya sendiri. Lagian dia sudah besar, jangan manja seperti itu. Ayo masuk!"

Mobil itu melaju pergi, meninggalkan cipratan air genangan yang mengenai sepatu Alsya. Alsya hanya bisa diam, tangannya mengepal di balik saku jaketnya. Dadanya terasa sesak, lebih sesak daripada saat dibentak Revaldi di kantin tadi siang.

"Loe nggak apa-apa?"

Alsya tersentak hebat. Dia menoleh dan mendapati Samudera sudah berdiri di sampingnya, juga sedang berteduh sambil memegang helm. Ternyata cowok itu dari tadi ada di sana.

"Loe lagi! Ngapain sih loe muncul terus kayak hantu?" semprot Alsya, berusaha menutupi suaranya yang mulai bergetar.

Samudera tidak menjawab. Dia menatap ke arah jalanan tempat mobil Papa Saga tadi menghilang. "Tadi itu bokap loe, kan?"

"Bukan urusan loe!" jawab Alsya galak. Dia segera memakai helmnya, berniat menembus hujan daripada harus berlama-lama di depan Samudera.

Baru saja Alsya mau melangkah ke motornya, tangan Samudera menahan pundaknya. "Loe mau bunuh diri? Hujan sederas ini, jarak pandang pendek. Loe bisa kecelakaan, bego."

"Terus loe peduli? Gue mati juga nggak ada yang nangis, Sam! Lepasin!" Alsya menyentak tangan Samudera.

Samudera justru menarik napas panjang dan melepaskan jaket jeans-nya, lalu melemparnya ke arah Alsya. "Pakai. Biar badan loe nggak terlalu basah. Gue anterin loe balik pakai motor gue."

"Gue bawa motor sendiri, Samudera!"

"Motor loe biar di sini dulu, besok gue jemput loe buat ambil motor ini. Sekarang loe ikut gue kalau loe masih mau hidup buat ngejar si Revaldi itu," ucap Samudera dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah.

Entah kenapa, Alsya menurut. Dia merasa tenaganya sudah habis untuk berdebat. Dia naik ke jok belakang motor besar milik Samudera. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Hanya suara air hujan yang menghantam aspal.

Alsya menyandarkan keningnya di punggung lebar Samudera. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa terlindungi. Punggung Samudera terasa hangat, sangat kontras dengan perlakuan dingin yang baru saja dia terima dari ayahnya sendiri.

Sesampainya di depan gerbang rumah keluarga Anantara, Samudera menghentikan motornya. Alsya turun dan memberikan kembali jaket Samudera yang sudah basah kuyup.

"Makasih," bisik Alsya pelan, hampir tak terdengar.

Samudera menatap rumah megah itu, lalu menatap Alsya. "Rumah loe gede banget, Sya. Tapi kenapa loe kelihatan kayak orang yang nggak punya tempat tinggal tiap kali di sekolah?"

Alsya terdiam, terpaku mendengar pertanyaan itu.

"Hapus muka sedih loe. Besok pagi gue jemput jam tujuh. Jangan telat," kata Samudera datar, lalu dia memutar motornya dan pergi menembus hujan.

Alsya berdiri sendirian di depan gerbang rumahnya. Dia menyentuh pundaknya yang tadi dipegang Samudera. "Kenapa loe harus muncul di saat gue lagi sehancur ini, Sam?"

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!