Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Rumor di Pasar Beringharjo
Terik matahari memanggang atap-atap rumbia Pasar Beringharjo. Ndari menarik selendang batiknya lebih tinggi, menyembunyikan separuh wajah.
Bau terasi, keringat, dan tembakau menyengat hidungnya. Ia menyelip cepat di antara keranjang buah pinang, berpura-pura memilih dagangan.
"Berapa niki, Yu?" tanyanya pelan pada seorang penjual jamu.
"Rong picis, Nduk," jawab perempuan tua itu tanpa menoleh.
Ndari menyerahkan kepingan koin. Telinganya justru fokus pada dua abdi dalem perempuan yang sedang berbisik seru di balik pilar kayu jati.
"Tenan, Yu. Kulo lihat sendiri kereta tertutup itu ke arah Gunung Kawi tadi malam," bisik salah satunya.
"Nyai Selir Sukmawati? Golek napa malih? Harta Tumenggung kan sudah di tangan."
"Pelet pengasih, jare. Ndara Tumenggung mulai sering tidur di keputren barat akhir-akhir ini. Nyai Selir mboten terima."
Ndari merekam informasi itu. Ia berbalik dan menyusuri blok belakang, area remang yang berbau kemenyan dan besi berkarat. Pasar gelap Beringharjo.
Langkah Ndari mendadak terhenti. Matanya menangkap pantulan hijau dari atas sebuah meja kayu kusam.
Seorang bandar bermata satu sedang memutar cincin zamrud berukir teratai. Cincin mendiang Raden Ayu Kinanti.
***
Pisau bedah kecil itu membelah serat kain sutra ungu di atas cawan tembikar. Sawitri menekan ujung pinset. Matanya menyipit mengamati pola tenunan di bawah cahaya lilin.
"Serat filamen ganda. Tenunan padat," gumam Sawitri pelan.
Pintu berderit. Ndari menyelinap masuk. Dada pelayan muda itu naik turun serabutan menahan napas.
"Ndara Ayu," panggil Ndari lirih.
Sawitri tidak merespons. Ia memasukkan serat itu ke dalam tabung bambu kecil dengan gerakan presisi.
"Kulo bawa kabar dari Beringharjo."
Cakrawirya melangkah dari sudut ruangan. Tangannya bersendekap, menyandarkan punggung pada tiang ranjang kayu jati.
"Bicara," perintah Cakrawirya singkat.
Ndari melirik Sawitri yang kini memutar tubuh menghadapnya.
"Nyai Selir Sukmawati keluar kota, Ndara. Ke arah selatan. Rumornya mencari dukun pengasih."
"Logis," sahut Sawitri. Ia membersihkan tangannya dengan kain basah. "Korban di sungai itu kuku jarinya menyimpan sutra ungu. Sukmawati panik karena algojonya mati. Atau dia butuh pengalihan spiritual karena cemas."
"Ada yang lebih gawat, Ndara." Ndari maju satu langkah. Ia menyerahkan sebuah sketsa kasar di atas daun lontar.
Sawitri menerima lontar itu. Ujung jarinya menelusuri gambar cincin dengan batu zamrud.
"Kulo lihat cincin niki di blok pandai besi gelap. Bandar mata satu menawarkannya ke tengkulak dari Demak," jelas Ndari.
Jari Sawitri berhenti bergerak. Ia menatap lekat sketsa itu.
Cakrawirya mendekat. Ia mencondongkan tubuh, ikut melihat gambar tersebut. Lengan bajunya nyaris menyentuh bahu Sawitri.
"Cincin ibumu?"
"Nggih."
Tidak ada nada sedih dalam suara Sawitri. Hanya observasi dingin.
"Cincin itu hilang di malam ibuku tewas. Kata Romo, dicuri batur yang kabur."
"Lalu sekarang muncul di pasar gelap, tepat sehari setelah kita menemukan mayat algojo dengan luka sabetan merak," timpal Cakrawirya.
Sawitri bangkit berdiri. Ia mengambil jubah gelap dari kursi.
"Kita ke Beringharjo sekarang."
"Tunggu." Cakrawirya menahan lengan Sawitri. Jemarinya mencengkeram pergelangan tangan perempuan itu.
Sawitri menunduk menatap tangan besar itu. Lalu menatap lurus ke mata Cakrawirya.
"Lepas, Raden."
"Ini jebakan. Bandar gelap mboten mungkin memamerkan barang pusaka kadipaten di meja terbuka kalau mboten ada yang menyuruhnya."
"Kulo tahu."
"Lalu kenapa sampeyan mau masuk ke kandang singa?"
"Karena singanya sedang kelaparan, Raden. Dia membuat kesalahan bodoh dengan memancing kulo pakai barang bukti primer."
Setiap persentuhan meninggalkan jejak. Prinsip dasar forensik itu berdenging di kepala Sawitri. Cincin itu bisa menyimpan residu atau darah kering di sela ukirannya. Benda mati tidak bisa berbohong.
"Kulo ikut," putus Cakrawirya. Ia melepaskan tangan Sawitri dan beralih meraih kerisnya.
"Mboten perlu."
"Kulo mboten minta izin, Sawitri."
Sawitri hanya merapikan kerahnya. Ia menoleh pada Ndari.
"Siapkan kuda. Jangan pakai atribut kadipaten."
"Nggih, Ndara."
***
Langit sore mulai berubah tembaga saat mereka tiba di pinggir Beringharjo. Keriuhan pasar mulai susut. Blok belakang justru semakin hidup oleh lampu-lampu minyak.
Sawitri berjalan tenang. Langkahnya ringan, sama sekali tidak memancing kecurigaan. Cakrawirya mengawalnya dalam jarak dua langkah di belakang, membaur seperti bayangan.
Mereka berhenti di depan lapak berbau karat. Bandar bermata satu itu sedang menghitung kepingan kepeng.
Sawitri melangkah maju. Tangannya mengetuk meja kayu itu dua kali.
"Kulo cari cincin zamrud teratai."
Bandar itu mendongak. Mata kirinya yang buta tertutup selaput putih. Ia tertawa pelan.
"Barangnya larang, Nduk. Mboten cocok buat perempuan mambu dapur kados sampeyan."
Cakrawirya maju. Ia melempar sekantung penuh uang emas ke atas meja. Bunyi gemerincingnya berat menghantam kayu.
"Mana barangnya?"
Bandar itu berhenti tertawa. Matanya menatap kantung emas, lalu beralih menatap Cakrawirya dengan waspada. Ia mengambil kotak kayu kecil dari laci bawah mejanya.
Kotak itu dibuka perlahan. Kilau hijau zamrud memantulkan cahaya lampu minyak.
Sawitri menatap cincin itu. Tanpa menyentuhnya, matanya langsung mendeteksi bercak kecokelatan yang mengeras di sela-sela ukiran perak penyangganya.
Oksidasi hemoglobin. Itu darah. Darah ibunya masih ada di sana.
"Dari mana sampeyan dapat barang ini?" tanya Sawitri.
"Beli dari prajurit."
"Siapa namanya?"
"Wah, mboten saged. Rahasia dagang."
Bandar itu merentangkan tangan, hendak meraih kantung emas.
Cakrawirya menekan punggung tangan bandar itu dengan ujung sarung kerisnya. Cukup keras hingga terdengar bunyi tulang berderak pelan.
"Sampeyan mboten sedang tawar-menawar dengan tengkulak," suara Cakrawirya rendah dan mengancam. "Sebut namanya, atau tangan ini mboten bisa menghitung uang lagi."
Wajah bandar itu pias. Keringat dingin menetes dari pelipisnya.
"Kulo... kulo mboten tahu namanya. Dia pakai topeng kain. Tapi dia bayar kulo buat memajang cincin ini hari ini."
"Untuk memancing kulo?" sela Sawitri tajam.
"Nggih! Dia bilang bakal ada perempuan ningrat yang datang mencarinya. Kalau perempuan itu datang, kulo harus memberi tanda."
"Tanda apa?" desak Cakrawirya.
"Menyalakan dupa merah di meja ini—"
Sebelum kalimat itu selesai, sebuah suara desingan halus membelah udara.
Panah berbulu hitam melesat menembus kegelapan. Mata panah itu menancap telak di tenggorokan si bandar.
Darah memuncrat mengotori meja kayu. Pria itu tersedak darahnya sendiri, tangannya menggapai-gapai udara sebelum ambruk menabrak timbangan kuningan.
Orang-orang di sekitar menjerit. Kepanikan pecah dalam hitungan detik. Pengunjung pasar berlarian saling tabrak.
Cakrawirya langsung menarik bahu Sawitri ke balik pilar batu. Tangannya sudah menghunus keris kelokan tujuh.
"Sabetan merak, lalu panah hitam," desis Cakrawirya. Matanya menyapu atap-atap pasar yang mulai gelap. "Kita dikepung."
Sawitri tidak memedulikan ancaman di atas atap. Perhatiannya terpaku pada meja kayu.
Ia berjongkok cepat. Tangannya yang terbungkus kain merampas kotak kayu berisi cincin tersebut dari dekat genangan darah si bandar.
"Sawitri, mundur!" perintah Cakrawirya sambil menangkis satu anak panah lagi yang melesat ke arah mereka.
Saat Sawitri menarik tangannya, kakinya menyenggol tubuh bandar itu. Sesuatu jatuh dari balik sabuk si mayat. Benda logam itu berdenting membentur batu bata.
Sebuah lencana tembaga.
Sawitri memungutnya. Matanya memicing membaca ukiran di atas permukaan tembaga kusam itu.
"Teratai kembar," ucap Sawitri.
Cakrawirya menoleh padanya. Wajah pangeran itu berubah kaku. Otot di lehernya menegang seketika.
"Sampeyan kenal lambang ini?" tanya Sawitri. Ia menyerahkan lencana itu pada Cakrawirya.
Pangeran itu menerimanya. Jemarinya mencengkeram lencana tembaga itu kuat-kuat.
"Leres."
"Punya siapa?"
Cakrawirya menatap Sawitri dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, namun juga ada keraguan yang mendalam.
"Itu lencana pasukan bayangan pribadi Romo kulo," jawab Cakrawirya pelan. "Pasukan khusus Raja Mataram."